Ragu 1% atau Percaya 99%?

Ragu 1% atau Percaya 99%?

Salah satu agenda di Kuttab adalah adanya kunjungan guru ke rumah santri guna menjalin tali ukhuwwah dan mendiskusikan secara privat dan khusus mengenai anak-anak. Orang tua mengutarakan tentang anak pada guru, guru mengutarakan tentang anak pada orang tua. Saling bertukar informasi. Demi menyelaraskan langkah antara orang tua dan guru, menyamakan visi, saling menguatkan dan saling mendoakan.

Alhamdulillah dari setiap kunjungan selalu membawa hikmah. Di kunjungan kali ini, kami melewati jalur yang tidak biasa. Ya, sebab demikianlah peta menunjukkan jalannya.

Melewati lorong jalan tol, motong jalan yang sedang ada pembangunan (pas lewat jalan sini serasa lagi ada di film aksi. hehe), lanjut tanjakan turunan dengan jalan yang tak terlalu mulus, jalanan kecil yang pinggirnya selokan besar, melewati kuburan, sekolah, jalan kampung. Ah serasa lagi jalan di pedesaan.

Menjelang sampai, peta menunjukkan masuk ke gang. Sudah masuk gang, kayaknya jalan buntu deh. Mastiin jalan di ujung, “kayaknya sih ada jalan. tuh jalan kecil” saya dan teman sesama guru saling coba meyakinkan diri. Tapi karena khawatir jalan buntu susah muter, akhirnya puter balik lewat jalan gede.

Jalan gede ini saya hafal rupanya. Begitu sampai rumah santri, kami cerita pada pemilik rumah, katanya memang ada jalan lewat situ. Pas pulangnya kami coba lewat jalan situ dan benar! Saat sampai ke jembatan kecil, itu adalah jalur yang kami duga tembok dan buntu sebelumnya. Ga jauh dari rumah santri yang dikunjungi tadi. Jalannya dekat sekali dengan rumah santri.

Akhirnya saya dan teman terkekeh. “Padahal tadi jalan sini lebih cepet ya. Qadarullah. Malah ambil jalan muter gara-gara ragu”.

Pelajaran yang kami ambil,

  • Hidup kita dituntun Alquran agar bisa pulang dengan selamat ke surga. Yap, pulang. Sebab nenek moyang kita: Adam dan Hawa, berasal dari surga. Maka kita perlu kembali pulang ke surga.
  • Alquran memberikan panduan jalan yang mesti dilalui. Namun tak jarang kita ragu dengan aturan yang Allah beri melalui kalamullah, “Ah ya Allah, masa sih jalannya gini? Ah kayaknya mentok nih! Ah, itu mah jalan buntu, bukan yang itu kali. Ya Allah, mana jalan keluarnya? Kok itu tembok sih?” Bisa jadi tembok itu adalah mental block kita sendiri, padahal disana ada jalan keluar atau hadiah dari Allah.
  • Bisa jadi kita sudah dekat dengan kesuksesan, tapi ragu melangkah bisa membuat kesuksesan kita tertunda.
  • Bersabarlah melewati jalan yang mungkin sulit dan tidak nyaman, sebab bisa jadi itu adalah jalan tercepat menuju keridhaan Allah.
  • Ketika keraguan hadir, maka pastikan dulu saja. Lebih baik berjalan sampai betul-betul ketemu tembok. Kalaupun memang buntu setidaknya kita tahu memang itu buntu. Sedangkan jika ternyata ada jalan disana, bukankah bisa jadi jalan keluar shortcut bagi kita?

Ragu meski hanya 1%, bisa jadi penghambat kita. Percaya pada Allah jika hanya 99% maka ia pun tetap saja meragukan bahwa Allah sudah membuat aturan, jalan, jalur, peta terbaik.

Anda termasuk yang mana?

Wallahu a’lam.

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and STIFIn Trainer
Follow instagram @esapuspita Facebooktwitterpinteresttumblrinstagram

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: