Pelayaran di Tahun Keenam

Bersama melangkah untuk sebuah awal kehidupan baru

Menyatukan dua hati dalam ikatan pernikahan suci

Ikatan yang teramat kuat, mitsaqan ghalizha

Masih ingatkah kau penggalan puisi yang tercantum dalam surat undangan pernikahan kita itu? Puisi yang sengaja kubuat agar undangan pernikahan kita istimewa, seistimewa perjalanan cinta kita. Undangan pernikahan dengan desain yang kau buat sederhana, sesederhana awal perjalanan kisah kita.

Perjalanan yang tak selalu dibumbui bahagia, tapi lengkap dengan semua rasa yang ada di dunia. Semua rasa itu pernah hadir dalam perjalanan kita mengarungi Samudera kehidupan bersama di sebuah kapal bernama pernikahan. Samudera yang tak selalu tenang karena sesekali badai menghantam hingga kadang kapal pernikahan kita hampir rusak dan tenggelam.

Engkau nakhoda yang tangguh. Penuh kesabaran menghadapi tingkah para awak kapalmu, menjadikanku sebagai kawan yang baik dalam perjalanan pernikahan, menjadikan anak-anak tak sekadar awak kapal tapi juga bagian penting dengan posisi yang tepat.

6 tahun kita terus berusaha saling mengenali, saling memahami dan saling memaklumi. Aku sadar atas kekuranganku yang sudah pasti sering membuat kecewa hatimu. Tapi engkau pun mengatakan bahwa kekuranganku dapat kau terima dan kita perbaiki bersama. Sementara kekuranganmu, kau katakan tertutupi oleh kelebihanku. Tetap saja aku masih sering merasa, engkaulah yang berjuang lebih keras untuk menerimaku dengan ikhlas.

Cinta, terima kasih sudah mengajarkan banyak hal yang tak selalu membuatku tersenyum, tapi mengajarkanku bahwa dalam hidup ini kita pasti akan mengalami semua rasa yang Ia ciptakan. Rasa yang membuat hidup kita sempurna. Bahagia, sedih. Bangga, kecewa. Suka, duka. Sayang, marah. Dan semua rasa yang terkadang tak dapat kita jelaskan mengapa dan bagaimana.

Mengayuh sepeda bersama, memang melelahkan bagimu. Tapi engkau katakan padaku, “aku yang memilihnya dan aku sudah siap dengan segala resiko atas pilihanku.” Besar sekali hatimu menerima aku yang memiliki banyak kesalahan dan kekurangan. Dalam setiap kebesaran hatimu, terbersit rasa syukurku pada Allah karena engkau tumbuh dalam asuhan kedua orang tuamu yang bagiku menakjubkan. Meski pengasuhan keduanya tidak sempurna, namun mereka dapat mendidikmu menjadi seperti ini –dengan izin Allah.

Mengarungi Samudera kehidupan bersama, memang tak mudah bagimu. Memastikan kendali terputar dengan baik, memastikan arah jalan yang tepat untuk mencapai tujuan. Lelah sudah pasti kau rasakan, tapi engkau tetap bertekad untuk selalu bertahan dan tak membiarkan perahu kita karam di tengah jalan.

Terima kasih atas 6 tahun kebersamaan yang lengkap dengan 2 putra yang menggemaskan sekaligus membanggakan. Semoga Allah selalu menjagamu, menguatkan dan menyayangimu. Semoga Allah senantiasa menjaga kita, dan menuntun langkah dalam proses membesarkan kapten-kapten kapal baru yang tangguh, yang pemahamannya akan pelayaran Samudera kehidupan jauh lebih baik dari kita berdua.

Ditulis di Bandung menjelang adzan shubuh pada 11 Agustus 2015 untuk diterbitkan tepat di tanggal 19 Dzulhijjah 1436H.

Chalim-Esa, 19 Dzulhijjah 1430-19 Dzulhijjah 1436H.

happy anniversary chalim esa

Gambar ini kuedit khusus untuk menggambarkan kebahagiaan yang kita rasakan dalam lelahnya perjalanan yang kita lakukan. Tambahan gambar sesuai permintaan anak sulung kita agar dia dan sang adik turut serta digambarkan.
image

Rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wa dzurriyyaatinaa qurrata a’yun. Waj’alnaa lilmuttaqiina imaaman.

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *