Jodoh Logis

Berbicara tentang jodoh, kata ini sering digandengkan dengan sesuatu yang akan melekat atau dekat. Di masyarakat (di tatar Sunda misalnya) ketika kita kehilangan sesuatu, maka kalimat yang terlontar adalah “belum jodoh”. Sementara ketika kita sedang mengharapkan sesuatu, maka kalimat yang diucapkan adalah “siapa tahu jodoh”. Jadi, kita sepakati dulu ya bahwa kata “jodoh” tak melulu berbicara tentang pasangan hidup (suami/istri) tapi juga hampir banyak hal dalam kehidupan kita.

Bahasan mengenai logis ini saya sandarkan pada sebuah istilah yang dikenal dengan logical decision. Istilah ini saya dapat di 3 kelas dengan basis keilmuan yang sama, NLP.

logissMenariknya, bahasan mengenai logical decision ini bagi saya seolah memperjelas tentang perbedaan menyegerakan dengan terburu-buru. Jika menyegerakan adalah hasil sebuah keputusan logis, sementara terburu-buru adalah murni urusan emosional, urusan rasa tanpa pertimbangan logis.

Lalu apa yang ingin saya sampaikan dengan judul jodoh logis? Ini semacam istilah untuk mencatatkan bahwa dalam mengambil setiap keputusan maka keputusan itu haruslah yang sudah dipertimbangkan dengan matang. Dan pertimbangan yang matang itulah yang saya pahami sebagai pilihan logis.

Sebagaimana saya tulis di awal, jodoh bukanlah hanya sekadar tentang pasangan hidup. Maka saya memaknai jodoh logis adalah semua keputusan final rasional untuk memilih. Entah itu memilih rumah, memilih pasangan, memilih pekerjaan, memilih jurusan kuliah, memilih proses kelahiran dan lain sebagainya.

Saya sendiri sedang dihadapkan pada sebuah pilihan: mencari rumah. Masa kontrakan rumah saat ini sudah hampir habis sementara kami sudah lama tinggal di sini. Ingin suasana baru.

Mencari rumah juga adalah sebuah proses memilih apakah akan tetap tinggal di sini dengan segala pertimbangannya atau pindah ke tempat lain. Mempertimbangkan apakah akan tetap di sini atau mencari rumah lain dengan harapan menemukan suasana baru dan lebih baik.

Saat ini kami sudah mendapatkan beberapa opsi. Ada kurang dan lebihnya memang, tapi lagi-lagi jika kita membahas jodoh logis, maka kami –saya terutama- harus mempertimbangkan dengan logis keputusan-keputusan itu.

logis

Saya sendiri mengakui, perempuan memang sering kali mendahulukan rasa. Ya, pokoknya pengen pindah aja. Rumahnya cukup oke kok tinggal dirombak dikit, inSyaAllah akan nyaman ditinggali. Daripada nanti keduluan sama yang lain seperti rumah sebelumnya.

Tapi suami beda lagi, beliau dengan tenang minta tangguhan waktu 3 hari untuk mempertimbangkan apakah akan mengambil rumah tersebut atau tidak. Ya, itu lah kenapa perempuan memang sudah selayaknya bersanding dengan laki-laki agar saling melengkapi untuk memutuskan dengan seimbang: rasa dan akal.

Kemudian saya flashback kepada keputusan di masa lalu. Ketika memilih pekerjaan, ketika memilih kuliah bahkan ketika memutuskan menerima pinangan. Mengingat kembali mana dari semua pilihan itu yang dipertimbangkan dengan baik dan mana yang emosional. Ya, saya menemukan perbedaan yang kentara entah di hasil maupun di prosesnya.

logical decision

Di sini kemudian saya paham tentang istikharah. Mengapa dalam Islam, istikharah menempati posisi penting ketika kita dihadapkan pada sebuah pilihan.

Ada beberapa pendapat mengenai istikharah. Ada yang berpendapat untuk semua pilihan, ada pula yang berpendapat jika sudah mentok dengan pertimbangan akal kita dan ga yakin-yakin dengan pilihan kita.

Tapi kalau berdasarkan hadits yang saya dapat, istikharah adalah sebuah cara untuk meminta petunjuk Allah atas keputusan kita apakah benar atau tidak. Apalagi jika dihadapkan pada pilihan-pilihan yang memiliki urgensi yang sama pentingnya.

Di sini jelas, pertimbangannya logis. Tidak sekadar mempertimbangkan rasa, tapi juga kemungkinan akibat yang akan muncul di kemudian hari. Dan dengan istikharah, kita memasrahkan hasil usaha kita dalam penemuan jodoh ini agar ditunjukkan pada keputusan yang lebih baik.

Baiklah.. mari pertimbangkan dan istikharah. Semoga Allah pertemukan dengan jodoh terbaik entah itu rumah, pasangan, kendaraan, pekerjaan, sekolah dan yang lainnya. –Semoga Allah pertemukan dengan rumah terbaik bagi kami sekeluarga. Aamiin 😀

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari para sahabatnya untuk shalat istikharah dalam setiap urusan, sebagaimana beliau mengajari surat dari Alquran. Beliau bersabda, “Jika kalian ingin melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua rakaat selain shalat fardhu, kemudian hendaklah ia berdoa:

 

Allahumma inni astakhiruka bi ‘ilmika, wa astaqdiruka bi qudratika, wa as-aluka min fadhlika, fa innaka taqdiru wa laa aqdiru, wa ta’lamu wa laa a’lamu, wa anta ‘allaamul ghuyub. Allahumma fa-in kunta ta’lamu hadzal amro (sebut nama urusan tersebut) khoiron lii fii ‘aajili amrii wa aajilih (aw fii diinii wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii) faqdur lii, wa yassirhu lii, tsumma baarik lii fiihi. Allahumma in kunta ta’lamu annahu syarrun lii fii diini wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii (fii ‘aajili amri wa aajilih) fash-rifnii ‘anhu, waqdur liil khoiro haitsu kaana tsumma rodh-dhinii bih.

 

Ya Allah, sesungguhnya aku beristikharah pada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kepada-Mu kekuatan dengan kekuatan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan dan aku tidaklah mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak tahu. Engkaulah yang mengetahui perkara yang gaib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini baik bagiku dalam urusanku di dunia dan di akhirat, (atau baik bagi agama, kehidupan, dan akhir urusanku), maka takdirkanlah hal tersebut untukku, mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agama, kehidupan, dan akhir urusanku (atau baik bagiku dalam urusanku di dunia dan akhirat), maka palingkanlah ia dariku, dan palingkanlah aku darinya, dan takdirkanlah yang terbaik untukku apapun keadaannya dan jadikanlah aku ridha dengannya. Kemudian dia menyebut keinginannya” (HR. Ahmad, Al-Bukhari, Ibn Hibban, Al-Baihaqi dan yang lainnya).

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Pembelajar Tipe Apa?

Ketika ikut kelas Mind Technology Mastery kemarin, ada salah satu bahasan yang saya lupa judul awalnya tapi intinya membahas tentang setidaknya 3 tipe orang. Setelah saya coba mencari informasinya di internet, ada beberapa versi dan beberapa sebutan. Saya kemudian memilih untuk menyebutnya: gaya belajar seseorang.

Istilah ini sebenarnya sudah banyak dikenal masyarakat luas. Yaitu, visual, auditor dan kinestetik. 3 jenis cara efektif seseorang ketika mendapatkan informasi.

Cara termudah untuk mengetahui apakah seseorang itu visual, audio atau kinestetik adalah ketika ia mencoba mengingat sesuatu. Jika matanya melihat ke atas (kanan ataupun kiri), maka ia kemungkinan besar adalah seorang visual. Jika bola matanya mengarah ke bawah ketika mengingat sesuatu (baik kanan ataupun kiri) maka kemungkinan dia adalah seorang auditor. Sementara jika matanya ke kanan atau kiri ketika mengingat, ia adalah seorang kinestetik (sejajar dengan telinga alias di posisi biasa hanya saja berpindah ke kanan atau kiri, bukan atas atau bawah).

tipe pembelajar dari-bolamata-1

Lalu apa pentingnya mengetahui ini? Berdasarkan beberapa artikel, hal seperti ini dapat berguna untuk menemukan cara efisien ketika belajar sekaligus mencari tahu apa kelemahannya.

Nah, kita coba tuliskan satu per satu dari ketiga jenis pembelajar tersebut ya.

Visual

  • -Seorang visual biasanya cenderung berbicara lebih cepat.
  • -Belajar efisien dengan sistem melihat chart atau diagram (atau apapun berupa gambar).
  • -Butuh ketenangan alias sunyi senyap saat belajar. Ada noise sedikit saja bisa membuyarkan konsentrasinya.
  • -Dapat membayangkan gambar
  • -Catatannya detil sekali
  • -Senang duduk di depan kelas atau ketika di depan meja, ia cenderung mencondongkan badannya ke depan.
  • => Cara tes terbaiknya: memetakan diagram, membaca peta, esai, dan semua hal yang memperlihatkan sebuah proses
  • => Cara tes yang jadi kelemahannya adalah mendengarkan dan tes respons.
  • -> Anjuran belajar untuk seorang visual adalah:
  • -Buat uraian atau gambar terkait info yang dibutuhkan
  • -Salin apa yang ditulis di papan tulis
  • -Buat bagan kalimat
  • -Buat catatan dan daftar
  • -Menggunakan penanda seperti stabilo pada catatan atau buku
  • -Gunakan flashcard

Auditory

  • -Seorang auditor biasanya cenderung berbicara secara perlahan dan menjelaskan sesuatu dengan lebih baik
  • -Mampu menjadi pendengar yang natural
  • -Senang mengulang sesuatu dengan keras
  • -Berpikir linear
  • -Membaca dengan begitu pelan
  • -Lebih suka mendengar daripada membaca informasi
  • => Cara tes terbaiknya adalah dengan menuliskan apa yang mereka dengar dan ujian lisan.
  • => Kelemahannya jika dihadapkan pada ujian tertulis yang diberi waktu tertentu dan bagian tulis menulis
  • ->Anjuran belajar bagi seorang auditori adalah
  • -Gunakan persamaan kata untuk mengingat baris dan fakta
  • -Rekam suara guru saat menerangkan dan tonton video
  • -Mengulang sambil memejamkan mata
  • -Bergabung dalam sebuah diskusi kelompok
  • -Mereka catatan setelah menuliskannya

Kinestetik

  • -Seorang kinestetik bicaranya lebih pelan lagi dibanding seorang auditor. Jadi tipe ini yang bicaranya paling pelan (baik dalam hal suara maupun nada)
  • -Learning by doing dan menyelesaikan masalah yang benar-benar nyata. Kudu praktek.
  • -Menyukai pendekatan dengan melibatkan sentuhan (terasa)
  • -Tak bisa duduk diam dalam waktu yang lama, ya karena dia harus terus bergerak
  • -Butuh rehat saat belajar
  • -Menderita kalau sudah disuruh memperhatikan dalam jangka waktu lama
  • => Ujian yang paling memudahkan seorang kinestetik adalah pilihan ganda, penjelasan singkat (ga sampe esai), dan mengisi (saja, misal tinggal menuliskan centang atau sebagainya)
  • => Ujian yang paling menyiksa bagi seorang kinestetik adalah esai dan tes umum
  • -> Cara belajar yang dianjurkan untuk seorang kinestetik yakni
  • -Belajar dalam waktu singkat
  • -Kelas laboratorium
  • -Melakukan field trip
  • -Belajar dengan orang lain
  • -Gunakan flashcard ataupun memory Games.

Mengetahui gaya belajar ini selain untuk diri kita sendiri, juga dapat digunakan untuk mengenali orang lain. Bagi yang berkutat di dunia pendidikan atau bagi orang tua, hal ini bisa digunakan untuk mengecek gaya belajar anak sehingga kita dapat mencari tahu gaya seperti apa yang cocok untuk diterapkan pada anak. Dan ingat, karena setiap anak unik meski kakak beradik mungkin tipe belajar mereka berbeda. Jadi jangan pukul rata ya ^_^

Ilmu semacam ini mungkin akan jadi hal yang debatable karena keabsahannya bisa jadi dipertanyakan meski sudah berdasar hasil riset. Tapi kalau saya pribadi, hasil tes-tes seperti ini tinggal dicek aja kesesuaiannya dan lebih untuk menambah pengetahuan dan ilmu bagaimana mengenal diri dan orang lain dengan lebih baik.

Saya seorang visual yang auditori. Bagaimana dengan anda?

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Asyiknya Naik Turun Tangga

Ketika usianya menjelang 2 tahun, anak biasanya mulai senang menaiki tangga dan mencoba turun (meski terkadang mereka tak bisa turun karena tangga yang dinaikinya terlalu tinggi). Ada respons sikap yang mungkin berbeda dari setiap orang tua. Salah satu yang baik adalah dengan membiarkan anak tetap naik turun dengan pengawasan dan pendampingan orang tua.

Sebaiknya biarkan anak naik turun karena di usia balita anak sedang masa eksplorasi, masa belajar yang menyenangkan. Sambil naik turun, orang tua mungkin dapat sekaligus mengenalkan angka dengan menghitung setiap anak tangga yang dinaiki dan menghitung setiap anak tangga ketika turun. Bisa juga sambil mendendangkan lagu, naik-naik ke puncak gunung misalnya.

Dengan naik turun tangga sambil berhitung atau sambil bernyanyi, secara tidak langsung kita tengah memperkenalkan banyak keterampilan baru sekaligus. Mempertajam pendengaran, memperkuat otot, memperkenalkan angka dan konsep berhitung, dan meningkatkan kepercayaan diri anak.

Jika anak sudah berulang kali naik turun tangga, anak akan cenderung semakin percaya diri untuk naik ke tangga yang lebih tinggi. Tentu harus dalam pengawasan orang tua.

Sebagai awal, orang tua dapat mengajarkan anak naik turun tangga cukup 3 anak tangga saja. Biarkan anak naik sendiri, dan ketika dia kesulitan turun, bantulah secukupnya jangan gendong anak untuk turun. Mungkin saat anak ragu ketika turun, orang tua dapat menuntunnya menuruni anak tangga.

Naik turun tangga juga bisa menjadi sarana untuk mengajarkan anak tentang keselamatan. Ajarkan ia untuk hati-hati ketika menaiki tangga, pun ketika ia menuruni anak tangga. Anak senang, orang tua juga ikut senang meski harus sabar karena deg-degan ketika anak berusaha keras naik maupun turun dari tangga.

Melalui proses naik turun tangga, anak juga belajar tentang konsep naik dan turun. Anak belajar mandiri dan merasa dipercaya untuk bisa naik turun sendiri. Naik turun tangga dapat menjadi proses anak belajar koordinasi motorik kasar.

Selama proses belajar ini, orang tua harus selalu ada di sampingnya untuk mengawasi dan memastikan keselamatannya. Kalaupun anak ingin dibiarkan sendiri, pastikan orang tua tetap ada di sekitarnya untuk mengintip bahwa anak tidak melakukan hal yang berbahaya. Penting untuk memberi tahu anak tindakan apa saja yang mungkin berbahaya atau tidak baik dilakukan selama proses naik turun tangga.

buku tangga

Jadi jika anda menemukan balita senang naik turun tangga, mungkin karena memang fasenya dan anak balita sedang mengumpulkan banyak informasi tentang dunia sekitarnya, melatih dirinya sekaligus memenuhi rasa ingin tahunya terhadap sesuatu.

*jika tidak ada tangga di rumah, bisa manfaatkan tangga di tempat lain atau dengan menumpuk benda membentuk tangga, misal tumpukan buku atau dus. Pastikan tangga buatannya aman dan kuat dinaiki anak.

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Empati, Mempertahankan Diri dan Kemandirian

Setelah 4 tulisan sebelumnya, tulisan ini sepertinya akan jadi tulisan terakhir untuk diskusi sementara di grup emak-emak cantik. 4 tulisan lainnya bisa cek di satu, dua, tiga, empat.

Mempertahankan diri. Sebuah sikap ketika menghadapi ancaman atau sesuatu yang tidak nyaman.

Ada saat anak harus berempati tapi ada saat anak harus mempertahankan diri. Tindakan mempertahankan diri ini penting agar ketika ada temannya yang semena-mena padanya ia mampu membedakan kapan harus berempati dan kapan harus mempertahankan diri agar tidak terus-terusan disakiti orang lain yang jika dibiarkan akan jatuh pada kasus “bullying”.

Pun ketika anak marah pada kita dengan memukul misalnya, orang tua pertama mencoba berempati, “Aa marah sama ummi ya? Maaf sudah bikin Aa kesal.” dst hingga si anak merasa tenang, baru kemudian ke solusi (bin bin Solutions) “tapi umminya jangan dipukul, disayang aja. Kalau marah, bilang baik-baik ya anak shalih”. Jika orang tua tidak mempertahankan diri seperti ini, anak akan menganggap bahwa itu boleh dan lama kelamaan bisa tambah parah. Na’udzubillah min dzalik.

Dengan berempati lalu mempertahankan diri anak juga belajar lemah lembut tapi tegas menghadapi kemarahan orang lain. Empati hanyalah sebuah cara memahami orang lain, bukan cara menyelesaikan masalah. Tetap harus ada langkah selanjutnya untuk sampai pada solusi. Empati dulu baru kemudian problem solving.

Empati juga mengajarkan kita untuk bersabar dalam proses memahami kenapa dan bagaimana orang lain bertindak. Kelak sikap empati ini jadi bekal kita maupun anak ketika anak mulai belajar mandiri.

give empathy

Kan ada saatnya anak mulai ingin serba sendiri tapi belum sepenuhnya bisa. Jika kita tidak mampu berempati dan memaksa “sama ummi aja deh biar cepet” karena tak mau sabar dengan proses belajar anak, hal ini justru akan mematikan kemandirian anak. Dan takutnya nanti anak akan belajar cemen, cengeng, manja dan tidak mandiri.

Sering kali hal “sepele” semacam ini berujung anak jadi anak mami banget. Apa-apa harus sama ummi, hampir semua hal tergantung sama ibunya. Ujung-ujungnya yang rugi ya orang tua sendiri, ketika saatnya anak harus bisa mandiri, anak ga bisa. Sebenarnya bukan tak bisa tapi karena memang sudah tertanam bahwa “sama ibu lebih cepat dan aman”.

Iya kalau kita punya anak tunggal, kalau punya anak lebih dari satu? Kebayang repotnya semua harus serba dilayani. Maka empati membantu kita lebih tenang dalam mempercayai orang lain dan ketika kita menghadapi masalah.

Perhatikan pula pola komunikasi dengan anak saat berempati. Hal ini penting karena biasanya kesalahan cara komunikasi menjadi penyebab kenapa empati itu belum bisa menjadi awalan dari sebuah solusi yang baik.

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Memuji Anak, Perlukah?

Bahasan random lainnya dari diskusi di grup emak-emak ini tentang pujian. Sebelumnya sudah ada 3 tulisan yang saya catatkan dari diskusi emak-emak cantik ini, tulisan pertama di sini, yang kedua di sini dan terakhir di sini.

Pujilah anak sekadarnya. Pujian itu penting, tapi harus tepat. Jika anak berbuat salah, ya katakanlah salah. Jika anak berbuat benar, maka pujilah dia.

pujian

Pujilah anak untuk hal yang tak biasa atau pencapaian pertama. Tapi untuk hal yang sifatnya rutinitas dan anak sudah terbiasa bisa, maka pujian tidak lagi menjadi urgensi, hal ini penting agar anak tidak pamrih. Berterima kasih saja mungkin sudah cukup ya.

Ketika anak mencapai sebuah prestasi, kita juga bisa tidak langsung memberikan pujian tapi menantang anak untuk lebih lagi. Misal ketika anak mampu membangun sebuah rumah dari brick mainannya, tantang untuk dia membuat menara. Anak puas ketika mampu mencapai, pujian pun menjadi trigger penyemangat agar anak selalu berusaha menjadi lebih baik.

Tapi bukan berarti tidak boleh memuji sama sekali ya. Anak yang tumbuh tanpa pujian akan menjadi seorang pengkritik menyebalkan.

Anak dengan pujian yang tepat akan tumbuh sebagai pribadi penyayang dan tahu cara menghargai orang lain. Sementara anak yang tuna pujian akan menjadi pengkritik tak berhati. Mengkritik atau bahkan memarahi orang lain di hadapan umum.

Berbicara tentang menghadapi kritikan, tugas orang tua adalah mendidik pribadi yang lebih baik. Tidak terpuruk oleh kritikan melainkan ia bangkit karena kritikan itu bukannya menjadi orang negatif setelah kritikan. Dan ini akan jadi pribadi anak jika ia sudah memiliki kematangan emosi seperti di tulisan sebelumnya.

Ketidaknyamanan ditindas biasanya akan membuat rantai setan karena yang ditindas kelak ketika memiliki kuasa akan memilih jadi penindas juga. Dan begitu terus regenerasi tak jelas.

Masing-masing kita terlahir dengan berbagai kecenderungan bawaan yang akan membentuk masa depannya. Namun, setiap kecenderungan memiliki banyak cabang, bisa baik atau buruk. Maka tugas setiap orang tua dan pendidik bukan ikut campur memaksa mengarahkannya melainkan memberi contoh kebiasaan yang nantinya terbawa hingga anak dewasa. Dengan demikian kita akan mampu melepaskan anak lebih bebas tanpa khawatir anak akan berbuat hal yang negatif karena pembiasaan positif yang dipupuk sedari awal akan bertunas dan tumbuh dalam pribadi anak. Hal inilah yang kelak menjadi bekal ketika anak dihadapkan pada sebuah pilihan, dia akan secara otomatis memilih yang positif baginya.

Pernah satu ketika ada kasus anak yang senang membunuh bahkan hingga menguliti binatang. Lalu oleh profesor Conny Semiawan yang menghadapi anak itu menyarankan agar si anak diarahkan ke hal positif. Kedua orang tua anak itu kemudian menyekolahkan anaknya ke Jerman khusus bagian tukang jagal Kwan potong untuk dimakan. Sepulangnya dari Jerman, si anak membuka toko daging sapi di Jakarta dan ia begitu paham daging mana yang enak tanpa pernah meleset.

Masih bahasan tentang EQ, anak yang cerdas secara IQ tapi belum matang secara EQ sebaiknya tetap diikutsertakan dalam sebuah sekolah yang sesuai dengan EQnya. Karena EQ ini berbicara soal pembiasaan dan kematangan, maka orang tua jangan tergesa mengikutkan anaknya ke kelas akselerasi agar anak dapat tumbuh seimbang secara optimal.

pujian2

Pujian dan kritikan adalah salah satu bagian penting dalam meningkatkan kemampuan emosi anak. Dengan pujian anak merasa dihargai, dengan kritikan anak belajar menerima bahwa dia juga hanya manusia dan harus terus belajar menjadi pribadi yang lebih baik.

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Biarkan Anak Mengeluarkan Emosi Negatifnya

Masih sambungan dari diskusi di grup emak-emak (2 tulisan sebelumya bisa dilihat di sini dan di sini). Menurut Daniel Goleman, menghardik anak untuk tidak boleh mengeluarkan emosi negatifnya itu adalah tindakan berbahaya. Jangan lindungi anak dari emosi negatif semacam rasa kalah, rasa kecewa, rasa marah, putus asa dan lain sebagainya.

Jadi jika anak marah, biarkan saja mereka mengeluarkan emosi marah itu lalu kita beri nama untuk emosi itu agar nanti anak paham. Misal, ketika anak kalah lomba lari, anak pasti kecewa. Maka ajak anak untuk mengobrol, “temennya lari lebih cepat dari Aa ya. Aa kecewa? Ya sudah, ummi tunggu sampai kecewa Aa hilang. Terus habis itu, menurut Aa kita harus gimana?”

Bahkan ketika kita marah pun, kita harus bilang kalau kita marah. Bilang bahwa saya kecewa karena kami begini begitu. Jadi saat emosi negatif keluar, kita harus mengeluarkannya serta menamainya atau katarsis. Hal ini berguna juga agar anak mampu berempati terhadap emosi kita. Meski mengeluarkan emosi negatif bagi orang dewasa ga harus dengan uring-uringan ga jelas ya. Harus sudah lebih paham manajemennya.

Biarkan anak kecewa karena temannya tidak mau menemani dia main, tidak mendapatkan jatah pinjam mainan dari temannya, dan sebagainya. Kita harus mendampingi anak saat mereka mengeluarkan emosi negatif untuk kemudian memasukkan informasi mengenai emosi negatif ini.

Merayakan kekalahan adalah sebuah hal yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Tapi di random diskusi kemarin, ternyata merayakan kekalahan atau kekecewaan ini perlu, tapi ga sembarang merayakan. “wah, kita kalah. Ga apa, kita coba evaluasi kenapa kita kalah. Sekarang kita rayakan dulu yuk kekalahan kali ini”.

Emosi negatif yang tidak belajar untuk dikeluarkan, dapat menghancurkan di masa mendatang. Istilah sundanya mah mungkin ambek nu kapegung. Kemarahan atau kekecewaan yang terkungkung tidak boleh dikeluarkan, satu saat akan meledak seperti bom waktu.

emosi negatifJika anak belajar kecewa sedari kecil, ketika ia besar nanti ia sudah terbiasa menghadapi kekecewaan dan tahu harus bagaimana menyikapinya. Sementara anak yang selalu dilindungi dari kekecewaan, kelak setelah dewasa ia akan menjadi orang yang menyebalkan. Semua orang akan direpotkan untuk memenuhi keinginannya dengan berbagai cara sampai cara ekstrim dan tidak halal sekalipun. Na’udzubillah.

Orang tua tetap harus menjaga emosi ketika anak salah atau bertingkah. Agar anak tetap tahu bahwa ia salah tapi tidak mendapat perlakuan yang tidak tepat.

Empati bukan berarti menyetujui segala tindakan anak, tapi empati itu memahami dan menerima perasaannya untuk kemudian didiskusikan bersama. Jika salah ya diarahkan ke yang benar, jika benar ya dikasih tahu bahwa memang sebaiknya begitu

Anak yang mampu berempati akan paham mana orang yang berempati dan mana yang tidak. Kelak anak akan tetap berempati pada orang lain.

Biarkan anak tahu bahwa rasa marah, kecewa dan sedih itu wajar. Bukan aib. Hanya penyaluran emosi yang harus diarahkan ke penyaluran yang tepat. Membiarkan anak diam karena kesal hanya akan membuat anak agresif pasif.

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Kecerdasan Rasa

Di tulisan sebelumnya sudah sedikit dibahas mengenai empati. Empati berkaitan erat dengan Emotional Quotien (EQ) karena memang empati ini bagian dari EQ. Dalam ilmu Psikologi, Daniel Goleman menjelaskan bahwa jika kita tidak mampu mengelola dengan baik aspek perasaan atau emosi, maka kita tidak akan mampu menggunakan aspek kecerdasan konvensional/kognitif (IQ/Intellectual Quotient) dengan efektif. Penjelasan ini dibahas dalam buku Emotional Intelligence.

Goleman mengatakan bahwa kontribusi IQ bagi keberhasilan seseorang hanya sekitar 20% sementara 80% sisanya ditentukan oleh berbagai faktor kecerdasan emosional. EQ ini berperan sangat penting dalam keberhasilan hidup seseorang dalam hampir semua aspek keseharian. –saya kemudian terpikir, itu kenapa Rasulullah ajarannya luar biasa ya, memperhatikan semua aspek kecerdasan-

Goleman memformulasikan gagasannya dalam sebuah kerangka kecakapan emosi yang mencakup kecerdasan interpersonal dan intrapersonal. Intrapersonal Intelligence merupakan kecakapan mengenali perasaan dalam diri kita sendiri, sementara Interpersonal Intelligence adalah kecakapan dalam bermuamalah dengan orang lain.

Interpersonal Intelligence terdiri dari:

  • -Kesadaran Diri (Self Awareness): memahami emosi diri, penilaian pribadi dan kepercayaan diri
  • -Pengaturan Diri (Self Regulation): pengendalian diri (emosi), dapat dipercaya, waspada adaptif dan inovatif
  • -Motivasi Diri (Self Motivation): dorongan berprestasi, komitmen, inisiatif dan optimis

Orang-orang yang memiliki kemampuan interpersonal yang baik akan mampu melewati masa-masa sulit seperti depresi, perasaan tidak berdaya (yang negatif), Moody, cemburu, penyesalan, dan hal yang membuatnya tidak bahagia. Bahasan ini di luar bahasan traumatik ya, karena beberapa depresi bisa jadi karena trauma di masa kecil baik disengaja atau tidak, disadari atau tidak.

Interpersonal Intelligence terdiri dari:

  • -Empati (empathy): memahami orang lain, melayani, mengembangkan orang lain, mengatasi keragaman dan kesadaran politis.
  • -Kemampuan Sosial (Social Skill): pengaruh, komunikasi, kepemimpinan, katalisator perubahan, manajemen konflik, pengikat jaringan, kolaborasi, dan kerja sama tim.

Orang-orang yang memiliki kemampuan interpersonal yang baik akan lebih efektif dalam bermuamalah dan bekerja sama dengan orang lain meskipun melewati keadaan yang sulit. Mereka mampu lebih sukses dalam kehidupannya.

Orang yang memiliki EQ tinggi dapat hidup lebih bahagia. –dan teringat lagi, betapa Islam hadir dengan semua kesempurnaannya-

eq

Bahasan mengenai EQ di diskusi kemarin sampai di sini. Lalu berlanjut random chat yang kece banget. Masih membahas EQ juga sih tapi lebih ke aplikatif keseharian. Hehe. Nah, tulisan setelah ini akan mencatatkan apa saja isi chat random yang kece badai itu karena salah satu ember grup ternyata tesisnya bahas tentang EQ dan bahasan chat randomnya luar biasa!

Sampai ketemu di tulisan berikutnya ya ^_^

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.