Sepucuk Surat yang Kutangisi

Saat itu, pembelajaran telah usai. Agenda hari Jumat memang sederhana. Tak banyak yang kami sampaikan.

Ketika beranjak keluar ruang, seorang murid “mencegat”ku. Seraya mengatakan, “Ustadzah, ini untuk Ustadzah”. Dan ia pun berlalu.

Sampai saat ini masih terbayang ekspresi anak itu.

Kubuka amplop yang bertuliskan, “dari Awal C”. Ternyata sepucuk surat yang seketika membuat haru.


Sang murid kembali. Partner ngajar pun sudah ada di samping saya kala itu. Saya serahkan surat itu padanya.

Suratnya kita (anak-anak ikhwan) yang bikin. Aku yang ngeprint. Ujar sang anak yang memberikan surat itu.

Kali ini air mata tak dapat ditahan. Kupeluk anak itu seraya berterimakasih dan mendoakan.

Tak lama berselang, selembar kertas kuterima lagi. Kali ini dari para santri akhwat rupanya.

Kemarin teh aku liat anak-anak ikhwan di mesjid ngumpul tapi pas kita mau masuk, ga boleh katanya. Rahasia.

Pengakuan berapi-api dari salah seorang santri akhwat membuat saya tersenyum. Ternyata bikin surat. Kita juga bikin.


Sungguh diantara hal yang mampu membuat air mata jatuh adalah sebuah hadiah sederhana dari hati yang ketulusannya mungkin takkan pernah bisa kita kejar. Kalimat yang tercantum tidaklah banyak. Bukanlah kalimat puitis ala romansa. Tapi perjuangan, niat, dan kasih mereka yang memberikan ruh luar biasa pada isi surat itu.

Sepucuk surat berisikan ucapan terima kasih dan ungkapan sayang. Dari mereka yang bahkan baru kami kenal kurang dari satu tahun.

Sebuah ungkapan yang terkadang membuat saya merenung, rasanya belum banyak yang dapat kami berikan. Apalagi jika mengingat apa yang disampaikan oleh para orang tua tentang perkembangan mereka. Masih jauh dari baik, rasanya.

Namun, surat itu, tetaplah sepucuk kertas yang membuat tangis berurai. Bahkan hingga saat ini. Saat saya sudah tak lagi bersama mereka, lama tak berjumpa dan bahkan tak pernah lagi menjadi “guru yang langsung mengajari” mereka.

Terima kasih, ya Rabb. Sudah mengizinkan kami berada dalam kehidupan mereka. Merasakan kasih-Mu melalui kepolosan tulus mereka.

Draft tulisan yang lama tersimpan ini, akhirnya saya beranikan untuk dipublikasikan.

Ustadzah kangen kalian!

Semoga Allah senantiasa menjaga kalian semua di jalan-Nya ya, nak!

Idhofi, Rais, Adzkar, Akhtar, Shafwan, Fatan, Farih, Asyraf, Mulia dan Windri.

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Facebookinstagram

Tinggalkan komentar