Meraba Hati Menakar Rasa

Beberapa hari ini saya dipertemukan Allah dengan satu kesamaan kesimpulan.

Ada kalanya kita perlu lebih peka memperhatikan sekitar.
Mereka yang nampak baik-baik saja, bisa jadi sedang dalam kesulitan. Hanya saja menahan diri dari meminta maupun berkeluh kesah.

Terkadang kita lupa mengukur orang lain. Hanya memikirkan kebaikan pribadi. Berkamuflase “demi kebaikan bersama” yang ternyata di balik itu ada pihak2 yang kesulitan menghadapi “penyamarataan”.

Apalagi jika terkait kemampuan pribadi baik secara fisik maupun finansial.

Ini bukan sekadar masalah “mindset orang kaya” tapi realita bahwa ada pihak2 yang sangat mungkin terseok di balik “ayo dong, miliki mental kaya”
Ya, mereka tidak meminta2 saja sesungguhnya sudah bermental kaya. Adapun mereka tak sanggup membayar biaya kelas atau semacamnya, itu adalah hal lain.

Rezeki mah dari Allah. Yang penting percaya.
Betul, tapi jangan lantas menyepelekan mereka yang sudah sangat berusaha memberikan yang terbaik untuk memenuhi kewajibannya.

Ada hati yang perlu kita raba.
Ada perasaan yang perlu kita takar.

Tak bisa kita memaksakan orang lain paham akan perubahan, tanpa kita sendiri mau memahami keterpaksaan orang lain.

Selamat menyelami hati dan rasa.
Semoga semakin dekat ia dengan Tuhannya, semakin peka ia pada sekitar.

Catatan Keharuan di awal malam.

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *