Ketika Kakek Nenek Berkunjung

Mendidik anak sesungguhnya adalah seni mendidik diri sendiri. Mendidik diri agar menjadi pribadi yang lebih baik sehingga bisa jadi role model bagi anak. Mendidik diri agar menjadi pribadi yang lebih baik sehingga aliran cinta antara suami dan istri lancar, memancar indah dan dirasakan oleh anak-anak beserta mereka yang terlibat di keseluruhan cerita rumah tangga yang tengah dibangun. Agar tangga ini sampai ke surgaNya.

Nah, dalam proses perjalanan mendidik anak ini tentu ada banyak faktor sampingan sebagai pelengkap. Termasuk diantaranya kehadiran keluarga besar. Dan saat saya perhatikan, seringkali yang jadi sorotan adalah kehadiran kakek nenek yang biasanya disebut “penyelamat” (beberapa orang ngomong begitu sambil gemes. Heuheu)

Kehadiran pihak ketiga dalam proses Pendidikan anak memang menjadi ujian tersendiri terutama bagi para orang tua muda (Bahasa apa ini orang tua muda? Wkwkwk). Bagi pasangan yang memiliki impian ideal tentang bagaimana anak-anak mereka dididik, terkadang terbentur saat berhadapan dengan para orang tua.

Ketika Kita dan Orang Tua Berbeda Pendapat Tentang Anak

Tidak semua orang tua mau terbuka dengan perbedaan pendapat dan perbedaan cara. Dan meski terbuka dengan perubahan sekalipun, kasih sayang kakek nenek pada cucu konon (menurut pengakuan mamah saya) melebihi rasa sayang ke anak. Ah, pantesan ortu suka bikin aye iri ama anak-anak. Secara ya, hampir semua keinginan dipenuhi selama mereka bisa memenuhinya.

Mamah sebetulnya mendukung gaya didik saya. Keterbukaan mamah terhadap perbedaan pendapat dan perubahan gaya asuh baru seperti anugerah bagi saya karena anak-anak akan beberapa kali dititip ke mamah. Baru ngeh kenapa kok ngasih tahu mamah tentang rencana gaya didik kami mudah banget. Ternyata karena beliau ini berdasarkan tes STIFIn adalah orang Intuiting extrovert yang memang cenderung menyukai perubahan alias ga masalah kalaupun gaya didik anak-mantunya ga ngikuti gaya jaman dulu. Ya, setidaknya si sulung dulu sering dititip saat saya kuliah dan berasa banget senengnya. Hihi.

Alhamdulillah kami masih memiliki orang tua lengkap. Artinya, anak-anak kami punya 2 kakek dan 2 nenek. Yap, nikmat yang sudah sepatutnya disyukuri.

Ujian hadir ketika kakek-nenek berkunjung dan menginap di rumah atau saat kami berkunjung dan menginap di rumah kakek nenek. Yang paling kentara sebenarnya saat para orang tua berkunjung ke rumah kami sebab tentu anak-anak paham aturan rumah. Dan momen kakek nenek di rumah menjadi bagian dari momen yang bikin awkward.

Ya maklumlah para orang tua ini ingin mengekspresikan rasa kasih sayangnya pada cucu. Mumpung ada disini, katanya.

Awal-awal saya (dan suami) sering spaneng dengan perbedaan dan “kebandelan” para orang tua terkait sikap terhadap anak. Tapi kesini-sini, kami berpikir “kenapa sih kita harus sedemikian keras pada orang tua? Toh kan ‘pelanggaran’ mereka atas aturan rumah juga ga kemudian bikin kita masuk neraka” ekstrim ya? Biarin deh. Hehe.

Maksudnya gini lho.

Ada saat dimana kita perlu tegas pada anak-anak. Perbedaan antara kami dengan orang tua akan selalu dikomunikasikan pada anak-anak segera setelah kakek-nenek pulang, atau saat pillow talk.

Segala gaya didik selalu kami upayakan agar orang tua paham, apa, bagaimana dan juklaknya. Dalam pelaksanaan, terkadang rasa rikuh maupun sayang menjadi penyebab sikap mereka seolah bertentangan dengan keinginan kita.

Semula kami sering menegur anak-anak dengan keras di depan orang tua kami. Sesekali kami meminta orang tua untuk tahan berkomentar. Ah, bukankah itu akan menyakiti mereka?

Akhirnya kami sepakat, toh ini hanya sementara. Meski ada rasa kesal mah wajar ya, namanya juga manusia 😀

Perlu digarisbawahi untuk hal-hal yang memang sangat perlu kita jaga, diantaranya syariat. Misal aturan tentang shalat jamaah di awal waktu, di masjid. Tentu tidak ada toleransi untuk hal tersebut selama tidak ada udzur syar’i.

Dan untuk aturan-aturan yang sekiranya tidak terlalu saklek terkait syariat, adab, etika dsb, maka berilah kelonggaran. Biarkan para kakek nenek mengekspresikan kasih sayangnya dengan caranya.

Mengizinkan mereka mengekspresikan kasih sayang bukan berarti kita membiarkan begitu saja. Tetap perlu ada komunikasi terkait hal-hal yang sebaiknya disepakati di rumah.

Dan yang perlu kita terus ingat: bersyukurlah masih memiliki kakek nenek alias orang tua kita masih ada. Banyak di luar sana yang sudah tak memiliki orang tua sehingga justru rindu melanda. Semoga toleransi yang kita berikan, dicatat sebagai kebaikan dan pahala berbakti serta membahagiakan orang tua. Aamiin.

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Anak Ketagihan Gadget Atau Ortu yang Keranjingan Gadget?

Setelah seringkali memperhatikan anak-anak baik Danisy-Azam maupun yang lain, fitrah anak itu sebenarnya SENANG alias SUKA sama ILMU. Termasuk di dalamnya, suka sama buku -salah satu sumber ilmu. Eatlah, makanlah dengan lahap semua ilmu.

Selama ibu dan ayahnya bersedia MELUANGKAN  WAKTU  untuk MEMBACAKAN buku atau berkomunikasi hal-hal terkait ilmu maupun pengetahuan, anak biasanya akan tertarik.

Hanya saja kadang kita terlalu sibuk pada urusan lain. Saya pribadi menyadari, kadang sering terlalu sibuk dengan pekerjaan atau hp. Dan ga jarang ternyata kegiatan itu ga ada gunanya karena “cuma” haha hihi di grup ngomongin eatlah, ngomongin chatime lah, misalnya. Waktu habis untuk scroll timeline fb contohnya, dan masih banyak contoh lain. Mungkin teman-teman mau menambahkan? 😀

Sudah sebulan ini asyik dan senang melihat Azam ketagihan dibacakan buku -meskipun emaknya ini sempet keder karena minta dibacain dari pagi ampe malem. Apalagi ada bayi #halesan

Jadi, benar adanya apa yang dikatakan di berbagai artikel parenting bahwa anak yang ketagihan gadget bisa jadi memang anak yang kurang perhatian. Ibu bapaknya ada, tapi tidak sepenuhnya hadir. Jasadnya ada, tapi hati tidak saling terpaut. Fisiknya terlihat tapi hatinya tidak turut serta.

Sedangkan jiwa akan saling bertemu dengan yang frekuensinya sama. Jiwa anak yang masih bersih dan sensitif terhadap resonansi sekitar tentu akan sangat sadar kapan orang tuanya betul-betul HADIR dengan saat dimana orang tuanya HANYA ada disana. Tidak sepenuhnya memperhatikan dirinya.

Pada ANAK, jiwa mereka masih sangat DEKAT dengan FITRAH sehingga kita sebagai ORANG TUA yang perlu terus MEMPERBAIKI DIRI agar semakin mendekati fitrah kebaikan.

Maka diperlukan komitmen yang luar biasa besar untuk bisa membagi waktu dengan baik antara pekerjaan, hobi (diri sendiri juga berhak dong dapet pemanjaan sesaat), keluarga, pasangan, dan hal lainnya yang mampir dalam kehidupan kita. Sebab melepaskan anak dari gadget itu harus diawali dengan niat dan diperkuat contoh dari kita.

Coba ingat-ingat, berapa kali kita melarang anak main hp terus tapi ternyata justru kita sedang asyik browsing resep, chit chat, main game, atau sekadar update status facebook? Sehingga anak yang cenderung lebih mudah diarahkan itu akhirnya protes “kok ummi pegang hp aja?” nah lho..

Pengalaman saya melepaskan Azam anak kedua kami dari ketergantungan sama gadget, yang kudu pertama kali melepas ketergantungan gadget adalah emak bapaknya. Meskipun anak-anak paham ada saat dimana saya pegang hp untuk kerja. Maklum ya emak-emak eksis, yang konsultasi hasil tes STIFIn-nya pan seringkali via whatsapp. Tapi mereka bisa lihat kok. Kalau yang dibuka WA memang artinya ummi sedang ada konsul, sedang ngisi kelas atau sedang ada kerjaan lain. Ya sesekali lirik grup haha hihi yang bahasannya selalu berakhir dengan eatlah 😛

So, sebelum menghakimi anakku seneng gadget (dan meminta bantuan ahli), coba dulu aja tips sederhananya: perbanyak bercengkrama, kurangi pegang hp saat acara keluarga, jadilah contoh pengguna gadget yang bijak. Karena pada akhirnya tanpa disadari sesungguhnya anak meniru kita orang tuanya.

Saya sadar mulai ketagihan gadget itu ya saat tiba-tiba.. sedikit-sedikit pegang hp, dikit-dikit lirik hp, buka tutup kunci hp, buka-buka wa, facebook dll tanpa ada tujuan sama sekali. See? Jadi yang ketagihan gadget itu anaknya apa emak bapaknya?

Catat: yang saya bahas ketagihan ya. Kalo masih bisa ditolerir ngikuti aturan mah berarti bukan ketagihan kan? Sebab bagaimana pun kelak mereka akan terbiasa. Kita yang perlu memberitahu mereka mana yang perlu, kapan diperbolehkan menggunakan gadget, dsb.

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Menjalin Komunikasi

We cannot not communicate – Paul Watzlawik

Quote ini banyak beredar dan disebutkan di berbagai kesempatan terkait komunikasi. Menarik memang sebab quote sederhana ini nyatanya tidaklah sederhana. “Kita tidak bisa untuk tidak berkomunikasi”. Meluruskan kembali bahwa berkomunikasi bukanlah sekadar berbicara, ngobrol atau berbincang saja. Ada banyak faktor dalam sebuah kata bernama komunikasi.

Komunikasi adalah sebuah skill yang perlu terus diasah guna membangun hubungan yang sehat dengan siapapun. Berbicara hanyalah salah satu seni berkomunikasi. Lebih dari 50% masalah dalam rumah tangga maupun kehidupan secara umum diakibatkan komunikasi yang buruk. Memang terkesan klise tapi faktanya belum banyak yang menyengajakan belajar cara komunikasi yang berkualitas.

Seperti saat jalan-jalan di luar, suami memutuskan mampir di warung nasi gudeg sementara anak-anak tidak terlalu suka (nampak dari gerak mimik muka maupun tubuh mereka). Itu adalah bagian dari komunikasi juga. Maka kami mengkomunikasikan dengan memberi beberapa pilihan, akhirnya anak-anak membeli ayam goreng.

Menjalin Komunikasi Dengan Anak Sejak Dini

Sejak kecil semua manusia (bahkan hewan) sudah mampu berkomunikasi meski dengan cara yang paling sederhana: menangis, tersenyum, rewel, ceria. Semua bagian dari komunikasi.

Sejak saat itu pula kita sudah menjalin komunikasi dengan bayi, bahkan sejak ia berada dalam kandungan. Di usia janin yang sudah cukup besar, ia membalas komunikasi kita dengan tendangan di perut ibu, atau respon lainnya.

Di hampir setiap kesempatan, selalu ada komunikasi yang terjalin meski dalam kondisi diam sekalipun. Begitu pula dengan anak-anak. Mereka mampu menjalin komunikasi dengan para orang dewasa dengan caranya sendiri.

Namun pada beberapa situasi setelah anak memasuki fase balita, ada momen bernama tantrum. Momen dimana anak menginginkan sesuatu atau merasakan ketidaknyamanan, namun belum mampu mengutarakan dengan baik sementara orang dewasa tidak mengerti keinginannya.

Anak hadir dengan rasa ingin tahu yang tinggi, maka menjalin komunikasi ini penting dilakukan sejak dini agar ia terbiasa untuk belajar berkomunikasi baik secara verbal maupun non verbal. Mengajak ia belajar mengutarakan perasaan maupun hal lainnya.

Anak yang lingkungannya memiliki gaya komunikasi yang baik cenderung akan tumbuh memiliki emotional intelligence yang baik.

Masih ingat cerita mampir di warung nasi gudeg? Anak-anak yang sedang lapar mencari-cari tempat yang mereka inginkan tapi tak juga menemukannya dan ketika terlihat, tempatnya sudah kadung terlewat. Sementara kami pun sudah sangat lapar pula setelah melewati perjalanan cukup melelahkan. Suami yang nyetir akhirnya memutuskan untuk mencari warung makan terdekat.

Setelah melaju kembali beberapa saat, tempat makan yang klop di selera suami ya paling warung nasi gudeg itu. Kami pun mampir. Anak-anak tentu agak malas turun. Tapi kami mengajak mereka berbicara. Memberikan beberapa pertimbangan dan kemungkinan. Bagaimanapun karena menyetir, suami yang paling butuh asupan makanan.

Akhirnya dengan lunglai mereka turun dari kendaraan menuju warung nasi gudeg yang dimaksud abinya. Setelah melihat-lihat, akhirnya wajah mereka agak sumringah karena ternyata ada menu lain disana: ayam goreng. Syukurlah. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Sekali mampir, 4 orang bisa makan di tempat yang sama meski seleranya berbeda.

Tips Menjalin Komunikasi

Dalam menjalin komunikasi yang baik dengan anak maupun keluarga secara umum, maka perhatikan 5 poin berikut:

  1. Jadilah pendengar yang baik
  2. Hati-hati dengan asumsi
  3. Perhatikan intonasi
  4. Sensitive memahami Bahasa tubuh
  5. Nyalakan rada terhadap sekecil apapun perubahan

Kelima poin di atas saya dapati dalam buku Menikah Untuk Bahagia. Saat mencoba menjalin komunikasi dengan anak, salah satu tipsnya adalah: sejajarkan diri entah dengan berlutut, duduk atau membungkuk. Hadirkan hati dan pikiran: mindfulness.

Saat anak mengucapkan atau melakukan sesuatu, konfirmasikan padanya apakah asumsi kita benar atau salah. Jangan berasumsi sembarangan. Bisa jadi bukan seperti itu maksud si anak.

Anak sangat sensitive dengan intonasi. Apalagi mereka jago sekali mengenali pola bicara dan gerak tubuh orang tuanya. Maka saat berbicara perhatikan intonasi kita. Agar pesan yang hendak disampaikan dapat diterima dengan baik.

Sebagai orang tua, kita setidaknya paham lebih banyak tentang Bahasa tubuh anak kita. Maka ketika ia tiba-tiba tidak Nampak seperti biasanya, ayah bunda patut waspada. Dekati dengan hati-hati, buat dia nyaman. Setelah itu jika ia tak ingin bercerita, biarkanlah dulu. Jika kemudian ia ingin bercerita, maka jadilah pendengar yang baik. Dengarkan hingga selesai, baru beri masukan atau pendapat.

Selamat belajar komunikasi. Mari menjalin komunikasi yang baik dengan anak, pasangan dan manusia secara umum.

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Dukungan Bagi Seorang Ibu, Bahan Bakar Cinta Baginya

Demi menjaga mood, seorang ibu terkadang harus belajar mendelegasikan pekerjaan yang sekiranya bisa diserahkan atau memilih prioritas mana yang perlu dan urgent diselesaikan dan mana yang bisa ditunda terlebih dahulu. Memiliki bayi dengan kakak usia 7 tahun dan 4 tahun cukup menjadi sebuah situasi dimana emak kudu waras. Heuheu.

Membaca berbagai status para ibu yang berseliweran di timeline alias linimasa akun facebook, terkadang saya menangkap ada dilema yang dialami oleh beberapa ibu. Biasanya terkait pekerjaan rumah, mencari penghasilan tambahan (entah karena nafkah dari suami kurang atau apapun itu, saya kurang paham), memasak atau beli makanan jadi di luar, sifat perfeksionis, dan lain sebagainya.

Saya sendiri paham bahwa tidak mudah untuk seseorang yang perfeksionis menurunkan standarnya sebab suami termasuk yang perfeksionis. Awal-awal nikah beliau sering uring-uringan jika melihat cara saya bekerja.

Rumah yang bagi saya sudah rapi, menurut standar beliau masih jauh dari kata “bagus”. Akhirnya bisa ditebak, kami berselisih bahwa saya sudah berusaha merapikan serapi mungkin dan itu sudah di atas standar.

Setelah melakukan tes STIFIn barulah kami sadar bahwa ada perbedaan yang memang sangat bertolak belakang antara saya dan suami. Suami yang Thinking sangat peka penglihatannya sedangkan saya yang Feeling cenderung tidak terlalu peka dengan kerapian seperti itu.

Meskipun pada beberapa kasus, saya lebih rapi dari beliau. Tapi secara keseluruhan, beliau lebih peka. Akhirnya kami sepakat mengambil jalan tengah. Saya memperbaiki, suami menurunkan standarnya.

Kembali pada sifat perfeksionis, setelah menjadi ibu -lebih tepatnya setelah berkeluarga, dan tak hanya berlaku pada seorang istri sebetulnya- kita akan dihadapkan pada realitas untuk menyesuaikan diri dengan kegiatan baru dengan keluarga baru. Apalagi adaptasi memiliki anak, bertambahlah tugas dan kewajiban sebagai seorang individu.

Bentuk Dukungan untuk Seorang Ibu

Dengan semakin maraknya sosial media dan terbukanya akses internet di berbagai kalangan, bermacam informasi dengan sangat mudah kita dapatkan. Termasuk berbagai komentar pun akan dengan mudah masuk ke kehidupan kita. Maka kontrol dalam diri perlu diperkuat.

Tak jarang saat ada seorang ibu membuat status yang kurang lebih isinya seperti keluhan atau curhat, berbagai komentar baik berupa dukungan maupun yang kontra akan masuk. Maka jika tidak kuat dengan hal tersebut, disarankan untuk para ibu agar tidak mengumbar urusan internal ke luar.

Dukungan bagi seorang ibu terkadang sederhana. Suami mengizinkan istri mencuci dengan mesin, memasak nasi menggunakan magicom, sesekali jajan di luar. Dan tentu akan sangat membahagiakan jika suami memfasilitasi itu semua. Seperti saat jalan-jalan di Jakarta lalu berinisiatif mencari tempat makan di blok M saat makan siang tiba. Hehe.

Sebagai seorang istri, yang saya rasakan memang dukungan suami terhadap mood istri itu memiliki persentase yang luar biasa. Meskipun dukungan lingkungan secara menyeluruh juga diperlukan, akan tetapi dukungan suami itu menjadi peran kunci menurut saya mah.

Sebab jika suami sudah sejalan, rintangan dan tantangan dari pihak luar entah itu keluarga besar, tetangga, teman, kerabat dsb, tidak akan terlalu membuat seorang ibu tertekan. Ia memiliki tempat bercerita, bersandar dan berbagi kekuatan.

Suami perlu sadar bahwa dirinya dapat menjadi sumber energi besar bagi seorang istri. Dan sebaliknya, istri pun adalah sumber energi besar bagi seorang suami.

Teringat saat ada acara kopdar di Jakarta beberapa tahun lalu. Suami tahu bahwa saya butuh refreshing, bertemu langsung dengan teman yang sudah kenal lama di dunia maya akan membahagiakan sekali. Sayangnya ia tak dapat menemani saya pergi sementara saat itu kami sudah memiliki 2 putra, satu bayi dan satu balita. Terbayang jika berangkat sendiri.

Akhirnya suami mengizinkan saya berangkat dengan mengajak mamah turut serta. Semata memastikan saya tidak pergi sendiri dan ada teman untuk bantu jaga anak-anak.

Pertemuan seharian dengan teman dunia maya di area tempat makan di blok M itu cukup menjadi mood booster saya selama berhari-hari. Suami paham saya sedang jenuh karena kondisi saat itu saya yang terbiasa bekerja di luar dan kuliah, akhirnya tinggal di rumah.

Ibu, Tetaplah Menjadi Dirimu

Menjadi ibu artinya kita menjadi tumpuan perhatian dalam keluarga. Suami dan anak-anak membutuhkan ibu hadir untuk memenuhi hati mereka dengan kasih sayang. Ya, sebetulnya kebutuhan anak dan suami adalah ibu hadir dengan kasih sayangnya.

Akan tetapi, karena tumbuh di budaya timur kita terbiasa mengerti bahwa ibu melakukan segala pekerjaan rumah tanpa harus memikirkan diri sendiri. Istilahnya, berkorban untuk anak dan suami. Berada di balik kesuksesan mereka.

Tidak ada yang salah dengan pemahaman seperti itu. Hanya saja terkadang hal tersebut membuat seorang ibu kehilangan dirinya.

Meskipun berdasarkan pengalaman saya pribadi, memang setelah menjadi istri dan ibu rasanya panggilan jiwa lebih fokus pada mendahulukan mereka dibanding diri sendiri. Akan tetapi suami sering mengingatkan bahwa saya berhak memiliki waktu untuk memikirkan diri sendiri. Agar tetap perform sebagai pribadi dan mampu menghadirkan nyala api cinta dari dalam diri.

Saat acara kopdar seperti saya sebutkan sebelumnya, suami nitip pesan: “ade nikmati waktu disana” dan saya yang mengajak mamah turut serta jadi teringat untuk membuat mamah menikmati waktu juga. Mengajak mamah mengitari tempat makan di blok M bukanlah hal mudah.

Dengan berbagai alasan menolak makan. Mungkin khawatir uang yang dikeluarkan banyak dan lain sebagainya. Setelah agak dipaksa barulah mamah bersedia memilih-milih menu makan disana. Ya, ternyata begitu kalau sudah jadi ibu ya. Memikirkan banyak hal dan lebih baik menahan keinginan.

Maka saya dan suami sepakat, jika ada yang saya inginkan maka harus dikomunikasikan meskipun tidak semuanya dapat dipenuhi. Setidaknya saya sudah mengeluarkan “uneg-uneg” dan suami tahu isi hati istrinya.

Bicarakan dengan suami untuk saat-saat kita menikmati waktu. Tidak harus bepergian. Sekadar menikmati camilan kesukaan, menyisihkan uang untuk jajan di sekolah anak-anak meskipun jajanan murah meriah tapi memang kita suka, atau hal-hal kecil yang kita bahagia melakukannya dan dapat menjadi salah satu bahan bakar nyala api cinta dan semangat dalam diri kita.

Jadi bu, tetaplah menjadi dirimu dan teruslah menjadi lebih baik. Berbuat baiklah pada orang lain tapi jangan lupa berbuat baik pada dirimu sendiri.

Selamat menyalakan api cinta dan menyebarkannya. Be a loving care mom ^_^

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Gule atau Gulai, Seperti Apa Sih?

Tiba-tiba kepikiran pengen makan gule enak kali ya. Jam segini busui biasanya udah laper lagi. Eh, itu saya sih. Ga tau yang lain 😀

Berhubung ga masak, kalau pas lagi laper di jaman sekarang mah langsung cus ke Google. Googling tempat yang menyediakan gulai dan bisa dibeli secara online atau setidaknya nitip suami beliin pas pulang jemput bocah. Yang teringat ada gulai tikungan blok M, gulai di tukang nasi padang, tukang sate (yap, di hampir setiap tukang sate ada gulai dijual pula, apalagi sate kambing). Huwaa yummy kayaknya nih. Udah ngiler aja.

Pengertian Gulai

Gule sendiri secara Bahasa aslinya harusna ditulis gulai ya. Gule mah Bahasa sunda. Hihi.

Berdasarkan pengertian Wikipedia, gulai adalah masakan dengan baku daging ayam, berbagai jenis ikan, kambing, sapi, jeroan, ataupun sayuran seperti nangka muda (yang umum ada) dan daun singkong. Gulai diolah dalam kuah bumbu rempah dengan cita rasa gurih.

Ciri khas gulai ada pada bumbunya yang kental, kaya akan rempah. Rempah bumbu gulai terdiri dari kunyit, ketumbar, lada, lengkuas, jahe, cabe merah, bawang merah, bawang putih, adas, pala, serai, kayu manis dan jintan yang dihaluskan, dicampur, lalu dimasak dalam santan.

Gulai memiliki ciri khas berwarna kuning karena pengaruh kuat dari kunyit. Makanan ini dianggap sebagai bentuk lain dari kari, dan memang di dunia internasional disebut sebagai kari ala Indonesia. Ya meskipun dalam seni kuliner Indonesia juga ada ditemukan kari.

Variasi Gulai

Gulai merupakan satu dari sekian jenis hidangan yang tersebar luas di Nusantara terutama di wilayah Sumatera dan Jawa. Hidangan ini dikatakan berasal dari Sumatera yang merupakan hasil pengaruh dan penerapan seni memasak India yang kaya akan rempah dan bumbu seperti kari.

Gulai merupakan salah satu bumbu hidangan dasar yang paling dikenal dalam Masakan Minangkabau. Kuah gulai yang berwarna kuning menjadi bumbu dan memberikan cita rasa untuk berbagai macam hidangan yang disajikan di rumah makan Padang. Yaks, ngiler deh. Keinget lagi gulai tikungan blok M nih.

Kuah atau bumbu gulai biasanya kental jika tersaji sebagai hidangan Minangkabau, Melayu, dan Aceh. Nah, tapi di tatar Jawa mah kuah gulai lebih cair. Ya, saya merhatiin mamah sama mertua saat masak gule termasuk pas aqiqah Hasna beberapa bulan lalu. Jadi lebih mirip sup yang dihidangkan panas-panas. Biasanya sih isinya daging atau jeroan kambing.

Gulai biasanya disajikan bersama nasi panas. Enak banget itu. Tapi memang di beberapa resep seperti gulai kambing, bisa juga dihidangkan bersama roti canai.

Berikut ini adalah variasi gulai berdasarkan bahannya:

  • Gulai ayam
  • Gulai hati ampela
  • Gulai telur
  • Gulai kambing
  • Gulai sapi
  • Gulai hati
  • Gulai limpa
  • Gulai gajeboh (gajih)
  • Gulai iso (usus)
  • Gulai babat
  • Gulai tunjang (kikil)
  • Gulai otak
  • Gulai sumsum
  • Gulai ikan mas
  • Gulai kakap
  • Gulai kepala ikan kakap
  • Gulai telur ikan
  • Gulai cumi
  • Gulai cubadak (nangka muda)
  • Gulai kacang panjang
  • Gulai daun singkong
  • Gulai daun pakis
  • Gulai jariang atau gulai jengkol

Bulan depan ada agenda untuk ke Jakarta selama 3 hari. Rencananya sih mau ngajak suami wisata kuliner. Nah, direkomendasikan nih dalau di Jakarta ada yang terkenal karena selain murah juga enak. Namanya gulai tikungan blok M atau dikenal dengan rumah makan Gultik. Sayangnya pas main ke Jakarta tempo hari buat kopdar, ga sempat wisata kuliner. Nanti kudu nyempetin nik keknya.

Saya sendiri yang terbiasa dengan gulai masakan mamah memang cenderung ngerasa eneg saat makan gulai dari luar. Tapi untuk urusan ini serahkan sama akang suami. Beliau selalu tahu gule yang enak. Meskipun kentel, tapi pilihan beliau selalu enak. Ga terlalu eneg. Bisa aja nemu tempat jualan gule yang enak dan cocok di lidah istrinya. Biasanya sih didapatkan di tempat-tempat penjual sate kambing.

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Membangun Kebiasaan Anak, Dimulai dari Komitmen Orang Tua

“Aa sudah shubuh, ayok bangun. Jamaah di masjid sama abi”

Kalimat itu belakangan hadir di antara cerita keluarga kami. Kebiasaan anak bangun sebelum shubuh terkubur oleh kebiasaan orang tua menyuruhnya tidur lagi. Iya, kami akui kesalahan yang secara tak sengaja dilakukan berulang-ulang hingga akhirnya anak memiliki kebiasaan baru dengan kehilangan kebiasaan lamanya yang baik.

Sederhana saja alasannya: masih pagi. Nanti takut ngantuk di sekolah. Atau, daripada nanti ga bisa ngerjain kerjaan rumah karena kalau anak sudah bangun pasti minta main ini itu.

Sifat Bawaan Anak itu Mudah Bangun Shubuh

Fitrah anak untuk mudah bangun di sepertiga malam. Jadi, jika ada anak sulit bangun shubuh, bisa dibilang ada sesuatu yang terjadi pada anak tersebut.

Mungkin saja fitrahnya rusak oleh ulah orang tua yang menutupi kebiasaan itu karena alasan SAYANG. Atau malah untuk urusan sepele: GA MAU TERGANGGU.

Ah, teh Esa mah becanda. Masa anak terbiasa bangun di sepertiga terakhir malam?

Ih, masa ga percaya. Coba, bayi suka bangun minta nyusu jam berapa? Selama bayi sampai usia 1 tahunan deh, anak masih suka bangun malem ga?

Pengalaman saya dengan anak-anak, apalagi memperhatikan Hasna (usianya baru menjelang 3 bulan) biasanya mereka pasti bangun antara jam 2-4. Ritme itu pula yang membantu saya memulai kembali kebiasaan qiyamullail meskipun harus meninggalkan Hasna sejenak untuk keperluan ke toilet, wudhu dan shalat. Selebihnya, ia akan tidur lagi menjelang shubuh. Ini yang kemudian perlu diperbaiki juga setelah ia nanti agak besar. Jangan sampai ia tidur lagi setelah shubuh.

Jadi sebetulnya anak mudah bangun shubuh. Syaratnya, jaga fitrah itu.

Sepertinya semua orang tua setuju kalau bayi PASTI akan bangun di jam-jam menjelang shubuh. Bahkan hingga usia balita. Setidaknya sampe usia 2 tahunan lah ya. Saat yang sama dimana anak juga mulai INGIN IKUT SHALAT DI MASJID.

