Mengapresiasi Anak

Mengapresiasi Anak

Di perjalanan pulang malam ini, sebuah insight hadir ketika saya diingatkan Allah kembali tentang apresiasi. Saat suami datang menjemput kami pulang, entah kenapa ada rasa seneng aja gitu di hati. Padahal ya namanya juga jemput, hal yang biasa.

Tapi kali ini terasa begitu membahagiakan. Mungkin karena sudah lama suami jarang bisa jemput ketika saya dan anak-anak berkunjung ke rumah Mama.

Ketika menjadi orang tua, kita belajar teori-teori parenting diantaranya tentang mengapresiasi Anak. Hal yang terasa dampaknya pada sikap anak.

Tapi seringkali kita lupa. Ada anak yang terlewat untuk diapresiasi. Anak mertua alias pasangan kita, dan anak orang tua kita alias diri sendiri.

Ketika kita tumbuh di lingkungan yang tidak terbiasa mengapresiasi kebaikan dan lebih sering mengapresiasi kekurangan, maka secara alam bawah sadar kita pun akan sulit mengapresiasi orang lain secara positif. Yang ada adalah kritikan, teguran, dan semacamnya.

Mengapresiasi Secara Tepat

Diantara tips mengapresiasi dengan tepat sebagaimana disebutkan di buku Mendidik Anak dengan Cinta, mengapresiasi sikapnya, pun dengan teguran, bukan dirinya yang ditegur tapi kesalahannya. Seperti apa?

“Terima kasih ya sudah jemput” misal untuk contoh tindakan suami menjemput.

Sedang untuk kritikan: “Cara pakenya salah. Harusnya begini” bukan “kamu salah. Harusnya begini”. Mirip ya sekilas mah 😁

Apresiasi Anak Mertua

Karena terbiasa, karena monoton atau semacamnya, kita sering abai pada kebaikan pasangan. Apalagi jika kebaikan-kebaikan itu “kecil” dan nampak sepele. Atau memang hal yang kita anggap “sudah sewajarnya kamu melakukan itu” atau itu adalah kewajiban pasangan.

Betul bahwa itu adalah hal biasa. Akan tetapi, bukankah di luar sana juga ada orang yang tidak melaksanakan kewajibannya? Maka ketika pasangan melaksanakan kewajibannya, patutlah kita bersyukur pada Allah dan berterimakasih serta mengapresiasi upayanya.

“Terima kasih ya sayang, sudah bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan kami, biidznillah”

Atau, “terima kasih ya cinta, sudah berlelah mencari penghasilan untuk kebutuhan kita. Semoga Allah memberikan kemudahan dan keberkahan”.

Apresiasi Anak Orang Tua

Selain pasangan, kita juga perlu mengapresiasi anak orang tua. Kita sendiri.

Terkadang karena berfokus ke luar, kita lupa mengapresiasi kebaikan-kebaikan diri. Bukan pamrih atau pamer, tapi berterima kasih dan puas serta bersyukur pada pencapaian diri adalah hal yang penting. Apresiasi pencapaian dan kebaikan diri dengan hal-hal yang semakin membahagiakan diri kita sendiri.

Hal ini dapat membantu meminimalisir akibat negatif dari kurangnya apresiasi dari lingkungan. Ibaratnya nih, jika diri kita saja tidak bisa mengapresiasi diri pribadi, jangan terlalu berharap orang lain menyadari dan mengapresiasi diri kita? Sebab diri adalah orang paling dengan dengan kita. Yekan? 😛

Selalu Gunakan Kata Ajaib

Kata ajaib? Apa tuh?

Kata sederhana yang hasilnya luar biasa dan penerapannya pun kadang tak mudah. Ada 3 kata ajaib plus 1.

  1. Maaf
    Mintalah maaf pada pasangan siapa tau ada hal yang menyakitinya. Apalagi jika memang benar-benar sikap kita menyakiti.
    Terkadang ada ego yang main. Merasa gengsi karena jelas pasangan yang salah. Tak apa, terima saja penolakan tersebut. Setelah itu ajak diri untuk meminta maaf terlebih dahulu. Meminta maaf karena sudah bersikap keras mungkin, atau semacamnya.
    Minta maaf bahwa selama ini kurang mengapresiasi atau tidak tepat cara apresiasinya.
  2. Tolong
    Minta tolong untuk diingatkan dengan baik jika ada hal yang kurang tepat.
  3. Terima kasih
    Mulai biasakan berterima kasih pada sekecil apapun tindakan kebaikan pasangan. Memang kadang sulit karena nyatanya kita sering melewatkan momen-momen syukur yang kecil. Lebih sering berasa pada sesuatu yang memang besar alias terasa sekali bahagianya. Padahal momen itu hadir bisa jadi karena ada tabungan kebaikan kecil dari pasangan.
  4. I love you
    Utarakanlah (meski sesekali) bahwa kita mencintai beliau, pasangan sah, halal yang Allah titipkan. Semoga kata itu menjadi hal yang menyemangatinya dalam hidup.

 

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: