Tadabbur Kisah – Menyikapi Pinangan

Wanita dan pinangan – terutama di Indonesia – terkadang berada dalam kondisi serba salah karena seringkali berbenturan dengan adat. Tak jarang situasi ini berdampak pada bagaimana seorang perempuan menyikapi pinangan. Sampai satu ketika saya mendapati sebuah kalimat yang cukup membuat kaget: “paling juga nanti bakal jadi dalil para laki-laki”. Deg. Sebegitunyakah?

Kemudian saya merenung, bertanya pada para guru dan melakukan pencarian referensi. Pernyataan bahwa sejarah dapat menjadi alat bercermin semakin terasa.

Setelah mendapatkan jawaban dari para guru, lalu saya membaca kembali shirah nabawiyah dan biografi para shahabiyah. Saya menemukan hal menarik. Mari kita mulai dari sosok perempuan yang banyak dibahas dalam shirah dan kemuliaannya senantiasa diceritakan di berbagai kesempatan.

Ialah ibunda Khadijah, sosok perempuan mulia yang mendampingi Rasulullah ﷺ hingga maut memisahkan keduanya dan menjadi istri yang begitu membekas di hati nabi. Sebelum menikah dengan Rasulullah ﷺ dan ketika masih menjadi single, rupanya banyak pria yang datang meminangnya. Para pria yang datang ini bukanlah orang-orang sembarangan. Mereka adalah orang-orang yang baik lagi terpandang di masyarakat Quraisy. Namun beliau menolak pinangan mereka dan lebih memilih untuk menunggu sosok yang tepat sesuai kriteria yang diharapkan.


Dari kisah ibunda para mukmin ini saya mengambil ibrah tentang bagaimana seorang perempuan “memilih” pasangannya. – meskipun posisi perempuan sering dikatakan dalam posisi pasif: dipilih –

  1. Perempuan diperbolehkan menentukan kriteria pasangan yang ingin dijadikan suami. Hal ini tentu wajar karena kelak suami adalah sosok yang harus ditaati secara mutlak selama bukan tentang maksiat kepada Allah.
  2. Perempuan diperbolehkan menolak pinangan lelaki yang memang tidak sesuai kriterianya. Ketika penilaian bukan sekadar tampan, berpendidikan dan terpandang, tapi juga yang “sreg di hati”.
  3. Memilih pasangan adalah ikhtiar mengupayakan masa depan. Bukan sekadar bicara tentang kebutuhan seksual (baik itu kebutuhan berpasangan maupun hal lainnya) tapi juga tentang calon pemimpin dirinya, calon ayah dari anak-anaknya. Sehingga istilah “perhatikan betul bibit bebet bobot” itu sebetulnya bukanlah hal yang salah karena memang kita sedang memilih benih yang akan lahir dari pernikahan yang berlangsung di masa mendatang.
  4. Mempertimbangkan calon suami dengan akhlak yang paling baik adalah sebuah ikhtiar perempuan untuk menjaga diri, pernikahan dan masyarakat nantinya. Ada generasi mendatang yang kita upayakan kehadirannya akan lebih baik. Maka penting menghadirkan pribadi-pribadi yang baik sebagai benihnya. Itulah kenapa para ulama senantiasa membahas bahwa mendidik generasi mendatang dimulai dari mendidik diri dan memilih pasangan.
  5. Menanti sosok yang memenuhi kriteria standar pasangan diupayakan dengan memantaskan diri mendapatkan sosok yang diharapkan. Maka dalam masa penantian, isilah waktu dengan upaya mengilmui diri, upgrading pribadi dan aktivitas bermanfaat lainnya. Semoga dengan berupaya meraih keberkahan ketika menyendiri akan menarik pribadi yang berkah dan menghadirkan pernikahan dan menghasilkan keturunan yang berkah pula.
  6. Berkonsultasilah mengenai pernikahan, penilaian terhadap calon pasangan dan semacamnya pada sosok yang berilmu lagi dipercaya agar kita mendapat pandangan yang lebih baik. Sebagaimana yang dilakukan ibunda Khadijah yang seringkali berdiskusi dengan Naufal.
  7. Tak usah terlalu menggubris desas-desus di luaran sana. Ketika kita selektif tentang calon pasangan, kemudian muncul berbagai respon seperti, “mau nyari yang kayak gimana lagi sih? Kan yang kemarin datang udah oke.” Atau “jadi perempuan jangan terlalu pemilih.” Atau “jangan mentang-mentang sudah berkecukupan, punya penghasilan banyak trus jadi sok-sokan nunggu cowok yang pas. Tar jadi perawan tua lho.”
    Padahal kita memang perlu memilih suami yang terbaik guna mengupayakan keberkahan dalam pernikahan. Bukankah ibunda Khadijah pun begitu? Betapa besar keberkahan yang hadir dari pernikahan beliau.
  8. Tak ada masalah menikah dengan lelaki yang lebih muda selama nampak kepemimpinannya dan kita bisa menjalankan peran yang semestinya sebagai istri.
  9. Tidak hanya melihat calon pasangan dari kondisi finansialnya saat ini saja, namun lihat calon pasangan pada kemampuan dan kemauannya dalam mencari nafkah serta bertanggung jawab kepada keluarga.

Wallahu a’lam. Hal ini saya renungi sekian lama. Jika ada yang memperoleh insight lain dari kisah ibunda Khadijah, please, let me know by drop your comment below.


Ini adalah tadabur kisah. Bukan terjemah atau semacamnya. Ibrah ini saya dapat setelah mendapat penjelasan dari guru, membaca sirah, membaca biografi shahabiyah (dan biografi ibunda Khadijah tentu dibahas paling pertama dan cukup panjang), membaca tentang kriteria istri dalam Islam dan buku-buku parenting Islam. Sebagai acuan referensi, berikut judul buku yang saya baca berkaitan dengan artikel ini:

  1. Shirah Nabawiyah Arrahiqul Makhtum
  2. Biografi 35 Shahabiyah Nabi ﷺ (judul asli: Shahabiyat Haula ar-Rasul)
  3. Be A Great Wife (judul asli: Hadzihi Hiya Zaujati)
  4. Prophetic Parenting: Cara Nabi ﷺ Mendidik Anak (judul asli: Manhaj At-Tarbiyah an-Nabawiyyag Lith Thifl)
  5. Pendidikan Anak dalam Islam (judul asli: Tarbiyatul Aulad Fil Islam)

Apabila ada hal yang salah, maka sepenuhnya berasal dari saya. Adapun yang benar, datangnya dari Allah. Jika ada koreksi silakan kontak saya. Terima kasih.

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Facebookinstagram

2 pemikiran pada “Tadabbur Kisah – Menyikapi Pinangan

Tinggalkan komentar