Satu Kesedihan, Dua Kebahagiaan

Meresapi perkataan kek Jamil tentang tips beliau menghadapi isoman pasca “diagnosa” c19. Juga tips tentang menanggapi berita sedih yang marak belakangan.

Pas banget beberapa pertemuan ke belakang, (atas hidayah dari Allah) saya memutuskan untuk menjadikan karya Syaikh Abdullah bin Shalih Al-Fauzan yang berjudul Menjadi Hamba yang Pandai Bersyukur (judul asli: kaifa takunu minasy-syakirin) sebagai buku bahasan di pertemuan dengan adik-adik liqo. Saat itu sederhana saja pemantiknya, banyaknya kabar duka yang berseliweran semoga tak menjadikan kita lupa akan nikmat Allah begitu banyak. Semoga dengan bersyukur, kita menjemput janji Allah untuk menambah nikmatNya terutama nikmat iman.


Kembali ke tips yang diberikan oleh kek Jamil terkait berita duka yang belakangan ini sering bertebaran, yang saya ambil hanya intinya saja: happy pick and happy ending. Jadi, untuk setiap kabar duka atau ketidaknyamanan yang kita terima, iringi dengan setidaknya tiga kebaikan. Bisa berupa perbuatan baik, ucapan baik, dsb.

Kemudian menjelang tidur, akhiri hari dengan mensyukuri sesuatu hari itu. Hal yang membuat kita bahagia atau bersyukur tentangnya. Jika memang ngga ada banget yang bisa disyukuri, maka ambil hikmah dari kejadian di hari itu.

Belum konsisten banget sih melakukan itu semua setiap hari, tapi malah keingetan surat favorit: Al-Insyirah atau dulu saya mengenalnya dengan sebutan surat alam nasyroh 😀


Surah Al-Insyirah ini bagi saya seolah Allah lagi ngajak ngobrol setiap kali merasa “capek banget” atau “pengen nyerah aja deh”.

Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu yang memberatkan punggungmu?

Al-Insyirah ayat 1-3

Ayat pertamanya terasa seolah Allah sedang mengelus kepala trus bilang “aku udah bikin dada kamu plong, tenang, lapang, ngga sempit lagi, ngga sesek kerasanya”. Dilanjut dengan ayat berikutnya, “beban-beban kamu udah aku angkat, Sa. Beban yang selama ini kayak bikin punggung kamu terbebani, berat dan susah bergerak.”

Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu,

Al-Insyirah ayat 4

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.

Al-Insyirah ayat 5-6

Setiap kali kamu merasa sempit, susah, berat, Allah membersamai skenario itu dengan kemudahan. Jadi setiap kamu nerima satu ketidaknyamanan, ingatlah untuk melihat dua kemudahan yang kamu dapatkan. Karena dalam satu kesulitan yang sudah jelas di depan mata itu, ada milyaran kemudahan yang Allah berikan. Maka setiap satu kabar duka, iringilah dengan setidaknya dua kebaikan, berikan setidaknya dua kemudahan.

Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.

Al-Insyirah ayat 7-8

Kalau sudah selesai, lakukan hal baik lainnya. Berharap mah sama Allah aja, baik itu ngarep pertolongan, ngarep kesembuhan, ngarep ketemu lagi sama anak dalam kondisi sehat dan lebih baik, ngarep perlindungan, ngarep kemudahan, dll. Kalo sudah begitu, semua yang kamu lakukan akan dicatat sebagai ibadah. Semoga Allah makin sayang.


Skenario kondisi kita saat ini serasa diingatkan lagi tentang menerima takdir dengan ikhlas dan keridhaan. Tentang aplikasi materi yang disampaikan dalam halaqah akhwat.

Segala sesuatu yang terjadi adalah atas izin Allah, dan itu pasti hal yang baik. Setiap ketidaknyamanan yang dirasa semoga adalah jalan Allah menghapus dosa-dosa yang sedemikian banyaknya.


Soo… Hayu, kita iringi satu berita duka dengan melakukan dua kebaikan dan akhiri dengan mensyukuri nikmat yang Allah beri. Agar kita mampu mengambil pelajaran dari setiap luka tanpa melupakan nikmat yang Allah anugerahkan..

– Esa Puspita aka Aisha Azkiya –

Ketika inget lagi bahwa semua adalah takdir Allah. Terjadi atas izin Allah. Minta tolong aja sama Allah. Semoga Allah berikan kebaikan untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan orang-orang yang terlibat di dalam kehidupan kita memiliki keikhlasan dan keridhaan atas apa yang terjadi.


Intermezzo: ngga tahu kenapa dari dulu suka banget surah Al-Insyirah. Mungkin karena sering dibacain sama imam shalat pas saya ngaji dulu jadi hafal. Apalagi setelah sekarang tahu artinya. Masyaallah. Dari guru-guru ngaji saya itulah saya hafal berbagai surah karena sering denger. Setiap shalat maghrib dan isya berjamaah, kan ngajinya malem. Hehe.. Salah satu yang sering jadi imam adalah anak dari pemilik mesjid tempat saya belajar. Seneng banget sama keluarga pak haji ini. Bagi saya saat itu beliau adalah sosok yang hebat karena baik banget, kaya karena sudah haji (pikiran saya dulu begini, kalo haji berarti kaya) plus rajin bagi-bagi ke santri juga tiap momen spesial (kayak kenaikan kelas, ramadhan, dll), ramah ke siapapun, katanya suka bantu sekitar juga, bacaan qurannya enak plus kayaknya keilmuan agamanya pada bagus. Cara berpakaian mereka pun elegan, simpel tapi berkelas aja gitu. Pak haji dan anak laki-laki khas suka pada pake gamis, istri dan anak perempuan pada pake gamis dengan kerudung panjang (yang dulu mah jarang saya lihat di lingkungan sekitar). Masyaallah. Bayangan saya tentang Islam jadi menarik dan banyak berubah salah satunya karena melihat keluarga beliau. Semoga Allah senantiasa menjaga mereka.

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Facebookinstagram

Tinggalkan komentar