Nah lho. Apalagi anak laki, ayahnya nih yang kudu ekstra turun tangan supaya keinginannya ikut ke masjid kelak menjadi kebiasaan untuk memakmurkan masjid dan shalat di awal waktu berjamaan di masjid. Jangan sampai saat anak semangat ke mesjid, kita larang. Giliran kita ajak trus mereka ga mau, kita marah-marah. Padahal kita yang “mengajarkan”nya pada anak. Na’udzubillah.

Membangun (Kembali) Kebiasaan Anak Dimulai dari Komitmen Orang Tua

Membangun kebiasaan maupun mengembalikan kebiasaan baik pada anak sangat membutuhkan komitmen orang tua. Bagaimana tidak, jika komitmennya kendor tentu pengawasan untuk membiasakan sesuatu menjadi turut melemah. Anak yang masih masa pembentukan itu pun kehilangan pijakan untuk membangun kebiasaan baiknya.

Terkait shalat, diperintahkan di usia 7 tahun. Akan tetapi tak ada larangan untuk mengajak atau mengizinkan ia turut serta shalat. Sambil dibiasakan, kita nasihatkan terus adab tentang shalat, tentang adab di masjid, adab shalat berjamaan dsb.

Membangun kebiasaan baik seperti makan sambil duduk, makan menggunakan tangan kanan, membuang sampah di tempatnya, pipis di jamban, cebok setelah buang air, menyimpan piring kotor di tempat cuci piring, menyimpan baju kotor di wadahnya, memilih jajanan, dsb. Semua itu butuh kesungguhan dari orang tua. Sebab kita yang akan membantu dia mengontrol dan mencontohkan hal tersebut.

Terkadang jadi capek sendiri ya rasanya. Apalagi jika lingkungan kita termasuk yang kurang mendukung kebiasaan baik yang kita coba tanamkan pada anak. Tapi perjuangan dalam proses membangun kebiasaan anak itu akan kita rasakan manis buahnya, cepat atau lambat tergantung kebiasaan apa yang kita ajarkan.

Sebagai contoh, kebiasaan menyimpan piring kotor di tempat cuci piring meringankan beban ibu untuk membereskan wadah bekas makan anak-anak. Kita tinggal cuci saja piringnya karena wadah kotor itu sudah berada di tempatnya. Tak perlu lagi beberes mengumpulkan piring kotor yang berserak. Mengurangi 1 kerjaan. Apalagi jika ibu tidak menggunakan jasa asisten rumah tangga. Kalaupun menggunakan jasa ART, tetap saja hal ini baik sebab kita telah membantu meringankan tugas ART sehingga ia dapat mengerjakan hal lain.

Kebiasaan membuang sampah pada tempatnya pun menjadi sebuah nilai yang akan sangat berguna bagi lingkungan. Kalaupun kita tidak turut serta aktif dalam pengelolaan limbah sampah, setidaknya kita tidak membiarkan anak-anak menjadi pelaku aktif dalam mengotori lingkungan dengan sampah berserakan.

Bagaimana Menguatkan Komitmen Orang Tua?

Kesepakatan paham antara pasangan suami dan istri sangat diperlukan. Hal ini menjadi pondasi utama dalam menjalankan komitmen membangun kebiasaan anak.

Selain menjadi contoh nyata dalam kebiasaan baik itu, komitmen ayah dan ibu juga menguatkan serta memudahkan proses pembentukan kebiasaan baik dalam keluarga. Jika ayah dan ibu sepaham, maka tak ada istilah “gontok-gontokan” karena yang satu berpendapat “piring kotor taruh di tempatnya” yang lain berpendapat “itu kan tugas ibu/ayah”. Akhirnya anak memilih yang paling enak dong: biarkan saja piring kotor berserakan dimana pun.

Kesepahaman antara suami-istri juga akan menjadi banteng menghadapi perbedaan pendapat dari pihak luar. Pihak luar disini maksudnya pihak-pihak di luar ayah-ibu-anak. Penting untuk suami-istri sepaham agar dapat memahamkan sekitar terutama keluarga besar tentang kebiasaan yang sedang coba dibangun berikut cara yang ditempuh.

Guna menguatkan komitmen ini, masing-masing suami istri mesti menguatkan diri terhadap apa yang disepakati. Siap lahir batin menjalankan semua prosesnya meskipun “berdarah-darah”. Siap mengubah diri menjadi lebih baik agar dapat menjadi contoh terbaik sebagai pengejawantahan komitmen keluarga.

Iringi Tawakal Sejak Awal

Jauh sebelum mengusahakan atau berikhtiar membentuk kebiasaan baik pada anak, kita sudah harus mengiringinya dengan tawakal. Upaya kita membiasakan kebaikan bukan untuk pamer atau dipuji orang, melainkan upaya kita memenuhi amanah untuk tidak meninggalkan generasi yang lemah di belakang kita. Maka niat yang lurus itu dibarengi tawakal bahwa ikhtiar yang kita lakukan adalah ikhtiar terbaik yang bisa kita berikan. Dan hasilnya kita serahkan pada Allah saja.

Wallahu a’lam.

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Menikmati Bakso Astagfirullah nan Nikmat

Beberapa kali berbincang tentang menikmati bakso astagfirullah nan nikmat membuat saya penasaran seperti apa sih bentuknya kok sampe dikasih nama seperti itu. Eh lebih tepatnya bukan dikasih nama sih, tapi dijuluki. Teman-teman bilang ini salah satu tempat recommended buat nyoba baso yang enak tapi ga biasa.

Ga biasanya gimana? Konon pesan satu porsi aja cukup. Bahkan, porsi terbaiknya bisa dinikmati oleh sampai 8 orang. Pan berarti gede banget. Mateng ga ya? haha..

Dan rasa penasaran itu akhirnya terobati saat secara tidak sengaja diajak teman untuk mampir di tempat tersebut sepulang pelatihan PPA di hotel Topas, Pasteur, Bandung. Pas diajak sih ga nyangka akan ke tempat itu. Cuma dibilang “hayuk lah kita nyoba sesuatu yang pasti semua suka”. Yep, bakso adalah makanan sejuta umat apalagi kaum hawa. Pengecualian: suamiku. Ya, pertama dia bukan kaum hawa, kedua memang doi ga terlalu suka bakso padahal adek saya yang cowok suka bakso 😀

Bakso Raksasa Bikin Ucap Astagfirullah Begitu Melihatnya

Usai training, bergeraklah kami menuju bakso Laman astagfirullah. Baso laman ini katanya udah lama ada dengan ciri khas bakso raksasa yang ditawarkan. Tempatnya sih biasa aja, tapi emang rame. Begitu lihat gerobak mamang penjualnya, ah ga gede-gede amat. Pas mau pesan, ternyata memang kita dah kehabisan yang jumbo dan tersisa yang kecil. Lirik ke gerobak, “hoo itu bakso kecilnya ya? Oke. Sanggup lah”. Maklum, di gerobak kan bakso yang belum direbus. Saya lupa tuh poin itu. Hwehehe.

Dipesankanlah masing-masing 1 porsi. Keisengan temen sih sebenernya. Dia sendiri pesen 1 porsi dan ngajak temen satunya buat barengan. Kayaknya dia udah sadar kalua ga akan habis.

Begitu disajikan, “astaghfirullah” reflek kami mengucap kalimat seperti itu. Ini ukuran baksonya semangkok tuh penuh. Bakso mangkok ini mah namanya. Baksonya segede mangkok. Pantesan pada nyebut bakso astagfirullah ya, lha pas nerima kita memang reflek mengucapkan kalimat itu (maklum, di Bandung pan mayoritas muslim).

Dimana sih Bakso Astagfirullah Lokasi Tepatnya?

Saat mendapat rekomendasi tempat makan bakso enak di Bandung, saya masih bingung. Dimana sih lokasi bakso astaghfirullah itu? Dulu ga sempat googling karena emang belum tahu kapan bisa kesana. Baru deh belakangan ini tahu alamat bakso astagfirullah Bandung ada di jalan Sukawarna no. 21. Wah, dimana itu? Kalau teman-teman tahu Pasteur atau BTC (Bandung Trade Center), nah lokasinya di belakang mall. Makanya beberapa orang menyebut bakso astaghfirullah BTC atau baso astaghfirullah Pasteur. Nama aslinya Bakso Laman Astagfirullah Aladzim Moro Seneng malah jarang ada yang tahu.

Bakso Laman astagfirullah buka mulai jam 10 pagi dan tutup sekitar jam 10 malam dengan range harga 25.000-150.000 per porsi. Harga yang cukup reasonable dengan apa yang disajikan. Kalau mau traktiran sampai 20 orang, insyaallah muat karena memang kapasitas tempatnya dapat menampung hingga 20 orang dewasa. Parkir motor dan mobil tersedia di sekitar lokasi bakso laman astagfirullah aladzim. Pastikan bawa uang cash sebab hanya menerima pembayaran tunai.

Opsi bakso yang tersedia mah standar tukang bakso pada umumnya: bisa pesan bakso saja, bakso plus bihun, mie bakso ataupun bakso campur mie dan bihun. Ini kembali ke selera masing-masing. Saya sendiri lebih suka bikin bakso. Nikmati dalam “kondisi” original. Lanjut tambahkan sedikit pedas, nikmati. Lanjut kasih saus dan kecap. Jadi sekali makan bisa menikmati 3 sensasi rasa berbeda.

Kalau teman-teman ingat keluarga di rumah, bisa juga kok dibungkus. Tenang saja, harga mah tetep sama kok. Bisa jadi kejutan untuk orang-orang tercinta. Apalagi jika mereka adalah penggemar bakso juga.

Bagaimana Rasa Bakso Astagfirullah?

Kalau saya, yang pertama kali dinikmati saat menyantap bakso adalah kuahnya. Jika kuahnya enak, bakso yang rasanya biasa bisa terobati. Nah, kalau bakso laman bandung ini sudah mah kuahnya enak, baksonya pun mantap. Endeus kata orang mah. Jadi menikmati sekali

Jika pertama kali datang ke bakso laman astagfirullah Bandung Bersama teman atau keluarga, baiknya pesan 1 porsi dulu saja. Bukan karena ragu jadi kudu nyicip rasa dulu, tapi lebih pada “siapa tahu ga sanggup menghabiskan baso astaghfirullah ini”. Hehehe..

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.