Membangun Kebiasaan Anak, Dimulai dari Komitmen Orang Tua

“Aa sudah shubuh, ayok bangun. Jamaah di masjid sama abi”

Kalimat itu belakangan hadir di antara cerita keluarga kami. Kebiasaan anak bangun sebelum shubuh terkubur oleh kebiasaan orang tua menyuruhnya tidur lagi. Iya, kami akui kesalahan yang secara tak sengaja dilakukan berulang-ulang hingga akhirnya anak memiliki kebiasaan baru dengan kehilangan kebiasaan lamanya yang baik.

Sederhana saja alasannya: masih pagi. Nanti takut ngantuk di sekolah. Atau, daripada nanti ga bisa ngerjain kerjaan rumah karena kalau anak sudah bangun pasti minta main ini itu.

Sifat Bawaan Anak itu Mudah Bangun Shubuh

Fitrah anak untuk mudah bangun di sepertiga malam. Jadi, jika ada anak sulit bangun shubuh, bisa dibilang ada sesuatu yang terjadi pada anak tersebut.

Mungkin saja fitrahnya rusak oleh ulah orang tua yang menutupi kebiasaan itu karena alasan SAYANG. Atau malah untuk urusan sepele: GA MAU TERGANGGU.

Ah, teh Esa mah becanda. Masa anak terbiasa bangun di sepertiga terakhir malam?

Ih, masa ga percaya. Coba, bayi suka bangun minta nyusu jam berapa? Selama bayi sampai usia 1 tahunan deh, anak masih suka bangun malem ga?

Pengalaman saya dengan anak-anak, apalagi memperhatikan Hasna (usianya baru menjelang 3 bulan) biasanya mereka pasti bangun antara jam 2-4. Ritme itu pula yang membantu saya memulai kembali kebiasaan qiyamullail meskipun harus meninggalkan Hasna sejenak untuk keperluan ke toilet, wudhu dan shalat. Selebihnya, ia akan tidur lagi menjelang shubuh. Ini yang kemudian perlu diperbaiki juga setelah ia nanti agak besar. Jangan sampai ia tidur lagi setelah shubuh.

Jadi sebetulnya anak mudah bangun shubuh. Syaratnya, jaga fitrah itu.

Sepertinya semua orang tua setuju kalau bayi PASTI akan bangun di jam-jam menjelang shubuh. Bahkan hingga usia balita. Setidaknya sampe usia 2 tahunan lah ya. Saat yang sama dimana anak juga mulai INGIN IKUT SHALAT DI MASJID.

Nah lho. Apalagi anak laki, ayahnya nih yang kudu ekstra turun tangan supaya keinginannya ikut ke masjid kelak menjadi kebiasaan untuk memakmurkan masjid dan shalat di awal waktu berjamaan di masjid. Jangan sampai saat anak semangat ke mesjid, kita larang. Giliran kita ajak trus mereka ga mau, kita marah-marah. Padahal kita yang “mengajarkan”nya pada anak. Na’udzubillah.

Membangun (Kembali) Kebiasaan Anak Dimulai dari Komitmen Orang Tua

Membangun kebiasaan maupun mengembalikan kebiasaan baik pada anak sangat membutuhkan komitmen orang tua. Bagaimana tidak, jika komitmennya kendor tentu pengawasan untuk membiasakan sesuatu menjadi turut melemah. Anak yang masih masa pembentukan itu pun kehilangan pijakan untuk membangun kebiasaan baiknya.

Terkait shalat, diperintahkan di usia 7 tahun. Akan tetapi tak ada larangan untuk mengajak atau mengizinkan ia turut serta shalat. Sambil dibiasakan, kita nasihatkan terus adab tentang shalat, tentang adab di masjid, adab shalat berjamaan dsb.

Membangun kebiasaan baik seperti makan sambil duduk, makan menggunakan tangan kanan, membuang sampah di tempatnya, pipis di jamban, cebok setelah buang air, menyimpan piring kotor di tempat cuci piring, menyimpan baju kotor di wadahnya, memilih jajanan, dsb. Semua itu butuh kesungguhan dari orang tua. Sebab kita yang akan membantu dia mengontrol dan mencontohkan hal tersebut.

Terkadang jadi capek sendiri ya rasanya. Apalagi jika lingkungan kita termasuk yang kurang mendukung kebiasaan baik yang kita coba tanamkan pada anak. Tapi perjuangan dalam proses membangun kebiasaan anak itu akan kita rasakan manis buahnya, cepat atau lambat tergantung kebiasaan apa yang kita ajarkan.

Sebagai contoh, kebiasaan menyimpan piring kotor di tempat cuci piring meringankan beban ibu untuk membereskan wadah bekas makan anak-anak. Kita tinggal cuci saja piringnya karena wadah kotor itu sudah berada di tempatnya. Tak perlu lagi beberes mengumpulkan piring kotor yang berserak. Mengurangi 1 kerjaan. Apalagi jika ibu tidak menggunakan jasa asisten rumah tangga. Kalaupun menggunakan jasa ART, tetap saja hal ini baik sebab kita telah membantu meringankan tugas ART sehingga ia dapat mengerjakan hal lain.

Kebiasaan membuang sampah pada tempatnya pun menjadi sebuah nilai yang akan sangat berguna bagi lingkungan. Kalaupun kita tidak turut serta aktif dalam pengelolaan limbah sampah, setidaknya kita tidak membiarkan anak-anak menjadi pelaku aktif dalam mengotori lingkungan dengan sampah berserakan.

Bagaimana Menguatkan Komitmen Orang Tua?

Kesepakatan paham antara pasangan suami dan istri sangat diperlukan. Hal ini menjadi pondasi utama dalam menjalankan komitmen membangun kebiasaan anak.

Selain menjadi contoh nyata dalam kebiasaan baik itu, komitmen ayah dan ibu juga menguatkan serta memudahkan proses pembentukan kebiasaan baik dalam keluarga. Jika ayah dan ibu sepaham, maka tak ada istilah “gontok-gontokan” karena yang satu berpendapat “piring kotor taruh di tempatnya” yang lain berpendapat “itu kan tugas ibu/ayah”. Akhirnya anak memilih yang paling enak dong: biarkan saja piring kotor berserakan dimana pun.

Kesepahaman antara suami-istri juga akan menjadi banteng menghadapi perbedaan pendapat dari pihak luar. Pihak luar disini maksudnya pihak-pihak di luar ayah-ibu-anak. Penting untuk suami-istri sepaham agar dapat memahamkan sekitar terutama keluarga besar tentang kebiasaan yang sedang coba dibangun berikut cara yang ditempuh.

Guna menguatkan komitmen ini, masing-masing suami istri mesti menguatkan diri terhadap apa yang disepakati. Siap lahir batin menjalankan semua prosesnya meskipun “berdarah-darah”. Siap mengubah diri menjadi lebih baik agar dapat menjadi contoh terbaik sebagai pengejawantahan komitmen keluarga.

Iringi Tawakal Sejak Awal

Jauh sebelum mengusahakan atau berikhtiar membentuk kebiasaan baik pada anak, kita sudah harus mengiringinya dengan tawakal. Upaya kita membiasakan kebaikan bukan untuk pamer atau dipuji orang, melainkan upaya kita memenuhi amanah untuk tidak meninggalkan generasi yang lemah di belakang kita. Maka niat yang lurus itu dibarengi tawakal bahwa ikhtiar yang kita lakukan adalah ikhtiar terbaik yang bisa kita berikan. Dan hasilnya kita serahkan pada Allah saja.

Wallahu a’lam.

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Menikmati Bakso Astagfirullah nan Nikmat

Beberapa kali berbincang tentang menikmati bakso astagfirullah nan nikmat membuat saya penasaran seperti apa sih bentuknya kok sampe dikasih nama seperti itu. Eh lebih tepatnya bukan dikasih nama sih, tapi dijuluki. Teman-teman bilang ini salah satu tempat recommended buat nyoba baso yang enak tapi ga biasa.

Ga biasanya gimana? Konon pesan satu porsi aja cukup. Bahkan, porsi terbaiknya bisa dinikmati oleh sampai 8 orang. Pan berarti gede banget. Mateng ga ya? haha..

Dan rasa penasaran itu akhirnya terobati saat secara tidak sengaja diajak teman untuk mampir di tempat tersebut sepulang pelatihan PPA di hotel Topas, Pasteur, Bandung. Pas diajak sih ga nyangka akan ke tempat itu. Cuma dibilang “hayuk lah kita nyoba sesuatu yang pasti semua suka”. Yep, bakso adalah makanan sejuta umat apalagi kaum hawa. Pengecualian: suamiku. Ya, pertama dia bukan kaum hawa, kedua memang doi ga terlalu suka bakso padahal adek saya yang cowok suka bakso 😀

Bakso Raksasa Bikin Ucap Astagfirullah Begitu Melihatnya

Usai training, bergeraklah kami menuju bakso Laman astagfirullah. Baso laman ini katanya udah lama ada dengan ciri khas bakso raksasa yang ditawarkan. Tempatnya sih biasa aja, tapi emang rame. Begitu lihat gerobak mamang penjualnya, ah ga gede-gede amat. Pas mau pesan, ternyata memang kita dah kehabisan yang jumbo dan tersisa yang kecil. Lirik ke gerobak, “hoo itu bakso kecilnya ya? Oke. Sanggup lah”. Maklum, di gerobak kan bakso yang belum direbus. Saya lupa tuh poin itu. Hwehehe.

Dipesankanlah masing-masing 1 porsi. Keisengan temen sih sebenernya. Dia sendiri pesen 1 porsi dan ngajak temen satunya buat barengan. Kayaknya dia udah sadar kalua ga akan habis.

Begitu disajikan, “astaghfirullah” reflek kami mengucap kalimat seperti itu. Ini ukuran baksonya semangkok tuh penuh. Bakso mangkok ini mah namanya. Baksonya segede mangkok. Pantesan pada nyebut bakso astagfirullah ya, lha pas nerima kita memang reflek mengucapkan kalimat itu (maklum, di Bandung pan mayoritas muslim).

Dimana sih Bakso Astagfirullah Lokasi Tepatnya?

Saat mendapat rekomendasi tempat makan bakso enak di Bandung, saya masih bingung. Dimana sih lokasi bakso astaghfirullah itu? Dulu ga sempat googling karena emang belum tahu kapan bisa kesana. Baru deh belakangan ini tahu alamat bakso astagfirullah Bandung ada di jalan Sukawarna no. 21. Wah, dimana itu? Kalau teman-teman tahu Pasteur atau BTC (Bandung Trade Center), nah lokasinya di belakang mall. Makanya beberapa orang menyebut bakso astaghfirullah BTC atau baso astaghfirullah Pasteur. Nama aslinya Bakso Laman Astagfirullah Aladzim Moro Seneng malah jarang ada yang tahu.

Bakso Laman astagfirullah buka mulai jam 10 pagi dan tutup sekitar jam 10 malam dengan range harga 25.000-150.000 per porsi. Harga yang cukup reasonable dengan apa yang disajikan. Kalau mau traktiran sampai 20 orang, insyaallah muat karena memang kapasitas tempatnya dapat menampung hingga 20 orang dewasa. Parkir motor dan mobil tersedia di sekitar lokasi bakso laman astagfirullah aladzim. Pastikan bawa uang cash sebab hanya menerima pembayaran tunai.

Opsi bakso yang tersedia mah standar tukang bakso pada umumnya: bisa pesan bakso saja, bakso plus bihun, mie bakso ataupun bakso campur mie dan bihun. Ini kembali ke selera masing-masing. Saya sendiri lebih suka bikin bakso. Nikmati dalam “kondisi” original. Lanjut tambahkan sedikit pedas, nikmati. Lanjut kasih saus dan kecap. Jadi sekali makan bisa menikmati 3 sensasi rasa berbeda.

Kalau teman-teman ingat keluarga di rumah, bisa juga kok dibungkus. Tenang saja, harga mah tetep sama kok. Bisa jadi kejutan untuk orang-orang tercinta. Apalagi jika mereka adalah penggemar bakso juga.

Bagaimana Rasa Bakso Astagfirullah?

Kalau saya, yang pertama kali dinikmati saat menyantap bakso adalah kuahnya. Jika kuahnya enak, bakso yang rasanya biasa bisa terobati. Nah, kalau bakso laman bandung ini sudah mah kuahnya enak, baksonya pun mantap. Endeus kata orang mah. Jadi menikmati sekali

Jika pertama kali datang ke bakso laman astagfirullah Bandung Bersama teman atau keluarga, baiknya pesan 1 porsi dulu saja. Bukan karena ragu jadi kudu nyicip rasa dulu, tapi lebih pada “siapa tahu ga sanggup menghabiskan baso astaghfirullah ini”. Hehehe..

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Ada Kau dan Aku Menjadi Kita

Satu ketika sebuah status muncul di beranda. Kurang lebih isinya: “tak ada kau dan aku, yang ada adalah kita”.

Terbaca begitu indah ya? Namun bagi saya agak sedikit aneh. Ada yang berpikiran sama? 😀

Merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata kita merupakan kata ganti pertama jamak (lebih dari 1). Itu berarti, dalam pembicaraan bersama kala itu tetap ada aku dan kamu.

Dalam sebuah hubungan, “kita” tidak lantas membuat aku dan kamu melebur. Aku dan kamu tetap ada, hanya disana terdapat tambahan “kita”. Aku dan kamu tetaplah satu sosok masing-masing. Kemudian kita bersama untuk sebuah tujuan. Bergandeng tangan dan berjuang bersama, dengan segala ke-aku-an dan ke-kamu-an masing-masing.

Menikah berarti bersama, menjadikan aku dan kamu sebagai kita

Berpasangan merupakan bagian dari naluriah dan kebutuhan manusia, dihalalkan melalui pernikahan. Meski yang diucapkan hanyalah sekalimat pendek serah terima antara lelaki -yang kelak disebut suami- dengan lelaki lainnya -yang biasa disebut “ayah”-. Berpindahlah segala tanggung jawab ayah kepada suami, begitupun bakti.

Meski demikian, tak lantas kita melupakan ayah dan hanya fokus pada suami bukan? Ada sikap tawazun, seimbang antara bakti kepada orang tua dan suami. Memang, bakti seorang perempuan yang telah menikah diutamakan kepada suami.

Adapun setelah menikah, kita tak lagi boleh egois memikirkan diri sendiri. Benar, tapi bukan lantas lupa pada kebutuhan diri. Perlu ada keseimbangan juga dalam penyikapannya. Sebab rumah tangga diharapkan menjadi sebuah bangunan rumah penuh cinta yang menjadi tangga menuju surga.

Kelak, hisab kita hadapi sendiri-sendiri dengan mempertanggungjawabkan peran di dunia. Dengan harapan semoga Allah berkenan memasukkan kita ke surga-Nya dengan menyatukan kembali diri dan keluarga di dalamnya. Begitu bukan?

Maka meski sudah ada “kita”, tetaplah berperan sesuai “aku” dan “kamu”, ditambah “kita”. Ada kala kita mencoba melayani pasangan sesuai dengan hal terbaik yang diinginkannya sebagai “kamu” dan tentu pasangan pun membahagiakan dengan sesuatu yang paling gue banget sebagai “aku”. Dan ada tahapan dimana kita berbicara dan bertindak untuk kepentingan bersama, kepentingan “kita”.

Oleh karena itu, ada baiknya sebelum menikah sudah tahu siapa sebetulnya diri kita ini. Setidaknya dengan mengetahui dan mengenali diri sendiri akan lebih mudah menjelaskan pada pasangan, seperti apa sih saya sebenarnya. Begitu pun kita akan lebih mudah mengenali pasangan kala ia sudah mengenali dirinya dan memberitahukan kita siapa dia. Dengan demikian, adaptasi dalam pernikahan menjadi kepingan puzzle yang sudah ditemukan, tinggal bersama mencari kepingan lainnya untuk gambaran yang lebih lengkap. Jadi tidak terlalu ngeblur bayangannya.

Pernikahan: Tumbuhlah sebagai “aku”, “kamu” dan bergandengan tangan sebagai “kita”

Seringkali setelah menikah, kita lupa menjadi diri sendiri. Sehingga hubungan suami istri menjadi hambar karena hati yang hampa, dan proses pendidikan anak menjadi tidak maksimal karena ruh di dalamnya tercabik.

Maka, tetaplah tumbuh sebagai “aku” dan “kamu” yang bergandengan tangan sebagai “kita”. Kenali bahasa cinta pasangan agar dapat saling memberikan hal yang paling diharapkan dan saling bersiap pada kekurangan. Lalu bergandengan tangan menuju tempat yang ditargetkan bersama.

Ibaratnya, pernikahan tidak meleburkan lelaki dan perempuan menjadi satu bukan? Melainkan, lelaki tetap dengan kelelakiannya dan perempuan dengan keperempuannya. Segala sifat masing-masing bukan harus melebur, tapi beradaptasi saling memahami. Oh, perempuan itu begini maka harus begitu. Oh, lelaki itu begitu maka harus begini. Begitu terus hingga suami-istri tetap tumbuh sebagai pasangan yang membersamai tanpa kehilangan jati dirinya.

Sebab keharmonisan rumah tangga justru karena suami istri berbeda. Biarkan ia menjadi khas dan saling melengkapi, saling mengisi serta saling menguatkan satu sama lain.

“Aku” dan “kamu” hanya perlu saling memahami, saling pengertian, saling berbagi dan tidak perlu saling bertukar karakter. Ada sisi perempuan yang mesti dijaga sebagai istri dan sisi lelaki yang harus dijaga sebagai suami dengan cara yang proporsional.

Peduli tentang “kita” dan tetap tampil maksimal sebagai “aku” dan “kamu”

Pasangan yang sudah mengenal dirinya sendiri, akan lebih nyaman berbicara “kita”. Sebab kebutuhan mengenali diri sudah terpenuhi sehingga mereka tahu bahwa “aku” dan “kamu” perlu tetap tumbuh agar “kita” bisa lebih baik lagi menjalankan perannya. Agar “kita” senantiasa mampu bergandengan tangan mencapai tujuan dengan selaras.

Aku tetaplah aku, namun terus belajar dan tumbuh menjadi lebih baik.

Kamu tetaplah kamu, namun menjadi sosok yang terus belajar dan tumbuh semakin dewasa.

Sehingga kita dapat mewujudkan pernikahan yang harmonis. Bukan tanpa konflik, tapi mampu menangani setiap riak dan ombak dalam pernikahan dengan bijak.

Karena jika aku tampil maksimal sebagai aku dan kamu tampil maksimal sebagai kamu lalu menyepakati bersama tentang perjalanan kita, maka insyaallah rumah tangga yang dibangun akan menjadi keindahan luar biasa surga bernama keluarga.

Selamat mengenali diri, mengenal pasangan dan bersama mencapai tujuan yang sama.

Semoga pernikahan teman-teman diberkahi Allah swt. Bagi yang belum menikah, tetaplah jaga diri sesuai syariat.

note: salah satu tool yang kami gunakan untuk mengenal diri (dan alhamdulillah sudah banyak membantu pasangan yang konsul pada kami) adalah konsep STIFIn. Dengan tes sidik jari memudahkan pasangan dan anak-anak serta keluarga untuk mengenali sifat dasar dan bersama komitmen untuk “naik level” guna perbaikan hubungan, baik dengan Allah maupun dengan sesama manusia.

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Sudut Pandang

~ Sudut Pandang ~

Untuk menghasilkan foto yang bagus, salah satunya diperlukan keahlian menentukan sudut foto yang tepat. 

Dengan sudut yang pas, makanan yang biasa disantap pun nampak sedap dipandang dan rasa ingin menikmatinya. 
Begitu pula dalam kehidupan.

Untuk memperoleh kehidupan yang bagus, perlu keahlian menetapkan sudut pandang yang tepat. 

Sesuatu yang nampak biasa menjadi dapat dinikmati luar biasa karena sudut pandang kita terhadap hal tersebut. 
Janganlah bertanya tentang kebahagiaan karena pasti sudut pandang kita baik dengan sendirinya. 

Kemampuan mengolah pikiran dan rasa akan sangat berguna kala hal buruk dan mengecewakan hadir. 
Maka dengan sudut pandang yang tepat, masalah dan kesedihan dapat menjadi berkat. 

Kesulitan dan kekecewaan berubah menjadi sebuah kebahagiaan. 
Di tengah rasa sedih dan pilu, masih terbentuk senyum bahagia. 
Sebab segala takdir Allah selalu baik. Sabar maupun syukur. 

Dan selalu ada kado indah di baliknya. Tanpa bisa kita tebak isinya 😇
Teruslah berlatih menemukan angle yang tepat untuk foto yang bagus. 

Dan berlatihlah menemukan sudut pandang yang cermat untuk kehidupan yang senantiasa baik 😍😘
Salam hangat, 

EsaPuspita.com
Change your perspective, change your life. Begitu kali ya slogannya 😎😁

#CatatanEsa #Perspektif #perspective #SudutPandang #LifeMap #lifequotes #ChangeYourPerspective #PerspectiveOfLife

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Laki-laki Pendiam dan Perempuan Cerewet?

Laki-laki mah gitu.. 😆

Konon, secerewet-cerewetnya laki-laki itu, total kata yang keluar ga akan melebihi sependiam-pendiamnya perempuan. 

Secara data dari hasil penelitian, laki-laki mengatakan 2.000-4.000 kata, 1.000-2.000 bunyi vokal dan hanya melakukan 2.000-3.000 gerakan bahasa tubuh. Sehingga total sekitar 7.000 “kata-kata” komunikasi. Jumlah yang hanya 1/3-nya perempuan.

Perempuan mengucapkan kata-kata komunikasi sebanyak 20.000 kata per hari dengan rincian: 6.000-8.000 kata, ditambah 2.000-3.000 suara lain untuk berkomunikasi, 8.000-10.000 bahasa tubuh berupa isyarat, perubahan mimik, gerakan kepala dan lainnya. Penelitian ini dilakukan pada perempuan Italia. Sedangkan pada perempuan barat, kata yang diucapkan hanya 80%nya. Ga tau nih kalo di Indo 😁

Meme yang rame kemudian adalah: saat perempuan berbicara, lelaki merasa diomeli. Yah, macam respons anak laki saat emaknya berbicara. Heuheu. 
Jadi, wajar kalo jawaban suami kita hanya beberapa kata dari kalimat yang kita ucapkan (ketikkan). Memang lokasi yang mengendalikan bicara di otak lelaki lebih sedikit. Hanya di otak kiri tanpa tempat yang pasti dengan tidak banyak pusat bicara. 

Pada perempuan, lokasi yang mengendalikan bicara terdapat di otak kiri depan plus area kecil di otak kanan. Dan pusatnya banyak 😅

Itu juga kali ya yang bikin para ayah disegani meski sedikit kata yang keluar untuk menegur sementara emak-emak, saking udah biasa ngomel, anak-anak jadi “kebal”? 😤😂
Jadi ingat pernyataan teman tentang akang @aim_chalim 

“teh Esa, mas Chalim kalo di rumah suka ngobrol ga sih?”

Ish jangan salah. Banyak ilmu tentang #STIFIn yang saya tau dari beliau. Emang melengkapi banget lah. Suami #Thinking kan kepo, sementara saya yang #Feeling cenderung senang mendengarkan. Klop kan? 

Beliau bisa ngobrol banyak kalo udah diskusi hal-hal yang menarik dari hasil analisanya, bahasan #STIFInPersonality salah satunya. 

Ga tau beliau ketularan saya yang sering ngomong? #ups 😴

Hayu pahami perbedaan diantara sesama kita. Supaya lebih mudah bertoleransi dan memperbaiki diri 😘

Salam hangat,

Esa Puspita 

#KenalDiri #GenderIntelligence #CerdasPahamiPerbedaan #toleransi #SalingMengenal #STIFInBandung #

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Mendampingi Menemukan Solusi Dengan Belajar Hadir

Orang #FeelingExtrovert cenderung lebih suka menjadi seorang pendengar. Itu kenapa terkadang untuk berbicara, ia butuh “distimulus”. Berbeda dengan orang #FeelingIntrovert yang cenderung selalu punya sesuatu untuk dibicarakan.

.

Beberapa hari ini Allah menggiring saya pada pembahasan yang selaras di berbagai tempat belajar.

Pertama, tiba-tiba terpikir belajar tentang #coaching karena kejadian yang membuat saya teringat perkataaan seorang teman, “saat ada yang curhat, coba deh pake gaya coach. Tanya balik supaya dia berpikir dan akhirnya kita membersamai mereka menemukan mutiara dalam dirinya”

Dan alhamdulillah bermanfaat saat mendapat curhatan dari seorang ibu terkait putrinya. Alih-alih langsung memberikan saran (seperti yang biasa saya lakukan), bertanya balik justru membuat saya paham lebih paripurna.

Bertanya membantu menggali informasi dengan lebih lengkap sehingga kepingan yang tercerai dapat terkumpul.

Pun saat cek instagram, muncul postingan akun @psikologpeduli di timeline sehingga saya mampir ke akunnya dan melihat postingan tentang Listen dan Hope, rasanya kok klik ya dengan yang sedang saya alami. Salah satu pengelola Psikolog Peduli ini adalah teman SMA yang saat ini berprofesi psikolog. Eh iya, besok Psikolog Peduli ada di CFD Dago Bandung:

Lalu, pembahasan malam tadi di grup #Biblioterapi bertema #BiblioterapiKlasikal dan “secara tidak sengaja” mengarah pada hal yang sama. Juga dari cerita seorang teman saat membantu konseling santri di sebuah pesantren.

Ibarat teori attention creates intention ketika pikiran kita sedang akan fokus pada satu hal, Allah arahkan ke berbagai hal yang mendukung untuk kita belajar. Dan kadang Allah mempertemukan dengan kondisi yang memaksa kita belajar. Praktek langsung. Kalau kata teori umum mah, mestakung: semesta mendukung. 

Semua itu bertemu di beberapa titik. Salah satunya selaras di bagian yang sama. 

Apa itu teh Esa? Healing dapat memperlihatkan hasil baik dengan kehadiran keluarga atau orang yang mengharapkan kesembuhan. Salah satunya dengan cara mendengarkan. Apalagi pada kasus penyakit psikis seperti depresi.

Saat belajar tentang coaching, bahasan yang pertama kali ditekankan adalah MENDENGARKAN. Dan bukan sembarang mendengar tapi betul-betul hadir. Menangkap setiap detil penting yang diceritakan.

Mendengar apa adanya, bukan ada apanya. Mendengar karena peduli, bukan fokus pada harus mencari solusi. Kalau istilah PPA mah, meluruskan niat.

Menggali dari diri untuk bersama melihat solusi yang bisa saja sudah ada, hanya tak terlihat. Mirip teori tongkat nabi Musa (yang pernah ikut PPA ngerti nih sepertinya ya).

Belajar mendengar ga perlu jauh-jauh, lihat di sekeliling isi rumah. Ada manusia lain kah selain diri kita? Nah, praktekkan saja pada mereka. Atau ingat-ingat, saat kita berbicara, bisakah membedakan mana yang mendengarkan dengan saksama dan mana yang hanya sekilas.

Mana yang lebih enak, didengarkan dan disambi mengerjakan yang lain atau didengar dengan orangnya melakukan tatap muka, bertemu pandang dan berhadapan dengan kita? Mana yang terasa “lebih diperhatikan”?

Seperti itulah seharusnya kita mendengarkan seseorang. Termasuk sosok kecil yang ada di rumah: anak-anak. Mereka jauh lebih butuh didengarkan dengan baik. Untuk apa? Agar mereka merasa dihargai, dipedulikan dan tentu saja mereka akan belajar menirukan perlakuan yang sama. Anak akan belajar dari perilaku sekitarnya dibanding teori yang dijejalkan.

Saat kita mendengarkan curahan hati seseorang atau saat kita mencurahkan isi hati pada seseorang, sebenarnya itu bagian dari healing alias penyembuhan diri (entah fisik maupun psikis). Sebab didengarkan adalah salah satu bagian sederhana dari “merasa diperhatikan” (meski kadang sulit terlaksana).

Pun ketika anak melakukan kesalahan, maka yang perlu dilakukan pertama kali: dengarkan penjelasannya. Kemampuan orang tua bertanya, membantu anak bercerita isi hati dan pikirannya. Dari sana didapat kisah lengkap sehingga keputusan akan lebih bijak.

 Kunci Mendengarkan:

  • Hadir seutuhnya hati dan pikiran 
  • Fokus pada mendengar cerita ybs, bukan bercerita sendiri di dalam kepala (sehingga tidak fokus) dan langsung mencari kesimpulan padahal ceritanya belum lengkap.
  • Tangkap detil penting 
  • Sabar mendengar hingga akhir 
  • Tanyakan kembali pada ybs kesimpulan dan hal-hal yang kita tangkap. Konfirmasikan “apakah benar begini dan begitu? Seperti ini dan seperti itu?”
  • Tidak judging karena kita bukan hakim
  • Tidak menebak karena bukan paranormal 😁

Dan seperti teori Aa Gym, mulailah dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil, mulai dari saat ini. Jangan menuntut orang lain melakukan hal tersebut untuk kita, jangan menunggu orang lain mendengarkan cerita kita dan hadir sepenuhnya, tapi jadilah pelaku. Mulai dari diri untuk mengubah kebiasaan mendengar seadanya menjadi “mendengarkan dan hadir seutuhnya” guna menghargai orang lain. 

Mulai dari kejadian-kejadian kecil sekitar kita. Dan mulailah menjadi pendengar utuh saat ini juga.

Hayu kita belajar bareng. Dan bagaimana perubahan hidup kita bergulir dengan insyaallah lebih baik 😘

Salam hangat dari Cimahi. Di weekend pagi 😍

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Strawberry Doa – Refleksi Pembelajaran Doa dari Anak

Strawberry Doa – Ahad 3 September 2017

🍰

Siang tadi saat ditanya mau beli buah apa, #MDanisyFI minta beli strawberry.

Hmm. Ummi jujur aja to the point, “di tukang buah keliling biasanya ga ada strawberry. Jus strawberry aja mau?”

“Aa maunya strawberry, bukan jus strawberry. Es jeruk aja Mi”

Permintaan kemudian beralih jadi es jeruk. Alhamdulillah.

Selang berapa lama, om Udi dan istrinya pulang. Dari kamar terdengar “Aa, Mas mau strawberry? Ini ateu bawa”

Masyaallah. Baru ingat kalau om Udi dan ateu Feli abis dari Ciwidey.

Ummi yang sedang ada di kamar menemani #HasnaAA beranjak keluar.

“Aa tadi berdoa minta strawberry?” tanya ummi pada Danisy yang masih terbaring.

Dengan mata tertutup tangan (mungkin masih pusing krn demam kemarin dan batuk pileknya), ia mengangguk.

“Masyaallah. Hebat ya cara Allah mengabulkan doa. Bisa lewat siapa aja dan kapan aja Allah mau”

—–

Hari ini kami belajar lagi tentang doa.

Tentang meminta dan tak putus asa pada Sang Maha Mendengar.

Saat ingin sesuatu, berdoalah. Allah pasti mengabulkannya. Dengan cara yang tak harus selalu dapat kita duga.

Meski kadang butuh jeda waktu untuk terkabulnya doa itu. 

Sebab ikhtiar adalah ibadah. Dan pengabulan doa adalah murni hak Allah.

Tapi Ia tak pernah ingkar. Barangsiapa berdoa, pasti dikabul.

Tinggal seberapa yakin kita akan hal tsb. Dan seberapa peka kita mengenali Allah al-Lathif, Yang MahaLembut. Hingga saat doa itu terkabul, kita sadar “ini doaku dulu. Ia mengabulkannya”

Selamat menikmati doa. Selamat belajar mengenal Allah Sang MahaLembut 😍😘

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.