Paradoks Orang Tua dalam Mendidik Anak

Pa.ra.doks: n pernyataan yang seolah-olah bertentangan (berlawanan) dengan pendapat umum atau kebenaran, tetapi kenyataannya mengandung kebenaran; bersifat paradoks.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)

Menjalankan peran sebagai orang tua merupakan sebuah perjalanan. Kenapa? Bagi saya secara pribadi, menjadi orang tua selalu merupakan proses. Perjalanan itu dimulai sejak seorang perempuan dinyatakan positif hamil. Bahkan segera sejak ijab kabul terucap dari seorang lelaki yang kini disebut suami.

Di tengah hujan sambil menikmati soto mie Bogor, saya merenung. Perjalanan menjadi orang tua merupakan perjalanan yang panjang. Maka berbekal untuk melewati prosesnya adalah sebuah keharusan.

Bekal seperti apa sih yang perlu disiapkan? Selain keimanan dan ketakwaan, ilmu adalah bekal yang sangat diperlukan. Agar setiap episode yang harus dilewati sepanjang jalan itu dapat kita lewati dengan baik.

Meskipun ada masa dimana kita belajar dari perjalanan itu sendiri, akan tetapi terus memberdayakan diri untuk menjadi orang tua harus tetap dilaksanakan. Sebab tak akan merugi orang yang berilmu. Bukankah mereka akan Allah tinggikan derajatnya?

Dianugerahi 3 anak membuat saya belajar semakin banyak, meskipun masih tambal bolong disana-sini. Alhamdulillah Allah mempertemukan saya dengan banyak guru yang mengajarkan bagaimana menjalankan peran ini semakin baik setiap waktu.

Guru tak harus mereka yang lebih tinggi ilmunya, tak juga harus lebih tua usianya. Mereka bisa saja justru anak kita sendiri. Dan seringnya, justru anak-anak menjadi guru sekaligus pendamping kita dalam menjalankan peran sebagai orang tua. Sepakat?

Paradoks Orang Tua Dalam Mendidik Anak

Belajar tentang fitrah, belajar tentang bagaimana Islam mengajarkan cara mendidik anak, berdiskusi dengan teman-teman, membuat saya menemukan sebuah paradoks dalam pendidikan anak. Setidaknya itu yang saya alami. Dan saat memperhatikan sekitar, paradoks ini pun terjadi pada beberapa keluarga. Mungkin pada sebagian besar orang tua.

Terkadang saya menertawakan diri sendiri. Ah, rasanya geli ya kalau ingat berbagai paradoks yang saya jalankan. Seperti saat sedang sangat ingin menikmati soto mie Bogor tapi malah memesan soto Bandung.

Bayi terlahir dalam keadaan fitrah. Dan semua sepakat fitrah yang dimaksud adalah fitrah untuk menerima syariat sesuai perkembangan usia dan fitrah untuk lebih cenderung pada kebaikan.

Mari kita runut fitrah anak (yang saya ingat) dan betapa kita melakukan paradoks yang menggelikan selama mendidik mereka.

  1. 1. Anak terlahir sensitif terhadap najis.

Anak baru lahir biasanya kita pakaikan popok kain. Setiap kali pipis atau eek, anak akan memperlihatkan ekspresi maupun gerakan pertanda ia tidak nyaman. Lalu semakin beranjak besar, kita mulai memakaikannya popok sekali pakai (pospak) –popok yang memiliki daya tampung banyak untuk beberapa kali pipis, dan selalu dengan iming-iming: nyaman, permukaan kering, dan benefit lain yang menggiurkan.

Maka kemudian dengan alasan “takut tidurnya terganggu karena ga nyaman akibat pipis, makanya dipakaikan pospak saja lah. Biar nyenyak meski berapa kali pipis.

Lalu saat anak mulai besar, semakin lucu berlari kesana kemari, ternyata masih pipis di kasur malem-malem. Kemudian kita kesal kok anak masih saja pipis di kasur?

Padahal.. bukankah kita yang mengajarkan anak untuk “tetap nyenyak meskipun pipis banyak”?

Anda boleh tidak setuju dengan saya. Saya tidak melarang teman-teman mengenakan putra/i-nya pospak ya. Hasna juga masih pake kok. Yang menjadi poin penegasannya adalah: sebelum menghakimi anak ketika malam ia pipis di kasur tapi ga kerasa, susah diajarkan toilet training, atau semacamnya. Mungkin kita perlu evaluasi dulu. Bisa jadi sulitnya anak menjalankan toilet training karena doa kita yang tak sengaja melalui afirmasi/lintasan pikiran dan pembiasaan yang kita jalankan.

  1. 2. Anak terlahir untuk senantiasa bangun di sepertiga malam dan shubuh.

Setiap bayi akan menjadi alarm untuk orang tuanya karena ia terbangun di sepertiga terakhir. Seolah mengajak orang tuanya untuk “yuk ayah, ibu temani aku menghadap Rabb-ku di sepertiga terakhir malam”.

Ia juga mudah sekali bangun kembali saat menjelang shubuh. Maka setiap anak seharusnya mudah bangun pagi. Bukan hanya untuk sekolah, tapi untuk shalat shubuh.

Tapi dengan alasan “kasihan ngantuk. Ah, kan masih kecil biarin aja tidur lagi. Toh kan masih anak-anak, belum wajib shalat.”

Kalimat tersebut tidak salah. Hanya pada keadaan tertentu membuat anak kemudian kehilangan kebiasaannya, fitrahnya tertutupi secara perlahan hingga akhirnya mungkin saja fitrah itu rusak.

  1. 3. Anak senang dan semangat ke masjid.

Pengalaman pada 2 anak lelaki, umumnya di usia mereka sudah bisa berjalan dan bicara mereka semakin tertarik ikut ayah ke masjid. Lagi-lagi karena alasan “masih kecil”, “kasihan”, “repot” dsb, kita mulai menutupi fitrah anak untuk terbiasa berjamaah di masjid.

Tapi kan Teh, memang repot lho bawa anak balita ke masjid. Takut ganggu jamaah lain.

Memang betul. Makanya perlu diajarkan adab di masjid sejak dini. Saat mereka ingin ikut ke masjid, izinkan saja. Jika memungkinkan ibu ikut mendampingi sehingga saat anak ternyata tidak kondusif, ibu bisa turun tangan mengatasi anak sementara ayah tetap bisa berjamaah.

Bagaimana jika tidak bisa mendampingi karena punya bayi, misalnya? Maka diharapkan kesabaran ayah dalam menjaga fitrah itu. Jangan larang anak. Tegur ia baik-baik saat berulah, jangan ditegur di depan umum. Khawatirnya anak jadi takut dan benci masjid.

  1. 4. Anak senang meniru dan bersegera pada ibadah seperti shalat, sedekah, dsb.

Ingin anak shalih tapi kita enggan memperbaiki diri untuk menjadi role model terbaik bagi anak, bukankah itu sebuah paradoks? Padahal anak lebih pandai meniru dibanding mendengar perintah kita.

Saya ga bilang ayah-ibu harus shalih dulu baru punya anak ya. Semua bisa sambil berproses. Kuncinya adalah kesungguhan untuk menjadi lebih baik. Nanti Allah akan kirimkan bantuan yang sesuai.

Ingin anak rajin shalat berjamaah di masjid, tapi ayah shalatnya di rumah di akhir waktu pula. Ingin anak rajin sedekah dan berbagi, tapi ketika ada kesempatan sedekah ternyata ayah-ibu enggan mengeluarkan harta bahkan enggan sekadar berbagi soto mie Bogor yang kita peroleh banyak dari teman, hingga akhirnya malah basi tak termakan. Anak paham dan melihat.

Maka mulai sekarang, hentikan paradoks seperti ini.

  1. 5. Anak terlahir dengan segala sifat baik seperti pemaaf, tidak mudah menyerah dan berani.

Terkadang kita gemas dengan sikap anak yang aktif sekali, ingin mencoba ini-itu, dan mudah sekali main lagi dengan teman yang telah menyakitinya. Ternyata semua itu muncul dari hatinya yang masih jernih.

Tapi kita melarangnya mencoba sesuatu karena menurut kita itu hal berbahaya. Atau menganggap anak ga akan bisa melakukannya. Ah, kreatifitas pun akhirnya harus terkubur tak terasah.

Padahal tindakan kita menyemangati anak saat ia belajar berjalan adalah sikap yang luar biasa harus terus kita jalankan. Sebab seandai saat belajar berjalan lalu kita mengatakan pada sang anak “ah, kamu yang begitu aja ga bisa. Udah ga usah belajar jalan lagi.” Tentu anak-anak (atau bahkan kita sendiri) ga bisa jalan sampai saat ini.

Maka mulai saat ini, yuk ayah bunda sadari apakah dalam pengasuhan kita ada paradoksikal yang dilakukan atau sudah lebih baik? Jika masih ada, tak ada kata terlambat untuk memperbaiki.

Mari kita terus belajar menjadi orang tua semangat!

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *