Ramadhan Kami Kali Ini

Alhamdulillah, Ramadhan 1440 kami bisa belajar banyak. Selain anak-anak belajar shaum juga Ummi belajar keilmuan membersamai mereka.

Marhaban

Sebagaimana dikatakan bu Neni, saat pertemuan tim Kuttab Bandung Barat, marhaban bermakna melapangkan. Menyambut dengan lapang. Maka kami pun merombak ruangan rumah. “Desain interiornya” digeser-geser sesuai izin abi😁

Sebetulnya sudah lama direncanakan. Menyiapkan space khusus untuk jadi mushalla cilik kami di rumah (terinspirasi dari Teh Aldina, teman sekelas di IP Bandung). Jadi sekalian saja diniatkan untuk menyambut Ramadhan.

Karena sudah tidak ada pojokan yang memungkinkan, jadinya merombak ruang tengah dengan menjadikan rak buku sebagai sekat antara pojok kerja abi dan mushalla. Alhamdulillah meski kecil, mayan berarti.

Anak-anak bersemangat turut menggeser rak, menuliskan tulisan “Mushalla” (yang typo jadi Musalla). Dilakukan di malam pertama Ramadhan. Jadi subuh pertama Ramadhan, sudah dapat digunakan.

Sehingga shubuh pertama, tilawah, muraja’ah dan baca buku terkait shaum dilaksanakan di mushalla. Anak-anak semangat sekali.

Memperbaiki

Lalu, karena semakin memperdalam keilmuan mendidik anak dalam panduan Islam dan belajar lagi lebih dalam tentang fitrah based education, jadi semakin paham bahwa sesungguhnya Allah sudah menyiapkan segalanya. Termasuk urutan pembelajaran. Tinggal kita belajar membaca buku petunjuk dll nya.

Hari Pertama

Bagi Ummi, ujian shaum bukan terletak di hari pertama, tapi justru hari 2 dan 3. Alhamdulillah Azam libur. Baru masuk lagi hari ke-4 Ramadhan. Danisy tetep masuk karena jadwal ujian.

Catatan hari pertama anak-anak. Setelah membaca buku Rumahku Madrasah Pertamaku, terjemahan karya Ahmad Asysyantut, memutuskan untuk mengajarkan Azam metode puasa ayakan dimana anak kalo sudah tidak kuat, boleh buka. Tapi lalu lanjut lagi shaum agar tetap bisa merasakan kebahagiaan berbuka di waktu Maghrib. Pun mereka turut sahur dengan mendengungkan, “dalam sahur itu ada keberkahan” sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah.

KEBERKAHAN SAHUR

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السُّحُورِ بَرَكَةً

Dari Anas bin Maalik Radhiyallahu anhu beliau berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Bersahurlah kalian karena dalam sahur ada keberkahan.”

TAKHRIJ
Hadits yang mulia ini dikeluarkan oleh Imam al-Bukhâri dalam shahihnya no. 1789 dan Imam Muslim dalam shahihnya no. 1835.

MasyaAllah ya kan..

Hari pertama, Azam bilang lapar menjelang zhuhur. Ummi minta Azam menunggu adzan Zhuhur. Begitu adzan zhuhur, ia sedang asyik dengan buku Jenius Jago Matematika Basic (karena sejak semalam dan shubuh Danisy mengerjakan soal di buku ini dan Azam tertarik ingin menempel stiker juga) 😆

Begitu sadar menjelang adzan selesai, “mi, udah adzan. Kata Ummi kan boleh makan” ujarnya tiba-tiba. “Iya, boleh. Wudhu trus shalat dulu ya. Baru makan“. Azam bergegas melaksanakan meski sempat protes kenapa mesti shalat dulu 😂

“Karena Mas masih belajar, gapapa zhuhur udah makan. Selesai makan, lanjut lagi shaumnya ya. Buka bareng maghrib sama Aa” ujar saya memastikan ia paham kenapa ia boleh berbuka. “Iya” jawabnya singkat seraya sigap mengambil nasi.

Kegiatan Mengisi Ramadhan

Anak-anak belajar shaum sejak usia 4 tahun. Dan mulai serius diajari di usia 6 tahun agar pas usia 7 tahun mulai terbiasa. Harapannya usia 10 tahun sudah hideng mau shaum tanpa diminta dan sadar akan kewajibannya.

Usia 0-6 adalah fase membiasakan, menanamkan imaji positif. Persiapan menuju 7 tahun pembelajaran ibadah yang lebih intens.

Bada zhuhur abi ngajak keluar. Mayan bisa jadi penambah kegiatan. Sore bada ashar, Azam sempat ingin berbuka. Pun dengan Danisy karena lemas. Akhirnya Danisy tertidur sementara Azam berhasil dialihkan perhatiannya sama buku Matematika lagi. Lanjut mengerjakan soal di dalamnya.

Jam 5 jadwal Ummi Abi dzikir bareng. Azam beralih pada mainan lain, barengan Hasna. Saat Aa bangun, mereka berkreasi bareng berbekal lembar kreasi di buku Jago Matematika yang nantinya menjadi bentuk ruang tertentu.

Alhamdulillah adzan magrib berkumandang. Danisy yang menantikan, nampak sumringah. “siapkan buat buka.

Ambil kurma, kalo ga air putih. Itu yang disunnahkan Rasulullah” instruksi Ummi. Danisy mengambil wadah kurma dan air putih ke tempat kami sedang berzikir. Lalu ia pun berbuka. Demikian pula ngajak Azam bahagia berbuka di magrib.

Alhamdulillah hari pertama terlewati 😍

Betul apa yang dikatakan bu Neni, kebahagiaan saat langsung berasa kayak udah hilang dahaganya. Itu kenapa jadi makin meresapi doa:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

ذَهَبَ الظَّمَأُ، وابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَاللهُ

“Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah-ed.”
[Telah hilanglah dahaga, telah basahlah kerongkongan, semoga ada pahala yang ditetapkan, jika Allah menghendaki]

(Hadits shahih, Riwayat Abu Daud [2/306, no. 2357] dan selainnya; lihat Shahih al-Jami’: 4/209, no. 4678)

Referensi:

  • Al Manhaj
  • muslimah.or.id
  • Rumahku Madrasah Pertamaku, Ahmad Khalid Asy-syantut
  • Fitrah Based Education, Harry Santosa
Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: