Sekolah Terbaik

Di zaman sekarang, para orang tua memiliki banyak pilihan sekolah yang menjadi penunjang pendidikan anak. Dan akan berbeda pertimbangannya bagi setiap keluarga. Maka setidaknya perlu menjadi pijakan kita poin-poin sekolah yang baik terutama bagi seorang muslim.

Ciri Sekolah Terbaik

Menurut Ustadz Budi Ashari, ciri sekolah baik adalah sekolah yang memiliki 2 hal berikut:

  1. Kurikulum Quran & Sunnah (note dari saya: atau didasarkan pada kedua hal ini)
  2. Lihat aqidah & akhlak Gurunya (note dari saya: gurunya memiliki aqidah yang lurus dan akhlak yang baik)

Sedangkan menurut Ustadz Namin AB, setidaknya ada 10 ciri sekolah hebat dan keren. Berikut daftar cirinya:

  1. Bisa mengantarkan anak, guru & orang tua ke Jannah. Bersama hingga ke surga.
  2. Yayasan, kepala sekolah, guru dan jajarannya berakhlak baik.
  3. Visi sekolahnya BERMANFAAT untuk anak Guru & Ortu.
  4. Target lulusan terukur dan bisa dirasakan langsung. Lulusan akhlak mulia. Sabar dengan proses seperti Nabi Ulul Azmi, jangan tergesa-gesa menyimpulkan melihat hasil.
  5. Program pembiasan membekas dalam keseharian.
  6. Kurikulumnya simple & mudah dipraktekan.
  7. Gurunya mendapat pembinaan rutin berkala sistematis.
  8. Orangtuanya mendapat program yang mendukung kemajuan anaknya. Kajian, Mabit Qowam, Lembar bersatu, FamGat. Baca-baca buku. Kunjungan Guru. Apa yang menunjang pendidikan di rumah? Lemari buku.
  9. Mampu mengembangkan potensi terbaik yg dimiliki siswanya. Guru akan Belajar mengasah ilmu tentang firasat + keshalehan untuk mengembangkan potensi santri.
  10. Mampu bersinergi anak+Guru+Orang tua.

Mencari Sekolah Terbaik

Bahwasanya Allah menitipkan anak-anak pada kita karena Ia yakin diri dan pasangan adalah sosok terbaik untuk menjadi tempat anak belajar dan tumbuh. Tempat dimana ia dididik dengan sedemikian rupa agar menjadi pribadi terbaik.

Dalam sebuah syair dikatakan, ibu adalah madrasah (sekolah) paling utama. Dan ayah adalah kepala sekolahnya. Syair ini menegaskan kembali tentang pentingnya “struktur organisasi” dalam sebuah wadah organisasi terkecil dan terdekat bernama keluarga.

Secara “jabatan”, lelaki alias ayah dan suami memiliki tingkat tertinggi. Ketuanya, kepalanya. Maka menjadi sebuah “kewajiban” bagi seorang lelaki untuk memiliki visi misi sebelum menginjak jenjang pernikahan.

Sehingga menjadi wajar jika di awal menuju jenjang pernikahan, layak calon suami ditanya “apa visi misi peradaban yang ingin kau bangun? Apa visi misi pernikahan yang akan dijalani? Mau dibawa kemana pernikahan kita?” Sebab jawaban atas pertanyaan itu akan membawa kita pada kepastian tujuan pernikahan kita. Surga. Dan untuk mencapai surga, kita butuh mengumpulkan bekal guna menjadi hujjah agar Allah menurunkan rahmatNya dan memberikan surga untuk kita. Amal dan kebermanfaatan kitalah hujjah itu.

Lalu bagaimana jika sudah terlanjur menikah sedangkan suami belum punya visi misi yang jelas? Ya buat visi misi 😁 Step by stepnya ada di materi kopdar LimesSTIFIn bulan Juli lalu.

Membangun Sekolah Terbaik

Sebagaimana membuat sekolah ga bisa asal bangun, pun dengan “sekolah” di keluarga kita. Kembali ke poin-poin sekolah terbaik yang diberikan oleh Ustadz Budi Ashari maupun Ustadz Namin AB, maka seharusnya sekolah utama kita memiliki kesemua poin di atas.

Sebuah keluarga haruslah berpijak pada “kurikulum hidup” sesuai alquran dan Sunnah. Lalu bangun sekolah terbaik dengan visi misi keluarga: menghantarkan setiap anggota keluarga ke titik terbaik dengan tujuan akhir surga. Berkumpul hingga ke surga.

Setiap anggota keluarga dimulai ddari ayah, ibu, anak dan bahkan keluarga besar memiliki akhlak yang baik. Inilah salah satu pertimbangan memilih pasangan: pastikan keluarga besarnya memiliki perangai yang baik. Hal ini penting agar contoh yang dilihat anak adalah akhlaqul karimah.

Visi misi keluarga bermanfaat untuk semua anggota keluarga. Maka pemetaan keluarga (FamilyMapping) penting dilakukan agar kita paham bagaimana sikap setiap anggota keluarga dan seperti apa kelak mereka akan menjalaninya. Seyogyanya visi misi ini turun temurun menjadi kebaikan yang terus berlanjut tak terputus.

Allah melihat ikhtiar dan meminta kita menyerahkan hasil padaNya karena Ia ingin mengajarkan tentang bersabar melewati proses. Dengan misi yang jelas, kita dapat menetapkan target lulusan yang terukur. Dan tentu saja dapat dirasakan langsung perbaikan demi perbaikan yang dilakukan. Menjadi SuksesMulia.

Penyesuaian Terukur

Poin kelima mengenai kegiatan rutin alias kebiasaan dapat diukur dengan baik melalui panduan konsep STIFIn yang menjadikan kitab-kitab al Ghazali, alquran-sunnah dan tsaqafah islamiyah sebagai sumber rujukannya. Sebab Rasulullah pun ketika menyuruh sahabatnya memperbanyak ibadah, tidak semua pukul rata harus shalat Sunnah, tidak semua pukul rata harus begini begitu. Beliau melihat dan mengukur dulu kemampuan para sahabat. Maka amanah dan ibadah unggulan mereka pun beragam.

Masih ingat kisah sahabat yang disebutkan oleh Rasulullah akan masuk surga sampai 3x? Yang ternyata “ibadahnya biasa aja” kecuali kebiasaan memaafkan orang lain sebelum beranjak ke tempat tidur.

Kata kuncinya adalah kebiasaan baik yang dilakukan secara terus menerus yang tentu akan berbeda bagi setiap orang. Rasulullah sudah mengabarkan banyak sekali ibadah tambahan unggulan harian para sahabat. Maka dikembalikan pada kita, mau ambil yang mana.

Konsep STIFIn membantu memetakan kekuatan akal, hati dan fisik seseorang. Sehingga ini bisa dijadikan acuan untuk memilih ibadah unggulan apa yang akan lebih terasa “nendang” bagi seseorang. STIFIn menyebut dengan istilah KKM: Kesungguhan dan Kebiasaan sesuai Makanat (makanat = Mesin Kecerdasan).

Lalu apakah tidak boleh mengambil ibadah yang lain? Ya tentu saja boleh. Hanya saja KKM yang sesuai dapat memberikan efek luar biasa sebab di satu sisi ujiannya sesuai dengan kelebihan sekaligus kekurangannya. Misal, saya Feeling. Salah satu KKM yang dianjurkan adalah jaga wudhu. Mudah tapi nyatanya bagi orang Feeling cukup berat. Sehingga saat berhasil menjadi kebiasaan, resonansi efeknya luar biasa. Bahasan KKM nanti insyaAllah dibahas di tulisan lain.

Kurikulum kehidupan dalam keluarga kita sebagaimana Islam mengajarkan: haruslah simpel dan mudah dipraktekkan. Tentu tetap disesuaikan dengan misi keluarga.

Lagi-lagi konsep STIFIn dapat membantu. Tagline STIFIn yang menjadi kelebihan konsep ini adalah simpel, akurat dan aplikatif. Maka selain belajar tentang membangun kurikulum, kita dapat menyesuaikan pembelajaran dengan gaya murid (agar nyaman dan optimal proses belajarnya), dan menyesuaikan pengajaran dengan gaya guru (agar optimal dan nyaman pengajarannya).

Anak terus tumbuh dari hari ke hari. Tantangannya pun tak akan sama saat anak bayi dengan usia baligh. Maka sebagai guru utamanya, penting bagi orang tua untuk membina diri secara rutin. Jika perlu, carilah guru untuk menjadi pendamping pembinaan kita agar kapasitas diri terus meningkat sehingga selalu capable menghadapi segala sesuatunya. Mintalah pertolongan Allah agar selalu dituntun menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari.

Fasilitas dan Sinergitas

Lengkapi fasilitas di rumah dengan sumber-sumber ilmu yang memiliki nash shahih. Siapkan buku. Sediakan fasilitas keilmuan yang sejalan dengan misi keluarga.

Di rumah kami punya banyak buku. Anak-anak dibiasakan suka pada buku dan diajak turut dalam kajian ilmu dengan harap mereka tumbuh menjadi pecinta ilmu. Hanya sedikit buku cerita. Rata-rata meski buku fiksi, ada keilmuan di dalamnya. Meskipun ya akan berimbas pada kurang tahunya mereka dengan kisah-kisah macam mitos, cerita asal muasal dsb.

Mengenai poin mampu mengembangkan potensi terbaik anggota keluarga, kami menggunakan tools alias alat bantu konsep STIFIn. Selain juga kami belajar dari berbagai sumber lain guna menunjang dan memperluas wawasan seperti belajar psikologi, membaca buku kitab Firasat dan kitab Ibnul Jauzi tentang kecerdasan dalam Islam, dsb. Maka selayaknya orang tua pun tahu mengenai pengembangan potensi terbaik anak dan dirinya.

Penting untuk memiliki catatan progress anak agar memudahkan evaluasi. Berat memang jadi orang tua. Tapi siapapun diberikan amanah ini, itu karena menurut Allah kita sanggup.

Sinergi antara ayah, ibu dan keluarga besar tentu menjadi sebuah keharusan. Agar bangunan “sekolah” yang kita rancang semakin kokoh. Sehingga “lulusannya” semakin menampakkan sebar kebaikan. SuksesMulia.

Jadilah Sekolah Terbaik

Maka dalam perjalanan kehidupan menuju surga itu, perlu kiranya kita sebagai orang tua terus upgrade dan anak akan mendapatkan efek daya jalarnya. Jadilah sekolah terbaik bagi anak kita kapanpun dimanapun. Tak peduli apakah anaknya Homeschooling, home education, self schooling ataupun dititip dan dibantu lembaga pendidikan lain.

Selamat bertumbuh. Menjadi tempat belajar kehidupan terbaik bagi anak dan generasi selanjutnya.

***

Materi poin inti disadur dari catatan kajian Walisantri Kuttab Cimahi, Sabtu 28 Juli 2018 punya akang. Diperluas oleh saya.

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *