Public Speaking Basic

Bergabung menjadi bagian dari Ganesha Public Speaking sepertinya salah satu hal yang selalu saya tunda. Kenapa? Karena saya GA PEDE!

Saya sebelumnya sudah mengenal para trainer di PT. Ganesha Sentra Perubahan. Setidaknya saya sudah pernah ketemu sama tim (kecuali beberapa orang). Mereka (mungkin) sudah tau cukup banyak tentang saya yang geje dan aneh. Aarrrgggghhh..

Setiap kali ditawari acara Ganesha sama suami, saya akan selalu menjawab “noooo”. Suami cuma bisa keheranan. “Ngga. Ade ga mau ya trainer-nya orang yang kenal Aa, kenal keluarga kita dan yang udah pernah ade kenal dan tau ‘bobroknya’ ade”. Haha. Naif banget dah gue.

Eh ada alasan lain ding. Mahal. Heuheu.. Dulu mikirnya, buat apa juga belajar begituan mahal-mahal toh kan cuma ibu-ibu.

image

Dan hari ini semua berubah! Secara terpaksa saya ikut kelas public speaking basic yang MaSyaAllah fun.

Dan soal harga, rupanya untuk kegiatan serupa di luaran sana lebih wah harganya. Ini testimoni peserta sendiri.

Tadi di kelas ada 2 orang dari luar Bandung. Satu dari Jakarta, alasan beliau karena butuh tempat belajar yang benar-benar dasar. Satu lagi dari Bintaro, alasan beliau katanya yang terdekat ga ada, tambah lagi harganya ga seperti yang dikasih GPS. Pas iseng nanya ternyata ada yang sampe 3x lipat dan dihitung per pertemuan. Wooowww..

Rencananya hari ini diisi sama Kang Panji atau Teh Ica (kata suami) tapi ternyata diisi sama Kang Fauzi Noerwenda. Mereka anak-anak muda yang kece karena melejit.

Sempet sih deg-degan karena kang Fauzi pun termasuk yang sudah kenal suami. Hahay. Lagi-lagi lebay. Ah, maklum anak Feeling ya (dan sedikit lebih tenang karena saya tau Kang Fauzi juga orang Feeling. Hoho. Ga nyambung).

Kelasnya hari ini berhasil mengubah saya yang malu tampil jadi sudah lebih berani maju. Ya kalau ga tampil yang kena efek semua peserta. Jadi bener-bener dipaksa tampil. Kece bingit nih acaranya.

Tetiba inget dulu tiap ada kesempatan ngisi acara suka mundur padahal sebenernya pengen sih buat pengalaman. Rupanya begitu toh (apa sih).

Jadi sebenarnya yang membuat kita tidak berani tampil adalah pembatasan diri kita. Bahkan misal sekadar ngisi acara radio -saya pernah dan tetep aja grogi, suara ga jelas, penyampaian gemeter. Hoho..

Mulai sekarang kayaknya harus berani ketika diberi kesempatan untuk tampil. Meski harus belajar lebih banyak tapi jika terbiasa, nanti lebih bisa.

Semangat!!! ^_^

*terima kasih sudah memaksaku, cinta..

Aisha Azkiya
-Tulisan mencatatkan kenangan-

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Mempercayai Suami

Mungkin judulnya terkesan aneh ya. Tapi percayalah, banyak diantara kita tidak mempercayai seorang laki-laki yang disebut suami. Dengan berbagai alasan dan kejadian

image

Kepercayaan, sebagaimana banyak hal dalam hidup kita adalah sesuatu yang cukup penting ada. Bukan sekadar percaya bahwa ia akan setia. Tapi lebih dari itu, percaya dengan semua pertimbangan dan tindakan yang dilakukan oleh seseorang bertitel suami.

Mempercayai suami bukanlah hal aneh, tapi kadang juga menjadi sebuah hal yang tak lumrah diingat. Tak lumrah untuk disyukuri dan dipelajari.

Seorang suami memerlukan kepercayaan yang teguh dari istrinya, sang pendamping dan kekasih hatinya. Jika dulu sebelum menikah ia selalu ingin dipercaya orang tuanya bahwa ia mampu bertanggung jawab -untuk kemudian membuktikan kepercayaan itu-, maka setelah menikah ia perlu kepercayaan istrinya yang mampu menjadi bahan bakar seorang suami dalam beraktivitas.

Kepercayaan istri menjadi semacam penyemangat seorang lelaki dalam melaksanakan kewajibannya. Mencari nafkah, bekerja, beraktifitas dan berkarya.

Sayangnya kadang istri tidak dapat mempercayai sepenuhnya sang suami. Mungkin ada yang berlatar belakang keluarga besar sang istri atau karena sikap suami sebelumnya.

Setelah menikah, kita masih belum bisa membersihkan memori masa lalu. Karena sikap lelaki seringkali sama, hampir standar dengan menggunakan logika, maka sering salah paham juga dengan pertimbangan perempuan yang logis namun dipengaruhi rasa.

Tidak ada yang salah atau benar dalam konteks ini. Suami perlu meminta pertimbangan istri dan istri perlu meminta penjelasan suami agar keputusan yang diambil adalah keputusan berimbang. Ditimbang dalam rasa dan logika.

Dalam rumah tangga, ketika seorang perempuan memutuskan untuk menerima pinangan seorang lelaki maka segera setelah akad nikah diucapkan dan sah menjadi suami istri keduanya terikat dalam sebuah janji kepercayaan. Istri percaya bahwa ia lelaki yang pantas menjadi imam kita, dan suami percaya bahwa ia perempuan yang dapat mendampingi setiap langkahnya setelah ini.

Sayangnya karena urusan hati wanita, secara tidak sadar kita sering meragukan keputusan suami. Ketika ia mengajak kita mandiri misalnya, tidak seatap dengan orang tua atau mertua, kita seketika ragu “uang darimana? Makannya nanti gimana?” Tidak salah, tapi memang kurang tepat jika berpikir demikian karena secara adab, sebaiknya tidak ada 2 kepala rumah tangga dalam 1 atap. Jika saat ini dengan orang tua saja pas-pasan, bagaimana jika mandiri? Seketika kita meragukan 2 hal: bahwa suami adalah imam kita, dan Allah Sang Pemberi Rezeki.

Lelaki kadang akan mengeluarkan tanggung jawab terbaiknya ketika ia memiliki “kuasa penuh” atas kepemimpinannya. Bukan jadi diktator ya, tapi lebih bertanggung jawab dibandingkan ketika ia masih “numpang” di rumah orang tua atau mertua.

Meski memang beberapa lelaki tidak dapat dipercaya dengan cara seperti ini. Entah karena track record-nya atau karena memang sudah sulit sekali dipercaya (sayangnya mereka juga tidak diberi kesempatan untuk membuktikan).

Catatan ini memang tidak bisa dipukul rata ya di semua rumah tangga. Beda kondisi dan keadaan bisa jadi beda pertimbangan. Tapi para lelaki biasanya akan sepakat bahwa ia merasa lebih “hidup” ketika ia dapat membina keluarganya sendiri secara mandiri.

Kemudian saya berpikir, sepertinya kesepakatan pranikah itu penting ya. Tentang keluarga seperti apa yang ingin dibina, bagaimana dan harus seperti apa. Setelah menikah apakah langsung pisah rumah dengan orang tua atau tetap tinggal. Jika pisah rumah bagaimana, jika tinggal satu atap bagaimana. Pertimbangkan manfaat mudharat keduanya.

Pisah rumah bukan berarti kita tak bisa berbakti dan membantu orang tua. Kesepakatan semacam inilah yang perlu dibicarakan sebelum mengambil keputusan menikah. Agar langkah yang diambil adalah kesepakatan bersama.

Para orang tua akan maklum ketika anaknya memilih mandiri. Bukan ingin meninggalkan hanya saja memang sang anak sudah memiliki keluarga sendiri yang harus dibina.

Kepercayaan istri terhadap suami dapat menjadi jembatan juga untuk suami memahamkan keputusan kepada keluarga besar. Kepercayaan istri akan menjadi kekuatan besar untuk suami tetap tegar menghadapi berbagai rintangan.

Saya sendiri masih harus banyak belajar. Belajar mempercayai suami dengan lebih baik lagi. Menemaninya, mendampingi dengan lebih baik..

Aisha Azkiya
-Tulisan mencatatkan kenangan-

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Homemade Dough (Plastisin Buatan Sendiri)

Membuat Dough sendiri.

Dough di kita dikenal sebagai plastisin, atau “malam” jika dalam bahasa Sunda. Ada banyak versi dalam pembuatan dough ini. Tapi saya baru coba 2 cara yang ada di buku Slow and Steady Get Me Ready dari June R Oberlander. Sebenarnya penasaran pengen coba dough glow in the dark, tapi coba buka Pinterest belum bisa aja nih. Kecepatan internet melemah karena kuota batasnya sudah habis 😀

Dalam buku terjemahan Slow and Steady Get Me Ready ini dough diartikan sebagai Lempung. Tanah lempung itu tanah liat kan ya? Hehe..

Cara pertama:

Bahan:

  • 2 cangkir tepung terigu
  • ½ cangkir garam
  • 1 cangkir air
  • Pewarna makanan

Cara membuat:

Campurkan terigu dengan garam. Tambahkan air secara perlahan hingga adonan terlihat cukup kalis (ini yang saya agak ceroboh saat mencoba, airnya langsung nyebur semua. Hoho). Setelah itu tambahkan pewarna makanan, adoni hingga tercampur rata. Tambahkan peppermint atau aroma esens lain agar memikat. Sayangnya pewarna makanan, peppermint atau aroma esens tak ada di rumah. Heuheu..

Hasil dari cara pertama ini bisa dibilang gagal karena kurang kalis (sepertinya karena kebanyakan air. haha). Jadi kalau dimainkan anak-anak nanti akan lengket dan belepotan nempel di tangan dan di berbagai tempat. Eerrrr..

Cara kedua:

Bahan:

  • 1 cangkir tepung terigu
  • ½ cangkir garam
  • 1 sdm minyak sayur (saya menggunakan minyak goreng. Sama aja ya? hehe)
  • 1 cangkir air
  • 2 sdt Cream of tartar (ini saya tidak tahu bahan apa dan saya ga pake di adonan dough yang saya buat)
  • Pewarna makanan

Cara membuat:

Campurkan semua adonan dalam panci, aduk rata lalu panaskan di atas api sedang sambil terus diaduk. Pastikan alat aduknya kuat karena semakin ke sini, adonan semakin lengket dan padat jadi agak berat lumayan. Meski untuk adonan sejumlah itu menggunakan sendok tipis saja pun sudah cukup. Ketika mengaduk-aduk, adonan akan menempel di sendok alat aduk. Anda dapat melepaskannya dan memasukkannya ke dalam adonan atau membiarkannya.

Pastikan anda terus mengaduk adonan terutama bagian bawah karena akan menempel pada panci. Aduk terus hingga kena ke bagian bawah dekat dasar panci. Aduk rata semua bagian hingga nantinya adonan akan menggumpal dengan sendirinya. Jika dirasa sudah cukup, anda dapat mengangkatnya dari kompor lalu uleni hingga lembut. Tempatkan hasil adonan homemade dough ini ke dalam wadah tertutup. Saya menggunakan wadah bekal makan plastik.

Hasil dari cara kedua ini lebih liat (dan lebih mirip dough dari Play Dough yang kami punya), di bukunya juga ditulis begitu. Bagi saya cara ini juga lebih aman untuk anak karena adonannya “matang” sebab proses pembuatannya kan “dimasak” sehingga jika tak sengaja dimakan, tak terlalu jadi masalah. Mungkin sebagian bisa dijadikan adonan makanan juga 😛

Selamat mencoba. Anak-anak pasti suka.

Foto utama diambil dari dough buatan saya yang polos banget karena bahan-bahan yang membuat dough-nya menarik, tidak ada. Xixixi.

36476ac2198e73aaf3e583fde0ac7530

*update
Sore ini kesampaian beli pewarna makanan. Beli beberapa merk dan saya lebih merekomendasikan merk Koepoe-koepoe. Selain warnanya cerah, tidak terlalu pekat (sehingga ga terlalu nempel bekasnya di tangan) juga karena ada logo Halal juga 🙂

image
Hasil penambahan pewarna makanan

Membuat dough sendiri selain lebih hemat, bisa banyak, aman dan disesuaikan warnanya, juga menjadi kegiatan menarik bagi anak saat mewarnai dough-nya. Serunya dobel deh..
image

Semoga bisa lebih baik lagi 😀

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Mempercayai Anak

Bersih atau ngga, yang penting mau mempercayainya

image

Salah satu hal penting dalam tumbuh kembang seorang anak adalah kepercayaan diri. Percaya bahwa dirinya mampu melakukan sesuatu sesuai takaran yang ia tentukan.

Meski demikian, pendampingan dan memahamkan anak tentang batasan bahaya dan aman perlu selalu diberitahukan. Karena kemampuan mengira-ngira sesuatu berbahaya atau tidak dalam pandangan anak masih belum cukup luas (terkadang anak “terlalu berani” tanpa tahu mana yang bahaya).

Membangun kepercayaan diri pada seorang anak bermula dari pola asuh orang tua dan lingkungan. Seorang anak akan mampu mempertahankan kepercayaan dirinya ketika ia dibiarkan mempercayai dirinya dan diberi kesempatan untuk dipercaya oleh orang di sekitarnya terutama orang tua.

Membiarkan anak membereskan mainannya sendiri dengan jangka waktu yang tak sebentar. Membiarkan anak mandi dan berpakaian sendiri dengan cara yang mungkin membuat gemas orang tua. Membiarkan anak mencoba sesuatu sendiri.

Butuh ilmu dan kesabaran yang ekstra untuk mempercayai anak sehingga kepercayaan dirinya terjaga hingga dewasa. Nampak mudah bagi sebagian orang tua, tapi sulit bagi sebagian yang lain. Sulit bukan karena mustahil, tapi karena mengubah cara berpikir yang tadinya “anak itu makhluk yang tak bisa apa-apa” menjadi “anak itu manusia seperti kita juga yang memiliki kemauan dan kemampuan. Hanya saja dalam batasan tertentu.”

Batasan tertentu itu juga tidak serta merta menjadi sebuah kekangan dan tidak juga menjadi sebuah pelepasan tanpa arahan. Karena bagaimanapun cara berpikir anak masih terlalu sederhana. Maka tugas orang tua setelah memberikan kepercayaan adalah memberikan pengetahuan. Mana yang boleh dan mana yang tidak boleh.

Batasan ini harus jelas bagi anak. Hitam dan putih. Tidak boleh ada ranah abu-abu karena anak masih berpikir serba kongkrit. Mereka sulit membedakan jika diberi warna abu-abu. Begitupun dengan peraturan.
Beri pemahaman mendasar apa yang boleh dan apa yang tidak. Beri penjelasan yang baik tentang mengapa aturan ini harus ada.

Kembali ke kepercayaan diri anak. Jika orang tua saja sudah tidak percaya padanya, mungkin anak akan berpikir “bagaimana orang lain bisa percaya pada saya?” Atau ketika orang lain percaya padanya, ia akan sedikit melakukan perlawanan, memastikan orang tersebut salah. Kemungkinan lain adalah ketika ia merasa ada orang lain yang percaya, ia kemudian akan sepenuhnya percaya pada orang itu tanpa saringan yang baik. Dan untuk mengubah sikap yang sudah terlanjur melekat akan menjadi sebuah tindakan yang cukup sulit.

Anak yang tumbuh dengan kepercayaan diri baik akan memiliki sikap baik terhadap diri, orang tua dan lingkungannya. Ia mampu memaksimalkan potensi dan mendengarkan suara hati yang masih bersih.

Biarkan ia merapikan mainannya sendiri, biarkan ia membantu ibu memasak di dapur, biarkan ia membantu ayah ketika sedang merenovasi rumah. Biarkan ia membantu saat mencuci baju, biarkan ia membantu saat mencuci piring. Izinkan ia membantu ibu mempersiapkan kebutuhan adik, izinkan ia membantu ibu mengurus adik. Dan hal sederhana lain yang ia ingin lakukan dengan niat semata untuk membantu (selain juga untuk bermain).
Biarkan dia bereksplorasi dengan bantuannya, dengan semua pekerjaan yang diizinkan untuk dilakukan. Sambil eksplorasi, ajari dia sedikit demi sedikit cara dan tips dalam menyelesaikan pekerjaan itu dengan lebih baik. Kelak, semua bekal yang ia dapat ini akan kembali pada orang tuanya. Saat orang tua sakit, anak dapat diandalkan mengerjakan pekerjaan rumah.

Biarkan ia mengerjakan sesuai kemampuannya. Mungkin tidak semua wadah bersih karena bagi anak kadang yang penting busa sudah memenuhi cucian piring. Mungkin hasil pelnya masih ada kotor yang tersisa, karena yang terpenting semua lantai sudah nampak basah.

Biarkanlah sejenak ego tentang kesempurnaan kita terhadap sesuatu. Jangan sampai ia menjadi penghalang ketika anak meminta kita mempercayainya.

Percayailah anakmu sebagaimana engkau ingin ia percaya padamu. Suatu saat engkau akan mendapati ia telah tumbuh menjadi sosok yang jauh lebih baik.

Selamat menikmati hari bersama keluarga, dengan cara yang berbeda 😉

Aisha Azkiya
-Tulisan mencatatkan kenangan-

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Lovely Header

Ketika dapet pesan WhatsApp yang isinya minta email. Berlanjut disuruh cek email yang ternyata isinya adalah username dan password dari sebuah web, antara kaget, syukur semua campur aduk. MaSyaAllah.. This site is brought to you by uncle Anto, gifted to me as a participant of #15HariMenulis challenge at Kampoeng Kata-kata WhatsApp Group.

Sujud syukur. Ga nyangka.. Tapi kebahagiaannya ditunda dulu karena udah janji sama anak-anak mau ajak mereka ke ToastCream buat tuker voucher gratisan yang kemaren didapat di acara #JuraganForum di Telkom University 😀

Read More

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Gerimis dan Hujan

Hujan gerimis.. Meski ia nampak kecil tapi ketika kita terus berada bersamanya, ia akan membasahi kita sedikit demi sedikit hingga akhirnya kita pun kuyup karenanya.

Hujan menghantarkan udara yang sejuk ketika ia datang. Panas yang menyengat seketika berubah menjadi hangat bahkan segar. Meski tak jarang pula kita menggigil karena dinginnya udara ketika gerimis hadir saat sebelumnya suhu tidaklah hangat.

hujanPernah lihat adegan romantis di film atau televisi? Sudah bisa dipastikan sebagian besar adegannya selalu diiringi suasana rintik hujan atau sekadar gerimis.

Ketika terkesan hujan disorot dalam gerakan lamban. Saat cipratan yang dihasilkannya bergerak dengan irama yang bernada. Itu pula mungkin mengapa hujan disebut rahmat.

Cobalah hirup udara di kala hujan. Saat kau duduk di kursi teras seraya memperhatikan jalanan.

Ketika hujan deras, dengarkanlah bagaimana irama indah yang dihasilkannya dimanapun ia jatuh. Di jalan, di sungai, di atas sebuah bangunan, di pepohonan, bahkan di helm yang kita kenakan dan di atas motor yang sedang kita kendarai.

Gemericiknya, entah kenapa, seperti diciptakan Allah dengan sedemikian rupa indahnya. Berirama nada tanpa alat musik, dan terdengar tanpa pengeras suara.

Ketika hujan mengguyur bumi, pernahkah engkau terkantuk-kantuk karenanya? Mungkin, irama dan suasana hujan berhasil membuat tubuh mengeluarkan hormon oksitosin sehingga mampu membuat kita merasa tenang, rileks dan nyaman kemudian mengantuk.

Atau entah karena cuacanya yang dingin sehingga kita lebih tertarik menarik selimut kemudian berbaring di atas kasur. Entahlah. Tapi semua orang selalu senang dengan hadirnya hujan.

doahujanJika ternyata ketika hujan hadir ia berubah menjadi sebuah ancaman, bisa jadi itu sebuah peringatan dari alam. Mungkin karena kita tidak menjaga alam dengan baik. Atau karena ulah serampangan kita pula sehingga mengubah hujan semula rahmat menjadi bencana yang ditakuti. Astagfirullahal ‘azhim. Na’udzubillah min dzalik..

*ditulis di Tubagus Ismail Bandung, 3 Mei sore hari dalam gerimis menanti suami..

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.