Mitos Me Time

Teman-teman mungkin sudah sering mendengar istilah Me Time ini ya? Entah cuma sekadar “baru mendengar”, “baru tahu” bahkan ada yang sudah sangat tahu. Apapun itu, kita kali ini, eh saya kali ini akan bercerita tentang Me Time.

Kenapa judulnya mitos Me Time? Ya, bisa jadi Me Time ini sekadar mitos, yang mau dijalani atau tidak itu tergantung anda. Bener ga ya pengertian mitos ala saya? Hehe..

timeme

Ya, yang pasti tak sedikit orang juga yang menyangsikan mengenai Me Time ini di saat banyak (terutama ibu-ibu muda kekinian) yang menganggap Me Time itu WAJIB hukumnya. Oke mari kita tengok sejenak mengenai Me Time ini. Apakah benar se-wajib itu atau sekadar sunnah atau mubah atau malah makruh? 😀

Saya pribadi menganggap me time sebagai salah satu opsi, tidak sampai pada titik wajib biar kalaupun tak dikerjakan, ga jadi dosa. Xixixi.

Setelah melalui perenungan yang panjang (beuh..) ternyata me time ini cukup perlu dilakukan mengingat kita ini kan tetap seseorang dengan pribadi kita yang butuh waktu untuk sendiri. Bentuk me time sendiri dapat berbeda dari satu ibu dengan ibu lainnya.

Ada ibu yang me time-nya cukup dengan sekadar bisa menyelesaikan pekerjaan rumah tanpa rengekan si kecil karena si kecil sudah ditangani sang suami atau keluarga lainnya, ada juga yang me time-nya cukup bisa mandi dengan tenang tanpa diganggu tangisan anak (dengan tetap menjaga adab di kamar mandi ya, salah satunya tidak berlama-lama di jamban), ada yang asal dapat kesempatan baca buku tanpa diganggu oleh siapapun, dan sebagainya. Jadi pengertian me time sendiri dapat berbeda antara satu ibu dengan ibu lainnya. Akan tetapi mungkin akan mendapat satu irisan yang sama: saatnya menikmati waktu untuk sendiri; beberapa menyebutnya: jadi diri sendiri.

Tapi penjelasan “jadi diri sendiri” juga agak rancu mengingat diri kita sebagai istri dan ibu pun adalah diri sendiri. Akan lebih tepat jika diartikan sebagai waktu untuk sendiri saja sepertinya ya.

Meski jika kita sudah jadi istri dan ibu kok rasanya tak bisa berlama-lama menikmati waktu untuk sendiri ya. Tetap saja ada masanya memikirkan suami dan akan di kala menikmati kesendirian itu. Ya itulah perempuan, kodrat akan rasa kasih sayangnya seringkali jauh lebih besar.

Lalu apakah ada hubungan baby blues dengan me time? Saya pikir, ada hubungannya hanya saja tidak terlalu kentara mengingat penyebab baby blues bisa beragam. Baby blues yang berlanjut pada Post Partum Depression (PPD) jika saya perhatikan sering terjadi BUKAN HANYA karena si ibu tak punya waktu untuk me time tapi juga karena ada depresi atau trauma masa lalu yang kemudian “dilengkapi” dengan tidak adanya waktu mereka untuk istirahat (sehingga terlampau lelah), tidak ada tempat mereka mencurahkan isi hati (karena suami sibuk atau dirasa tidak mempedulikan), merasa tidak bisa menjadi ibu yang baik karena anak-anak yang tumbuh dianggap tak sesuai dengan ekspektasinya sebagai seorang ibu, dan masih banyak lagi. Hal yang paling mungkin menjadi penyebab Baby blues berubah menjadi PPD adalah trauma masa lalu yang pada akhirnya menghasilkan pikiran-pikiran negatif semacam itu (merasa tidak becus jadi ibu, dsb).

Me time memang bisa jadi sebuah cara untuk membuat ibu merasa lebih rileks, tapi ada hal lain yang juga harus diperhatikan adalah perhatian suami. Memiliki me time yang jadi hadiah dari suami sebagai ekspresi rasa cintanya kepada sang istri akan membuat me time menjadi sesuatu yang jauh lebih terasa manfaatnya.

Apapun itu, memiliki waktu untuk menikmati kesendirian meski sebentar saja adalah sebuah cara yang cukup baik untuk menjaga pikiran seorang ibu tetap waras. Dan kebutuhan lainnya yang perlu diperhatikan adalah kebutuhan berbicara dan didengarkan. Maka selain me time, seorang ibu harus tetap bersosialisasi dengan teman dan kerabat agar kewarasannya tetap terjaga. Dan ia butuh telinga suaminya untuk mendengarkan segala yang terkait rumah, diri dan anak-anaknya.

Me time pun tak hanya dibutuhkan seorang ibu, tapi dibutuhkan juga oleh seorang suami (ayah) dan bahkan dibutuhkan oleh anak-anak. Jadi memang me time dibutuhkan hampir oleh semua orang. Hanya saja karena suami/ayah bisa pergi ke luar rumah baik untuk urusan kerja ataupun menemui teman, anak-anak bisa bermain, sementara ibu sering kesulitan menemukan saatnya untuk sendiri karena “penuhnya jadwal” seorang ibu seharian.

Jangan berkecil hati, me time dapat kita sepakati bersama anggota keluarga lainnya. Jikalau tidak bisa, maka sempatkanlah meski sejenak untuk mendapatkan me time sehingga pikiran segar lagi dan tetap waras 😀

Happy me time, moms ^_^

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *