Pendidikan dalam Cara Allah Mengabulkan Doa

Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat, pen) melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: [1] Allah akan segera mengabulkan do’anya, [2] Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan [3] Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdo’a.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan do’a-do’a kalian.” (HR. Ahmad 3/18, dari Abu Sa’id; derajat hasan)

Hadits ini bagi saya selain memberikan motivasi untuk berdoa, juga menjadi pelajaran bahwa dalam kehidupan tidak semua hal akan kita dapatkan sesuai dengan permintaan.

Hal ini dapat diterapkan dalam proses mendidik anak. Tidak semua permintaan anak harus dipenuhi. Permintaanmya pun dengan 2 syarat utama sebagaimana disebutkan di awal hadits: tidak mengandung dosa dan tidak memutuskan silaturrahmi.

Maka dalam mendidik anak, kita bisa “meniru” cara Allah dalam mengabulkan permintaan:

  1. Langsung dikabulkan saat itu juga.
  2. Ditunda dulu
  3. Diganti dengan menghindarkan dari kejelekan.

Saya mendapati di lapangan saat menangani berbagai permasalahan terkait sikap dan kesabaran anak termasuk di dalamnya sifat anak-anak kami, sungguh sifat yang muncul itu diantara penyebabnya diakibatkan oleh cara orang tua (dan sekitar) anak mengabulkan keinginan.

Hadits di atas menggambarkan sikap pertengahan. Tidak terlalu memberikan segalanya tapi juga tidak menolak permintaan terus menerus, melainkan seimbang. Yang membuat saya semakin paham dengan istilah “umat Islam itu umat pertengahan”.

Kembali tentang pengabulan keinginan. Ada kalanya kita berikan langsung keinginannya. Kami pribadi langsung mengabulkan permintaan anak jika terkait kebutuhannya.

Lalu bagaimana dengan menunda pengabulan? Menunda mengabulkan doa mengajak kita untuk bersabar.

Anak-anak yang diajarkan menunda keinginan cenderung lebih bisa rapi antri, tidak menyerobot, tidak merengek saat mesti bergiliran dan lebih bisa bersabar. Sedang anak yang selalu dipenuhi keinginannya cenderung selalu minta didahulukan tak peduli temannya sudah lama mengantri. Akhirnya, anak-anak tipe ini cenderung egois dan manja.

Lalu tentang mengganti pengabulan dengan yang “lebih baik”, dihindarkan dari kejelekan adalah tentang mengajarkan anak untuk cek ricek ini butuh atau ingin? Ini memang perlu saat ini atau belum saatnya? Ini baik baginya atau sebenarnya berakibat buruk? Ini urgen atau sekadar senang-senang saja?

Anak yang terbiasa menyaring dengan membedakan butuh dan ingin, baik dan buruk, cenderung lebih bisa mengontrol dirinya untuk menimbang sikap. Terkait keuangan pun anak-anak tipe ini cenderung lebih bisa memenej sehingga tidak boros tapi juga tidak pelit. Yang sedang-sedang saja 😁

Hadits di atas memperkuat pemahaman tentang makna tawakal. Berdoa dan berikhtiar, pengabulannya biar Allah yang bertindak. Ajak anak banyak-banyak doa. Dan perkenalkan dengan tawakal melalui 3 cara yang Allah berikan.

Jadi.. Bagi yang sudah menerapkan, selamat! Anda luar biasa!

Bagi yang belum menerapkan, hayu mulai saat ini kita terapkan. Sebab dalam caranya Allah selalu ada kebaikan.

Wallahu a’lam.
Hadits disalin dari: Rumaysho

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and STIFIn Trainer
Follow instagram @esapuspitaFacebooktwitterpinteresttumblrinstagram

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: