Mindset Memulai Bisnis Bagi Muslimah

Mindset Memulai Bisnis Bagi Muslimah

Lama sekali tidak update tulisan disini ya. Ide dan draft banyak tapi belum sempat diselesaikan secara menyeluruh. Merasa kurang aja. Hihi..

Rabu pekan lalu saya berkesempatan untuk sharing mengenai materi bisnis pada karyawan Daarut Tauhiid bertemakan Great Muslimahpreneur dengan titik tekan bahasan tentang cara memulai dan penyakit yang perlu diwaspadai.

Saya berfokus pada membentuk mindset dasar sebelum terjun ke dunia bisnis atau ranah publik manapun. Bisa dijadikan bahan evaluasi juga bagi yang sudah terjun di bisnis untuk perbaikan ke depan. Jadi yang saya bagikan bukan tentang teknis memulai bisnis dan sebagainya melainkan mindset yang sebaiknya mendasari hal itu. Bismillah..

Cara Memulai Bisnis Bagi Muslimah

Sebagaimana cara melangkah, maka kita perlu alasan kenapa mesti belajar melangkah, belajar berjalan.

  1. Temukan strong why
    Kenapa sih harus berbisnis? Temukan alasan kuat kenapa kita berbisnis. Dan sebagai seorang muslimah, maka alasan terkuatnya harus disandarkan pada cita-cita akhirat: mendapat kemuliaan surga.
  2. Luaskan niat
    Apa niat anda berbisnis? Niatkan lillahi ta’ala. Tak hanya untuk kekayaan pribadi tapi juga kebermanfaatan yang lebih luas.
    Dari Zaid bin Tsabit Radhiyallahu anhu, ia mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allâh akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allâh akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.
  3. Sesuaikan dengan visi hidup
    Apa visi hidup anda? Sudahkah anda menemukan misi spesifik diri? Jika sudah, maka pastikan bisnis yang akan dijalankan semakin mendekatkan diri kita pada pencapaian penyelesaian misi hidup kita.

Penyakit yang Perlu Diwaspadai Pada Muslimahpreneur

  1. Salah niat
    Niat membantu suami (tanpa diminta). Bukan tidak boleh, tapi niatan awalnya haruslah lebih luas dari sekadar membantu suami. Adapun pendapatan kita yang bisa membantu suami maka itu hanyalah bonus bukan tujuan utama.
    Bagaimana jika suami pendapatannya pas-pasan atau bahkan kurang? Yang pertama kali perlu dilakukan adalah qanaah menerima seberapapun penghasilan suami dan berterima kasih padanya serta tentu saja memuji Allah atas karuniaNya.
    Jangan jadikan bisnis ini sebagai cara untuk membantu suami menjalankan tugasnya mencari nafkah tapi untuk kebermanfaatan yang luas. Selebihnya itu mah semoga menjadi fadhilah dari Allah sebagaimana hadits dari Zaid bin Tsabit di atas.
  2. Terlalu mandiri
    Ingin mandiri. Saking mandirinya ga bergantung pada suami/wali. Suami/wali jadi merasa tidak dianggap, merasa tidak dihargai atau merasa “dia mah bisa sendiri” akhirnya suami/wali berleha-leha. Hati-hati ya muslimat. Salah satu amar ma’ruf nahyi munkar kita adalah dengan membantu suami/wali kita menjalankan kewajibannya dalam urusan nafkah. Jangan sampai karena terlalu mandiri kita lupa membantu mereka berjalan di atas kakinya sendiri dalam menjalankan tanggung jawab nafkah.
  3. Lupa kodrat
    Terlalu asyik bisnis, lupa tugas utama sebagai istri dan ibu, lupa tugas birrul walidain. Jika mindset awalnya belum terbangun dengan baik, maka jangan heran jika perlahan kodrat perempuan sebagai istri, ibu dan anak perlahan terkikis. Sebab dunia begitu melenakan. Perlu hati dan lingkungan yang kuat untuk tetap berdiri di fitrah yang semestinya.
    Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS. Ar Ruum: 30)

Pada akhirnya, apapun kegiatanmu.. jangan “tinggalkan” rumah. Sebab disanalah fitrah seorang perempuan.
~ Esa Puspita ~

“Dan hendaklah kamu tetap tinggal di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu. Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlul bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (Al Ahzab: 33).

Bersikap pertengahan, tidak kurang dan tidak berlebihan. Demikian seharusnya sikap seorang muslimah. Zuhud, qanaah dan ikhtiar iman maksimal. Ikhtiarnya optimal, keyakinan pada Allah nya juga maksimal.

Tugas seorang perempuan sebagai istri selaku pendamping suami dan ibu bagi anak-anaknya. Ia memegang amanah sebagai pengatur urusan dalam rumah suaminya pun dengan anak-anaknya. Seorang istri kelak akan ditanya tentang kewajibannya tersebut. Inilah peran penting seorang wanita, sebagai pengatur rumah tangga.

Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baaz rahimahullah berkata: “Islam menetapkan masing-masing dari suami dan istri memiliki kewajiban yang khusus agar keduanya menjalankan perannya masing-masing  sehingga sempurnalah bangunan masyarakat di dalam dan di luar rumah. Suami berkewajiban mencari nafkah dan penghasilan sedangkan istri berkewajiban mendidik anak-anaknya, memberikan kasih sayang, menyusui dan mengasuh mereka, serta tugas-tugas lain yang sesuai baginya seperti mengajar anak-anak perempuan, mengurusi sekolah mereka, dan mengobati mereka serta pekerjaan lain yang khusus bagi kaum wanita. Bila wanita sampai meninggalkan kewajiban dalam rumahnya, berarti ia telah menyia-nyiakan rumah serta para penghuninya. Hal tersebut dapat menyebabkan kerusakan dalam keluarga baik secara hakiki maupun maknawi.“(Khatharu Musyarakatil Mar’ah li  Rijal fil Maidanil Amal).

Dan jangan lupa wahai muslimah, perhatikan adab keluar rumah bagi perempuan sehingga terjaga kemuliaan serta kesucian harga diri. Jika perlu keluar rumah, adabnya:

  1. Memakai pakaian yang menutup aurat
  2. Tidak menggunakan wewangian
  3. Berjalan dengan sopan
  4. Seizin suami/wali
  5. Jika bepergian jauh (safar), baiknya bersama mahram
  6. Menjaga pandangan
  7. Merendahkan suara tapi bukan melembut-lembutkan

Referensi:

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: