Puzzle Ilmu

Ilmu itu ibarat puzzle. Saling melengkapi satu sama lain hingga sempurna.

Setiap kali belajar mengenai sesuatu, pikiran biasanya selalu otomatis terkoneksi dengan data ilmu yang telah didapatkan sebelumnya. Itu mungkin kenapa sering kita dengar saat sebuah acara transfer ilmu berlangsung, diminta untuk mengosongkan gelas.

Meski saya tidak sepenuhnya setuju, tapi perkataan tersebut ada baiknya agar kita dapat lebih fokus menerima ilmu tersebut secara menyeluruh. Baru kemudian dibandingkan dengan ilmu yang telah kita miliki sebelumnya.

Satu ilmu pasti membutuhkan ilmu lain, ia selalu akan saling melengkapi dengan ilmu lainnya. Dari pengalaman saya, tidak ada satupun ilmu yang tidak berkaitan dengan ilmu lainnya. Silahkan diralat jika saya salah.

Maka dalam kehidupan ini pun, tak pantas rasanya jika kita jumawa atas secuil ilmu yang kita punya. Suatu saat pasti akan membutuhkan ilmu lain. Berkolaborasi menjadi semakin baik dan efektif.

image

Tak pantas bagi kita menyombongkan diri atas ilmu yang kita miliki. Apalagi jika kemudian kita merendahkan ilmu lain dan terlalu mengagung-agungkan ilmu yang kita kuasai.

Menjadi expert itu perlu. Tapi menjadi sombong karena ilmu, mending jauh-jauh..

Tak berlebihan jika saya mengatakan seperti itu bukan? Kita memang diharapkan memiliki sebuah keahlian yang dengan keahlian dalam bidang ilmu tertentu membuat kita bermanfaat bagi banyak orang. Tapi jika keahlian itu kemudian membuat kita sombong dan merendahkan orang lain serta keilmuan lain, sepertinya orang tersebut belum pernah main puzzle 😀

Puzzle dapat diibaratkan ke dalam kehidupan dan keilmuan. Setiap ilmu memiliki kelebihan yang dapat menutupi kekurangan ilmu lain dan tentu memiliki kekurangan yang akan ditutupi oleh keilmuan lain. Sehingga kemudian kolaborasi itu menjadi lengkap dan sempurna.

Dalam perjalanan kehidupan kita, perlu kiranya kita pandai dalam sebuah keilmuan, tapi barengilah kepandaian itu dengan attitude dan behave. Tidak merendahkan keilmuan lain. Kalaupun memang tidak sependapat, sampaikanlah dengan santun.

Jangan berlebihan memuja ilmu yang kita kuasai. Karena bisa jadi ia memiliki kelemahan yang dapat ditambal oleh ilmu yang lain. Atau hanya dapat digunakan dalam kondisi tertentu sementara di kondisi lain, butuh ilmu baru.

Terbukalah untuk ilmu. Terbuka bukan berarti kita menelan mentah-mentah dan menerima semua ilmu sehingga memenuhi seluruh ruang kepala. Tetap ada filtrasi dan pengelompokan sehingga hanya yang sesuai dengan value dan cocok dengan diri kita yang masuk ke dalam kepala. Efektif dan efisien.

Kita tidak harus mahir dalam segala bidang, tapi kita perlu tahu minimal sedikit tentang bidang lain agar menambah khazanah dan tidak dimanfaatkan 😀

Terbuka terhadap ilmu adalah kemampuan kita untuk bersedia menerima ilmu lain, menerima pendapat dan masukan. Barulah kemudian kita filter lagi apakah semakin memperjelas gambaran kehidupan atau justru mengacaukannya.

So, masih sombong sama keilmuannya?
Ngaca dulu deh sama para ulama salafush shalihin ^_^

Regards,
Esa Puspita
Feeling extrovert
Team builder
esapuspita.com

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram
One Comment

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *