Menjalin Komunikasi

We cannot not communicate – Paul Watzlawik

Quote ini banyak beredar dan disebutkan di berbagai kesempatan terkait komunikasi. Menarik memang sebab quote sederhana ini nyatanya tidaklah sederhana. “Kita tidak bisa untuk tidak berkomunikasi”. Meluruskan kembali bahwa berkomunikasi bukanlah sekadar berbicara, ngobrol atau berbincang saja. Ada banyak faktor dalam sebuah kata bernama komunikasi.

Komunikasi adalah sebuah skill yang perlu terus diasah guna membangun hubungan yang sehat dengan siapapun. Berbicara hanyalah salah satu seni berkomunikasi. Lebih dari 50% masalah dalam rumah tangga maupun kehidupan secara umum diakibatkan komunikasi yang buruk. Memang terkesan klise tapi faktanya belum banyak yang menyengajakan belajar cara komunikasi yang berkualitas.

Seperti saat jalan-jalan di luar, suami memutuskan mampir di warung nasi gudeg sementara anak-anak tidak terlalu suka (nampak dari gerak mimik muka maupun tubuh mereka). Itu adalah bagian dari komunikasi juga. Maka kami mengkomunikasikan dengan memberi beberapa pilihan, akhirnya anak-anak membeli ayam goreng.

Menjalin Komunikasi Dengan Anak Sejak Dini

Sejak kecil semua manusia (bahkan hewan) sudah mampu berkomunikasi meski dengan cara yang paling sederhana: menangis, tersenyum, rewel, ceria. Semua bagian dari komunikasi.

Sejak saat itu pula kita sudah menjalin komunikasi dengan bayi, bahkan sejak ia berada dalam kandungan. Di usia janin yang sudah cukup besar, ia membalas komunikasi kita dengan tendangan di perut ibu, atau respon lainnya.

Di hampir setiap kesempatan, selalu ada komunikasi yang terjalin meski dalam kondisi diam sekalipun. Begitu pula dengan anak-anak. Mereka mampu menjalin komunikasi dengan para orang dewasa dengan caranya sendiri.

Namun pada beberapa situasi setelah anak memasuki fase balita, ada momen bernama tantrum. Momen dimana anak menginginkan sesuatu atau merasakan ketidaknyamanan, namun belum mampu mengutarakan dengan baik sementara orang dewasa tidak mengerti keinginannya.

Anak hadir dengan rasa ingin tahu yang tinggi, maka menjalin komunikasi ini penting dilakukan sejak dini agar ia terbiasa untuk belajar berkomunikasi baik secara verbal maupun non verbal. Mengajak ia belajar mengutarakan perasaan maupun hal lainnya.

Anak yang lingkungannya memiliki gaya komunikasi yang baik cenderung akan tumbuh memiliki emotional intelligence yang baik.

Masih ingat cerita mampir di warung nasi gudeg? Anak-anak yang sedang lapar mencari-cari tempat yang mereka inginkan tapi tak juga menemukannya dan ketika terlihat, tempatnya sudah kadung terlewat. Sementara kami pun sudah sangat lapar pula setelah melewati perjalanan cukup melelahkan. Suami yang nyetir akhirnya memutuskan untuk mencari warung makan terdekat.

Setelah melaju kembali beberapa saat, tempat makan yang klop di selera suami ya paling warung nasi gudeg itu. Kami pun mampir. Anak-anak tentu agak malas turun. Tapi kami mengajak mereka berbicara. Memberikan beberapa pertimbangan dan kemungkinan. Bagaimanapun karena menyetir, suami yang paling butuh asupan makanan.

Akhirnya dengan lunglai mereka turun dari kendaraan menuju warung nasi gudeg yang dimaksud abinya. Setelah melihat-lihat, akhirnya wajah mereka agak sumringah karena ternyata ada menu lain disana: ayam goreng. Syukurlah. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Sekali mampir, 4 orang bisa makan di tempat yang sama meski seleranya berbeda.

Tips Menjalin Komunikasi

Dalam menjalin komunikasi yang baik dengan anak maupun keluarga secara umum, maka perhatikan 5 poin berikut:

  1. Jadilah pendengar yang baik
  2. Hati-hati dengan asumsi
  3. Perhatikan intonasi
  4. Sensitive memahami Bahasa tubuh
  5. Nyalakan rada terhadap sekecil apapun perubahan

Kelima poin di atas saya dapati dalam buku Menikah Untuk Bahagia. Saat mencoba menjalin komunikasi dengan anak, salah satu tipsnya adalah: sejajarkan diri entah dengan berlutut, duduk atau membungkuk. Hadirkan hati dan pikiran: mindfulness.

Saat anak mengucapkan atau melakukan sesuatu, konfirmasikan padanya apakah asumsi kita benar atau salah. Jangan berasumsi sembarangan. Bisa jadi bukan seperti itu maksud si anak.

Anak sangat sensitive dengan intonasi. Apalagi mereka jago sekali mengenali pola bicara dan gerak tubuh orang tuanya. Maka saat berbicara perhatikan intonasi kita. Agar pesan yang hendak disampaikan dapat diterima dengan baik.

Sebagai orang tua, kita setidaknya paham lebih banyak tentang Bahasa tubuh anak kita. Maka ketika ia tiba-tiba tidak Nampak seperti biasanya, ayah bunda patut waspada. Dekati dengan hati-hati, buat dia nyaman. Setelah itu jika ia tak ingin bercerita, biarkanlah dulu. Jika kemudian ia ingin bercerita, maka jadilah pendengar yang baik. Dengarkan hingga selesai, baru beri masukan atau pendapat.

Selamat belajar komunikasi. Mari menjalin komunikasi yang baik dengan anak, pasangan dan manusia secara umum.

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *