Nama, Doa dan Perjalanan Ijabah

Pernah dengar istilah “nama adalah doa”? Saya sendiri familiar seperti terbiasanya mendengar istilah “apalah arti sebuah nama”. Hanya saja saya agak sedikit tidak setuju dengan pernyataan terakhir. Ya, kalo penulisan nama di ijazah salah aja bisa beribet urusan, ketika bikin passpor misalnya. Lagipula masa sih orang tua iseng doang ngasih nama 😀

Saat menulis tentang “Doa yang Diulang”, tiba-tiba ada sekelibat muncul mengenai sematan doa pada sebuah nama. Entah itu nama kita maupun nama anak-anak. Tentu memberi nama anak tidak sembarangan bukan? Pasti ada harapan atau doa yang baik dalam nama yang kita berikan pada anak-anak. Pun dengan nama kita, orang tua pasti memilihkan yang terbaik dengan makna dan harapan yang baik pula insyaallah.

Dalam proses menulis dan membaca ulang artikel tersebut, hari ini saya teringat akan sematan doa yang kami titipkan untuk kedua anak kami. Si sulung memiliki nama lengkap dengan apitan 2 nama nabi. Sungguh berat setelah direnungkan. Kala itu, kami hanya berpikir untuk menyematkan satu dari 2 nama nabi: Ibrahim atau Ismail. Kenapa? Sebab Danisy lahir tepat di hari idul adha. Ada 2 nabi terlibat dalam peristiwa bersejarah tersebut yang merupakan ayah dan anak. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk memilih nama Ismail sebagai rangkaian nama Danisy. Ada harap agar ia tumbuh memiliki kesabaran dan keimanan sebagaimana nabi Ismail. Sedangkan nama Muhammad kami sematkan sebagai bagian dari amanah kakak yang kami hormati, dengan harapan serupa: agar ia mampu mencontoh Rasulullah.

Nama, doa dan perjalanan ijabah menjadi sebuah renungan malam ini saat tulisan tengah dibuat. Kemudian muncul pikiran: ah, kalau dipelajari lagi ternyata perjalanan kedua nabi tersebut penuh dengan perjuangan yang tak mudah. Ismail hanya beberapa kali saja bertemu dengan sang ayah, demikian yang saya baca dan dengar mengenai kisah ayah-anak ini. Tapi keduanya adalah bagian dari contoh kehidupan, contoh terbaik lagi. Sedangkan Muhammad Rasulullah adalah anak yatim piatu. Rabbi.. mampukah kami menjadi orang tua seperti pasangan nabi Ibrahim dan ibunda Ismail, Hajar.

Mampukah saya terutama, menjadi ibu seperti Hajar? Yang kala sang suami meninggalkannya di gurun tandus bersama sang bayi, beliau hanya bertanya “kenapa? Apakah ini perintah Allah?” beliau percaya sepenuhnya pada Allah dan sang suami. Keimanannya sangat kokoh.

Beliau yang berlari ke bukit Shafa dan Marwa hingga 7 kali, bukan sekadar mencari air melainkan mencoba menemukan pertolongan Allah. Deg. Teringat akan rangkaian nama Azam pun tersemat kata “Nashrullah”.

Mataa nashrullaah(1) seolah doa yang sering saya ucapkan dalam perjalanan menemani tumbuh kembang kedua putra kami. Pertanyaan yang serupa tapi memiliki ruh berbeda. Ruh ucapan saya lebih sering dipenuhi keraguan “dimana sih pertolongan Allah teh?”. Jelas sebuah keraguan mengenai kalimat selanjutnya di ayat tersebut: “Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.”

Kadang, kita hanya berusaha menyematkan dan mengucap doa. Berharap ia terkabul dengan sendirinya. Kita.. saya lupa bahwa ada ikhtiar guna doa mewujud nyata. Proses ikhtiar yang mungkin tidak mudah. Butuh kesabaran dalam perjalanannya. Agar doa yang tersemat dalam nama, mewujud menjadi sebenar-benar asa pada diri sang anak.

Keterbatasan saya akan ilmu mendidik anak yang baik dan benar menjadi salah satu penyebab perjalanan ini terasa begitu berat tanpa arah yang jelas. Keimanan pun tentu memberi andil pada ruhiyah diri yang akan beresonansi dengan kesucian jiwa fitrah yang dimiliki anak. Ditambah dengan kemampuan saya dalam hal mengelola emosi pun masih jadi tantangan tersendiri dalam upaya membentuk pribadi anak yang lebih hebat. Subhanallah. Jika bukan karena pertolongan Allah, tentu semuanya lebih berat lagi. La hawla wa la quwwata illa billah..

Tapi, nama yang baik tetaplah sesuatu yang dianjurkan. Maka berikanlah nama yang memiliki makna sekaligus asa. Baik untuk anak maupun usaha yang kita jalankan.

Semoga Allah memberi kita hidayah-Nya. Aamiin.

Wallahu a’lam.

Jadi, apa arti nama teman-teman? Dan siapa nama putra/i teman-teman beserta artinya? Semoga diberi kekuatan untuk melewati proses terwujudnya doa terbaik tersebut ya ^_^

Salam hangat dari Cimahi
Esa Puspita

=====

(1): cek surah al-baqarah: 214

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga padahal belum datang padamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang beriman yang bersamanya: “bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

One thought on “Nama, Doa dan Perjalanan Ijabah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *