Mengenal Bahasa Cinta

Mengenali bahasa cinta setiap pribadi menjadi hal yang menarik kala kami mengenal konsep STIFIn. Perbedaan cara saya dan suami mengutarakan perasaan cinta tak ayal pernah jadi masalah baik dalam hubungan suami-istri maupun hubungan orang tua-anak.

Saya akan dengan sangat mudah mengumbar untaian kata cinta dan pelukan #jyaaa. Mudah saja bagi mengucapkan “ummi sayang Aa/Mamas” berkali-kali bahkan berpuluh kali dalam sehari meskipun kedua orangtua saya bukanlah tipikal yang suka mengucap cinta.

Ya, karena saya perempuan, dan seorang Feeling. Perempuan pun jika tipe personalitinya bukan Feeling, ada semacam perbedaan cara pandang dalam hal mengucap cinta (based on pengalaman dan cerita klien)

Sementara suami saya, baginya cinta dibuktikan dengan bertanggung jawab.

Ya, karena beliau lelaki, plus seorang Thinking. Karena bagi lelaki dengan tipe personaliti lain, lelaki Feeling misalnya, mudah saja dia mengutarakan cinta secara verbal dan memeluk anak dan istrinya.

Hal ini tapi tak lantas membuat kita membatasi bahwa seseorang tidak bisa melakukan sesuatu melainkan, sadari bahwa ada yang mudah melakukannya, ada pula yang butuh berjuang untuk sampai di tahap itu. Sehingga kita tak lagi tergoda membandingkan dengan “rumput tetangga” karena sadar bahwa pasangan dan anak kita butuh proses yang lebih banyak dibanding “sebelah”. Dan kitapun akan lebih tenang menjalani prosesnya.

Bahasa Cinta dan Gaya Menjadi Orang Tua

Dari perbedaan bahasa cinta ini saja, sudah bisa menggambarkan bagaimana gaya parenting suami maupun istri terhadap anak-anak. Jika tak paham, bisa berbeda cara didik alhasil anak malah bingung mau ikut siapa.

Memahami bahasa cinta keluarga seyogyanya membuat kita mampu bersikap dengan lebih bijak. Adil adalah memperlakukan setiap anak dengan tepat dan sesuai. Bukan sama rata.

Karena misal, kebutuhan baju anak usia 7 dan 4 tahun tak sama. Ga mungkin kan kita belikan baju yang ukurannya sama?

Begitu pun dalam hal menyikapi anak. Gunakan bahasa cinta yang sesuai dengan personaliti anak dan sesuai usia.

Salah satu kesalahan fatal kita sebagai orang tua adalah menyamaratakan bahasa cinta. Atau malah tak peduli dengan bahasa cinta.

Cinta.. Tapi tak mau berusaha

Cinta.. Tapi memaksakan kehendaknya

Memang ada saat kita “mendoktrin” anak. Memaksakan. Tapi jika kita memaksakan bahasa cinta kita ke anak, bisa jadi anak tidak menangkap bahasa tersebut. Ibaratnya kita pake bahasa Inggris, anak pake bahasa Indonesia. Wajar dong kalo anak ga paham.

Lantas kita uring-uringan “padahal udah dibeliin ini, difasilitasi itu, kok dia tetep nganggap saya abai?”. Menganggap anak “tidak tahu diri” padahal betul-betul dia tak mengerti.

Di luaran sana, bukankah sering kita dapati anak yang frustrasi dengan tindakan orang tuanya padahal ternyata menurut orang tua, sudah dipenuhi berbagai keinginannya, diberi hadiah dsb. Padahal keinginan anak sederhana, ingin pujian saat dia rangking 1 di kelas. Ortunya ga muji tapi membelikan hadiah.

Bahasa Cinta dalam Frame Konsep STIFIn

Satu ketika saya bertanya pada anak-anak.

“A, menurut Aa Ummi sayang ga sama Aa?”

“Mas, menurut Mamas Ummi sayang ga sama Mamas?”

Saya sempat deg-degan. Mengingat seringkali mereka mengerjakan hampir segala sesuatunya sendiri sejak kehadiran bayi.

Tapi jawaban mereka ternyata “sayang“..

Pertanyaan pun saya lanjutkan,

“emang kenapa?”

“taunya sayang darimana?”

Jawaban mereka sederhana:

Danisy: “karena Ummi suka masakin buat Aa”

Azam: “karena Ummi lahirin Mamas”.

Melihat kedua jawaban dari anak usia 7 dan 4 tahun itu kami lalu berkaca. Alhamdulillah, masih Allah beri kesempatan untuk menyayangi dan disayangi.

Bahasa Cinta Setiap Personaliti

Bahasa cinta setiap orang cukup mudah dipahami dengan frame STIFIn.

Sensing bahasa cintanya kebendaan.

Kedua anak saya Sensing, lihat deh jawaban mereka. Ga jauh dari historis dan hal yang ia nikmati.

Thinking bahasa cintanya kedudukan.

Umumnya anak Thinking akan senang (misal) saat ‘diinterogasi’ diberi kesempatan duduk di kursi/meja kerja ayah, baru dia bersedia cerita. Atau diberi kesempatan menjadi “penguasa kamar tidurnya sendiri” dengan diberi izin mengatur kamar sesuai keinginannya.

Intuiting bahasa cintanya kebebasan.

Tentu sebagai umat beragama, batasan syariat/agama menjadi boundaries pada kebebasan yang dilakukan.

Feeling bahasa cintanya kedekatan

Bagi saya, seringkali yang membahagiakan bukanlah transferan tapi suami ga ada di sisi. Melainkan, kumpul sekeluarga uyel-uyelan bareng adalah ekspresi cinta yang membahagiakan.

Insting bahasa cintanya kedamaian

Selama keluarga bahagia, kehidupan tercukupi, itu cukup. Anak In akan tenang melewati hari-harinya. Bagi anak Insting yang penting orang tua akur, sama saudara akur. Itu sudah jadi ekspresi cinta terbaik baginya dari keluarga.

Temukan Bahasa Cinta Orang Terkasih

Kadang.. Alih-alih mencari tahu apa yang mereka butuhkan, kita langsung saja memberikan yang kita pikir terbaik untuk mereka. Akibatnya, pemberian kita tak terasa karena tak sesuai kebutuhannya.

Sekarang, yuk temukan bahasa cinta orang terkasih kita. Tentukan parent leader dalam keluarga agar tak bingung lagi. Jangan lupa bangun atmosfer keluarga berdasarkan personaliti parent leader agar setrum cintanya kuat. Dan perlakukan setiap anggota keluarga sesuai personaliti masing-masing.

Insyaallah akan membantu semakin memudahkan mengokohkan bangunan keluarga, rasa cinta semakin mendalam dan muncul kesyukuran dalam setiap hela nafas kita.

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *