Simpati dan Empati

Simpati dan Empati

Semalam tanpa disengaja terjadi diskusi yang luar biasa. Tentang sebuah rasa bernama empati dan simpati kaitannya dengan emosi anak.

Lalu apakah empati itu? Empati adalah sebuah keterampilan kemampuan untuk memahami pikiran dan perasaan orang lain yang terlihat melalui perilakunya. Empati membuat kita mencoba berada di posisinya dan memahami bagaimana situasi kondisi orang tersebut.

Berempati membuat kita mampu memahami apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh orang tersebut. Dengan demikian, harapannya kita mampu bertindak tepat sesuai dengan apa yang dibutuhkan pada situasi dan kondisi saat itu.

Lalu apa bedanya dengan simpati? Bedanya terletak pada kedalaman perasaan, pada keterlibatan emosi yang sangat lekat.

Pada sikap simpati, kita seolah merasakan atau berada pada posisi orang lain, tak sekadar memahami. Pemahaman ini yang baru saya tahu karena sebelumnya saya menganggap empati lebih dalam dibanding simpati dalam hal keterlibatan emosi.

Ketika kita bersikap simpati, saat orang lain menangis, kita turut menangis dst. Malah terkadang emosi kita lebih jauh lagi.

Maka diantara simpati dan empati ini, mana yang lebih baik? Keduanya baik, tinggal disesuaikan dengan situasi kondisi saat itu. Kemampuan ini harus disertai dengan catatan kita harus tetap produktif dan sesuai syariat. Jangan sampai terlalu turut campur urusan orang lain di luar batas seharusnya atau terlalu larut memikirkan masalah orang lain sampai mengganggu rutinitas sehari-hari.

Dalam dunia psikologi, empati ini sangat penting bagi kehidupan kita. Kebanyakan di antara kita ketika dihadapkan pada sebuah hal atau masalah, kita mengutamakan kognitif yang serba logis tentang bagaimana agar masalah bisa segera selesai. Apa penyelesaian masalah yang tepat dan kalau bisa secepat mungkin. Bagaimana agar masalah ini tidak berulang, apa yang harus dilakukan. Dsb. Tanpa memperhatikan aspek afektif, perasaan.

Bagaimana perasaan orang lain ketika kita melakukan ini, ketika kita tidak melakukan itu. Bagaimana perasaan orang lain ketika kita mengatakan ini dan tidak mengatakan itu. Bagaimana pikiran mereka, dan sebagainya. Ini biasanya didasari oleh sikap kita yang cenderung logis dan egosentris, melihat sesuatu hanya berdasarkan sudut pandang kita sendiri.

Saat kita belajar berempati -memahami pikiran dan perasaan orang lain yang terlihat dari perilakunya- kita benar-benar belajar memahami, bukan menebak. Jika tak paham, maka kita harus mengambil langkah agar paham.

Pertama, tanya. Apa yang ditanyakan? Emosinya dulu, perasaannya, afektifnya. “kamu marah ya, nak?” jika ternyata salah, coba ditanyakan hal lain, anak in Sya Allah akan memberi tahu kita. “kesal sama ummi?” jika salah juga mungkin ditanyakan pertanyaan lain, “Sedih?” bisa jadi kali ini jawabannya ‘iya’ kemudian berlanjut anak menangis.

Jika emosi sudah sampai, gali pikirannya. Kenapa? Apa yang anak pikirkan? Apa yang bisa ummi bantu? Apa yang anak inginkan, dsb. Tunggu, biarkan anak memiliki jeda jika ia tak mau langsung bercerita. Jangan memaksanya langsung menjawab kalau memang ia butuh jeda. Ketika ia bercerita, tunggu dan dengarkan. Lalu ajukan perhatian, “mau dipeluk ummi?” atau “mau minum dulu?” dsb.

Setelah langkah kedua berhasil, setelah kita menenangkan hatinya dan paham situasinya baru masuk ke langkah berikutnya untuk penyelesaian masalah atau komunikasi/nasihat.

Jujur, ini saya baru tahu padahal usia sulung saya sudah 4,5 tahun. Huhu.. telat banget ya. Tapi ga apa, kita coba perbaiki.

Ini tambahan yang jadi tamparan banget buat saya.

Jadi lingkaran setan
Jadi lingkaran setan
baik
Sama-sama senang
Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Facebookinstagram

2 pemikiran pada “Simpati dan Empati

    • sama-sama. Makasih sudah berkunjung juga 😀
      iya saya juga baru tau, ternyata selama ini kebalik. ini diskusi ada narsum yang menjadikan EQ sebagai tesisnya juga jadi cukup valid inSyaAllah

Tinggalkan komentar