Merasa Berjasa

Seringkali kita merasa berjasa atas apa yang kita lakukan kepada orang lain. Saat kita membantu seseorang yang tengah kesulitan misalnya, lantas kita merasa sudah membantunya dengan harta atau tenaga kita. Atau ketika kita menanggung nafkah saudara kita yang seharusnya ditanggung oleh walinya, lalu menuntut mereka untuk membalas kebaikan.

Terima Kasih

Tidak salah, tapi juga kurang tepat. Sebab kebaikan yang dilakukan hendakknya tidak dibarengi dengan ingin dibalas oleh orang lain melainkan agar dibalas oleh Allah saja.

Kita mungkin tidak sadar bahwa justru bisa jadi mereka yang menolong kita. Bahkan ketika kita memberikan nafkah pada mereka yang berada di bawah perwalian kita (istri, anak, orang tua) sesungguhnya bukan kita yang berjasa. Melainkan sama-sama mendapat kebaikan dari tindakan itu.

Misal begini. Kita bekerja mendapatkan upah sesuai dengan yang ditetapkan. Lalu uang yang didapat itu kemudian digunakan oleh orang tua atau saudara kita untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari mereka. Perlu kita sadari, kemudahan dalam mencari pekerjaan, dalam berjualan, dalam menjemput rejeki, bisa jadi karena ada dorongan doa dari mereka. Dan uang yang kita dapat merupakan “totalan” dari bagian rejeki diri kita sendiri, ditambah bagian orang tua dan bagian saudara kita yang dijumlahkan menjadi sekian rupiah lalu diberikan-Nya kepada kita melalui perusahaan tempat kita bekerja (atau usaha yang kita jalankan). Sehingga perusahaan tempat kita bekerja menjadi perantara hadirnya bagian rejeki kita dan kita yang bekerja ini adalah perantara hadirnya bagian rejeki saudara dan orang tua kita. Sumber rejekinya tetap satu, Allah saja.

Maka, bukan kita yang berjasa sebab menghadirkan uang untuk mereka melainkan mereka juga berjasa dikarenakan harta yang kita dapat sesungguhnya adalah memang ada bagian mereka. Jadi kita saling berterima kasih atas kerja sama ini. Berterima kasih tetap perlu sebab Allah menegaskan melalui lisan Rasul-Nya,

Tidak dikatakan bersyukur pada Allah bagi siapa yang tidak tahu berterima kasih pada manusia.” (HR. Abu Daud no. 4811 dan Tirmidzi no. 1954. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Jadi logikanya adalah, ketika seorang lelaki menikah kemudian memiliki anak misalnya, maka rejeki yang didapatkan oleh seseorang adalah jumlah dari rejeki suami+rejeki istri+rejeki anak. Jadi tidak perlu merasa berjasa telah memenuhi kebutuhan istri dan anak melainkan berterimakasihlah kepada mereka dan jangan lupa berterima kasih kepada Allah dengan cara yang dianjurkan.

Karena Allah akan memenuhi kebutuhan semua makhluk-Nya, maka pemenuhan kita terhadap kebutuhan orang-orang sekitar mungkin bukan atas kekuatan dan usaha kita melainkan hanya sebagai perantara saja datangnya pemenuhan kebutuhan mereka. Maka tidak perlu khawatir dengan kehidupan selama kita masih memegang teguh keimanan, maka bertawakal kepada Allah akan menjadi sebab turunnya rejeki pemenuhan kebutuhan kita.

“… Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Ath-Thalaq: 2-3)

Tawakal sendiri bukan berdiam diri melainkan ada ikhtiar di dalamnya. Tawakal bermakna menyerahkan hasil pada Allah semata. Awali ikhtiar dengan doa, lalu usaha maksimal dan berserah mengenai hasil pada Yang Maha Berkehendak.

Jadi, jika masih ada rasa “aku ini sudah berjasa untukmu, bales dong” coba ditelusuri lagi. Mungkin kamu kurang piknik 😀

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram
2 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *