Menyapih Dengan Cinta (Weaning with Love) 

Kehamilan ketiga ini memang agak jauh dibandingkan sebelumnya. Anak pertama dan kedua selisih 2,5 tahun sehingga masih rada inget apa aja ilmu yang dibutuhkan. Nah, kalo yang ini kami belajar lagi. Hihi. Termasuk catatan soal sapih yang harus diingat-ingat lagi. Apalagi setelah baca postingan beberapa teman terkait sapih.

Banyak hal menarik yang dapat dipelajari dari proses kehamilan, lahiran, menyusui, MPASI dan sapih. Makanya mau coba ingat-ingat dan catat lagi. Semoga bisa bantu jadi jawaban juga untuk teman-teman yang sedang proses sapih ya.

Apa sih Weaning with Love itu?

Istilah menyapih dengan cinta alias Weaning with Love ini saya peroleh sejak anak pertama. Dipadupadankan dengan Baby Led Weaning  yang juga sedang “booming” saat proses MPASI Danisy. Apa sih itu?

Weaning With Love yang sering disingkat dengan WWL merupakan salah satu metode penyapihan dengan bersandar pada teori bahwa setiap anak akan berhenti menyusu di saat yang tepat dan cara yang nyaman. Ini pengertian yang saya buat sendiri berdasarkan pemahaman dan pengalaman saya. Sedangkan Baby-led Weaning (BLW) merupakan metode pemberian MPASI (makanan pendamping ASI) dengan berpatokan pada keyakinan bahwa anak saat sudah siap makan sesungguhnya dapat diajari makan sendiri sejak dini.

Kedua metode itu saya terapkan betul-betul pada Danisy. Tapi kali ini kita bahas WWLnya aja dulu ya. BLW mah nanti aja deh insyaallah, meskipun dengan penerapan BLW ini lebih mempermudah untuk WWL menurut saya.

Jika selama ini kita mengenal di masyarakat metode penyapihan dengan diberi sesuatu pada payudara ibu, diberi pengertian dengan “sedikit kebohongan”, mendatangi “orang pintar” atau hal-hal serupa lainnya, maka WWL berfokus pada kesiapan 3 pihak dalam menyelesaikan “tugas” menyusui yang Allah berikan. Siapa saja 3 pihak itu? Coba deh teman-teman perhatikan ayat yang menyebutkan tentang menyusui di surah al-Baqarah ayat 233:

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Terjawab sudah ya. Pihak penting lain yang kadang dilupakan dalam proses menyusui dan menyapih itu adalah ayah. Pengalaman saya (dan saya yakin teman-teman juga mengalaminya) peran suami alias ayah sang anak ini penting banget. Setidaknya untuk urusan pemenuhan kebutuhan ibu dan anak. Selain itu, dukungan ayah sangat penting dalam keberhasilan proses menyusui. Pun demikian, perannya tak kalah penting dalam fase penyapihan.

Sebelumnya saya sempat mencatat tentang proses menyapih Azam disini, maka tulisan ini akan saya buat umum mengenai tips trik yang kami alami dalam proses penyapihan dua putra kami. Alhamdulillah keduanya berhenti menyusui dengan metode WWL di usia 27 bulan.

Apa sih keuntungan dari WWL ini?

Secara pribadi, menyapih dengan menggunakan metode ini memiliki keuntungan sebagai berikut:

  • Ga perlu ngalamin yang namanya payudara bengkak.
    Sebab proses berhenti menyusunya perlahan jadi enak ke anak, enak ke tubuh karena tubuh sudah menyesuaikan dengan proses menyusui yang perlahan diturunkan frekuensinya. Anak dan tubuh kita pinter banget loh.
  • Mengajarkan kami (saya dan suami) untuk sabar melewati sebuah proses.
    Dalam perjalanannya, suami yang paling banyak berperan: ngingetin. Faktanya, saya sering ga tega pengen ngasih ASI lagi. Biasa kalo sakit, rewel dkk itu jurusnya ngasih ASI, ini udah ga bisa begitu lagi kan. Maka suami yang selalu reminder, mengingatkan tujuan penyapihan, prosesnya dan ke depannya. Belajar tegas ke anak sebagai bagian dari ekspresi kasih sayang.
  • Mengajarkan anak untuk mengenali perpindahan fase.
    Dalam perjalanan kehidupan, perpindahan fase itu kalo saya bilang mah udah sunnatullah. Sudah menjadi sebuah keniscayaan. Jika saat memasuki fase kelahiran dan fase MPASI anak belum terlalu sepenuhnya paham, maka di perpindahan fase menuju sapih ini anak sudah mulai mengerti, apalagi berhenti menyusu bisa jadi dianggap sebagai sebuah ancaman dimana kenyamanan yang selama ini dirasakan akan dihentikan. Padahal, kasih sayang kita ga akan berhenti dengan sapih. Maka salah satu bagian sounding yang kami ucapkan pada anak sejak usia sekitar 1,5 tahun itu: “nanti kalau sudah 2 tahun, udah ga nenen lagi ya. kalau lapar, makan aja. kalau haus, minum. Ummi sama abi tetep sayang kok sama dede. Dede masih boleh peluk ummi, ummi abi juga masih mau main sama dede.”
    Meyakinkan anak bahwa semua akan baik-baik saja pasca sapih masuk ke dalam kalimat sounding dan dibuktikan dengan tindakan agar anak makin percaya bahwa sapih bukan berarti menjauhkan dia dari ibunya. Pelukan nyaman ibu tetap akan dia dapatkan.
  • Mengajarkan anak untuk mengambil keputusan, berdiskusi, dan mengajarkan orang tua untuk meyakini keputusan diri dan anak.
  • Kerjasama suami, istri dan anak makin solid.
  • Jujur pada diri, jujur pada anak. Menanamkan kejujuran sejak dini.
  • Belajar bersikap pada lingkungan untuk suatu hal yang insyaallah baik, hanya berbeda cara.

Bagaimana tips sukses WWL?

Lagi-lagi catatan ini murni berdasarkan yang saya alami. Tips lain sepertinya sudah banyak ya di luaran sana. Ini yang kami alami selama 2x penyapihan.

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, kuncinya cuma: kesiapan ayah, ibu dan anak. Bagaimana tahu kita bertiga siap? Saat orang tua (terutama ibu) benar-benar yakin sudah saatnya sapih dan anak sudah sering diperkenalkan dengan usia 2 tahunnya. Anak mulai berkurang juga frekuensi menyusunya. Jika menggunakan ASIP (ASI Perah) bakalan terlihat dari seberapa banyak ASIP yang ia minum.

Umumnya menjelang 2 tahun anak sudah mulai banyak mengalihkan rasa laparnya pada makanan dan rasa hausnya pada air putih. Kami tidak mengharuskan anak berlanjut ke susu UHT ataupun susu formula karena yang dipahami, nutrisi anak dapat dipenuhi dengan berbagai cara. Tidak harus “nyusu”. Ini yang kadang jadi kegalauan para ibu: “abis sapih ganti susu apa ya?” Kalo saya mah mikir gini: di quran setelah sapih ga ada perintah suruh minum susu sapi (atau yang semacamnya) jadi ya sebetulnya sudah bisa distop betul-betul tanpa lanjut ngedot 😀

Kenali Periode anak di usia 2 tahun untuk memudahkan WWL

Anak usia 2 tahun Anak di usia 2 tahun ingin selalu melakukan apapun. Mereka ingin tahu dan lebih aktif, mulai semakin mengenal lingkungannya. Kemampuan verbal meningkat dan kosakata yang dikuasai semakin banyak sehingga sudah akan terlibat dalam banyak percakapan bahkan dengan orang dewasa. Jadi, sudah semakin bisa diajak ngobrol juga nih tentang sapih menyapih setelah sebelumnya hanya “sekadar” sounding.

Di usia ini anak juga sudah mulai mengenal dan belajar tentang perasaan dan kasih sayang. Maka itu yang bisa jadi membuat anak enggan disapih sebab menyusui adalah kegiatan yang nyaman dan menenangkan bagi perasaannya.

Tapi ketika bonding selama menyusui (dan fase sebelum sapih) bagus, insyaallah anak akan paham bahwa ekspresi kasih sayang kita bukanlah sebatas menyusui. Ada banyak hal lain yang akan dia nikmati.

Berikan limpahan kasih sayang yang cukup di usia 2 tahun ini. Pastikan ia menyadari bahwa kasih sayang kita tak terbatas menyusui

Memang proses meyakini hal tersebut pada anak akan butuh proses. Itu kenapa sebaiknya sudah ditanamkan pada anak sejak dini bahwa ketika usianya menginjak 2 tahun maka kita akan memulai proses sapih.

Peran ibu, ayah dan anak dalam proses WWL

Peran ibu dalam proses WWL kami hanya: meyakinkan diri bahwa ini memang sudah saatnya sapih. Simpel ya. Haha. Karena kadang anaknya sebenernya udah siap sapih, tapi emaknya ga tega atau masih mudah luluh.

Peran ayah: membantu dan mengevaluasi proses WWL. Bantuan ini meliputi:

  • Mengajak anak main menjelang tidur supaya fokusnya teralihkan dari pengen nenen ke main. Setelah lelah, ia akan tertidur dengan dielus-elus. Kadang anak minta saya menemani saat akan tidur. Ketika anak minta nenen, saya berikan penjelasan “dede sudah 2 tahun, udah ga nenen. Ummi elus-elus aja ya” sambil elus-elus pantat atau kaki, sambil dipeluk.
  • Mengingatkan saya untuk kuat. Menegur saat mulai kelihatan kendor.

Peran anak: anak merupakan bagian penting karena dia yang “terkesan” jadi korban. Tapi umumnya mereka bisa diajak kerjasama kok. Asalkan kita bisa memperlihatkan kasih sayang yang cukup untuk dia meyakinkan dirinya dan mempercayai orang tuanya bahwa fase ini akan dilewati dengan cara yang baik. Tidak ada tangisan menjerit-jerit. Rewel sesekali masih oke lah karena memang butuh waktu.

Menyikapi lingkungan sekitar terkait WWL

Tak jarang lingkungan menjadi pengaruh yang cukup besar terutama pada diri sang ibu dan anak. Melihat proses yang tidak instan, biasanya muncul ide dan nasihat ala orang tua jaman dulu. Disini kesiapan kita diuji. Bagaimana meyakinkan sekitar bahwa semua baik-baik saja. Dia akan berhenti nyusu saat dia memutuskan sendiri. Beberapa menganggap aneh, mana mungkin anak bisa memutuskan sendiri. Nyatanya, saat mereka melihat anak tidak terlalu rewel, saya tidak mengalami ringisan karena penghentian mendadak, kebiasaan jujur meski pahit sejak kecil, dsb membawa kebahagiaan tersendiri bagi keluarga besar. Mereka melihat sendiri hasilnya dan bahkan jadi support di penyapihan anak kedua.

Para tetua hanya perlu bukti tanpa ekspresi kasar demi mempertahankan idealisme kita. Ada saatnya kita cukup perlu meng-iya-kan masukan dari beliau-beliau ini, dan menolak dengan cara yang halus. Ketika “kecolongan” mendapati mereka menakut-nakuti anak supaya mau berhenti menyusu atau mitos-mitos jaman dulu terkait usia penyapihan, cukup sabar dan doa minta petunjuk dan bantuan Allah. Setelah itu berikan pengertian bahwa yang kita lakukan insyaallah baik untuk semua pihak. Jangan tergesa.

Menikmati fase yang tidak akan terulang, nikmati dengan sempurna

Fase yang kita lewati bersama anak sebagian besar tidak akan pernah terulang lagi di masa depan. Kalaupun terulang, belum tentu sama persis. Maka nikmatilah semua proses ini dengan baik dan akhiri prosesnya dengan cara yang baik pula.

Jangan nodai proses yang baik dengan akhir yang buruk. Jadi su-ul khatimah atuh. Berikanlah kenangan baik di akhir proses menyusui. Jangan sampai anak mengingat kenangan buruk ditakut-takuti saat akan mengakhiri sesuatu yang indah itu.

Selamat berproses. Selamat menyapih. Selamat belajar menjadi orang tua, terus meneur 🙂

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram
2 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *