Raut Bangga Seorang Pendidik

Pernahkah teman-teman berpikir bahwa ada orang lain selain orang tua dan keluarga kita yang akan merasa bahagia dan bangga akan kesuksesan kita? Ya, mereka adalah guru kita, dosen kita dan pengajar kita di masa kecil hingga saat ini.

Semalam, entah kenapa tiba-tiba saya mendapat mimpi kehadiran salah satu dosen saya ketika masih kuliah di Teknik Informatika ST Inten. Beliau adalah pak Agus Nursikuwagus.

Dalam mimpi itu, beliau datang dan mengingatkan saya tentang berkas yang saya pegang, menyelesaikan amanah yang dititipkan pada saya dan meminta saya menandatangani berkas-berkas kuliah. Amanah dan berkas yang dalam mimpi itu dikatakan amanah penting dan hanya saya yang pegang. Sementara berkas kampus adalah penandatanganan bahwa saya mendapat hak istimewa untuk mendapatkan gelar sarjana tanpa perlu kembali ke kampus.
Aneh ya. (Meskipun bahagia juga sih. Secara saya keluar di semester 6. Heuheu)

Setelah bangun, saya memutar ingatan. Jangan-jangan memang ada amanah yang terlupakan. Harus ketemu beliau dan ke kampus sepertinya. Meski hingga tulisan ini rampung, saya ga menemukan titik terang.

Kembali ke bahasan awal, dalam mimpi itu saya tengah berada di hadapan beberapa orang dan beliau memasang raut bangga saat saya mengatakan “please introduce, my lecture”. Ini adalah salah satu yang paling berkesan dari mimpi itu yang sekaligus membuat saya teringat bahwa ketika kita sukses, guru-guru kita, mereka akan turut merasakan kebanggaan yang luar biasa saat muridnya mencapai kesuksesan.

Saya kemudian teringat dengan guru-gurunya suami. Di desa, ikatan guru-murid itu sepertinya kuat sekali ya. Atau karena saya tidak dekat dengan para guru mungkin.

Yang pasti, setiap kali mudik ke desanya suami selalu diajak datang ke rumah guru-guru beliau. Biasanya para guru suami mengirim pesan melalui saudara atau pesan singkat meminta sempatkan datang ke rumah jika kami sudah sampai di rumah mertua.

Raut bangga mereka masih saya ingat. Padahal suami saya termasuk yang biasa saja dibanding teman-temannya yang (menurut saya saat itu) lebih sukses. Rupanya kesuksesan bagi seorang guru pun berbeda. Cukup muridnya mendapatkan keluarga yang baik, memiliki pekerjaan yang halal dan tetap ingat pada mereka.
Bahkan tahun lalu ketika mudik lebaran, guru suami yang sengaja datang ke rumah karena memang sudah beberapa kali mudik kami tidak sempat silaturahim dengan mereka.
Sederhana tapi ternyata berkesan.

Sehingga.. Jika teman-teman sedang membuat visi, teman-teman perlu memperhatikan strong why berupa alasan emosional yang kuat sehingga membuat kita mampu bertahan dalam menggapai impian tersebut. Salah satunya adalah membuat guru kita bangga terhadap diri kita sebagai ucapan terima kasih atas pendidikan yang mereka berikan.

Strong why saya sendiri selain anak-anak, suami, dan orang tua kami berdua adalah para guru. Karena ketika dulu saya tidak bisa melanjutkan pendidikan, justru orang yang mendukung sekaligus mengusahakan jalan untuk pendidikan saya adalah para guru. Dan nama mereka lekat dalam ingatan..

Maka, teman.. ingatlah raut bangga para guru saat kalian lulus sekolah. Tidak ada sedikitpun permintaan imbalan jasa. Kelulusan kita sudah menjadi hadiah indah bagi mereka. Maka jika kita sukses, itu adalah bagian dari hadiah terbaik bagi mereka. Jangan sia-siakan hidupmu dengan hal yang biasa. Gapailah mimpi terbaik dan jadilah pribadi sukses mulia 🙂

image

***
Esa Puspita
Feeling extrovert
Team Builder
Learn to write
esapuspita.com

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

One thought on “Raut Bangga Seorang Pendidik

  1. Guru kelas satu saya,adalah guru yg paling saya suka. Namun, pendidikan SD saya ditutup dengan pengasuhan guru yang.. “entah harus saya katakan seperti apa”. Sebuah kalimat yg membuat saya “membenci” matematika.

    Dijumpakan lagi dua hari lalu dengan guru kelas 6 itu. Perasaan saya kembali ke kelas 6. Ketika saya sudah bersusah payah menghitung pertanyaan yg beliau lontarkan. Saya menjawabnya.. Pak Guru tiba2 membentak.. “Kalau njawab itu dipikir.”

    Momen itu jadi saksi.. Membuat saya berjanji, “Tak ada murid yg akan terluka karena lisan ini.”

    #aiiiih.. DRAMA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *