Siang dan Malam Kaitannya dengan Roda Kehidupan

Saat tengah membaca terkait proses terjadinya siang dan malam, sebuah insight lewat. Terkait kondisi dan fungsi malam maupun siang. Adapun malam, Islam sendiri mendahulukan bahasannya sebelum siang maka bagi saya ada pelajaran penting di dalamnya selain urusan siang-malam.

Malam.. sebagaimana disebutkan dalam surah an-Naba ayat 10: “dan Kami menjadikan malam sebagai pakaian” (ada pula yang menerjemahkan, malam sebagai penutup), pakaian diantara fungsinya adalah menutupi aurat diri, mempercantik atau memperindah, menghangatkan dan menghindarkan dari gangguan syetan.

Seringkali saat seseorang dirundung duka, maka orang akan mensejajarkan dengan “dirundung kegelapan”. Siang dan malam jika kita ibaratkan sebagai suasana cerah dan gelap, maka kedukaan, rasa sakit, rasa sedih, kecewa, luka dan semacamnya itu ibarat kita sedang berada di fase malam.

Mungkin saat ini siang kita mulai berangsur menuju malam. Keceriaan dan kebahagiaan dalam hidup perlahan memudar menjadi kegelapan yang begitu menakutkan.

Tapi, Allah Mahaadil. Malam kita akan berlalu, berganti siang. Segala kesedihan itu akan ada masa habisnya. Hal ini semata agar kita tidak terlalu larut dalam kesedihan. Dan saat dalam masa bahagia kita tidak terlena sebab siang akan berangsur menuju malam. Begitu seterusnya.

Fungsi malam yang Allah sebutkan dalam alquran tidak hanya berbicara tentang ketakutan, azab, atau gangguan jin. Di dalamnya disebutkan pula fungsi malam sebagai saat beristirahat, munculnya kemuliaan, saat-saat hadirnya kesunyian sehingga melaksanakan ibadah kala itu begitu syahdu, sebagai pakaian/penutup, dan sebagai momen sujud dan zikir yang berkesan.

Maka ketika hidup kita diliputi gelap gulita laksana malam, bersungkurlah sujud kepada Allah. Bertasbihlah mengingat Allah. Semoga Allah berikan ketenangan melewati “malam kita” yang belum terbayang kapan berakhirnya.
Dan pada sebagian malam, maka bersujudlah kepadaNya dan bertasbihlah pada bagian yang panjang di malam hari” (at-thur ayat 49)

Kegelapan dalam hidup kita, bisa jadi adalah sebuah pertanda bahwa kita perlu istirahat. Menjeda diri.

Mungkin kita terlalu ambisius sehingga lupa pada Allah. Mungkin kita terlalu sibuk hingga lupa pada prioritas apa saja yang perlu diperhatikan. Mungkin kita lalai mensyukuri karunia Allah sehingga Ia tegur sebagai bentuk kasih sayangNya.
Allah-lah yang menjadikan malam untukmu agar kamu beristirahat padanya; (dan menjadikan) siang terang benderang. Sungguh, Allah benar-benar memiliki kalarunia yang dilimpahkan kepada manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur” (Ghafir ayat 61)

Betapa jujurnya Islam. Allah secara gamblang menyebutkan bahwa memang wajar kita takut saat malam tiba sebab kegelapan menyelimuti. Sebab memang demikian adanya fitrah manusia takut akan kegelapan. Akan tetapi Allah memberitahukan pula pada kita bahwa ada fungsi malam yang baik dan dapat menjadi “penghibur” sekaligus penguat kita.

Bagi saya ini seperti sebuah pengingat. Bahwa betul kegelapan dalam kehidupan kita itu menyesakkan. Tapi di balik rasa tak nyaman yang dirasa, sesungguhnya ada kebaikan disana. Akan ada siang yang hadir kelak. Kebahagiaan akan muncul kembali.

Kegelapan hidup adalah tempat kita menjeda diri bermuhasabah dan berduaan dengan Rabb kita, kegelapan hidup adalah tempat kita beristirahat dari segala kemumetan dunia dan bersujud pada Sang Maha dalam suasana sepi nan syahdu.

Bisa jadi, dalam kegelapan itu hadir kemuliaan. Bisa jadi melalui kegelapan itu Allah berikan ketenangan. Bisa jadi lewat kegelapan itu pula lah kualitas ibadah kita meningkat sehingga semakin dekat dengan Sang Mahacinta.

Kegelapan dalam hidup kita, sebagaimana pakaian, bisa jadi Allah takdirkan untuk menutupi aurat diri kita. Atau hadirnya kesedihan itu untuk menaikkan derajat kita, mempercantik dan memperindah pribadi kita. Keresahan dimunculkan guna menghangatkan kembali hati kita bahwa ada Allah yang Maha Segalanya. Dan duka yang menghampiri sebetulnya karena Allah sedang menghindarkan kita dari gangguan bisikan syetan berupa ujub, tidak menjaga diri dari yang bukan haknya, lupa bersyukur dan lalai.

Maka saat duka dan luka hadir, imanilah bahwa malam akan selalu berakhir.

Wallahu a’lam.

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and STIFIn Trainer
Follow instagram @esapuspitaFacebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: