Musim Rahmat

Dan: Ummi, sekarang lagi musim rahmat ya?

Mi: Maksudnya?

Dan: Iya, hujan kan rahmat. Jadi ini lagi musim rahmat.

Mendengar celotehan Danisy membuat saya tersenyum sendiri. Hihi, iya juga ya. Emaknya mah ga pernah kepikiran seperti itu. Hujan adalah rahmat, musim hujan = musim rahmat. Penjelasan sederhana dari anak usia 6,5 tahun yang berhasil mengubah persepsi emaknya. Dan rasanya lebih enak didengar dibandingkan musim hujan. Efeknya kerasa beda aja gitu.

Adalah fitrah anak selalu menganggap segala hal itu baik. Sehingga mereka pun tak segan mencoba sesuatu yang baru, melakukan hal yang mungkin membahayakan atau semacamnya. Apalagi tindakan dan ucapan orang tuanya, semua baik baginya. Maka wajar jika berseliweran kalimat “anakmu cermin dirimu”. Kalau mau evaluasi diri, coba deh lihat bagaimana anak-anak kita. Saat ibadah kita berantakan, biasanya imbas ke anak yang entah rewel, “nakal”, susah nurut, dsb. Masih ingat kan sekilas tentang resonansi emosi dan ruhiyah kemarin?

Menanamkan bahwa hujan itu adalah rahmat sebetulnya upaya saya memperbaiki mindset pribadi. Ya, jujur saja sebagai emak-emak mah ketika hujan turun itu kadang banyak banget keluhannya. Ya soal jemuran yang belum kering lah, ya soal mager lah, soal males keluar rumah, basah daaan masih banyak lagi. Ada yang senasib? Mungkin saya aja itu mah ya 😀

Nah, maka ketika anak-anak diperkenalkan dengan pernyataan yang “seharusnya” bahwa hujan tidak semestinya menghentikan langkah dan kegiatan (termasuk saat pagi ini Danisy dan abi akhirnya berangkat dalam keadaan hujan masih turun) maka anak akan menerima itu sebagai “kebenaran“.

Pagi ini jika tidak diingatkan Allah dengan pernyataan Danisy kemarin, mungkin saya akan lebih memilih untuk menyuruh Danisy tidak masuk sekolah. Kan hujan, sementara jarak rumah-sekolah sekitar 14km dengan waktu tempuh sekitar 45 menit. Ah, masih TK ini.

Tapi saat ingat pernyataan “musim rahmat”nya Danisy, buru-buru keinginan itu ditepis. Pun saat abinya yang sempat khawatir “masih hujan mi. Gimana dong?”. Udah ga sederas tadi shubuh kok. “masih gerimis mi” ujar suami. Pake jas hujan aja, jawab saya.  Mungkin abinya khawatir dengan kondisi jalan kala hujan dan Danisy juga sedang sedikit batuk. Tapi anaknya mah semangat. Duh, jangan sampai tertanam secara tak sengaja karena kita mentolerirnya saat ia kecil.

Bayangkan jika keputusan untuk ga sekolah itu diambil. Dalam kehidupannya, berapa kali kemungkinan situasi hujan yang kemudian kita nyuruh anak ga sekolah? Lama-lama bisa saja tertanam dalam benak anak “oh, kalo hujan berarti ga perlu sekolah, ga perlu keluar rumah.” Akhirnya muncul kesimpulan lain, “oh kalo hujan berarti bisa jadi alasan untuk ga ngapa-ngapain ya?” atau mungkin kesimpulan lainnya yang kita tidak tahu. Kemudian tertanam di alam bawah sadarnya hingga menjadi “value” bagi si anak.

Sederhana sih, saat ini. Tapi ke depannya, kita belum tahu apakah dampak dari keputusan itu di masa depan si anak. Jangan heran juga jika suatu saat ketika ia dewasa, kala kita butuh diantar/dijemput lalu anak mengatakan “hujan nih mi. Nanti tunggu reda ya.” Nah! Atau malah bilang gini “Duh, mi. Males ah keluar rumah. Hujan nih.” Pernyataan siapa ya itu. Jangan-jangan kita pernah berulang kali mengatakannya pada anak. Setidaknya saya pernah mengatakan itu ke Azam saat ia ngajak saya ke warung beli beras karena persediaan di rumah habis sementara dia mulai lapar dan di luar hujan besar. “Nanti ke warungnya ya mas. Hujan, ummi ga mau basah-basahan” meskipun di akhir saya katakan “karena kalo kaki kena air hujan ummi khawatir sakit” Astaghfirullah. Padahal mah murni itu yang paling kuatnya si malesnya itu.

Maka mulai sekarang, hayu tanamkan ke anak seperti yang disebutkan Allah di berbagai ayat dalam alQuran tentang hujan adalah bagian dari berita gembira. Dan tentu saja tanamkan ke diri kita sendiri, hujan itu rahmat loh. Saat mustajabnya doa, saat membahagiakan ketika kita mulai kesulitan air, dsb. Dengan tetap memberikan informasi pada anak hal-hal yang sekiranya dapat membuat hujan menjadi bahaya misal perihal banjir, badai, petir, dsb. Dan jika memang urgent banget, keputusan untuk tidak masuk sekolah boleh lah diambil sesekali. Sesekali saja, jangan sering-sering 😛

Oke deh. Segitu dulu curcol pagi ini.

Selamat menikmati musim rahmat, semuanya ^_^

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *