Rumah Tangga Berkah, Jodoh Sekufu dan Mekanisme Alam

Kemanakah arah “kiblat” role model rumah tangga yang berkah? Bila menginginkan rumah tangga yang berkah, maka kita bisa meneladani rumah tangga Rasulullah. Istri-istri dengan karakter beragam mampu hidup bersama beliau secara sukarela dan harmonis. Bukan berarti tanpa konflik akan tetapi konflik dapat diatasi dengan baik.

Seluruh istri Rasulullah mewakili karakter perempuan di muka bumi. Sebagaimana pernah kami dengar dari kajian oleh Ustadz Adi Hidayat maka kita dapat belajar, mempelajari mereka dan bagaimana Rasulullah memperlakukan setiap istrinya dengan begitu lembut dan “ngena”.

Rumah tangga yang berkah itu memiliki kebaikan yang banyak, permanen, abadi, kontinyu terus menerus. Bukan hanya sekali-sekali baik. Akan tetapi setiap kali baik dan selalu baik.

Karena itulah mengapa menghadirkan rumah tangga berkah itu dimulai dari Suri Rumah yang mengenali role model rumah tangga terbaik. Role model disini bisa mengaca pada personel tokoh-tokoh tertentu misalnya istri-istri Rasulullah.

Bisa juga role modelnya adalah sesuatu yang impersonal, seperti apa yang dibahas oleh tematik STIFIn Suri Rumah: mesti ada sistem, mesti ada atmosfer, mesti membangun tradisi yang baik. Itu role model berdasar pendekatan STIFIn.

Yang paling penting bagi seorang Suri Rumah adalah lakukan pengorbanan dalam rumah tangga: me time dikurangi, ganti dengan we time (waktu bersama). Itulah ciri naik level dari mentaliti ke moraliti: me time diganti dengan we time.

Kok istri terus sih yang berkorban? Sebetulnya jika atmosfer keluarga terbangun dengan baik sesuai personaliti sang suri rumah, maka itu bukanlah pengorbanan melainkan konsekuensi dari kesepakatan bersama. Istri nyaman sebagai ratu, suami tetap jadi raja dan anak tumbuh dididik untuk jadi “raja/ratu” di masa mendatang yang jauh lebih baik.

Tidak Saling Menuntut

Yang dibicarakan oleh Suri Rumah, istri bilang tidak lagi ada di posisi: “Abang tak ngertiin aku..” Sebab baik suami maupun istri sama-sama saling berusaha membahagiakan pasangan menyesuaikan dengan kepribadian pasangannya seperti apa. Hingga tak akan berulang-ulang muncul kata-kata demikian.

Maklum sih. Seringkali wanita meledak-ledak sesaat yang disebabkan oleh keperluan yang sesaat juga. Keperluan yang belum tentu itu aligning (sejajar atau sejalan) dengan big picture keluarga, dengan dreamnya, dengan jalan hidupnya.

Laki-laki sebagai pemimpin memang harus mengajak pada jalan kembali. Jalan yang sebetulnya ia inginkan tapi ia lupa, disebabkan oleh emosi sesaat, oleh sayaahwat sesaat, oleh pencetus-pencetus sesaat. Disini pentinya suami memiliki misi, istri dan keluarga berikut anggota keluarga seluruhnya memiliki visi misi yang sesuai, sejalur.

Dalam perjalanannya, itulah yang perlu dikorbankan oleh istri demi kepentingan bersama suami dan anak-anak. Terkadang ia harus menunda mimpi atau mengganti impiannya dengan yang sejalan.

Jangan pernah berpikir bahwa: “saya berjerih payah, membuat suami hebat dan anak-anak hebat tapi saya tak dihargai.”

Wajar ada perasaan seperti itu. Tapi perlu disadari juga, “sebenarnya saya melakukan ini semua untuk siapa?” Luruskan lagi niatnya.

Seringkali terjadi pada perempuan begini: “Saya sudah pontang panting! Disapa juga etak! Dipuji juga etak! Diapresiasi juga etak! Saya merasa sama sekali tidak dihargai. Maka sebagai hiburan percayalah bahwa ketika kita sudah berbuat baik, kebaikan yang sudah diperbuat walau tidak dihargai oleh suami, akan tetap dihargai oleh Allah! Dan untuk sampai di titik ini memang tidak mudah. Tapi kita bisa insayaaAllah.

Mekanisme Alam

Lalu bagaimana seharusnya sikap suami? Suami yang paham agama, suami yang bijak tidak akan hanya menuntut akan tetapi juga memfasilitasi. Mengetahui personaliti seseorang akan membuat kita paham bahasa cinta yang diharapkan. Suami dapat memahami apresiasi seperti apa sih yang amat dibutuhkan istri sebagai tambahan mood boosternya melayani suami dan mendidik anak.

Ketika suami lupa dengan kedzolimannya karena tidak mau menghargai/mengapresiasi, percayalah ada Allah yang akan menghargai. Jangan pernah putus asa karena perilaku suami. Boleh jadi suami lupa, maka diingatkan. Jika suami tidak bisa diingatkan, tetaplah On the right track. Istri teruslah berbuat baik dengan menunaikan semua kewajibannya.

Tetaplah berbuat baik kepada pasangan. Tak usah berhitung apakah pasangan sudah membalas atau belum kebaikan kita, berbaik hati atau tidak dengan kita. Berbuatlah baik ikhlas karena Allah. Terus naikkan maqom.

Sebab kebaikan sekecil biji zarah pun akan ada balasannya. Apalagi pengorbanan besar seseorang di jalanNya.

Bila salah satu pasangan terus naik maqom sementara yang lain tidak mau naik maqom dan terus maksiat (na’udzubillah), biarlah mekanisme alam yang akan memisahkan dengan sendirinya. Jika akhirnya takdir menentukan terpisah maka akan diberi yang baik, menitaklkan pasangan yang tidak mau naik maqom.

Yakinlah dengan janji Allah: yang baik untuk yang baik, yang jahat untuk yang jahat. Q.S AnNur ayat 26. Pasti akan terjadi hubungan yang SEKUFU yang selevel. Karena itu jangan pernah terlalu berpamrih ketika suami lupa memuji/mengapresiasi.

Contoh mekanisme alam, maksudnya begini:
Jika istri menjadi sangat sholehah (naik maqom) sementara suami tetap stagnan di posisinya, sampai perbedaan levelnya menjadi berbeda jauh maka secara mekanisme alam akan ada sebab-sebab dimana perceraian kemungkinan terjadi.

Atau jika perceraian ini tidak terjadi, sang wanita akan dijaga kehormatannya, kesuciannya, kebaikannya. Akan dihargai di mata Allah dan akan diberi tempat yang khusus oleh Allah.

Marilah kita berkaca ke kisah Asiyah istri Firaun.
Firaun begitu dzolim, Asiyah begitu sholehah.
Apa yang terjadi?
Setiap Firaun mau datang untuk metakuli Asiyah, baru saja dia masuk kamar, tercium aroma Asiyah yang begitu menawan. Maka disaat Firaun baru melangkah, ia sudah ejakulasi. Sehitak Asiyah belum pernah disentuh.

Itulah yang terjadi bila baik, maka akan dipelihara oleh Allah dengan dikirimnya malaikat. Seandainya pun tidak terjadi perceraian maka diletakkan oleh Allah di posisi yang terhormat sesuai dengan maqomnya.

Karena itu jangan pernah khawatir. Jangan pernah merasa/berpikir seperti ini: “Saya tak mau cerai sama suami saya. Biarkan Jikasuami saya jahat, saya ikut jahat. Supaya tak terjadi perceraian.”

Percaya pada Allah bahwa kebaikan kita akan ditempatkan oleh Allah pada posisi yang istimewa sesuai dengan amal sholeh kita sendiri.

Bagaimana dengan anak-anak?

Jika kita sebagai orang tua naik maqom, maka seandainya pun terjadi perceraian maka anak-anak insyaAllah akan mengambil ibroh hikmah mendapatkan sesuatu ilmu yang baru dari aliran energi ibunya yang bertambah baik tadi. Tak usah khawatir. Justru perceraian itu telah menyelamatkan anak-anak dari kasarnya suami, dari dzolimnya suami yang tak kunjung kembali pada agama Islam.

Istri akan diselamatkan oleh Allah termasuk anak-anaknya. Karena anak diberi energi terbaik oleh ibunya.

Catatan Chalim dan Esa dari Kelas STIFIn Suri Rumah yang diisi oleh Pak Farid Poniman

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *