Coba-coba Beralih ke Menspad

Jaman semakin modern tapi gaya hidup dalam perhatian saya sedang kembali ke “alam”. Seperti kembali ke masa kehidupan jaman dahulu kala saat orang-orang tua kita serba memanfaatkan alam tanpa tergantung pada kebanyakan barang yang diproduksi. Termasuk dalam penggunaan popok kain yang kemudian merambat pada penggunaan pembalut dari kain.

Ingatan saya terlempar pada masa SMP. Kala itu teman perjalanan saya, saya menyebut demikian karena dia adalah teman yang selalu barengan saat berangkat dan pulang sekolah, dia bercerita bahwa dirinya tidak menggunakan pembalut sekali pakai. Alasan dia saat itu sederhana saja, karena tidak ada uang untuk membeli pembalut. Sehingga setiap kali haid, dia menggunakan sobekan kain sinjang (biasa digunakan untuk jarik atau gendongan) yang dilipat. Jika sudah sekian jam, ia ganti dan kain itu dicucinya.

Saya yang mendengar cerita itu sesaat merasa bingung. Musti rajin kalau begitu ya. Gimana kalau ga kering? Padahal kain sinjang sendiri mudah kering. Pernah juga dia bercerita tentang insiden yang cukup bikin saya nyengir. Ah, pikiran anak-anak sekali karena saat itu memang belum mengalami.

Teringat akan kisah itu, saat kemudian mengalami masa-masa haid, saya berpikir sebenarnya teman SMP saya –yang sekarang entah ada dimana- benar-benar rajin. Tak terbayang harus berganti sekian jam sekali, mencuci dan memakainya lagi. Sesaat saat berpikir, agak jijik juga.

Hingga saat saya memiliki anak, pertama kali saya berkenalan dengan popok kain modern (dikenal dengan clodi) di usia anak pertama menginjak 6 bulan. Meski anak pertama menggunakan popok tali tradisional di 3 bulan kelahirannya, tapi saat bepergian ia sudah mengenal popok sekali pakai (pospak). Alhamdulillah keluarga masih termasuk yang berpikiran “ga apa cucian popok banyak, kasihan kalau pakai pospak masih bayi”. Ya meskipun kemudian hukum itu tidak berlaku di anak kedua. Hehe

Orang yang tahu saya membeli clodi sebagian mengernyitkan dahi, “ih mahal banget”. Iya sih memang. Clodi saat itu mahal pake banget. Kalau sekarang mah sudah pada sering banting harga. Meskipun secara performa, harga tidak berbohong. Hoho..

Tapi selentingan macam itu ga terlalu saya pedulikan. Sama saja ketika saya memilih membeli pompa ASI, coolerbag dan botol kaca untuk stok ASI Perah si sulung agar tetap mendapat ASI kala saya tinggalkan untuk kuliah dan ketika saya harus ke luar kota untuk mengurusi sisa-sisa pekerjaan yang belum selesai.

Meski sudah mengenal clodi, tapi saya lupa kapan tepatnya pertama kali saya mendengar istilah pembalut kain (atau dikenal dengan menspad). Hanya saja seingat saya, menspad saya kenal ketika anak pertama berusia sekitar 1 tahun. Saat itu belum tertarik menggunakan menspad meski anak sudah menggunakan clodi dan merasakan sendiri hemat dan capek ber-clodi 😀 eh saya jujur lho. Capek karena kan cucian bertambah. Hehehe..

Ketika akan beralih dari pembalut sekali pakai ke menspad, saya ragu. Bagaimana kalau susah mencucinya? Kan itu noda darah. Ah nanti saja deh beralihnya. Dan qadarullah hamil anak kedua. Sayangnya saat nifas saya malah beralih pada pembalut herbal, memang nyaman juga.

Sampai akhirnya tahun ini memilih beralih setelah melirik produk jualan yang tidak pernah saya promokan karena belum difoto-foto. Hahaha.. Awalnya terpaksa, tapi setelah mencoba ternyata oke juga.

menspad anannda

Menspad Anannda menjadi menspad pertama yang saya pakai. Model menspad-nya sendiri beda dari menspad lain yang pernah saya temui. Jika menspad lain seperti pembalut dengan wing pada umumnya, maka menspad Anannda lebih mirip celana dalam dengan gesper karet di bagian pinggang.

Pun untuk segi ukuran, jika menspad lain ukuran reguler dan maxi disesuaikan dengan kemampuan menampung volume cairan, maka ukuran pada menspad Anannda lebih pada ukuran tubuh penggunanya. Sebenarnya ukuran ini disesuaikan dengan kemampuan menampung juga, tapi bagi saya akan lebih akurat jika disesuaikan dengan bobot tubuh pengguna.

Ribet? Iya banget ribet. Harus punya banyak menspad? Antara iya dan tidak. Tapi kalau punya banyak juga harga menspad tidak semahal clodi kok. Hehehe..

Ribet karena setelah ganti sebaiknya dicuci. Atau kalaupun tanggung, bisa direndam air saja lalu dicuci setelah menumpuk sekalian supaya memudahkan juga saat dikeringkan pada spinner mesin cuci. Jika tidak memiliki mesin cuci, memang lebih lama keringnya tapi dibanding insert clodi, menspad tetap lebih cepat kering.

Saya baru memegang bahan 2 merk menspad: Anannda dan GG. Dua-duanya memiliki bahan yang lembut dan hampir sama sehingga kemungkinan mencucinya pun sama mudah sehingga noda darah insyaallah bisa mudah hilang asal begitu ganti langsung direndam air. Jika noda sulit hilang, gunakan sabun batang atau sabun pencuci piring.

Hanya saja dari segi warna, GG lebih menarik. Bahan outer (yang menahan agar tak mudah tembus) memiliki warna-warna soft dan bagian dalam berwarna putih polos. Model mirip pembalut biasa tapi ada tambahan wing untuk dipasang pada celana dalam.

Menspad Anannda sendiri memiliki warna outer (dan ada yang motif) yang bisa dibilang agak norak. Tapi bagian dalamnya cenderung gelap sehingga noda darah tidak terlalu nampak.

menspad
Foto ini saya ambil dengan mode terbalik. Bagian inner yang berwarna merah, outer yang warna hitam. Karet elastisnya yg di atas itu, warna hitam

Bagi saya, ukuran maxi lebih enak digunakan sementara ukuran reguler jadinya ngepas banget. Jadi jika teman-teman ingin menggunakan menspad Anannda, saya sarankan konsul dulu sama penjualnya ya, bobot tubuh.

Saya sendiri owner Belanja Keluarga yang merupakan Agen produk Anannda. Hanya saja lebih sering menggunakan sistem PO produksi terutama untuk reseller. Antrian produksi biasanya 2 minggu setelah PO ditutup.

Sudah dulu ah catatannya. Yang pasti setelah berulang kali menggunakan menspad, masih nyaman dan sudah tidak mengeluarkan dana untuk membeli pembalut sekali pakai ^_^

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Selamatkan Kepiting dari Es!

#MDanisyFI memainkan penyelamatan kepiting dari es supaya ga kedinginan.

Dengan bantuan air garam, ulekan dan obeng, semua kepiting berhasil diselamatkan

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Berkreasi dengan Pasir Buatan

Pasir buatan..
Bisa belajar cetak-cetak sekaligus belajar percampuran warna.

pasir buatan

#MDanisyFI “meracik” pasir ini sendiri kecuali takaran tepung dan minyak. Anak-anak pasti suka

Dapet dari grup #Sabumi tapi takarannya ga ngikutin

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Boneka Kertas Buatan

‪#‎PaperPuppet‬ ‪#‎PaperStickPuppet‬

Persiapan membuat boneka kertas
Boneka Stik Kertas

  • Alat dan Bahan:
    – Print out Animal (untuk gambar persis seperti foto, silahkan download free di www.ActivityVillage.co.uk)
  • – Kertas karton tebal
  • – Double tape
  • – Gunting
  • – Pulpen

Saya Warga Kampoeng

Berbicara tentang kegiatan belakangan, ternyata asyik ya tergabung di grup-grup yang kita benar-benar fokus di grup itu. Dulu tergabung juga sih, di grup-grup kece dengan ember ribuan. Tapi kemudian jarang nengok lagi karena adanya di grup FB.

Nah, baru setahunan ini mungkin ya tergabung di berbagai grup WhatsApp dengan bermacam keilmuan yang dibahas. Jujur, dulu masuk ya cuma masuk aja. Semacam “sekadar mengamankan kesempatan”. Masih kesulitan mengatur waktu untuk mempelajari dan mempraktekkan. Rasanya sibuk ga jelas juntrungan deh kalau seperti itu.

Tapi kemudian saya belajar sedikit demi sedikit fokus setidaknya di beberapa grup ilmu. Salah satunya grup kepenulisan yang baru dibuat sekitar awal tahun ini yang oleh founder-nya diberi nama Kampoeng Kata-kata.

Dari Kampoeng Kata-kata saya belajar banyak hal, utamanya mengenai tulisan apalagi harus setor tulisan sebulan sekali. Ditambah ada kuis-kuis yang mengasah kemampuan menulis entah itu pembiasaan menulis ataupun kreativitas dan spontanitas menulis.

Web ini saya dapatkan sebagai apresiasi, hadiah dari turut sertanya saya dalam lomba #15HariMenulis yang diselernggarakan di Kampoeng Kata-kata. Penyedia kuisnya memberikan hadiah web gratis pada peserta yang mampu bertahan setidaknya memberikan 80% setoran tulisan harian (dari 15 hari, minimal 12 hari setor).

Ketika ada kuis resensi buku, saya yang semula sudah mundur akhirnya terdaftar tidak sengaja. Mulanya saat kuis buku berlangsung, ada kuis dadakan yaitu lomba menyelesaikan membaca novel. Yang paling cepat menyelesaikan novelnya dan dapat menceritakan kembali isi novel tersebut berhak mendapat hadiah. Saya sebenarnya mendaftar untuk lomba menyelesaikan baca novel tersebut. Namun karena ada lomba resensi, kemudian melontarkan pertanyaan “bisa buat resensi juga kan ya? Jadi sekalian.” hihi. Rupanya saya gagal menyelesaikan tantangan baca novel itu karena belum sempat mencari novelnya sudah keburu ada yang menang.

Kuis yang diadakan disepakati tak jauh dari dunia menulis. Baru-baru ini (tepatnya 2 hari lalu) ada kuis menyambung cerita. Penyedia kuis memberikan cerita awal, lalu warga Kampoeng lainnya berhak melanjutkan cerita tersebut. Hasil ceritanya berhasil membuat warga Kampoeng terkekeh-kekeh dengan semua keanehan ide cerita sambungan yang muncul. Menjadi sebuah kisah utuh yang tak terduga. Bermula dari rencana mengukur jalanan, hingga pemilihan lurah, satral, berpindah roh dan perjodohan. Dua toko utama yang disodorkan pemberi ide kuis tentu harus ada di keseluruhan cerita.

Kebersamaan dan kekeluargaan di Kampoeng terasa begitu akrab layaknya sebuah perkampungan. Obrolan ngalor ngidulnya pun tetap penuh ilmu. Alhamdulillah dipertemukan dengan grup yang anggotanya memang orang-orang yang berpengalaman dan mumpuni dalam kepenulisan plus memiliki keilmuan lain yang luar biasa sehingga selalu ada saja ilmu baru yang didapat. Minimal anggotanya suka membaca buku sehingga khazanah ke-buku-an pun bertambah.

Di Kampoeng ada banyak yang dipelajari. Belajar bahasa Inggris, belajar bahasa Arab, belajar tentang resensi, belajar tentang pemerintahan (bukan gosip pemerintah ya), belajar tentang tips menulis, belajar tentang anak, belajar tentang bisnis, tentang keimanan, tentang pemahaman keislaman, tentang pernikahan, dan masih banyak lagi bahasan yang bermanfaat. Saling menyemangati dalam menulis sudah pasti jadi salah satu agenda yang tak perlu diragukan keampuhannya.

Menjadi bagian dari grup yang di dalamnya ada berbagai profesi menjadi kelebihan lainnya. Teman berbagai profesi dengan semangat menulis dan berbagi yang cukup tinggi. Alhasil, selain tersemangati untuk menulis, juga tersemangati untuk terus menggali ilmu. Masyaallah. Barakah untuk semua warga Kampoeng ^_^

kampoeng kata

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Dia Hanya Butuh Waktu

Adakah di antara anak anda yang “pemalu”? Ketika bertemu orang baru atau teman baru, dia nampak malu, ragu untuk bergabung. Jika dia ada di dekat ibu, dia akan lebih memilih untuk berada di sekitar ibu daripada langsung melebur dengan kenalan barunya. Baru setelah disemangati atau saat dia merasa siap bergabung, dia akan turut berbaur.

Bagaimana perasaan ibu ketika itu? Ketika misal ada kumpul ibu-ibu atau arisan yang membawa anak. Di saat anak lain dengan mudahnya melebur, anak kita malah nempel. Apalagi jika ternyata antara anak-anak itu sudah saling kenal, sementara kita pendatang baru. Rasanya malu dan campur aduk.

Sulung saya nampaknya salah satu dari anak “pemalu” itu. Ketika ia di tempat baru, ia akan lebih memilih berada di samping saya atau bermain bersama adiknya. Saya yang sering diingatkan tentang sikap anak, terkadang dapat menyikapinya dengan biasa saja. Memberi dia waktu untuk memperhatikan keadaan. Tapi tak jarang juga saya terprovokasi, “panas” melihat sikapnya dan membandingkan dengan orang lain (meski tak mengucapkannya langsung pada si sulung tentang perbandingan tersebut).

Tapi harus terus belajar melatih diri. Tidak boleh menghakimi dan melabeli dia dengan kata “pemalu” karena akan mengarah pada hal negatif. Kecuali malu dalam urusan syar’i semisal tentang aurat atau adab.

Pernah satu saat berbincang dengan suami, jangan ucapkan hal negatif pada anak-anak termasuk mengenai sikapnya yang kita sudah tahu sendiri sikap itu hanya sikap kehati-hatian anak. Jika dia sudah kenal, pasti dia akan berbaur. Suami berpesan, jangan sampai apa yang terjadi pada dirinya, terulang pada diri anak kami.

Suami dulu seorang yang sebenarnya “suka tampil” alias “pamer” kemampuan (dalam arti positif) hanya saja beliau butuh waktu untuk benar-benar menampilkan kemampuannya. Dan beliau butuh waktu untuk bisa berbaur dengan orang baru. Sayangnya masyarakat terkadang tidak merespon dengan baik kemampuan itu sehingga berulang kali beliau dicap sebagai “Alim itu pemalu (dalam arti yang sangat luas)” dan tidak diberi ruang yang cukup untuk mengekspresikan kemampuannya secara maksimal. Pelabelan berulang akan secara otomatis masuk alam bawah sadar seseorang sehingga akhirnya suami tumbuh menjadi sosok pemalu sekaligus kurang percaya diri padahal sebenarnya dia mampu.

Suami tidak ingin anak-anak kami tumbuh dengan pelabelan negatif seperti itu. Maka kami terus belajar menahan untuk tidak berkomentar negatif pada sikap anak, apalagi di depan orang banyak.

Ketika kami mudik misalnya, sulung kami Danisy cenderung berhati-hati ketika bertemu orang dan terkadang lebih memilih pergi lalu main di luar. Sementara anak kedua kami, Azam lebih mudah berbaur dengan para tamu yang datang bahkan bersedia salim sehingga sudah tentu tamu akan menganggap Azam lebih ramah dibanding kakaknya.

Danisy sendiri memang tidak terlalu ramah, tapi dia tidak kelewat jutek juga. Hanya sedikit ja-im. Mirip sama abinya sehingga Alhamdulillah mertua memahami karakternya meski terkadang kami tegur juga agar tidak melabeli dengan perkataan yang sebenarnya kami tahu itu hanya basa-basi saja tapi kenyataannya anak belum bisa membedakan hal tersebut.

Pada prakteknya memang jadi tantangan tersendiri menyikapi perbedaan anak dengan sikap tenang. Kadang ketika mood tidak baik, ya ada masanya saya iri pada anak lain, membandingkan, memaksa dia untuk sempurna, tidak merespon prestasinya dan tindakan buruk lainnya. Astagfirullah.

Jadi pe-er bagi saya sebagai orang tua sebenarnya bukan sekadar mencari tahu tentang anak tapi juga mencari cara agar sikap positif dan tenang itu selalu ada. Tentu saja dibarengi sikap waspada jika ternyata ada yang salah dalam proses tumbuh kembang anak.

Dia hanya butuh waktu. Sebagai orang tua kita tidak bisa dan tidak boleh memaksa anak untuk menjadi sempurna karena kita pun bukan orang tua yang sempurna. Mari dampingi anak agar tetap tumbuh dalam jalurnya, dan kita pun ikut tumbuh bersama.

anak

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Mencatat Jejak Kenangan

Kenangan yang dicatatkan mampu menguak misteri sebuah foto. Catatan kenangan dapat membangkitkan kembali gairah mimpi yang pernah diangankan.

Menulis menjadi sebuah kegiatan menyenangkan kala hati ingin mengungkap kegembiraan. Dan kegembiraan menjadi sebuah penyemangat kala kita kembali ke masa lalu yang dicatatkan.

Sebuah tulisan bisa berisi apa saja. Kebahagiaan, kesedihan, kekecewaan, dan semua rasa yang pernah hinggap di kehidupan. Tapi, lebih dari sekadar meluapkan rasa, tulisan adalah sebuah pengingat di masa depan.

Ketika lelah menyergap, catatan mimpi menggenjot kembali semangat untuk bangkit. Ketika sedih melanda, catatan rasa menguatkan bahwa dulu kita pernah melewati sebuah situasi tak biasa dan menjadi diri kita di masa kini. Ketika bahagia berubah menjadi bunga yang indah, maka catatan kebahagiaan tersebar ke seluruh penjuru dunia melalui tulisan, dan kelak kau berhak mencium kembali wanginya kala tengah ada dalam gundah sehingga ketenangan hadir menggantikan resah.

Menulis adalah untuk membuat jejak kenangan kita jika satu saat kita butuh penyemangat. Menulis adalah sebuah upaya meninggalkan jejak pelajaran bagi masa kini dan masa mendatang, bahwa kita pernah berada di sebuah kondisi yang mungkin tak pernah dibayangkan sebelumnya.

Setiap catatan jejak itu dapat kita lihat dari masa kini menjadi sebuah gambaran yang mungkin penuh perjuangan tapi indah. Gambaran yang tak sengaja kita ciptakan karena kita memutuskan memberi tanda pada setiap jejak tersebut dalam sebuah tulisan.

Tulisan bisa jadi penyambung rasa, pemanjang asa, peninggi mimpi dan penguat jiwa. Manakala ada catatan buruk yang tergambar, biarlah ia menjadi kenangan untuk kemudian kita lukis menjadi sesuatu yang indah di masa mendatang sehingga meski sempat nampak seperti gambar yang gagal, ia dapat menjadi gambar yang menakjubkan kelak.

Sesekali kita mencatatkan ilmu yang kita peroleh dalam perjalanan dunia. Kelak ia dapat menjadi amal jariah yang pahalanya tak putus meski ruh sudah meninggalkan jasad. Meski ilmu yang dituliskan tidaklah seberapa, tapi jika ia dapat menjadi penyebab turunnya hidayah Allah sehingga seseorang berubah menjadi sosok yang lebih baik, bukankah hal itu semakna dengan dakwah yang indah?

Ketika catatan pengalaman yang kita tuliskan membuat orang lain mengambil pelajaran darinya, bukankah ia kemudian menjadi ilmu bagi mereka? Sehingga bolehlah kita mengharap aliran kebaikan dihadiahkan Allah untuk kita.

Sesekali catatan rasa mengingatkan orang lain untuk turut merenung tentang rasa itu sendiri, kemudian larut dalam hikmah yang indah maka boleh kan kita berharap tulisan kita menjadi jejak catatan kebaikan di sisi Allah?

Menulis mengungkapkan berbagai hal. Ia mampu menggambarkan hadir kita di hadapan dunia hingga kelak dunia selalu mengharapkan hadir kita secara nyata.

Agar kelak setiap catatan dapat diambil faedahnya. Manakala tak semua mampu kita ucapkan pada mereka yang kita sayangi, maka jika satu saat mereka membaca catatan cinta kita semoga tulisan itu dapat berubah wujud menjadi kado cantik nan membahagiakan.

Manakala tak semua rasa mampu kita utarakan, maka jika satu saat catatan itu dibaca oleh yang terkasih, semoga ada rasa bangga menyeruak bahwa ia adalah orang istimewa yang hatinya ingin kita bahagiakan meski kadang tak terdengar secara langsung.

Jika engkau bertanya mengapa aku menulis? Maka hanya 3 kata yang coba menggambarkan semua rasaku pada tulisan: menuliskan jejak kenangan.

Tentang diri, tentang kehidupan yang dilalui, tentang mereka yang ku kasihi, tentang ilmu yang kucari dan ku dapati, tentang catatan pengalaman yang kuambil pelajaran dan tentang mencatat semua jejak hingga kelak ia dapat menjadi gambaran nyata yang semoga meski tak sempurna tapi ia tetap indah bermakna.

Tulisanku kini banyak bercerita tentang dua lelaki yang Allah anugerahkan. Tentang semua keceriaan yang mereka hadirkan dalam hidupku, tentang semua rasa bahagia yang Ia berikan melalui keduanya dan semua hal tentang kehidupan mereka dari awal hingga saat ini. Mereka adalah dua anak lelaki yang tumbuh dalam pengasuhanku, amanah yang membuatku terus belajar untuk mencari tahu dan berbagi tahu.

Mereka mengajarkan banyak hal padaku hingga aku begitu ingin membaginya pada orang di luar sana. Bahwa anak-anak sedari mereka hadir di dalam rahim seorang ibu, hingga saat mereka mulai belajar mandiri, mengajarkan banyak hal tentang kehidupan.

Tentang mereka yang selalu menjadi pembelajar. Tentang mereka yang selalu berbaik sangka pada kedua orang tua mereka, orang sekitar dan terutama pada Tuhannya. Tentang mereka yang mengajarkan arti membahagiakan tanpa menuntut dibahagiakan. Tentang mereka yang tulus berbagi kasih tanpa pamrih. Tentang mereka yang mengajarkan kesabaran dan rasa syukur tanpa banyak alasan. Tentang sikap tawakal dan pantang menyerah. Tentang arti yakin kepada Sang Pemberi Fitrah.

Menulis belajar mengutarakan rasa, asa, cinta dan kebaikan. Melalui tulisan pula kita belajar untuk berkomunikasi dengan lebih baik. Melalui tulisan pula kita belajar mengutarakan ilmu dan pendapat yang tentu saja sangat mungkin salah tangkap jika kita tak pandai merangkai kata yang menggambarkan mimik muka kepada kawan pembaca.

Menulis memenuhi kebutuhan kita untuk mencatat ilmu yang dirasa penting dan dapat mengaksesnya dengan lebih mudah kelak ketika satu saat kita membutuhkannya kembali. Meski sekadar resep makanan.

ikrar peristiwa

Menulis tidak berbicara tentang bakat. Tapi ia berbicara tentang semangat. Semangat untuk berbagi dan semangat untuk menjalin pertemanan melalui apa yang kita tuliskan.

Jadi, jika anda belum menulis, maka tulislah. Jika tak ada ide untuk menulis, cukup tuliskan “sedang tidak ada ide untuk menulis karena pikiran tengah fokus pada hal lain. Sayangnya hal tersebut menyita waktu yang lumayan sehingga tugas menulis mengenai ‘kenapa harus menulis’ ini baru bisa diselesaikan. Ketika ada waktu luang, digunakan untuk istirahat sejenak dari pekerjaan yang sedang berada di titik garis mati alis deadline. Berbicara tentang deadline, kenapa ia diberi nama deadline ya? Terjemahan bahasa Indonesia tentang deadline itu apa sih? Garis mati kan? Hehe. Apa mungkin kita bisa mati ketika melewati garis itu? Atau justru garis kematian itu sekadar menggambarkan ketakutan yang luar biasa untuk memenuhi jatah waktu yang dipunya guna menyelesaikan pekerjaan tersebut? Padahal tak jarang juga di antara kita yang mengerjakan pekerjaan ya jika sudah mepet deadline kan? Begitulah deadline membuat saya mati kutu menyelesaikan tugas.”

Lihat? Sudah jadi satu tulisan kan? Hehe. Selamat menulis dan mari bersama belajar melalui tulisan (dan membaca, tentu saja) ^_^

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.