Menuntun Bukan Menggusur

Malam ini berkesempatan menuntun Danisy dan tiba-tiba berkontemplasi di tengah sunyinya jalan yang kami lalui. Menuntunnya, adalah sebuah anugerah yang jarang sekali saya sadari.

Pikiran saya lalu terbang pada evaluasi pendidikan yang kami coba berikan. Dan mungkin dialami pula oleh sebagian orang tua lainnya.

Agama dan ilmu pendidikan anak mengajarkan bahwa orang tua sebaiknya mendidik dengan cara menuntun. Menuntun adalah sebuah “kegiatan” memegang tangan anak, membawanya ke tempat yang dituju. Dengan ringan dan penuh cinta.

Coba teman-teman bayangkan tentang aktivitas menuntun ini. Adakah kedua belah pihak keberatan dan kemudian menolak berjalan bersama?

Saya pikir kita sepakat menjawab: tidak.

Permasalahannya sekarang, seringkali dalam mendidik kita merasa kesulitan. Bahkan hingga keluar pernyataan “kenapa sih kamu baru nurut kalo ibu udah marah?” Familiar kah dengan kalimat tersebut? Saya pernah mengatakannya pada anak kedua kami. Semoga Allah berkenan mengampuni.

Teman-teman pernah mengalami gaya menuntun dengan cara memaksa? Saya kira semua sepakat, itu bukan menuntun tapi menggusur

Lihat saja dalam keseharian. Di kala yang menuntun memaksa yang dituntun, ada pemaksaan dan penolakan. Alhasil yang menuntun mengeluarkan emosi kemarahan sementara yang dituntun mengekspresikan emosi kekesalan. Maka yang menuntun sudah tidak lagi melaksanakan tindakan yang seharusnya: menuntun. Melainkan melakukan tindakan pemaksaan: menggusur.

Bagaimana dengan perjalanan mereka? Tidak nyaman di kedua belah pihak.

Lalu apa yang biasanya menjadi penyebab pemaksaan ini? Ada banyak hal. Setidaknya hal utama yang saya dapatkan adalah:

  1. Tempat yang dituju tidak disepakati di awal perjalanan. Bisa jadi salah satu pihak merasa tujuannya bagus, sementara pihak lain menganggap tempat yang dituju adalah ancaman.
  2. Tidak ada komunikasi antara kedua belah pihak mengenai tujuan dan cara mencapainya
  3. Tergoda pada “pemandangan” yang ditemui di tengah jalan, bisa berupa tempat main, warung, dsb.

Dalam aktivitas menuntun, kegiatan ini akan menyenangkan ketika kedua belah pihak berjalan untuk tujuan yang sama dan menyepakati segala sesuatunya di awal perjalanan (do and don’t). Sehingga yang menuntun cukup mengeluarkan efforts kecil untuk mencapai tujuan karena pihak yang dituntun akan dengan senang hati menyodorkan tangannya dan berjalan bersama.

Maka, dalam hal mendidik anak pun sebaiknya kita menuntun bukan menggusur. Memberikan pengertian pada anak, tempat yang dituju. Menggandengnya penuh cinta dan menikmati perjalanan dengan ceria. Kesepakatan yang dilakukan di awal akan membantu kita mengatasi segala godaan di perjalanan. Godaan yang tidak hanya akan menimpa anak tapi juga menimpa diri orang tua. Keduanya akan saling mengingatkan bahwa ada yang dituju dari perjalanan yang dilakukan.

Selamat belajar menuntun, bukan menggusur.

#CatatanEsa 

H-2 kopdar ngobrol santai Limes. 30 Oktober, jam 9-15 wib di RM Ayam Penyet Ria, Bandung.

Sampai jumpa disana ^_^

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *