Suami Istri – Bekerjasama Bagai Lokomotif dan Gerbong

Suami Istri – Bekerjasama Bagai Lokomotif dan Gerbong

Sepulang dari pertemuan pertama kelas WSL3 di Bogor, saya dan suami terlibat diskusi singkat menarik tentang membesarkan suami. Obrolan yang membawa saya pada pemahaman baru (padahal sebetulnya sudah diatur ya dalam Islam).

Bagi seorang perempuan yang sudah menikah, surganya berada dalam keridhaan suami kepada dirinya. Maka segala tindakan istri pada akhirnya seperti “nempel” ke suami. Apa-apa mesti izin, apa-apa fokus utamanya adalah keridhaan Allah dan suami.

Fokus ke Suami

Saat seorang perempuan menikah, maka fokus utamanya beralih pada suami. Semua hal yang dilakukannya tak lagi hanya untuk dirinya sendiri melainkan untuk suami. Baik suami maupun istri tumbuh kepribadiannya, naik level dari personaliti ke morality. Itu kenapa hendaknya setiap manusia yang akan menikah sudah selesai di level mentality agar saat menikah, ia sudah selesai dengan dirinya dan siap berbicara tentang “kita”.

Saat berdiskusi dengan suami, peran istri mendukung suami itu dimulai sejak dari niat. Meniatkan dan merencanakan segala sesuatu mesti selaras dengan visi keluarga dan dalam rangka turut membesarkan suami.

Dalam kegiatan saya sebagai seorang trainer, pembelajar maupun promotor STIFIn, maka bagaimana meniatkannya untuk membesarkan suami?

Saat saya belajar, teori yang saya dapat diutamakan untuk diaplikasikan pada suami lalu anak-anak. Keilmuan yang diutamakan untuk diambil harus selaras dengan kebutuhan pengembangan diri, pengembangan suami dan anak serta pendukungnya.

“Ade belajar untuk bekal mendidik anak-anak agar kita membesarkan mereka dengan ilmu.”

Saat memberikan training, maka ada saat-saat dimana saya membawa “nama” suami untuk disebutkan. Sehingga yang dikenal oleh audiens bukan hanya tentang materi dan saya sebagai pembawa materinya melainkan juga mereka mengenal suami.

Saat melakukan tes STIFIn, maka diniatkan untuk mensupport kegiatan suami kelak sebagai Solver STIFIn yakni saya sebagai “perawat” dan suami sebagai dokternya. Saya memperbanyak jam terbang untuk semakin mahir mendampingi suami baik di rumah maupun di pekerjaannya sebagai solver. Sehingga suami fokus pada proses solving sementara tes dan penjelasan bisa saya tangani (sebagaimana dokter fokus pada treatmen pasien dibanding harus ngukur semuanya dari awal).

Semula saya hanya “memahami apa adanya”. Kemudian melintas sebuah jawab: mungkin biar kayak kereta shinkansen.

Shinkansen

Apa sih yang istimewa dari kereta Shinkansen? Saya pribadi belum pernah berpengalaman naik kereta Shinkansen ini (ya semoga tahun depan bisa ngerasain ya. hihi). Berdasarkan apa yang saya tahu, ini adalah sejenis kereta cepat di Jepang sana.

Saat coba mencari referensi mengenai Shinkansen, rupanya ini adalah nama jalur kereta api super cepat tersebut (Shinkansen = jalur kereta baru). Tapi di luar Jepang nama ini memang terkenal dan merujuk pada keretanya.

Jalur baru untuk kereta cepat ini memiliki spesifikasi berbeda dari kereta yang biasanya di Jepang: lintasannya lebih lebar, kecepatan maksimum. Jalurnya dibuat terpisah dari jalur lama.

Lintasan sepur yang sempit membuat kecepatan kereta terbatas. Akan tetapi sistem pun memiliki batasan kecepatan sehingga jika melebihi titik tersebut maka secara otomatis kecepatannya akan diturunkan.

Setiap gerbong pada kereta Shinkansen memiliki motor penggerak sendiri. Meski demikian, kendali kecepatan dan pengereman set kereta tetap pada satu gerbong tertentu yang memiliki kokpit atau ruang kendali khusus.

Bersinergi Bergerak

Dari Shinkansen saya belajar, penting bagi seorang istri fokus mendukung suaminya. Pastikan dukungan itu berasa. Jangan menggunakan perasaan. Gunakanlah data. Pahami bahasa cinta diri, suami dan anak. Perlakukan mereka sesuai jenis personalitinya.

Guna mencapai percepatan keluarga maka setiap anggota hendaknya memiliki motor penggerak sendiri. Dengan demikian, ayah/suami yang menjadi “lokomotif” dalam keluarga bukanlah satu-satunya yang “menarik” anggota keluarganya menuju visi yang ditetapkan akan tetapi saling bersinergi.

Selain motor penggerak di internal masing-masing anggota keluarga, perlu juga dibuatkan jalur baru yang lebih lebar dan mewadahi perubahan yang akan kita siapkan. Saat kereta melaju cepat, saat anggota keluarga sudah memiliki motor penggerak sendiri, sebagai istri dukungan terhadap suami akan membantu menguatkannya untuk menjadi kokpit ruang kendali khusus.

Sehingga kendali utama tetap saja ada di tangan suami. Dengan demikian, visi keluarga akan lebih cepat tercapai dibandingkan jika visi dan setiap anggota berjalan masing-masing.

Posisi Anggota Keluarga

Lalu anak-anak diposisikan dimana? Anak-anak tetap prioritas, di bawah suami. Bagaimana dengan diri kita? Diri kita prioritas di antara suami dan anak. Ketika semua mendapatkan prioritas, maka kesemuanya memiliki hak dan kewajiban yang sesuai. Sebagaimana kereta, semua berjejer dan memiliki tugas tersendiri.

Apakah sebagai perempuan kita mesti selalu berkorban? Sekilas memang nampak demikian. Itu kenapa perlu bagi seorang istri memahami peran suri rumah. Menjadi keharusan bagi suami membuat sang permaisuri rumah nyaman menjadi dirinya agar semakin kuat mendukung suaminya, serta sanggup berbahagia bersama mendidik dan membesarkan anak-anak menjadi generasi masa depan yang lebih baik.

Wallahu a’lam.

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and STIFIn Trainer
Follow instagram @esapuspita Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: