Surat untuk Ismail

Khutbah Idul Adha kali ini mengingatkan kembali tentang makna iman sebuah keluarga, terutama dialog iman nan indah antara ayah dan anak.

Menyematkan nama Ismail di rangkaian namamu, menjadi pengingat bagi kami bahwa ada PR besar untuk mewujudkan harapan agar nama itu menjadi doa yang dikabulkan Allah. Agar engkau tumbuh menjadi lelaki yang memiliki keimanan nan kokoh. Dan harapan memiliki sifat seperti nabi Ismail.

Kami (terutama ummi) lupa bahwa di balik seorang Ismail, ada ayahnya Ibrahim dan ibundanya Hajar. Dua sosok luar biasa yang keimanannya sudah teruji sedemikian rupa.

Nabi Ibrahim sejak belianya sedemikian kritis. Berani dan cerdas melawan para penyembah berhala. 

Sedang ibunda Hajar, tegar saat ditinggalkan sang suami di gurun tanpa penghuni. Hanya berbekal dialog “Apakah Allah yang menyuruhmu melakukan ini?” dan saat dijawab “iya” oleh sang suami tanpa menoleh karena khawatir akan sangat bersedih, Hajar membalas, “jika demikian, tentulah Allah tak kan menyiakan kami”. Tegar dan kuat! 

Keluarga Ibrahim memperlihatkan kejadian manusiawi saat Allah memerintah penyembelihan Ismail, anak yang lama dinanti untuk bersama kembali. Saat sudah bisa bersama, Allah mengilhamkan perintah tak terduga. 
Ibrahim memanggil putranya, dengan rasa khawatir. Dan sedih. Tapi ini perintah. Ia ingin tahu pendapat sang anak yang dibalas dengan respon tak terduga: “insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” sebuah pertanda bahwa dalam hati, Ismail pun sebenarnya takut disembelih. Tapi keimanan ia letakkan di atas segalanya.

Kala Hajar digoda syetan dan iblis untuk menggagalkan proses penyembelihan Ismail. Sekuat hati beliau melempari iblis dan syetan itu dengan batu agar menjauh, hingga Allah abadikan menjadi prosesi lempar jumroh sebagai hikmah di balik peristiwa tersebut.

Makna pengorbanan sebuah keluarga bermula dari kokohnya pemahaman mereka tentang iman. Allah menjadi gantungan dan sandaran. Sami’na wa atha’na. 

Hal ini bermula dari pendidikan yang keren membentuk iman. Sehingga hasilnya iman sebelum amal. Hati sebelum akal. 

Ismail anakku, tak apa engkau takut menghadapi sesuatu, akan ada Allah yang mengirimkan para penjagaNya untukmu. 

Ismail anakku, tak apa ada rasa ragu mentaati Allah dalam hal yang berat, kuatkan untuk menjalankannya. 

Ismail anakku, ada hal yang seringkali dirasa berat, yakinlah Allah tidak akan menyiakan.

Maka pe er ummi dan abi membentuk imanmu. Dan itu berarti harus dibarengi perbaikan keimanan kami orang tuamu. 

Doakan kami, nak.. 

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *