Menghadapi Anak Lelaki dan Perempuan

Alhamdulillah, senang dengan antusiasme teman-teman semua. Semoga menjadi bagian dari catatan upaya kita terus memperbaiki diri sehingga Allah berikan pasangan dan keturunan yang shalih.

Alhamdulillahirabbil ‘alamin, wa bihi nasta’inu ‘ala ‘umurid dunya waddiin. Allahumma shalli ala muhammad, wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in amma ba’d..

Sebelum mulai, mari kita baca basmalah bersama. Yang dengan demikian inSyaAllah akan membuka pintu keberkahan atas ilmu malam ini.

2 bulan lalu kita bahas tentang lelaki dan perempuan, meskipun dalam rangka pasangan (dewasa) akan tetapi secara tidak langsung sebetulnya berlaku umum.

Secara fitrah pun, anak lelaki dan perempuan berbeda. Hal ini akan berpengaruh pada sikap, pendekatan maupun tumbuh kembang anak.

Selain urusan gender, ada faktor lain yang berpengaruh pada sikap anak seperti lingkungan, jenis mesin kecerdasan, pola asuh, kondisi selama kehamilan dan menyusui, dsb. Sehingga yang saya sebutkan di materi sebelumnya adalah kecenderungan secara umum.

Pada umumnya akan ada pada semua anak lelaki atau anak perempuan. Adapun kekhasan tiap anak akan mengikuti faktor yang saya sebutkan sebelumnya.

Sedikit review sekaligus pengayaan. Perbedaan persepsi:

  • Anak lelaki suka pada hal2 kebendaan, anak perempuan suka sama orang (akhirnya akan beda fokus)
  • Anak lelaki cenderung “lebih suka bersaing” sedang anak perempuan senang bekerja sama
  • Anak lelaki memiliki kemampuan melihat “terbatas” (yang membuatnya fokus) anak perempuan sifat pandangannya “wide angle” sehingga bisa “melihat lebih luas”
  • Anak lelaki cenderung nampak tidak terlalu suka menyimak dan butuh waktu sekitar 5-10 menit untuk beralih pada kegiatan berikutnya, anak perempuan jago dalam hal mendengar dan mampu berbicara dengan lebih baik.
  • Anak lelaki cenderung kurang “peka” (terhadap rasa, umumnya) sedang anak perempuan lebih peka terhadap rasa (emosi).

Umumnya anak lelaki cenderung tidak berprestasi dengan baik di sekolah (terutama di bidang bahasa dan seni) karena kemampuan lisan yang berada di bawah kemampuan lisan anak perempuan.

Itu kenapa memasukkan anak lelaki “setahun lebih lambat” dibanding anak perempuan bisa dikatakan masuk akal karena membantu anak lelaki memiliki kemampuan bicara yang memadai.

Di barat mulai diberlakukan pemisahan anak lelaki dan perempuan di sekolah. Dalam Islam, usia anak 0-7 tahun cenderung dibiarkan berbaur sementara begitu masuk usia tamyiz (sekitar usia 7-8 tahun ke atas) hingga baligh, dipisahkan antara lelaki perempuan. Selain masalah membiasakan agar tidak bercampur baur, juga menjadi bagian dari optimalisasi potensi anak.

Sebab memang usia 0-7 cenderung belajar adab dan mengenal gender, oh aku laki-laki, oh aku perempuan dan semacamnya. Menegaskan perbedaan antar gender.

Sedang di usia 7-8 tahun ke atas sudah mulai fokus pada pembelajaran-pembelajaran umum dan sudah tegas menyadari gendernya sendiri.

Karena akan lelaki fokus pada kebendaan dan urusan teknik maka akan sangat bagus jika soal bagi anak-anak lelaki ada hubungannya dengan hal-hal tsb. Misal toko peralatan berat, superhero, dan hal-hal maskulin lainnya.

Sementara soal untuk anak perempuan didekatkan dengan “manusia” seperti bahas pertamanan, pertemanan, keluarga, dan semacamnya.

Dalam Keseharian

Anak lelaki butuh waktu untuk beralih dari satu kegiatan ke kegiatan lain. Tidak suka mendengar omelan (mesti satu per satu kata terdengar dengan jelas). Kemampuan mendengar mereka pun dikarenakan fokusnya, menjadi seolah-olah lebih rendah dibanding anak perempuan. Sehingga jangan heran ketika ia tengah melakukan sesuatu, ia seolah tak mendengar suara lain. Hal ini yang seringkali membuat para ibu naik nada 😁

Sementara anak perempuan, tidak terlalu sulit dihadapi oleh para ibu karena mereka cenderung memiliki tipe yang sama. Alias, lebih mudah bagi anak perempuan mendapat label “nurut sesuai harapan ibu”. Maklum pengasuhan masih dominan para ibu kan 🤭

Maka tak heran pula jika para ibu seringkali merasa mendidik anak lelaki lebih sulit dari anak perempuan

Anak perempuan seperti halnya perempuan pada umumnya dilengkapi Allah dengan keterampilan indera yang lebih peka daripada anak lelaki.

Hal ini dikarenakan pada akhirnya perempuan adalah sosok yang mengandung bayi dan pelindung tempat tinggal (ingat teori lelaki pemburu sementara perempuan peternak). Perempuan mesti memiliki kemampuan untuk merasakan perubahan perasaan dan perilaku yang paling lembut sekalipun dari orang lain.

Sebagai pelindung tempat tinggal, perempuan mesti mampu mengamankan keluarga mereka. Sehingga ia harus mampu melihat perubahan sekecil apapun dalam perilaku anak-anak mereka yang mungkin saja merupakan tanda sang anak sakit, lapar, terluka atau tertekan.

Sementara anak lelaki jika nampak tidak peka hal ini dikarenakan lelaki sebagai pencari makan, tidak berlama-lama ada di sekitar rumah untuk belajar membaca tanda tak terucapkan itu.

Otak lelaki saat istirahat 70% kegiatan elektriknya terhenti. Sementara scan pada otak perempuan nampak memperlihatkan kegiatan 90% dalam keadaan yang sama.

Itu kenapa emak-emak kalopun lagi tidur, pas anak mau nyusu mah tetep bisa bangun sementara suami masih pules 🤭

Yang terdekat kejadian anak kedua kami kelimpungan nyari popok. Padahal saya ingat betul ada di samping rigen (wadah baju untuk setrika). “Cari di pinggir rigen dong. Bukain bagian atas siapa tau ketutup”

Sampai akhirnya dia tertidur tanpa pake popok. Saat saya cek, “hanya” karena wadah popoknya ketutup sama 1 helai kain itupun masih keliatan dikit sebetulnya si wadah popok ini.

Gemes? Banget.. Haha.. Alhamdulillah agak menurun tensi karena dapet ilmu ini.

Mata adalah perpanjangan otak yang terletak di luar tengkorak.

Retina yang ada di bagian belakang mata berisi 130 juta sel berbentuk batang yang disebut fotoreseptor yang menangkap warna hitam dan putih. Sedangkan sel berbentuk kerucut berjumlah 7 juta menangkap warna-warna lainnya.

Perempuan memiliki dua kromosom X yang memberi mereka berbagai jenis kerucut yang lebih banyak daripada yang dimiliki pria.

Perbedaan ini menjawab bagaimana perempuan menjelaskan warna dengan cara yang lebih rinci. Minta tolong anak lelaki ambilkan baju merah marun kok lama?

Yah karena mereka hanya akan menggunakan penggambaran dasar warna seperti merah biru dan hijau. Sedangkan emaknya akan berbicara tentang Putih Tulang, biru langit, biru tua, hijau apel dan sebagainya 😂

Maafkan anak lelaki mu mak.. 🤭 Maafkan pula anak lelaki mertuamu 🤣

Jadi kalo nyari barang suka susah, yah karena si kerucut itu, lebih sedikit di anak laki. Otak anak laki menyusun matanya berfungsi seperti terowongan atau teropong. Dapat melihat jelas, tepat dan lebih jauh. Pada benda2 yang berada tepat di depannya (makanya urusan nyetir tetep lah ya laki jago).

Anak laki gampang nemu tempat jajan tapi susah nyari isi kulkas? Yah, maklum 🤭

Lalu bagaimana agar cerdas menyikapi perbedaan tersebut?

Karena dalam menghadapi anak perempuan cenderung lebih mudah bagi para ibu, maka kita catat khusus bagian anak laki ya.

  1. Anak lelaki bukan sosok yang “menyulitkan” melainkan karena ia berbeda dengan emaknya.
  2. Anak lelaki butuh jeda, sehingga jika ingin mengajak dia berpindah dari satu kegiatan ke kegiatan lain, beri ia waktu.
  3. Anak laki fokus dalam melakukan sesuatu maka bantu ia memenej fokusnya. Terkadang saking fokus, ga bisa ngerjain hal lain atau lupa sama hal prioritas.
  4. Anak laki menganggap omelan emak tak ubahnya seperti desingan peluru bertubi-tubi. “Sakit” di telinganya, tapi yang ketangkep cuma “sedikit”😆 Makanya terkesan, _”ngomel juga ga mempan”_.. ya emang 🤣 Daripada ngomel mending ngomong singkat jelas padat (ujian buat emak-emak)
  5. Perlakukan mereka sesuai gender. Perkenalkan tentang perbedaan ini.
  6. Anak laki susah nyari barang? Susah nyari baju? Pake laci lebih aman buat nyimpen baju mereka daripada lemari, biar ga diberantakin 😂 (mengandung curhat). Kalo mau nyuruh cari barang, pastikan *jelas* sejelas-jelasnya alias jentre. Belum nemu juga? Mungkin instruksi kita kurang pas atau saatnya mengajarkan ia mencari barang 😄
  7. Anak laki cenderung lebih kekanakan dibanding anak perempuan. Biarkan ia menikmati masa tsb dengan tetap memahamkan tugasnya kelak sebagai pemimpin. Kondisi ini bagian dari mempersiapkan kedewasaan di masa mendatang. Agar tidak terjadi anak laki yang dirampas masa bermainnya sehingga saat dewasa “balas dendam” jadi main terus.

Anak perempuan menjadi lebih dewasa karena memang kelak tugasnya adalah mengayomi anak-anak.

Wallahu a’lam..
Mohon maaf atas kekurangan saya. Barakallah fiykum 😘

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and STIFIn Trainer
Follow instagram @esapuspitaFacebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: