Fitrah Jiwa Pemimpin

-Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya-
🌸

image

Penggalan hadits ini sudah sering kita dengar ya. Saya sendiri memahami hadits ini seperti yang sering disampaikan oleh para guru.
🍁

Pagi ini ketika berkoordinasi dengan tim @belajarkelompok baik di grup #Mentor maupun #KetuaKelas saya memperhatikan bahwa hadits ini betul-betul memberitahukan kepada kita bahwa memang pada dasarnya setiap orang memiliki jiwa kepemimpinan. Hanya masalah diasah atau tidak.

Ketika menginstruksikan para Ketua Kelas untuk memilih tim guna mempermudah kinerja grup, setiap ketua kelas dengan gaya kepemimpinan masing-masing membentuk timnya. Gaya tentu saja menentukan cara.
🌺

Dan jika dikaitkan dengan konsep #STIFIn bahwasanya setiap MK memiliki gaya kepemimpinan tersendiri, ini pun semakin menegaskan kebenaran hadits yang disampaikan oleh Rasulullah bahwa seseorang adalah pemimpin. Tentu saja secara otomatis dapat dimaknai bahwa setiap kita memiliki jiwa pemimpin. Minimal untuk dirinya sendiri.
🌻

Jadi, jika dirimu saja belum bisa kau pimpin, jelas sudah menyalahi potensi dasar yang diberikan Allah.

Padahal salah satu cara mensyukuri nikmat adalah dengan memanfaatkan sebaik-baiknya.
🍂

Maka sebagai orang tua atau pendidik, salah satu tugas kita adalah menjaga fitrah kepemimpinan pada diri anak agar ia dapat tumbuh menjadi orang hebat.
🍀

Masih ragu bisa memimpin atau tidak? Buktikan saja sendiri 😉
🌾

#CatatanPagi #CatatanEsa #kepemimpinan #pemimpin #Leadership #IAmALeader

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Belajar dari Telepon

Familiar dengan gambar ini?
Apakah anda dapat langsung mengenali gambar ini dan menautkannya dengan memori tentang sebuah benda?

image

Ya, anda pasti akan memikirkan satu benda yang sama seperti yang saya pikirkan: Telepon.

Biasanya gambar ini digunakan untuk memberikan informasi mengenai nomor kontak baik telepon rumah maupun (sesekali) nomor ponsel seluler milik seseorang.

Saat ini, telepon dengan model ini sepertinya sudah jarang bahkan tidak ada ya? Tapi orang tetap menggunakan gambar seperti ini untuk informasi yang saya sebutkan sebelumnya. Tak peduli apakah telepon rumahnya memang seperti gambar atau tidak. Bahkan tak peduli jika ternyata nomor yang tercantum adalah nomor ponsel seseorang (dan tidak ada yang memprotes hal tsb, bukan?)

Gambar ini menyiratkan sebuah cerita tentang perubahan jaman. Perubahan yang merupakan sebuah keniscayaan dalam kehidupan kita, baik kita terlibat aktif dalam perubahan itu maupun hanya peserta pasif.

Biarlah jika ia kemudian menjadi sejarah karena tergerus perubahan jaman yang semakin modern. Tapi ia tetap ada dan dikenal meski hanya dalam bentuk gambar.

Dan jaman seringkali mengulang sejarah dimana tren kembali ke masa lalu. Bisa jadi suatu saat kita akan kembali mendapati gambar ini dalam bentuk nyata di sekitar kita.

Dari gambar ini saya kemudian belajar tentang bagaimana memberi kontribusi berarti. Meski sekilas nampak sederhana tapi membawa manusia pada sebuah keadaan yang lebih baik dari masa sebelumnya.

Bahwa menjadi pionir dengan value yang jelas membuat orang “ngeh” tentang apa yang kita bawa. Kalaupun kelak menjadi sejarah, tak masalah. Setidaknya langkah kita sudah tercatat dalam tinta emas yang terukir dengan indah.

Dan semoga kita menjadi salah satu pionir tersebut.

Salam hangat,
www.esapuspita.com

#CatatanEsa #Renungan #RenunganEsa #Inspirasi #InspiriasBisaDatangKapanSajaDarimanaSaja

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Menonaktifkan Download Media Secara Otomatis di WhatsApp

Baru inget kalo saya belum setting WhatsApp lagi semenjak insiden beberapa hari lalu.

Sadar-sadar, kuota habis dan folder WhatsApp Image penuh sama foto.

Astaghfirullah, lupa ga diatur untuk nonaktif download image otomatis.

Nah, buat temen-temen yang ngalami hal serupa, bisa gunakan cara ini ya.
image

1. Buka WhatsApp, klik logo Titik Tiga di kanan atas.
2. Pilih Pengaturan (Settings)
3. Tap Chat dan Panggilan (Calls and Chat)
4. Tap bagian “Unduh Media Secara Otomatis”
5. Silahkan pilih dari ketiga menu yang tersedia.
6. Hilangkan centang pada media-media yang tertera, sesuai kebutuhan.

Contoh dalam gambar ini wi-fi, saya nonaktifkan semua media dengan menghilangkan centang pada Gambar, Audio maupun Video. Sehingga untuk mengunduh file-file yang masuk ke akun WhatsApp kita harus dilakukan secara manual. Dengan begini kita bisa menyaring mana yang mau diunduh, mana yang tidak.

Demikian sedikit tips tentang WhatsApp. Semoga bermanfaat ^_^ 😇

#EsaBelajar #EsaBerbagi #TipsWhatsApp #TipsAlaEsa #TipsWA

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Menambahkan Pengurus Pada Page Manager Facebook

Buat yang pake Page Manager, cara ini untuk menambahkan admin/pengurus Fanspage Manager (FP).

Silahkan buka dulu Page Manager atau Pengelola Halaman milik teman-teman ya.

image

🔐Langkahnya:
1. Buka FP yang akan ditambahkan adminnya, lalu klik logo tiga titik di kanan atas (lihat gambar 1)
2. Scroll ke bagian bawah, lalu pilih “Pengaturan Halaman” (lihat gambar 2)
3. Tap pada bagian “Sunting Peran Halaman” (lihat gambar 3)
4. Tap “Tambahkan Orang ke Halaman”. Ketikkan nama teman yang akan ditambahkan sebagai pengurus.

📝 calon admin HANYA bisa dipilih dari daftar teman jadi pastikan sudah ada di Friendlist FB anda.
📎 Pengaturan “tugas” alias “role” bisa dipilih dari logo “pensil” di kiri nama pengurus.
Anda akan diminta memasukkan password untuk memastikan keamanan.
Pilih salah satu ROLE, tap tombol SIMPAN.

ROLE yang tersedia:
– Pengurus
– Penyunting
– Moderator
– Pengiklan
– Analis

🙇
Maaf ya, bordernya ga saya perhatikan jadi nampak menyatu gambar-gambarnya

#EsaBelajar #EsaBerbagi #CatatanEsa #TipsFP #Fanspage #PageManager #TipsFanspage #PengelolaHalaman #BerbagiTips #EsaBerbagiTips

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Catatan Depok

Depok. Ada apa ya sama Depok? Kok sepertinya ada satu kesamaan terkait dengan kota bernama Depok: berlatih mandiri.

Ingatan tentang Depok menarik saya pada sebuah kisah di masa lalu. 1 tahun sebelum akhirnya dinikahi oleh seorang lelaki bernama Chalim. Aih apa sih 😂

Tahun 2008 menjadi pengalaman pertama saya pergi ke luar kota, sendiri pula. Anak rumahan macam saya, tak pernah terpikir sedikit pun untuk pergi ke luar kota. Ya, pernah sih ketika keterima di sebuah perguruan tinggi negeri di Bogor sana. Merayu mamah supaya diizinkan kesana, belajar mandiri. Tapi izin tak kunjung diberi 😁

Balik ke ingatan tahun 2008. Terpaksa pergi karena harus memenuhi sebuah syarat. Saat itu seleksi lanjutan beasiswa dari sebuah lembaga eh yayasan.

Seleksi tersebut bertempat di kampus Universitas Indonesia, tempat dimana acara pengukuhan BeKel Nasional akan berlangsung besok, insyaallah. Meski mungkin berada di tempat yang tidak sama persis.

image

Ketika pengumuman tentang hasil seleksi diterima, perasaan campur aduk saat itu. Bagaimana saya akan pergi ke Depok?

Akhirnya setelah tanya sana-sini –tanpa tanya google karena waktu itu belum terlalu dekat sama Google-  dapet lah informasi tentang bagaimana mencapai UI dari Bandung. Alhamdulillah atasan di kantor bantu juga info tentang rutenya. Maklum, ketika mengajukan beasiswa itu, jabatan saya adalah karyawan sebuah perusahaan di Bandung.

Kejadian itu sangat melekat karena menjadi pengalaman pertama saya ke luar kota sendiri. Dengan harap-harap cemas naik kereta, memastikan turun di stasiun yang tepat dan lanjut kereta “dalam kota” tujuan UI.

Setiap kereta berhenti, cek stasiun. Jadi inget, pertama kalinya juga tuh lihat monas. Meskipun sampe sekarang belum pernah lihat monas dari dekat 😀

Dengan membawa perlengkapan untuk beberapa hari selama seleksi berlangsung, dan ketakjuban melihat ibukota, saya sudah ga peduli kalo dibilang orang udik. Meski saat itu berusaha nampak biasa saja, ga kebingungan karena khawatir dimanfaatkan orang (ahahaay parnoan sekali ya saya saat itu).

Saking parnonya, sempat salah kereta juga. Haha. Gegara pas nanya, kereta ke UI yang mana? Sama orang dibilang “itu kereta yang baru berhenti, cepetan. Ntar ketinggalan”. Kemudian tergopoh menuju kereta, duduk paling samping dekat pintu keluar. Ya, tahu lah ya bagaimana KRL. Jaman dulu sih gitu, kayak bis, cuma tempat duduknya hadep-hadepan. Gatau deh KRL sekarang.

Begitu lihat tiket, sadar salah kereta. Untung ga disuruh turun di tengah jalan. Akhirnya sambung kereta lain deh.

Alhamdulillah ibukota juga masih banyak orang baik. Kereta jaman dulu pan sesek banget ya. Sampe desak-desakan pol. Dikasih tahu harus turun dimana. Diingatkan sama orang-orang sana. Maklum muka masih manis pan, namanya juga baru 2 taun lulus SMA. Wkwkwk. Jadi ya orang pada nebak saya mau kuliah kali ya. Dikasih tahu pas saatnya turun karena desak-desakan agak susah keluar sementara kereta berhenti sebentar.

Berkali-kali ngecek tas 2 biji itu. Dan memastikan dompet dan ponsel aman. Alhamdulillah turun dengan selamat. Jalan kaki tanya-tanya. Akhirnya dijemput sama panitia dan acara berlangsung lancar hingga selesai.

Alamin keliling ibukota untuk berbagai kegiatan selama seleksi, termasuk pengalaman masuk ke gedung bertingkat dan naik ke lantai tertinggi yang merupakan bangunan milik yayasan tersebut. Ah keren pisan itu gedungnya. Asa siga istana, ya minimal buat saya begitu kesannya. Maklum atuh da saya baru pertama kalinya ke ibukota 😀

Kita ke terminal juga, praktek ngajar. Seneng aja saya mah. Trus ketemu temen baru, bisa akrab sama mereka meskipun sekarang udah pada pisah tapi sebagian besar dari kami tetap berkecimpung di dunia yang sama.

Alhamdulillah meskipun ga lulus SPMB, tapi saya kembali ke UI dalam satu dunia yang saya anggap sama: PENDIDIKAN. Yap, bagi saya BeKel adalah salah satu bagian pendidikan non formal. Dan saya bahagia menjadi bagian dari BeKel.

image
Foto didapat dari internet, tapi belum pernah lihat gerbang ini 😁

Wahai Allah, terima kasih atas kesempatan ini 🙂
Lindungi dan sayangi kami di jalanMu. Aamiin.

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Pelayaran di Tahun Keenam

Bersama melangkah untuk sebuah awal kehidupan baru

Menyatukan dua hati dalam ikatan pernikahan suci

Ikatan yang teramat kuat, mitsaqan ghalizha

Masih ingatkah kau penggalan puisi yang tercantum dalam surat undangan pernikahan kita itu? Puisi yang sengaja kubuat agar undangan pernikahan kita istimewa, seistimewa perjalanan cinta kita. Undangan pernikahan dengan desain yang kau buat sederhana, sesederhana awal perjalanan kisah kita.

Perjalanan yang tak selalu dibumbui bahagia, tapi lengkap dengan semua rasa yang ada di dunia. Semua rasa itu pernah hadir dalam perjalanan kita mengarungi Samudera kehidupan bersama di sebuah kapal bernama pernikahan. Samudera yang tak selalu tenang karena sesekali badai menghantam hingga kadang kapal pernikahan kita hampir rusak dan tenggelam.

Engkau nakhoda yang tangguh. Penuh kesabaran menghadapi tingkah para awak kapalmu, menjadikanku sebagai kawan yang baik dalam perjalanan pernikahan, menjadikan anak-anak tak sekadar awak kapal tapi juga bagian penting dengan posisi yang tepat.

6 tahun kita terus berusaha saling mengenali, saling memahami dan saling memaklumi. Aku sadar atas kekuranganku yang sudah pasti sering membuat kecewa hatimu. Tapi engkau pun mengatakan bahwa kekuranganku dapat kau terima dan kita perbaiki bersama. Sementara kekuranganmu, kau katakan tertutupi oleh kelebihanku. Tetap saja aku masih sering merasa, engkaulah yang berjuang lebih keras untuk menerimaku dengan ikhlas.

Cinta, terima kasih sudah mengajarkan banyak hal yang tak selalu membuatku tersenyum, tapi mengajarkanku bahwa dalam hidup ini kita pasti akan mengalami semua rasa yang Ia ciptakan. Rasa yang membuat hidup kita sempurna. Bahagia, sedih. Bangga, kecewa. Suka, duka. Sayang, marah. Dan semua rasa yang terkadang tak dapat kita jelaskan mengapa dan bagaimana.

Mengayuh sepeda bersama, memang melelahkan bagimu. Tapi engkau katakan padaku, “aku yang memilihnya dan aku sudah siap dengan segala resiko atas pilihanku.” Besar sekali hatimu menerima aku yang memiliki banyak kesalahan dan kekurangan. Dalam setiap kebesaran hatimu, terbersit rasa syukurku pada Allah karena engkau tumbuh dalam asuhan kedua orang tuamu yang bagiku menakjubkan. Meski pengasuhan keduanya tidak sempurna, namun mereka dapat mendidikmu menjadi seperti ini –dengan izin Allah.

Mengarungi Samudera kehidupan bersama, memang tak mudah bagimu. Memastikan kendali terputar dengan baik, memastikan arah jalan yang tepat untuk mencapai tujuan. Lelah sudah pasti kau rasakan, tapi engkau tetap bertekad untuk selalu bertahan dan tak membiarkan perahu kita karam di tengah jalan.

Terima kasih atas 6 tahun kebersamaan yang lengkap dengan 2 putra yang menggemaskan sekaligus membanggakan. Semoga Allah selalu menjagamu, menguatkan dan menyayangimu. Semoga Allah senantiasa menjaga kita, dan menuntun langkah dalam proses membesarkan kapten-kapten kapal baru yang tangguh, yang pemahamannya akan pelayaran Samudera kehidupan jauh lebih baik dari kita berdua.

Ditulis di Bandung menjelang adzan shubuh pada 11 Agustus 2015 untuk diterbitkan tepat di tanggal 19 Dzulhijjah 1436H.

Chalim-Esa, 19 Dzulhijjah 1430-19 Dzulhijjah 1436H.

happy anniversary chalim esa

Gambar ini kuedit khusus untuk menggambarkan kebahagiaan yang kita rasakan dalam lelahnya perjalanan yang kita lakukan. Tambahan gambar sesuai permintaan anak sulung kita agar dia dan sang adik turut serta digambarkan.
image

Rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wa dzurriyyaatinaa qurrata a’yun. Waj’alnaa lilmuttaqiina imaaman.

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

PADI Yang Bermanfaat

Belajarlah pada ilmu padi. Semakin berisi, semakin merunduk

Satu ketika saat berbincang tentang anak di obrolan ibu-ibu sebuah grup, tersirat pertanyaan “adakah buku islami yang lengkap membahas pendidikan anak dalam kacamata Islam?” Salah satu teman menjawab buku PADI.

PADI? Ih, becanda ya?

Beneran PADI. Pendidikan Anak Dalam Islam atau judul aslinya Tarbiyatul Aulad fil Islam. Subhanallah, bisa ya singkatannya pas banget.

buku Pendidikan Anak dalam Islam (Tarbiyatul Aulad fil Islam)

Buku Pendidikan Anak Dalam Islam ini sudah agak lama saya dengar. Tapi dulu rasanya sulit menemukan buku itu. Ternyata bukan sulit tapi memang ga niat. Pas temen nawarin pas ga bisa beli. Duh jaman dulu mah yaa. Qeqeqe. Masih sering mikir beli buku mahal. Sekarang alhamdulillah sudah diberi hidayah buat tobat 😀

Akhirnya setelah punya 2 anak dan tantangan semakin berat, diingatkan lagi tentang pendidikan yang dilakukan Rasulullah dan dipandu oleh Islam. Cari buku PADI, tanya teman yang dulu menawarkan, hasilnya tak jelas. Kemudian dapatlah buku PADI di sebuah toko online karena setiap kali mau ke toko buku ga bisa aja -_-

Setelah buka buku, baca daftar isi. Deg. Ya Allah, ini dulu aja deh tuntasin. Bismillah. Buat dasar pengetahuan sembari belajar.

Karena sudah dapat materi soal adab ilmu, maka mau tidak mau saya memaksa diri membaca mukaddimah dari penulis. Lampiran yang seringkali saya lewat

Jadi maklum ya kalo bacanya agak lama. 31 halaman buat pengantar doang.

Selain selesaikan mukaddimah, juga mencerna kalimatnya yang seperti sastra. Mungkin karena terjemahan. Tapi sebenarnya enak sih bahasanya.

Kembali ke bahasan buku. Yang ga biasa baca mukaddimah, ayo mulai dibiasakan. Mukaddimah buku PADI yang segambreng itu rupanya bukan sekadar “ucapan terima kasih penulis” tapi menjabarkan isi buku sekaligus mengobarkan semangat kenapa buku ini ada. Padahal baru mukaddimah lho.

Menarik karena buku ini membahas pendidikan jauh sebelum anak lahir, yakni sebelum sepasang suami istri menikah. Rasanya takjub terhadap perhatian Islam dalam membangun sebuah keluarga.

Beranjak ke daftar isi, ini adalah list-nya:

  1. Bagian Pertama terdiri dari 4 pasal
    1. Pernikahan yang Ideal dan Kaitannya dengan Pendidikan
    2. Perasaan Psikologis Terhadap Anak
    3. Hukum-hukum yang berkaitan dengan Kelahiran
    4. Sebab-sebab Terjadinya Kenakalan pada Anak dan Penanggulangannya
  2. Bagian Kedua, Tanggung Jawab Para Pendidik terdiri dari 7 pasal
    1. Tanggung Jawab Pendidikan Iman
    2. Tanggung Jawab Pendidikan Moral
    3. Tanggung Jawab Pendidikan Fisik
    4. Tanggung Jawab Pendidikan Akal
    5. Tanggung Jawab Pendidikan Kejiwaan
    6. Tanggung Jawab Pendidikan Sosial
    7. Tanggung Jawab Pendidikan Seks
  3. Bagian Ketiga (terakhir) terdiri dari 3 pasal
    1. Metode dan Sarana Pendidikan yang Berpengaruh pada Anak
    2. Kaidah-kaidah Asasi dalam Pendidikan
    3. Sarana Pendidikan

Subhanallah.  Cukup lengkap untuk dasar ilmu parenting ya. Tinggal dilanjut (atau bisa dibarengi) ilmu parenting lainnya sebagai pelengkap dan peluas khazanah ilmu parenting. Baca buku ini seperti tersambung dengan bahasan 3 ibu penggiat Homeschooling Muslim yakni teh Kiki Barkiah, teh Patra dan bu Ida di seminar yang diadakan oleh Sabumi beberapa waktu lalu. Referensi yang insyaallah terjamin sahih. Dan benar kata mereka, Islam itu pada dasarnya sudah meletakkan fondasi pendidikan yang fundamental bagi pendidikan dan tumbuh kembang anak.

Segitu dulu review saya terhadap buku ini. Bagi yang mau membeli secara Online bisa cari di Tokopedia. Sementara untuk area Bandung, saya sarankan beli di Gelap Nyawang aja. Saya berlangganan buku di Toko Buku Tazkia (pas belokan mau ke Salman). Kiosnya kecil, tapi harga bersaing karena biasanya ada diskon. Hehe. Ritel di Online sama dengan di TB, Cuma di TB ada diskon dan tanpa ongkos kirim.

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.