Meniti Takdir

*Disalin dari status tanggal 17 Juni*

faith

Bahwasanya mengimani takdir bermakna menerima dg ikhlas segala takdir yang hadir dan mengikhtiarkan secara maksimal untuk memperlihatkan kesungguhan kita pada Allah Yang Maha Mendengar segala isi hati dan pikiran.

Ketika kita merasa takut, Allah tau. Saat kita merasa bingung, Allah paham. Kemudian di tengah gelisah, Ia tetap mendengarkan.

Dalam hela nafas yang panjang dan berat, Ia membersamai. Dalam deru haru bergemuruh di kalbu, Ia tetap menemani.

Maka adukanlah segala resah dan keluh kesah. Ikhtiar iman maksimal.
Bukan hanya ikhtiar yang dimaksimalkan, tapi disertai keimanan yang semakin dimantapkan.

Ikhtiar kita seringkali bukanlah menjadi penyebab datangnya pemenuhan diri. Ikhtiar hanyalah bukti bahwa kita berusaha maksimal. Mengenai hasil yang kelak menjadi takdir, adalah murni atas izin Allah.

Tapi doa mampu menahan hujan turun, doa mampu membuat hati lebur, doa mampu membuat langit berguncang.

Maka ketika ketakutan yang belum terjadi itu muncul dalam sekelebat pikir, adukanlah kepada Sang Pemilik Hati.

Wahai Allah, hatiku tengah berkecamuk. Akan rasa yang tak biasa, ada pikir yang mungkin tak semestinya. Apatah lagi jika ia terkait syariatMu. Tuntun hamba agar mampu membaca pesan cintaMu dengan keimanan yang tetap di dalam dada. Agar ketika yang kutakutkan itu terjadi, aku mampu menghadapinya, bersama-Mu. Hingga andai ada luka yang tercipta, maka takkan menghentikan langkahku. Dan jika ada kecewa yang menimpa, aku tetap yakin bahwa Engkau tetap bersamaku. Menguatkan lemahnya diri, menuntun dalam kaburnya pandang yang terhijab dosa.

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *