Mengubah Seseorang

Hari ini saya kembali belajar tentang APA sih yang dapat MENGUBAH SESEORANG?

Dari diskusi dengan suami tentang dunia leadership. Bahwa leadership itu memastikan yang dipimpin merasa bahagia. Kurang lebih gitu lah yaaa intinya. *ngobrol sama orang Thinking mah bikin saya ikutan mikir. Hahahaa..

Tapi karena Leadership dunianya Feeling, ya suka aja pas akang ngobrolin itu. Apalagi poin “Leadership itu harus menyenangkan.” ahiw..

Orang dingin ngomong dengan lebih hangat dan memastikan istri plus anaknya lebih nyaman lagi, amazing lho. Alhamdulillah..

Lalu ada pernyataan dari akang, “maaf ya kalo teori ini mungkin udah lama ade kasih tau ke Aa. Tapi Aa belum ngerti, eh ga paham sih sebenernya. Baru kemaren Aa dapat contoh langsung dari Pak G (salah satu klien tes STIFIn akang sekaligus wali murid di sekolah anak kami).”

Yah begitulah laki-laki. Meski Thinking senang baca dan keilmuan, untuk hal-hal tertentu tetaplah dia laki-laki yang BUTUH BUKTI. Dan tentu saja, semua seizin Allah. Hidayah turun tanpa bisa kita duga jalannya lewat mana, dengan cara seperti apa.

Dalam salah satu bab di buku Menikah untuk Bahagia disebutkan bahwa untuk memperbaiki hubungan termasuk urusan rumah tangga, maka kita lah yang harus terlebih dahulu berubah. TANPA MENUNTUT PASANGAN untuk berubah.
Sebab jika saling menuntut, maka perbaikan sulit dilakukan.

Dan ini suliiiittt apalagi bagi orang Feeling macam saya yang inginnya sih suami aktif terlibat dalam semua urusan rumah tangga. Heuheuheu. Meskipun setelah baca-baca lagi, mulai lebih bisa objektif terkait pembagian peran.

Kembali ke soal mengubah. Hal ini sejalan dengan salah satu poin di Ibu Profesional tentang for things to change, you must change first. Saat diingatkan lagi soal ubah diri, makin menguatkan untuk “hayu ah ubah diri kita”.

Sebagaimana pula dibahas di #STIFIn Suri Rumah yang membantu agar seorang perempuan nyaman dengan dirinya, senantiasa meningkat menjadi pribadi yang lebih baik untuk kemudian siap membesarkan suami dan anaknya sesuai #kepribadian sang istri dan melayani sesuai #personaliti suami dan anak.

Dalam kasus rumah tangga yang kurang baik hubungan suami istrinya, perubahan dimulai dari yang “duluan sadar” sementara perubahan pasangan sepenuhnya kita serahkan pada Allah.

Akan tetapi jangan putus doa dan tetap berupaya mengedukasi pasangan. Masalah respons pasangan bagaimana, tak usah terlalu ambil pusing. Cukup layani sebaik-baiknya.

Selalu berbaik sangka bahwa pasangan kita pun seyogyanya ingin berubah. Tinggal masalah waktu.

Jangan sampai kita sebagai orang terdekatnya justru yang paling mendoakan keburukannya.
Kok bisa?
Sebab kita berburuk sangka padanya: “ah, suami saya mah susah! Mana mau“, “ah, istri saya mah ga mungkin bisa” dsb.

Please, stop judging. Mulai biasakan diri berbaik sangka.

Allah Ta’ala menurunkan ayat,

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ

“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak bisa memberikan hidayah (ilham dan taufiq) kepada orang-orang yang engkau cintai” (QS. Al-Qasshash: 56) (HR. Bukhari no. 3884)

Maka jika engkau ingin pasangan dan anakmu berubah, doakan selalu agar Allah menurunkan hidayah pada mereka.

Dekati Allah, do your best. Let Allah do the rest.

Dari pembahasan hadits di atas dapat disimpulkan hidayah itu ada dua macam:

  1. Hidayah irsyad wa dalalah, maksudnya adalah hidayah berupa memberi petunjuk pada orang lain.
  2. Hidayah taufik, maksudnya adalah hidayah untuk membuat seseorang itu taat pada Allah.

Hidayah pertama, bisa disematkan pada manusia. Contohnya pada firman Allah,

وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Dan sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Asy-Syura: 52). Memberi petunjuk yang dimaksud di sini adalah memberi petunjuk berupa penjelasan. Ini bisa dilakukan oleh Nabi dan yang lainnya.

Namun untuk hidayah kedua, yaitu hidayah supaya bisa beramal dan taat tidak dimiliki kecuali hanya Allah saja. Seperti dalam firman Allah Ta’ala,

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ

“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak bisa memberikan hidayah (ilham dan taufiq) kepada orang-orang yang engkau cintai” (QS. Al-Qasshash: 56)

لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ

“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 272) (Lihat bahasan Taisir Al-‘Aziz Al-Hamid, 1: 618 dan Hasyiyah Kitab At-Tauhid, hlm. 141)

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.

Sampaikan harapan baik kita pada pasangan. Doakan hidayah untuknya.
Ketika hidayah itu datang, engkau akan takjub tentang cara Allah memberikan hidayah pada seseorang.

Referensi:

  • rumaysho.com
  • Materi IIP Matrikulasi Batch 5
  • STIFIn Suri Rumah
Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

One thought on “Mengubah Seseorang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *