Pakaianku, Pakaianmu, Pakaian Kita

هن لباس لکم وانتم لباس لهن

Mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.” (QS Al-Baqarah: 187)

Ayat ini tentu sering kita dengar, bukan? Sebuah ayat yang mengumpamakan suami atau istri adalah ibarat pakaian bagi pasangannya.

Alhamdulillah Allah lagi-lagi memberikan ilmu baru, pemahaman baru tentang makna kata yang sudah lama saya kenal. Tentang kelengkapan fungsi dan makna pasangan adalah pakaian.

Ketika kita menikah, maka pasangan kita akan menjadi pakaian kita. Selama ini saya memaknai pasangan sebagai pelindung. Tapi kemudian saya belajar tentang makna pakaian yang lebih lengkap.

Pakaian adalah pelindung kita sekaligus penutup aurat. Dan ada hal yang sering kita lupa bahwa pakaian bukan sekadar yang menjaga kita, tapi kita juga diharuskan menjaga pakaian itu. Ada feedback.

Jika kita ingin pakaian kita tetap bersih, tetap indah dipandang dan nyaman dikenakan maka kita perlu merawatnya dengan baik. Kita juga perlu memperhatikan hal-hal yang mungkin dapat merusak pakaia. Perhatikan bagaimana cara mencucinya, perhatikan bagaimana cara menghilangkan noda, perhatikan bagaimana cara menjemur, suhu seperti apa yang baik saat menyetrikanya dan hal lain yang terkadang kita abai.

Kita sering kali lebih berfokus pada “pakaian adalah pelindung kita” dan kemudian menuntut pakaian selalu indah dan menjaga kita dengan baik. Kemudian kita lupa bahwa pakaian juga butuh perawatan. Pakaian juga perlu dijaga. Jadi antara kita dan pasangan sudah selayaknya saling menjaga, bukan saling men-judge.

Dalam pernikahan, godaan untuk berbuat tidak baik tetap ada. Bahkan setan akan semakin gencar karena salah satu yang jadi target setan adalah berpisahnya suami dan istri. Maka kita benar-benar harus berhati-hati.

Maka saling menjaga menjadi sebuah kebutuhan yang begitu penting. Seperti apa saling menjaga itu? Bisa jadi akan berbeda antar tiap pasangan karena kondisi masing-masing pasangan belum tentu sama satu sama lain. Tapi mungkin kita akan sepakat bahwa saling menjaga keimanan, amar ma’ruf nahyi munkar antara suami dan istri sangat diperlukan.

Pikiran dan perasaan manusia begitu mudah berubah. Jutaan lintasan pikiran di kepala manusia bisa dimanfaatkan setan untuk menggoda.

Quu

Kecenderungan manusia untuk tertarik pada lawan jenis (terutama lelaki pada perempuan) yang “lebih”. Hal ini membuat perselingkuhan bisa jadi adalah sebuah yang mungkin meski “sekadar” tergelincir pada tindakan zina mata, zina hati atau hal yang dianggap ringan tapi sebenarnya tetap berat di hadapan Allah.

Disinilah peran menundukkan pandangan itu menjadi dimengerti kenapa begitu penting. Karena sering kali hal tak baik bermula dari liarnya mata memandang dan membiarkan bayangan jatuh ke hati hingga muncul pikiran-pikiran tak karuan. Ketika keimanan turun, maka mudah sekali untuk tergoda dan berpaling dari pasangan yang sah dan halal ke pemuasan nafsu semata. Na’udzubillah min dzalik.

Tugas memilih jodoh yang pemahaman agamanya baik tidak berhenti seketika setelah akad nikah diucapkan. Kewajiban kita selanjutnya untuk bersama menjalankan perintah Allah, salah satunya: quu anfusakum wa ahliikum naaran.. menjaga diri dan keluarga dari neraka.

Karena pakaian menjaga kita dan kita harus menjaga pakaian agak selalu layak. Sebab perjalanan pernikahan itu panjang dan penuh tantangan maka menjelmalah menjadi sebaik-baik pakaian dengan takwa.

Tidak mudah tapi bukan mustahil. Itu kenapa hadiahnya surga..

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *