Menjadi Orang Tua Pendidik Anak

Pendidik adalah arsitek peradaban, bukan tabib kebiadaban apalagi kuli kebiadaban. Itulah pekerjaan para Nabi sepanjang sejarah #FBE

Kutipan di atas adalah status Pak Harry Santosa pagi ini. Sebuah reminder yang mengingatkan lagi kami pada bahasan di seminar Parenting Bersama beliau Ahad lalu. Masyaallah. Suami yang alhamdulillah seorang arsitek jadi lebih mudah memahami sekaligus bergairah dengan kalimat ini.

Semula saya masih belum sepenuhnya paham. Ya, ketika di seminar kemarin masih belum “anceg” pemahaman atas kalimat itu. Tapi qadarullah pagi ini Allah ilhamkan pemahaman, biidznillah.

Arsitek bermakna seseorang yang terlibat aktif dalam membangun, baik membangun sejak awal maupun “renovasi”. Bagi seorang arsitek, salah satu yang diperhatikan adalah pondasi dan selanjutnya kualitas bahan dan bangunan secara menyeluruh.

Jika membangun dari awal, tentu akan lebih mudah karena semua sudah terencana sejak semula. Yang menjadikan saya manggut-manggut adalah, bagaimana jika kondisinya bukan membantun dari awal tapi “renovasi”? Bahkan ternyata dalam proses renovasi rumah pun, suami perlu mengetahui pondasi bangunan yang akan direnov tersebut. Jika pemilik rumah hendak membangun menjadi 2 tingkat atau lebih, akan dicek apakah cukup atau musti dibentuk pondasi baru.

Dalam proyek pertama yang ditangani suami, renovasi rumah kawan akhirnya menjadi renovasi total karena pondasinya pun musti dibangun lagi agar tepat untuk bangunan yang diharapkan pemilik rumah. Sedang di proyek keduanya, sama-sama renovasi tapi hanya bangunan saja tak perlu mengubah pondasi karena sudah cukup mumpuni.

Hal ini menyadarkan saya bahwa benar seorang pendidik ibaratnya adalah arsitek peradaban. Seorang yang merancang bangun peradaban masa depan dengan mendidik generasi yang akan hidup di jaman itu.

Mari Fokus Menyalakan Cahaya

Lalu apa yang dimaksud “bukan tabib kebiadaban”. Secara tak sadar, melihat “bobrok”nya suasana masyarakat saat ini, kita fokus pada mengobati yang negatif lalu lupa membangun yang positif. Kita sibuk dengan keburukan lalu berusaha mencari solusi untuk menghilangkannya. Pernah dengar kan istilah “mengutuk kegelapan”? Itu yang tanpa disadari justru kita lakukan.

Padahal berlaku aturan: kegelapan ada hanya jika cahaya tiada. Sehingga semestinya kita kemudian fokus menyalakan cahaya maka kegelapan akan berkurang bahkan lenyap dengan sendirinya.

Bukan berarti kita tidak memperhatikan dan mengobati keburukan. Sebab bagaimanapun kegelapan diciptakan untuk juga menjaga keseimbangan, menyadarkan bahwa kita harus selalu bergantung pada Allah dan berlindung dari kegelapan itu. Tapi tanpa sadar karena apatis dengan kondisi saat ini, sebagai orang tua maupun pendidik kita fokus bagaimana menangani anak yang mogok sekolah, bagaimana menangani anak yang males belajar, dst.

Padahal semestinya kita musti memulai dari why, apa penyebabnya. Kenapa anak bisa begitu? Baru bisa dicarikan solusinya.

Itu yang saya dapatkan dari konsep STIFIn yang saya pelajari dalam beberapa tahun ke belakang. Tes STIFIn bukan semata berbicara tentang gaya belajar anak, minat dan bakatnya, tapi jauh lebih dari itu konsep ini memetakan kepada kita pola penyebab tindakan seseorang berdasarkan dorongan alamiah internalnya. Ya, berdasarkan sifat genetik bawaannya.

Sehingga hal itulah yang memudahkan saya untuk membantu para orang tua memetakan kira-kira kenapa sih anak ini mogok sekolah, apa sih yang menyebabkan anak ini takut ketemu orang, dst. Termasuk membantu saya memahami apakah kiranya ada hal yang membuat si anak trauma, bagaimana hubungan kedua orang tua atau lingkungannya, dst.

Memang akhirnya penanganan yang diberikan tidak memberikan hasil instan, tapi dengan tahu penyebabnya menjadi lebih efektif sehingga memudahkan observasi berikutnya. Alhamdulillah dari beberapa klien yang kami tangani, sudah mulai memunculkan buah yang baik. Tentu ini butuh kerjasama dari semua pihak terutama orang tua sebagai pihak terdekat. Sebab saya hanya bisa memberikan input, sedang yang langsung bersentuhan dengan anak adalah kedua orang tuanya. Maka kembali lagi, orang tualah yang memegang peranan paling dominan dalam perubahan seorang anak.

Menjadi Orang Tua Arsitek Peradaban

Kembali ke orang tua sebagai pendidik, laksana arsitek orang tua mesti tahu nih kondisi anak apakah masih di fase “membangun sejak awal” atau sudah di tahap “butuh renovasi”? Saya secara pribadi berpendapat umumnya yang masih di tahap “membangun sejak awal” adalah jika anak masih di bawah 2 tahun. Jika sudah 3 tahun ke atas, sudah lebih banyak input informasi ke kepalanya berikut pengalaman-pengalaman di masa batitanya yang kemudian membentuk kepribadiannya secara disadari ataupun tidak baik oleh anak maupun orang tua dan lingkungan.

Lalu bagaimana dengan kalimat “kuli kebiadaban”? Anggaplah kebiadaban adalah kegelapan. Apakah kita sibuk menyalakan cahaya atau malah merasa tak berdaya sehingga justru kemudian pasrah dan jadilah kita kuli kebiadaban? Na’udzubillah min dzalik. Saya yakin tak satupun orang mau jadi kuli kebiadaban.

Sayangnya “profesi” ini secara tak disadari dilakukan oleh banyak orang. Dengan alasan “ya mau bagaimana lagi”, atau bahkan lebih parah “ya, saya mah cuma ikut aturan” dan “ah udah lah ga usah terlalu idealis, realistis aja”.

Dimana kita? Hanya hati teman-teman yang tahu jawabannya.

Dimanapun posisi kita, semoga semua sepakat untuk bersama belajar menjadi arsitek peradaban. Fokus menyalakan cahaya dan memaksimalkan potensi terbaik setiap individu. Sebab pendidikan anak kita akan tergantung pada ikhtiar para orang tua dan guru sebagai 2 tonggak pendidikan generasi mendatang.

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *