Ada Kau dan Aku Menjadi Kita

Satu ketika sebuah status muncul di beranda.¬†Kurang lebih isinya: “tak ada kau dan aku, yang ada adalah kita”.

Terbaca begitu indah ya? Namun bagi saya agak sedikit aneh. Ada yang berpikiran sama? ūüėÄ

Merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata kita merupakan kata ganti pertama jamak (lebih dari 1). Itu berarti, dalam pembicaraan bersama kala itu tetap ada aku dan kamu.

Dalam sebuah hubungan, “kita” tidak lantas membuat aku dan kamu melebur. Aku dan kamu tetap ada, hanya disana terdapat tambahan “kita”. Aku dan kamu tetaplah satu sosok masing-masing. Kemudian kita bersama untuk sebuah tujuan. Bergandeng tangan dan berjuang bersama, dengan segala ke-aku-an dan ke-kamu-an masing-masing.

Menikah berarti bersama, menjadikan aku dan kamu sebagai kita

Berpasangan merupakan bagian dari naluriah dan kebutuhan manusia, dihalalkan melalui pernikahan. Meski yang diucapkan hanyalah sekalimat pendek serah terima antara lelaki -yang kelak disebut suami- dengan lelaki lainnya -yang biasa disebut “ayah”-. Berpindahlah segala tanggung jawab ayah kepada suami, begitupun bakti.

Meski demikian, tak lantas kita melupakan ayah dan hanya fokus pada suami bukan? Ada sikap tawazun, seimbang antara bakti kepada orang tua dan suami. Memang, bakti seorang perempuan yang telah menikah diutamakan kepada suami.

Adapun setelah menikah, kita tak lagi boleh egois memikirkan diri sendiri. Benar, tapi bukan lantas lupa pada kebutuhan diri. Perlu ada keseimbangan juga dalam penyikapannya. Sebab rumah tangga diharapkan menjadi sebuah bangunan rumah penuh cinta yang menjadi tangga menuju surga.

Kelak, hisab kita hadapi sendiri-sendiri dengan mempertanggungjawabkan peran di dunia. Dengan harapan semoga Allah berkenan memasukkan kita ke surga-Nya dengan menyatukan kembali diri dan keluarga di dalamnya. Begitu bukan?

Maka meski sudah ada “kita”, tetaplah berperan sesuai “aku” dan “kamu”, ditambah “kita”. Ada kala kita mencoba melayani pasangan sesuai dengan hal terbaik yang diinginkannya sebagai “kamu” dan tentu pasangan pun membahagiakan dengan sesuatu yang paling gue banget sebagai “aku”. Dan ada tahapan dimana kita berbicara dan bertindak untuk kepentingan bersama, kepentingan “kita”.

Oleh karena itu, ada baiknya sebelum menikah sudah tahu siapa sebetulnya diri kita ini. Setidaknya dengan mengetahui dan mengenali diri sendiri akan lebih mudah menjelaskan pada pasangan, seperti apa sih saya sebenarnya. Begitu pun kita akan lebih mudah mengenali pasangan kala ia sudah mengenali dirinya dan memberitahukan kita siapa dia. Dengan demikian, adaptasi dalam pernikahan menjadi kepingan puzzle yang sudah ditemukan, tinggal bersama mencari kepingan lainnya untuk gambaran yang lebih lengkap. Jadi tidak terlalu ngeblur bayangannya.

Pernikahan: Tumbuhlah sebagai “aku”, “kamu” dan bergandengan tangan sebagai “kita”

Seringkali setelah menikah, kita lupa menjadi diri sendiri. Sehingga hubungan suami istri menjadi hambar karena hati yang hampa, dan proses pendidikan anak menjadi tidak maksimal karena ruh di dalamnya tercabik.

Maka, tetaplah tumbuh sebagai “aku” dan “kamu” yang bergandengan tangan sebagai “kita”. Kenali bahasa cinta pasangan agar dapat saling memberikan hal yang paling diharapkan dan saling bersiap pada kekurangan. Lalu bergandengan tangan menuju tempat yang ditargetkan bersama.

Ibaratnya, pernikahan tidak meleburkan lelaki dan perempuan menjadi satu bukan? Melainkan, lelaki tetap dengan kelelakiannya dan perempuan dengan keperempuannya. Segala sifat masing-masing bukan harus melebur, tapi beradaptasi saling memahami. Oh, perempuan itu begini maka harus begitu. Oh, lelaki itu begitu maka harus begini. Begitu terus hingga suami-istri tetap tumbuh sebagai pasangan yang membersamai tanpa kehilangan jati dirinya.

Sebab keharmonisan rumah tangga justru karena suami istri berbeda. Biarkan ia menjadi khas dan saling melengkapi, saling mengisi serta saling menguatkan satu sama lain.

“Aku” dan “kamu” hanya perlu saling memahami, saling pengertian, saling berbagi dan¬†tidak perlu saling bertukar karakter. Ada sisi perempuan yang mesti dijaga sebagai istri dan sisi lelaki yang harus dijaga sebagai suami dengan cara yang proporsional.

Peduli tentang “kita” dan tetap tampil maksimal sebagai “aku” dan “kamu”

Pasangan yang sudah mengenal dirinya sendiri, akan lebih nyaman berbicara “kita”. Sebab kebutuhan mengenali diri sudah terpenuhi sehingga mereka tahu bahwa “aku” dan “kamu” perlu tetap tumbuh agar “kita” bisa lebih baik lagi menjalankan perannya. Agar “kita” senantiasa mampu bergandengan tangan mencapai tujuan dengan selaras.

Aku tetaplah aku, namun terus belajar dan tumbuh menjadi lebih baik.

Kamu tetaplah kamu, namun menjadi sosok yang terus belajar dan tumbuh semakin dewasa.

Sehingga kita dapat mewujudkan pernikahan yang harmonis. Bukan tanpa konflik, tapi mampu menangani setiap riak dan ombak dalam pernikahan dengan bijak.

Karena jika aku tampil maksimal sebagai aku dan kamu tampil maksimal sebagai kamu lalu menyepakati bersama tentang perjalanan kita, maka insyaallah rumah tangga yang dibangun akan menjadi keindahan luar biasa surga bernama keluarga.

Selamat mengenali diri, mengenal pasangan dan bersama mencapai tujuan yang sama.

Semoga pernikahan teman-teman diberkahi Allah swt. Bagi yang belum menikah, tetaplah jaga diri sesuai syariat.

note: salah satu tool yang kami gunakan untuk mengenal diri (dan alhamdulillah sudah banyak membantu pasangan yang konsul pada kami) adalah konsep STIFIn. Dengan tes sidik jari memudahkan pasangan dan anak-anak serta keluarga untuk mengenali sifat dasar dan bersama komitmen untuk “naik level” guna perbaikan hubungan, baik dengan Allah maupun dengan sesama manusia.

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Sudut Pandang

~ Sudut Pandang ~

Untuk menghasilkan foto yang bagus, salah satunya diperlukan keahlian menentukan sudut foto yang tepat. 

Dengan sudut yang pas, makanan yang biasa disantap pun nampak sedap dipandang dan rasa ingin menikmatinya. 
Begitu pula dalam kehidupan.

Untuk memperoleh kehidupan yang bagus, perlu keahlian menetapkan sudut pandang yang tepat. 

Sesuatu yang nampak biasa menjadi dapat dinikmati luar biasa karena sudut pandang kita terhadap hal tersebut. 
Janganlah bertanya tentang kebahagiaan karena pasti sudut pandang kita baik dengan sendirinya. 

Kemampuan mengolah pikiran dan rasa akan sangat berguna kala hal buruk dan mengecewakan hadir. 
Maka dengan sudut pandang yang tepat, masalah dan kesedihan dapat menjadi berkat. 

Kesulitan dan kekecewaan berubah menjadi sebuah kebahagiaan. 
Di tengah rasa sedih dan pilu, masih terbentuk senyum bahagia. 
Sebab segala takdir Allah selalu baik. Sabar maupun syukur. 

Dan selalu ada kado indah di baliknya. Tanpa bisa kita tebak isinya 😇
Teruslah berlatih menemukan angle yang tepat untuk foto yang bagus. 

Dan berlatihlah menemukan sudut pandang yang cermat untuk kehidupan yang senantiasa baik 😍😘
Salam hangat, 

EsaPuspita.com
Change your perspective, change your life. Begitu kali ya slogannya 😎😁

#CatatanEsa #Perspektif #perspective #SudutPandang #LifeMap #lifequotes #ChangeYourPerspective #PerspectiveOfLife

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Laki-laki Pendiam dan Perempuan Cerewet?

Laki-laki mah gitu.. 😆

Konon, secerewet-cerewetnya laki-laki itu, total kata yang keluar ga akan melebihi sependiam-pendiamnya perempuan. 

Secara data dari hasil penelitian, laki-laki mengatakan 2.000-4.000 kata, 1.000-2.000 bunyi vokal dan hanya melakukan 2.000-3.000 gerakan bahasa tubuh. Sehingga total sekitar 7.000 “kata-kata” komunikasi. Jumlah yang hanya 1/3-nya perempuan.

Perempuan mengucapkan kata-kata komunikasi sebanyak 20.000 kata per hari dengan rincian: 6.000-8.000 kata, ditambah 2.000-3.000 suara lain untuk berkomunikasi, 8.000-10.000 bahasa tubuh berupa isyarat, perubahan mimik, gerakan kepala dan lainnya. Penelitian ini dilakukan pada perempuan Italia. Sedangkan pada perempuan barat, kata yang diucapkan hanya 80%nya. Ga tau nih kalo di Indo 😁

Meme yang rame kemudian adalah: saat perempuan berbicara, lelaki merasa diomeli. Yah, macam respons anak laki saat emaknya berbicara. Heuheu. 
Jadi, wajar kalo jawaban suami kita hanya beberapa kata dari kalimat yang kita ucapkan (ketikkan). Memang lokasi yang mengendalikan bicara di otak lelaki lebih sedikit. Hanya di otak kiri tanpa tempat yang pasti dengan tidak banyak pusat bicara. 

Pada perempuan, lokasi yang mengendalikan bicara terdapat di otak kiri depan plus area kecil di otak kanan. Dan pusatnya banyak 😅

Itu juga kali ya yang bikin para ayah disegani meski sedikit kata yang keluar untuk menegur sementara emak-emak, saking udah biasa ngomel, anak-anak jadi “kebal”? 😤😂
Jadi ingat pernyataan teman tentang akang @aim_chalim 

“teh Esa, mas Chalim kalo di rumah suka ngobrol ga sih?”

Ish jangan salah. Banyak ilmu tentang #STIFIn yang saya tau dari beliau. Emang melengkapi banget lah. Suami #Thinking kan kepo, sementara saya yang #Feeling cenderung senang mendengarkan. Klop kan? 

Beliau bisa ngobrol banyak kalo udah diskusi hal-hal yang menarik dari hasil analisanya, bahasan #STIFInPersonality salah satunya. 

Ga tau beliau ketularan saya yang sering ngomong? #ups 😴

Hayu pahami perbedaan diantara sesama kita. Supaya lebih mudah bertoleransi dan memperbaiki diri 😘

Salam hangat,

Esa Puspita 

#KenalDiri #GenderIntelligence #CerdasPahamiPerbedaan #toleransi #SalingMengenal #STIFInBandung #

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Mendampingi Menemukan Solusi Dengan Belajar Hadir

Orang #FeelingExtrovert cenderung lebih suka menjadi seorang pendengar. Itu kenapa terkadang untuk berbicara, ia butuh “distimulus”. Berbeda dengan orang #FeelingIntrovert yang cenderung selalu punya sesuatu untuk dibicarakan.

.

Beberapa hari ini Allah menggiring saya pada pembahasan yang selaras di berbagai tempat belajar.

Pertama, tiba-tiba terpikir belajar tentang #coaching karena kejadian yang membuat saya teringat perkataaan seorang teman, “saat ada yang curhat, coba deh pake gaya coach. Tanya balik supaya dia berpikir dan akhirnya kita membersamai mereka menemukan mutiara dalam dirinya”

Dan alhamdulillah bermanfaat saat mendapat curhatan dari seorang ibu terkait putrinya. Alih-alih langsung memberikan saran (seperti yang biasa saya lakukan), bertanya balik justru membuat saya paham lebih paripurna.

Bertanya membantu menggali informasi dengan lebih lengkap sehingga kepingan yang tercerai dapat terkumpul.

Pun saat cek instagram, muncul postingan akun @psikologpeduli di timeline sehingga saya mampir ke akunnya dan melihat postingan tentang Listen dan Hope, rasanya kok klik ya dengan yang sedang saya alami. Salah satu pengelola Psikolog Peduli ini adalah teman SMA yang saat ini berprofesi psikolog. Eh iya, besok Psikolog Peduli ada di CFD Dago Bandung:

Lalu, pembahasan malam tadi di grup #Biblioterapi bertema #BiblioterapiKlasikal dan “secara tidak sengaja” mengarah pada hal yang sama. Juga dari cerita seorang teman saat membantu konseling santri di sebuah pesantren.

Ibarat teori attention creates intention ketika pikiran kita sedang akan fokus pada satu hal, Allah arahkan ke berbagai hal yang mendukung untuk kita belajar. Dan kadang Allah mempertemukan dengan kondisi yang memaksa kita belajar. Praktek langsung. Kalau kata teori umum mah, mestakung: semesta mendukung. 

Semua itu bertemu di beberapa titik. Salah satunya selaras di bagian yang sama. 

Apa itu teh Esa? Healing dapat memperlihatkan hasil baik dengan kehadiran keluarga atau orang yang mengharapkan kesembuhan. Salah satunya dengan cara mendengarkan. Apalagi pada kasus penyakit psikis seperti depresi.

Saat belajar tentang coaching, bahasan yang pertama kali ditekankan adalah MENDENGARKAN. Dan bukan sembarang mendengar tapi betul-betul hadir. Menangkap setiap detil penting yang diceritakan.

Mendengar apa adanya, bukan ada apanya. Mendengar karena peduli, bukan fokus pada harus mencari solusi. Kalau istilah PPA mah, meluruskan niat.

Menggali dari diri untuk bersama melihat solusi yang bisa saja sudah ada, hanya tak terlihat. Mirip teori tongkat nabi Musa (yang pernah ikut PPA ngerti nih sepertinya ya).

Belajar mendengar ga perlu jauh-jauh, lihat di sekeliling isi rumah. Ada manusia lain kah selain diri kita? Nah, praktekkan saja pada mereka. Atau ingat-ingat, saat kita berbicara, bisakah membedakan mana yang mendengarkan dengan saksama dan mana yang hanya sekilas.

Mana yang lebih enak, didengarkan dan disambi mengerjakan yang lain atau didengar dengan orangnya melakukan tatap muka, bertemu pandang dan berhadapan dengan kita? Mana yang terasa “lebih diperhatikan”?

Seperti itulah seharusnya kita mendengarkan seseorang. Termasuk sosok kecil yang ada di rumah: anak-anak. Mereka jauh lebih butuh didengarkan dengan baik. Untuk apa? Agar mereka merasa dihargai, dipedulikan dan tentu saja mereka akan belajar menirukan perlakuan yang sama. Anak akan belajar dari perilaku sekitarnya dibanding teori yang dijejalkan.

Saat kita mendengarkan curahan hati seseorang atau saat kita mencurahkan isi hati pada seseorang, sebenarnya itu bagian dari healing alias penyembuhan diri (entah fisik maupun psikis). Sebab didengarkan adalah salah satu bagian sederhana dari “merasa diperhatikan” (meski kadang sulit terlaksana).

Pun ketika anak melakukan kesalahan, maka yang perlu dilakukan pertama kali: dengarkan penjelasannya. Kemampuan orang tua bertanya, membantu anak bercerita isi hati dan pikirannya. Dari sana didapat kisah lengkap sehingga keputusan akan lebih bijak.

 Kunci Mendengarkan:

  • Hadir seutuhnya hati dan pikiran 
  • Fokus pada mendengar cerita ybs, bukan bercerita sendiri di dalam kepala (sehingga tidak fokus) dan langsung mencari kesimpulan padahal ceritanya belum lengkap.
  • Tangkap detil penting 
  • Sabar mendengar hingga akhir 
  • Tanyakan kembali pada ybs kesimpulan dan hal-hal yang kita tangkap. Konfirmasikan “apakah benar begini dan begitu? Seperti ini dan seperti itu?”
  • Tidak judging karena kita bukan hakim
  • Tidak menebak karena bukan paranormal 😁

Dan seperti teori Aa Gym, mulailah dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil, mulai dari saat ini. Jangan menuntut orang lain melakukan hal tersebut untuk kita, jangan menunggu orang lain mendengarkan cerita kita dan hadir sepenuhnya, tapi jadilah pelaku. Mulai dari diri untuk mengubah kebiasaan mendengar seadanya menjadi “mendengarkan dan hadir seutuhnya” guna menghargai orang lain. 

Mulai dari kejadian-kejadian kecil sekitar kita. Dan mulailah menjadi pendengar utuh saat ini juga.

Hayu kita belajar bareng. Dan bagaimana perubahan hidup kita bergulir dengan insyaallah lebih baik 😘

Salam hangat dari Cimahi. Di weekend pagi 😍

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Strawberry Doa – Refleksi Pembelajaran Doa dari Anak

Strawberry Doa – Ahad 3 September 2017

🍰

Siang tadi saat ditanya mau beli buah apa, #MDanisyFI minta beli strawberry.

Hmm. Ummi jujur aja to the point, “di tukang buah keliling biasanya ga ada strawberry. Jus strawberry aja mau?”

“Aa maunya strawberry, bukan jus strawberry. Es jeruk aja Mi”

Permintaan kemudian beralih jadi es jeruk. Alhamdulillah.

Selang berapa lama, om Udi dan istrinya pulang. Dari kamar terdengar “Aa, Mas mau strawberry? Ini ateu bawa”

Masyaallah. Baru ingat kalau om Udi dan ateu Feli abis dari Ciwidey.

Ummi yang sedang ada di kamar menemani #HasnaAA beranjak keluar.

“Aa tadi berdoa minta strawberry?” tanya ummi pada Danisy yang masih terbaring.

Dengan mata tertutup tangan (mungkin masih pusing krn demam kemarin dan batuk pileknya), ia mengangguk.

“Masyaallah. Hebat ya cara Allah mengabulkan doa. Bisa lewat siapa aja dan kapan aja Allah mau”

—–

Hari ini kami belajar lagi tentang doa.

Tentang meminta dan tak putus asa pada Sang Maha Mendengar.

Saat ingin sesuatu, berdoalah. Allah pasti mengabulkannya. Dengan cara yang tak harus selalu dapat kita duga.

Meski kadang butuh jeda waktu untuk terkabulnya doa itu. 

Sebab ikhtiar adalah ibadah. Dan pengabulan doa adalah murni hak Allah.

Tapi Ia tak pernah ingkar. Barangsiapa berdoa, pasti dikabul.

Tinggal seberapa yakin kita akan hal tsb. Dan seberapa peka kita mengenali Allah al-Lathif, Yang MahaLembut. Hingga saat doa itu terkabul, kita sadar “ini doaku dulu. Ia mengabulkannya”

Selamat menikmati doa. Selamat belajar mengenal Allah Sang MahaLembut 😍😘

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Surat untuk Ismail

Khutbah Idul Adha kali ini mengingatkan kembali tentang makna iman sebuah keluarga, terutama dialog iman nan indah antara ayah dan anak.

Menyematkan nama Ismail di rangkaian namamu, menjadi pengingat bagi kami bahwa ada PR besar untuk mewujudkan harapan agar nama itu menjadi doa yang dikabulkan Allah. Agar engkau tumbuh menjadi lelaki yang memiliki keimanan nan kokoh. Dan harapan memiliki sifat seperti nabi Ismail.

Kami (terutama ummi) lupa bahwa di balik seorang Ismail, ada ayahnya Ibrahim dan ibundanya Hajar. Dua sosok luar biasa yang keimanannya sudah teruji sedemikian rupa.

Nabi Ibrahim sejak belianya sedemikian kritis. Berani dan cerdas melawan para penyembah berhala. 

Sedang ibunda Hajar, tegar saat ditinggalkan sang suami di gurun tanpa penghuni. Hanya berbekal dialog “Apakah Allah yang menyuruhmu melakukan ini?” dan saat dijawab “iya” oleh sang suami tanpa menoleh karena khawatir akan sangat bersedih, Hajar membalas, “jika demikian, tentulah Allah tak kan menyiakan kami”. Tegar dan kuat! 

Keluarga Ibrahim memperlihatkan kejadian manusiawi saat Allah memerintah penyembelihan Ismail, anak yang lama dinanti untuk bersama kembali. Saat sudah bisa bersama, Allah mengilhamkan perintah tak terduga. 
Ibrahim memanggil putranya, dengan rasa khawatir. Dan sedih. Tapi ini perintah. Ia ingin tahu pendapat sang anak yang dibalas dengan respon tak terduga: “insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” sebuah pertanda bahwa dalam hati, Ismail pun sebenarnya takut disembelih. Tapi keimanan ia letakkan di atas segalanya.

Kala Hajar digoda syetan dan iblis untuk menggagalkan proses penyembelihan Ismail. Sekuat hati beliau melempari iblis dan syetan itu dengan batu agar menjauh, hingga Allah abadikan menjadi prosesi lempar jumroh sebagai hikmah di balik peristiwa tersebut.

Makna pengorbanan sebuah keluarga bermula dari kokohnya pemahaman mereka tentang iman. Allah menjadi gantungan dan sandaran. Sami’na wa atha’na. 

Hal ini bermula dari pendidikan yang keren membentuk iman. Sehingga hasilnya iman sebelum amal. Hati sebelum akal. 

Ismail anakku, tak apa engkau takut menghadapi sesuatu, akan ada Allah yang mengirimkan para penjagaNya untukmu. 

Ismail anakku, tak apa ada rasa ragu mentaati Allah dalam hal yang berat, kuatkan untuk menjalankannya. 

Ismail anakku, ada hal yang seringkali dirasa berat, yakinlah Allah tidak akan menyiakan.

Maka pe er ummi dan abi membentuk imanmu. Dan itu berarti harus dibarengi perbaikan keimanan kami orang tuamu. 

Doakan kami, nak.. 

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Karakteristik Permanen Pernikahan

Ada hal menarik saat saya mempelajari Visionary Parenting dari situs Islamic Online University. Hal mirip yang saya dapati di buku Pendidikan Anak dalam Islam karya Dr. Abdullah Nashih ‘Ulwan. Keduanya memulakan bahasan pendidikan anak dengan membahas para orang tua. Ya, suami dan istri. Orang tua dari anak yang akan dididik.

Pada tulisan ini yang dicatat adalah bahasan terakhir modul 1B. Sehingga memang sudah berupa pamungkas. Penjelasan awal lengkapnya insyaallah akan ditulis di artikel lainnya.

Roman karakteristik permanen yang sebaiknya ada dalam sebuah pernikahan yang dicatat oleh Dr. Kanwal Kaisser pada bahasan 1 Visionary Parenting bertema ikatan suami istri adalah sebagai berikut:

  1. Waktu khusus berdua setidaknya seminggu sekali.
  2. Berikan setidaknya satu pujian mengenai pasangan setiap hari.
  3. Tunjukkan apresiasi pada pasangan setidaknya sekali sehari.
  4. Saling berpelukan setidaknya 2x sehari
  5. Miliki aktivitas harian keluarga untuk memperkuat ikatan

Menjalankan kelima poin di atas nampak sederhana dan mudah saja, namun tidak semua pasangan dapat mengaplikasikannya langsung dengan mudah. Ada banyak hal yang tak bisa disamaratakan. Apalagi lelaki dan perempuan memiliki cara komunikasi yang berbeda, dan bahasa cinta setiap mesin kecerdasan memang berbeda pula.

Akan tetapi tidak berarti mustahil untuk menjalankannya. Sebab karakteristik ini pasti sudah melewati pembelajaran dan pendalaman yang tak sebentar. Apalagi Islam sendiri memberikan panduan menarik,

Yang paling sempurna keimanannya diantara para mukmin adalah mereka yang paling bagus akhlaknya. Dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya. (HR Tirmidzi no. 1162, Ibnu Majah no. 1987)

Jadi, hayu jadikan keluarga kita sebagai interpretasi keindahan luar biasa surga. Dan semoga kelak kita sekeluarga dikumpulkan lagi di surgaNya dengan rahmat Allah. Aamiin 😍

#Parenting #CatatanParenting #VisionaryParenting #Marriage #pernikahan #SuamiIstri #pasangan #spouse #HusbandAndWife #CatatanEsa #IslamicOnlineUniversity #IOU 

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.