Beri Kesempatan

*Disalin dari status dan pengalaman Ramadhan ini*

“Abi tunggu” ujar Danisy saat abi¬†Abdul Chalim¬†bergegas ke masjid.
“Aa-nya belum siap”
Kondisi Danisy memang masih mengenakan baju main. Atasan kaos dengan bawahan celana olahraga. Kami baru pulang setelah belanja ambil barang. Padahal sedari disana sudah mengajaknya bergegas agar bisa ikut shalat jumat.

Saya kemudian membujuknya untuk ganti baju. Tapi dia ga mau pake koko panjang. Koko standar adanya punya Azam.
Sempat merengek meski akhirnya mau pake koko adeknya.

“Ini uang buat infaq, trus nanti wudhu dulu di masjid ya” pesan saya sebelum memintanya menuju masjid.
“Kan infaqnya mah udah sama abi tadi”
“Ya nanti pahalanya buat abi, Aa ngencleng sendiri aja. Yah.”
“Ga mau wudhu” belakangan Danisy ga mau wudhu.
“Kan syarat sahnya shalat. Kalau Aa ga wudhu, shalatnya jadi ga sah. Sayang nanti ga dapet pahala”

Ia pun menuju pintu. Tapi tiba-tiba menangis.

“Kenapa?”
Dia tidak menjawab.
“Kalau Aa diem aja, ummi ga ngerti kenapa Aa nangis”
“Ga mau” jawabnya pelan.
“Ga mau apa?” Nada saya mulai meninggi saat itu.
“Ga mau shalat”
“Lho..?”

Mencoba nahan marah, diingatkan Allah tentang sebuah materi agar tidak memaksakan tapi juga tidak abai. Toh belum 7 tahun. Tinggal cari cara agar anak betul-betul memahami tentang ibadahnya.

Saya lalu melipir ke kamar. Biasanya kalo begitu, anak-anak paham kalau umminya marah.
Danisy tidak beranjak dari pintu. Sampai kemudian,
“Ganti bajunya, rapikan lagi ke tempat semula trus tidur” pinta saya.

Dan saat ini dia sedang guling-guling di kasur. Kayaknya sih ada perasaan bersalah juga.

learn

=====
Ya, pada akhirnya saya ga bisa maksa dia karena dipaksa pun hasilnya belum tentu sesuai keinginan. Yang ada mungkin malah saya tambah marah, Danisy tambah nangis.

Usianya baru 5,5 tahun. Masih ada kesempatan 1,5 tahun untuk mengajarinya.

Saya sangat ingat pernyataan:
Ibu-ibu ini kadang terlalu tergesa agar anak bisa. Panik bilang ‘dulu waktu kecil dia mau shalat dengan saya, sudah besar kok ga mau?’ Saat ditanya usia si anak, ternyata baru 4 atau 5 tahun.
Janganlah tergesa bu. Yang penting pahamkan dan berikan contoh pada anak. Ajari dan biasakan secara perlahan. Perbaiki jika memang ketidaksediaan anak untuk shalat ternyata berasal dari kejadian sekitar.
Jika anak tidak mau diajak shalat sementara usianya masih di bawah 7 tahun kemudian kita paksa agar shalat, khawatirnya malah anak jadi trauma dan menganggap shalat itu sama sekali tidak menyenangkan.

Padahal bagi anak, tanamkan pemahaman dasar kenapa shalat, bagaimana tata cara shalat. Sambil tetap dibiasakan dan diajak. Tapi tidak dipaksa.

Mungkin ada kesalahan dari pihak kami sebagai orang tua. Harus evaluasi satu per satu.

Iri sih melihat anak orang lain sudah pandai ini itu, bisa shaum, shalat dsb. Tapi ya, ga mungkin memaksakan anak seperti anak orang lain juga. Yang penting sekarang evaluasi bareng-bareng, kemudian perbaiki.

Maaf ya nak. Kami pun masih belajar jadi orang tua. Semoga kita sama-sama menuju arah yang lebih baik.

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.