Pindahan dan Kenangan

Hijrah. Begitu istilah yang belakangan ini sedang “booming” di seputaran saya. Ada yang mengistilahkannya dengan “nekat” juga jika berkaitan dengan keputusan yang dianggap terlalu ambil resiko. Bagaimana tidak, meninggalkan “kenyamanan” yang mereka miliki sebelumnya ke sebuah kehidupan yang (konon menurut beberapa orang) tidak jelas. Ya, padahal kita selalu beralih dari satu ketidakpastian ke ketidakpastian kehidupan setiap harinya. Bahkan jika kita misal memiliki kegiatan yang sama setiap waktu, berangkat ke kantor misalnya. Berangkat ke kantor hari ini bisa jadi beda dengan kondisi kemarin. Dan itu terkadang tidak bisa diprediksi. Karena yang sudah pasti itu ya takdir alias yang sudah terjadi dengan izin Allah.

Maka, melangkah untuk beralih dari suatu keadaan ke keadaan lain -yang oleh beberapa orang disebut dengan pindahan- kita benar-benar butuh hati yang siap. Siap menghadapi segala ketidakpastian di langkah berikutnya. Siap menghadapi berbagai kemungkinan ke depan. Jalani saja.

Berbicara tentang pindahan, sejak awal bulan Maret ini kami berpindah ke rumah baru di luar kota Bandung. Lumayan jauh dari orang tua saya dan sudah pasti tetep jauh dari orang tua suami. heuheu. Sempat khawatir dengan bagaimana ke depannya mengingat Juli akan jadi bulan yang mungkin sedikit hectic sebab si sulung pertama kali masuk sekolah baru di jenjang setara SD dan sekaligus perkiraan anak ketiga kami lahir. Membayangkan suami yang sibuk dengan pekerjaannya ngecek proyek rumah yang sedang ditangani, antar-jemput anak, ngurus 1 anak, 1 balita dan 1 bayi newborn. Tapi bismillah aja deh.

Nah, pelajaran tentang pindah kali ini berbeda dengan perpindahan kami sebelumnya. Ada sebuah kata nyelip di sela kesibukan kami mempersiapkan perpindahan: minimalist. Apa sih itu? Saya belajar dari pemilik web “minimalist sontoloyo” dengan gayanya yang emang absurd di grup 😀 Meski ga memperdalam tentang minimalist itu sendiri, tapi ya dari berbagai diskusi dengan babanya Raffii dan tukang travel blogger, banyak hal yang saya ubah di rumah. Dan tanpa terasa, frekuensinya nyampe ke suami. Alhasil, saat pindahan jadi momen kami bener-bener membuang hal-hal yang tidak lagi akan kami gunakan di rumah termasuk kenangan 😀

Suami entah belajar tentang minimalis atau ngga tapi bagi seorang Thinking introvert seperti dia, mengurangi dan mensortir barang adalah bagian dari efektifitas. Supaya pindahan ga bawa terlalu banyak barang. Lagipula sudah terlalu banyak mantan barang yang sudah selesai masa baktinya 😛 Ga ngajak putus. Tapi cukup sudah hubungan kita sampai disini saja ya wahai barang-barang bekas. Mungkin di luar sana ada jodoh lain tersedia untukmu.

Dan luar biasa, meski sudah membuang banyak barang tetap saja membutuhkan 2 mobil dan bikin cape pindahan. Tapi efeknya terlihat di rumah saat ini. Sortir menyortir sesi ke sekian kembali dilakukan di rumah baru. Barang yang sudah kadung di-pack disortir ulang. Menghasilkan setengah karung juga boo. Itupun sebagian ada yang diangkut mamah.

Konon, kebiasaan menimbun barang itu bisa termasuk disorder alias gangguan juga lho. Secara sederhana, menimbun barang menandakan ada kemelekatan yang tak perlu pada barang-barang yang memang sudah jelas tidak kita gunakan. Sedangkan kemelekatan itus sendiri harus kita kurangi, kecuali ketergantungan pada Allah, Tuhan Semesta Alam. Dengan alasan “siapa tahu nanti berguna” atau “siapa tahu nanti butuh”, tanpa sadar kita memenuhi rumah dengan berbagai benda yang “belum jelas” manfaatnya bagi kehidupan. Padahal barang-barang itu bisa jadi akan lebih bermanfaat jika dimiliki orang lain atau didaur ulang oleh pihak-pihak pecinta lingkungan misalnya.

Hoarder atau Hoarding adalah istilah yang diperkenalkan untuk “kelainan” ini. Hoarding sendiri di wikipedia disebutkan dengan beberapa penjelasan. Setidaknya yang terkait dengan pengertian hoarding dalam hal ini ada 2 jenis, yakni human hoarding yang terkait anxiety disorder (compulsive hoarding) dan animal hoarding. Keduanya memiliki titik temu penjelasan di sisi mengumpulkan dan menyimpan barang dengan underline di bagian scarcity alias ada unsur ketakutan di dalamnya.

Hoarding is a general term for a behavior that leads people or animals to accumulate food or other items during periods of scarcity. (wikipedia.org)

Maka dari tulisan itu saja, saya sendiri mengambil kesimpulan bahwa ya bisa saja memang yang namanya menimbun barang itu adalah kelainan jiwa. Ibaratnya kalo kata temen, dia itu semacam tumpukan beban masa lalu yang kita bawa-bawa sampai masa saat ini. Padahal sudah jelas, kita tidak memanfaatkan mereka. Hanya membebani saja setiap kali pindahan barang.

Jadi, hayu mulai saat ini kita sortir barang-barang di rumah. Siapa tahu ada pakaian yang masih sangat layak tapi jarang kita kenakan, atau barang perabot yang bahkan tidak pernah kita gunakan sejak ia mampir di rumah. Mending disedekahkan, pahala dapet, rumah juga jadi terasa lebih lapang. Percaya atau tidak, rasanya dada dan hati juga ikutan lapang. Ga mumet geje gitu.

Apalagi setelah diingatkan bahwa setiap harta (berarti termasuk di dalamnya pakaian dan barang benda yang kita miliki kan?) akan dimintai pertanggungjawaban. Bagaimana jika nanti ditanya tentang barang-barang yang kita “timbun” bahkan “mubadzir” jatohnya. Mending diberikan pada yang membutuhkan, dijual atau didaur ulang. Insyaallah kalo memang suatu saat kita butuh terhadap barang tersebut, akan ada rejeki untuk memiliki barang serupa.

Wallahu a’lam.

Selamat belajar hidup secukupnya.

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *