Semoga Tidak Merugi

Hari ini tiba-tiba kepikiran pengen bikin chicken katsu. Alhamdulillah akhirnya kesampean. Sudah berencana mau ngasih ke mamah sebagian. Ternyata masaknya terlalu sore karena memang kliyengan jadi rehat di kasur sedari pagi. Baru bisa bangun dan membaik menjelang ashar.

Uplek sana sini, beli bahan sampai chicken katsu-nya mateng, mendahulukan anak-anak yang sudah merengek nunggu ayamnya dari tadi.

“Mi, Aa mau ke ambu* ambil sepeda. Jadi sambil nunggu ayamnya, Aa sepedaan dulu ya” kata Danisy saat saya tengah memasak
*(panggilan Danisy ke neneknya)

“Jangan, nanti aja sekalian kalau sudah matang ayamnya. Biar sekalian kasih ayam ke ambu ya. Ayam Aa mah udah mau mateng sebentar lagi juga” jawab saya menahan Danisy untuk pergi.

Danisy setuju dengan permintaan umminya. Begitu semua matang, adzan maghrib berkumandang. Duh, kalau ga dianterin sekarang khawatir ga keburu dimakan. Akhirnya setelah buka, sebelum memutuskan makan saya minta izin suami untuk mengantarkan makanan ke rumah mamah. Jarak rumah saya dan mamah memang tidak terlampau jauh.

“Mau dianterin sekarang?” tanya suami memastikan

“Iya, kalau ga sekarang kapan lagi. Lagian ini ayam sama ikannya biar bisa dimakan” sambil menyiapkan yang akan dibawa ke rumah mamah.

Entah kenapa, biasanya saya menunda sampai diambil sama adek yang bungsu. Kali ini, saya ingin mengantarkannya langsung.

Love

Sesampainya di rumah mamah, ada ekspresi yang rasanya tak pernah saya lihat. Perasaan tidak pernah melihat mamah sedemikian menyambut saya. Ketika itu di rumah hanya ada mamah dan adek perempuan. Adik yang laki-laki ternyata belum pulang sedangkan bapak biasanya di masjid sebelum adzan maghrib dan pulang setelah selesai shalat maghrib.

Melihat saya membawa keresek berisi makanan, mamah langsung berbasa-basi sungkan, “padahal mah ga usah” (pake bahasa sunda sih aslinya mah)

“Gapapa, sedikit ini kok” jawab saya karena memang sedikit, cukup untuk sekali makan aja.

“Ini atuh mau bawa perkedel? Tahu? Buat anak-anak” mamah menawarkan apa yang dimasak. Tawaran itu sebetulnya mungkin bukan buat anak-anak tapi untuk anaknya. Masakan sederhana. Ah, mamah. Masakan sederhana yang kadang saya rindukan. Mamah memang ga jago masak, tapi masakan mamah yang menghiasi kehidupan saya sebelum menikah.

Raut muka itu, membuat saya menangis sepanjang perjalanan pulang. Raut muka kaget tapi ada rona bahagia ketika saya datang. Ekspresi yang membuat saya sekuat tenaga menahan tangis. Bersyukur mengantarkan sendiri ke rumah mamah, bersyukur masih bisa melihat mamah, masih bisa ketemu sama mamah dan adek, masih bisa ngasih ke mamah.

Ketika sore tadi bertemu bapak juga, ada siratan yang tak pernah saya lihat, rindu dan bahagia ketika melihat saya. Tapi kami segera terpisah. Saya ga mau bapak tahu kalau saya sedang sakit sehingga menghindar. Meskipun saya tetap tak beranjak demi memperhatikan bapak dari belakang berjalan kaki menuju rumah. Sekilas tadi melihat perban di tangan bapak. Kejadian yang hampir merenggut nyawanya itu masih berbekas.

Kemudian ingatan saya terlempar pada kejadian kemarin sore ketika mamah mengantarkan anak-anak pulang. Saat itu ada klien undangan yang hendak pulang, karena jalan menuju jalan raya cukup jauh maka kami menawarkan untuk mengantarkannya ke jalan raya. Bersegera saya ambil motor dan mengantarkan perempuan muda itu.

Di jalan tiba-tiba terpikir, kenapa nanti ga sekalian anterin mamah pulang aja. Kemungkinan mamah belum pulang sebab Azam nangis pengen ikut, pasti nemenin dulu Azam. Benar saja, begitu masuk jalan dekat rumah, mamah masih disana. Sementara Azam digendong oleh adik ipar.

Tak menunggu lama, saya menawarkan diri untuk mengantar mamah pulang. “Ga usah, jalan kaki aja”

“Udah gapapa, ayok naik mah” jawab saya memastikan

Anak-anak melihat saya mau mengantarkan mamah, bergegas ingin ikut. Akhirnya naik motor berempat muter menuju rumah mamah.

Begitu sampai di gang rumah mamah, kami berhenti. “Sampai disini aja ya mah. Biar gampang muterin motornya” mamah pun turun. Tanpa sengaja mamah bilang kalau di rumah ga ada siapa-siapa. Adik bungsu lagi bantu tetangga antarkan takjil ke masjid, bapak sudah ke mesjid sedangkan adik yang laki-laki belum pulang.

“Padahal mah buka di rumah teteh weh atuh barengan”

“Ngga ah. Nanti kasihan bapak kalau pulang ga ada siapa-siapa. Bapa bawa kunci rumah sih, tapi kasihan kalau sendirian”

Meski rumah kami dekat, saya pikir kehadiran anak-anak saja sudah cukup mewakili. Karena mereka lebih sering bilang kangen sama anak-anak. Sampai suatu ketika, saat sedang berbicara pada calon istri adik saya di rumah ketika dia mengantarkan hadiah pakaian untuk anak-anak, ketika dia menceritakan tentang ibunya, mamah turut bicara. Mengatakan bahwa kadang mereka juga rindu didatangi oleh anaknya. Hanya saja memaklumi jika anak-anaknya sibuk.

Ketika itu saya tidak terlalu merespon secara ekspresi tapi memikirkannya dalam hati. Ya Allah, mamah sama bapak ternyata bisa kangen juga ya sama saya?

Allah, terima kasih sudah menghantarkan hatiku pada kejadian-kejadian ini. Tuntun hamba agar tidak menjadi orang yang merugi.

merugi

Rasulullah Sallallahu ’Alaihi Wa Sallam mengatakan

 

عَنْ سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ». قِيلَ مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا ثُمَّ لَمْ يَدْخُلِالْجَنَّةَ ».

 

“Dari Suhaili, dari ayahnya dan dari Abu Hurairah. Rasulullah Sallallahu ’Alaihi Wa Sallam bersabda : ”Merugilah ia (sampai 3 kali). Para Shahabat bertanya : ”siapa ya Rasulullah? Rasulullah Sallallahu ’Alaihi Wa Sallam bersabda: “Merugilah seseorang yang hidup bersama kedua orang tuanya atau salah satunya di saat mereka tua renta, namun ia tidak masuk surga” (HR. Muslim).

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *