Menjadi Sulung Harus Hebat Segalanya?

“Berpura-pura kuat adalah salah satu bentuk mendzolimi diri sendiri”

Demikian penggalan status seorang teman yang lewat di timelines Facebook saya beberapa waktu lalu. Tepat setelah update status tentang emotional healing. Ingatan terlempar pada masa lalu, saat saya seringkali berpura-pura kuat menghadapi setiap kejadian dalam kehidupan.

Berpura-pura kuat dan berusaha kuat memang berbeda tipis. Jika berusaha kuat ada kesadaran bahwa kita sedang lemah dan akan mencoba kuat melewatinya sehingga kalaupun akhirnya menangis, mencari bantuan atau kalah, hal itu bukan aib. Sedangkan berpura-pura kuat memaksa kita jadi kuat dan menolak mengatakan diri lemah sehingga enggan mencari bantuan kala dirasa sulit menghadapi. Gengsi dikatakan cengeng.

Berpura-pura kuat membuat saya dulu menjadi seseorang yang pantang menangis. Saya harus kuat, demi adik-adik dan mamah. Saya anak sulung. Harus bisa banyak hal. Mengambil tanggung jawab tanpa diminta. Ga boleh nangis depan keluarga supaya mereka bisa lebih kuat menghadapi semuanya.

Nyatanya saya adalah perempuan. Dan saya seorang Feeling extrovert yang butuh ekspresi kasih sayang, sesekali butuh menangis, ingin dipeluk, perlu mengekspresikan perasaan, dan yang pasti: saya tidak bisa selamanya sendiri dan menolak dibantu. Iya.

Kesadaran tentang sikap yang salah itu muncul saat berdiskusi dengan seorang teman. Tanggung jawab yang selama ini saya ambil, keputusan dan hal lainnya, siapa yang meminta untuk menjalankannya? Siapa yang memaksa saya untuk mengambil alih “tugas orang dewasa” itu? Siapa yang melarang saya menangis? Siapa yang mengatakan saya lemah jika mengekspresikan perasaan?

Mendapatkan pertanyaan demikian, saya tertegun. Mencoba mencari jawaban. Dan sudah bisa ditebak. Jawabannya: tidak ada satupun yang meminta untuk mengambil alih tugas dan memaksa untuk tegar. Semua murni inisiatif sendiri -jika tidak bisa dikatakan prasangka-.

Meski beberapa pernyataan mamah membuat saya menyimpulkan hal tersebut, tetap saja tak pernah ada kalimat yang mengharuskan untuk bertindak demikian. Jadi semua tindakan dan pikiran itu murni adalah keputusan saya. Maka, orang yang pertama kali bisa disalahkan dan harus dimaafkan adalah diri sendiri. Terima ia dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Terima diri dengan segala printilannya.

Maka pengalaman itu yang mendasari sikap saya terhadap si sulung Fadhlan untuk tak menuntutnya sempurna. Saya hanya mengajak ia untuk tetap bertanggungjawab.

Seringkali tanpa sadar orang tua memposisikan anak sulung jadi serba salah. Kalo adek salah, kakak disalahkan. Adek nangis, kakak yang ditegur. Dan semacamnya.

Padahal..

Bisa jadi itu kecelakaan yang dialami adik, atau ketidaksengajaan, bahkan bisa juga adik yang duluan iseng.

Lagipula…

Tak pernah ada yang request meminta jadi anak sulung. Siapa yang bisa ngatur akan terlahir jadi anak ke berapa.

Anak sulung kita pun tak pernah meminta terlahir sebagai anak sulung, maka adillah.

Meskipun pada setiap urutan, Allah berikan potensi khas yang tak dimiliki anak di urutan lain. Potensi yang menjadi bekal dia menjalankan perannya.

Maka tugas kita untuk menjaga potensi itu dan mengembangkannya. Bukan justru menguburnya.

Jika memang adek salah, tegurlah adek. Boleh saja memberikan masukan pada kakak jika ada andil kakak dalam kesalahan adek, tapi jangan pernah menyalahkannya sebagai kakak. Jangan pernah menyoroti “kamu kan kakak. Harusnya bisa jadi contoh dong buat adek”. Memang betul. Tapi kurang tepat.

Ajaklah sulungmu untuk menikmati perannya sebagai anak tertua. Kemudian pantik keinginannya untuk tumbuh menjadi pribadi yang bisa jadi teladan keutamaan.

Jangan lupa apresiasi keberadaannya, perannya, kebaikannya. Agar ia semakin semangat menjalankan peran sebagai kakak.

Biarkan ia menikmati rasa. Menangis di kala kecewa, menyendiri di kala sedih, mengutarakan pendapat dan isi hatinya. Meskipun ia seorang anak lelaki.

Tak ada larangan anak sulung menangis. Dan airmata diciptakan bahkan untuk anak laki-laki. Sehingga, bersikaplah adil terhadap semuanya. Jangan mengharamkan sesuatu yang tidak diharamkan Allah.

Wallahu a’lam.

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Facebookinstagram

Satu gagasan pada “Menjadi Sulung Harus Hebat Segalanya?

  1. Tak ada larangan anak sulung menangis. Dan airmata diciptakan bahkan untuk anak laki-laki. Sehingga, bersikaplah adil terhadap semuanya. Jangan mengharamkan sesuatu yang tidak diharamkan Allah.

Tinggalkan komentar