Partnership Skill – Sebuah Keterampilan Suami Istri yang Jarang Dibahas

Partnership Skill – Sebuah Keterampilan Suami Istri yang Jarang Dibahas

Hari ini, kembali bertemu di Family Coaching-nya komunitas HEbAT Baraya. Diisi oleh Kang Muvti dan Teh Inna, pasangan muda yang luar biasa di mata saya. Yah, seperti pasangan muda luar biasa lainnya yang saya kenal.

Di salah satu sesinya dibahas tentang partnership skill. Saya pernah membaca tentang partnership skill ini tapi lupa dimana. Maka di tulisan kali ini saya ingin mencatatkan salah satu ilmu yang saya dapat di sesi tadi pagi. Dengan mencari tahu tentang partnership skill dari referensi lain.

Dari kelas, saya mendapatkan sebuah definisi: partnership skill adalah kemampuan membangun relasi atau hubungan yang efektif dan efisien dengan rekan atau pasangan kita. Alias kemampuan bermitra.

Sebetulnya partnership skills itu sendiri sifatnya luas. Namanya juga berpartner. Ya, berhubungan dengan siapapun maka butuh skill ini. Khusus tulisan ini, kita akan bahas partnership skills dalam relasi sepasang suami istri.

Karena pernikahan adalah hubungan bermitra seumur hidup, maka kemampuan dalam hal partnership menjadi begitu penting. Jika selama ini kita loncat pada bahasan parenting dan melupakan skill partnership ini, maka wajar ketika kemudian sebagian kita seperti kehilangan arah.

Suami arahnya kesini, istri arahnya kesana. Giliran praktek ke anak, suami inginnya begini, istri harapannya begitu. Berseberangan.

Salah satu antusias belajar parenting, salah satu tidak terlalu tertarik dengan parenting. “Itu tugas kamu aja” begitu mungkin ya kalimat yang paling sering ditemui. Atau, “kan kamu yang paling sering bareng anak-anak, jadi kamu yang butuh ilmu parenting” 😀

Kok contoh kalimat negatif sih Teh? Itu mah curhatan kebanyakan. Di lapangan, yang paling duluan antusias soal parenting biasanya salah satu pihak terutama ibu-ibunya. Jarang sekali urusan parenting digagas oleh para bapak. InSyaAllah para bapak yang baca tulisan ini, termasuk bapak penggagas yang antusias pada pendidikan anak ya.

Makanya bersyukur sekali sekarang mulai banyak bapak-bapak yang terjun ke parenting menyadarkan kembali para bapak lainnya agar memperhatikan dunia parenting juga. Mengembalikan jalan yang semestinya <3

Prinsip Pokok Partnership Skill

  1. Memiliki tujuan/goal yang sama
  2. Mutual benefit alias keuntungan untuk kedua belah pihak
  3. Saling percaya
  4. Bersifat terbuka/transparan
  5. Hubungan kerja jangka panjang (pasti dong kalo nikah mah targetnya langgeng)
  6. Perbaikan yang terus menerus
  7. Siap berbagi resiko dan hasil
  8. Memiliki standar sejajar
  9. Berbagi informasi
  10. Koordinasi dan perencanaan
  11. Pengakuan adanya saling ketergantungan
  12. Kesesuaian filosofis

Sebab Kegagalan Partnership

  1. Kurangnya komunikasi
  2. Kurangnya kepercayaan
  3. Kurangnya komitmen (emang ada yang nikah dan ga komit? Ada!)
  4. Kurang perencanaan awal

Partnership Skills Dasar

Hal dasar dalam membangun partnership antara suami-istri adalah dengan membangun komunikasi efektif. Terkadang kepercayaan menurun karena buruknya kemampuan komunikasi suami-istri. Sementara tidak semua pasangan suami-istri kuliah di Ilmu Komunikasi 😀

Hal penting dalam membangun komunikasi efektif adalah: memahami pasangan. Atau yang oleh Kang Muvti dibahas diperkenalkan dengan istilah pacing-leading (yang biasa kenalan dengan NLP mungkin sudah familiar ya).

Memahami dia dulu, baru kemudian kita dipahami. Paksa diri untuk menyikapi pasangan dengan sikap terbaik kita.

Ya.. karena mengubah orang lain itu sulit. Sementara yang paling bisa kita ubah adalah diri kita 😉

Membangun komunikasi

Makna dari komunikasi adalah adanya partisipasi, memberitahukan, berbagi dan sama. Maka disebut komunikasi jika ada partisipasi dari kedua belah pihak yang sedang berkomunikasi. Jika salah satu asyik dengan gadget atau hal lain, maka belum bisa dikatakan sebagai komunikasi.

Dalam proses komunikasi, kita bisa jadi komunikator sekaligus komunikan dalam waktu yang sama. Berbicara dan mendengar. Namanya komunikasi, pasti ngobrol. Yang namanya ngobrol, pasti dua-duanya berbicara kan 😀

Lalu bagaimana agar efektif?

  1. Mulai dari hal yang sama
  2. Awali semua dengan keyakinan untuk melangkah bersama. Gapapa deh belum ada visi misi keluarga, minimal sudah sepakat untuk jalan ke arah yang sama.
  3. Pastikan persepsi kedua belah pihak sama terhadap hal yang sedang didiskusikan. Sebab kadang kita berharap pasangan menjadi cenayang yang dapat membaca pikiran tanpa diutarakan 😛

Sediakan waktu untuk mengobrol berdua. Kalau di bahasan kulwap tempo hari, kita bilang: Pacaran Yuk! Agar komunikasi kita efektif. Sesuai dan tepat sasaran.

Di level 1 kelas Bunda Sayang IIP, dikatakan bahwa ada 2 hal yang dapat membuat seseorang berbeda pendapat dengan orang lain yakni bisa jadi FoR dan FoE yang dimilikinya berbeda. Apa sih maksudnya?

FoR alias Frame of Reference adalah cara pandang, keyakinan, konsep dan tata nilai yang dianut seseorang. Sedangkan FoE alias Frame of Experience adalah serangkaian kejadian yang dialami seseorang yang dapat membangun emosi dan sikap mental seseorang.

Karena suami istri memiliki dasar FoR dan FoE yang berbeda, wajar jika berbeda pendapat. Maka dilakukanlah komunikasi untuk membagikan FoR dan FoE kita pada pasangan dan dari pasangan kepada kita. Harapannya, akan ada kesamaan persepsi dari FoR-FoE-ku dan FoR-FoE-mu menjadi FoR dan FoE kita.

Tantangan komunikasi hadir ketika kita memaksakan.

Memaksakan pendapatku, sudut pandangku dan singkirkan punyamu.

Dengan memahami versi diri dan pasangan, maka satu langkah membentuk partnership skill dalam rumah tangga sudah terlampaui.

Bagaimana jika ternyata jarang ketemu karena LDR? Yuk, sharing!

Wallahu a’lam.

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and STIFIn Trainer
Follow instagram @esapuspita Facebooktwitterpinteresttumblrinstagram

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: