Catatan Parenting: Mengenal Proses dan Tahapan

Draft tulisan dengan judul ini sudah lama nangkring di list web. Sayangnya, tak dieksekusi. Antara lupa dan dicuekin 😅

Malam ini, saat iseng cek list draft, kok serasa nyambung dengan obrolan tadi siang bersama pelatih renangnya Danisy. Bermula dari obrolan tentang konsep STIFIn berlanjut bahas banyak hal, salah satunya mengenai dunia pendidikan anak di masa kini. 

Jika dulu orang tua kita berhasil mendidik keturunannya dengan cara “aku orang tuamu, kamu anak harus nurut”, maka di era saat ini, tidak demikian caranya. Sebagai orang tua kita mesti paham anak kita seperti apa lalu bertindak sesuai dengan fase anak. Misal, bahwa setiap anak memiliki fitrah ingin memimpin, maka turunkanlah “posisi” kita saat berhadapan dengannya, 1-2 tahun di bawah usia sang anak. Jika fase ini terlewat untuk dipenuhi, maka guna mengejar “ketertinggalannya”, butuh effort lebih dan cenderung ga bisa dikejar saat itu juga melainkan menunggu fase serupa di beberapa tahun ke depan. Mirip teori siklus 9 tahunan yang saya dapat saat diskusi mengenai implementasi konsep STIFIn dalam dunia parenting dan pendidikan.

Danisy sendiri sedang menyukai jadi imam shalat untuk ummi dan Azam kala melaksanakan shalat di rumah atau saat kami sama-sama shalat di masjid tapi ga ada imam (atau masbuq). Maklum, meski rumah dekat dengan masjid, di waktu-waktu shalat tertentu (biasanya zhuhur dan ashar) jarang ada jamaah 😰

Wajah sumringah selalu saya dapati saat ia diizinkan jadi imamnya ummi. Anggap saja latihan untuk ke depan saat ia sudah baligh. (ternyata jadi makmum bocah itu ga gampang. Selain nurunin ego, jadi ajang evaluasi bareng juga) 

Dan beberapa poin diskusi dengan sang pelatih yang juga seorang fisioterapis ini selaras dengan tahapan pendidikan dalam Islam yang saya baca dari sebuah buku berjudul “Tahapan Mendidik Anak, Teladan Rasulullah” tulisannya Jamaal Abdur Rahman terbitan IBS. Di dalamnya tertuang bagaimana Rasulullah menangani anak bayi hingga para pemuda dengan hasil yang nyata kita lihat melalui sejarah ya. 

Hal ini pula mengingatkan saya pada diskusi mengenai sistem di sebuah sekolah yang bagi saya dan suami, betul-betul perlu menjaga kesabaran dalam menerima tahapan pendidikan yang ditawarkan. Apalagi setelah kami tahu bahwa sang kepala sekolah memiliki personality Genetic Intuiting introvert dalam konsep STIFIn. Tipikal-tipikal yang memperhatikan proses dan visinya jauh.

Bagaimana tidak butuh sabar, beberapa poin pelatihan yang kami rencanakan, sekolah menganjurkan dilaksanakan nanti saat mencapai usia tertentu. Termasuk mengenai pengenalan uang, usaha (dagang) dan tanggung jawab terhadap hal tersebut. Hanya akan diajarkan setelah usia-usia baligh. Oh my. Sementara kami dulunya mendapat informasi tentang bagaimana mendidik jiwa wirausaha pada anak sejak dini. Apalagi anak kami dua-duanya memiliki PersonalityGenetic Sensing yang kemistrinya pada harta, salah satu kecenderungannya senang dengan hal-hal terkait keuangan dan jualan.

Eh tapi pikir-pikir, memperkenalkan anak pada dunia wirausaha ga harus bikin dia dagang sejak kecil kan ya? Bisa dengan teori dan diajak-ajak saja dulu (diperkenalkan).

Lanjut keingetan obrolan kemarin siang usai Danisy renang. Bahwa ada tahapan yang perlu kita perhatikan dalam pendidikan anak, selain yang sudah ditulis di atas, juga tentang bagaimana kita mengajarkan anak pada suatu hal secara bertahap. Mengenai shalat misalnya (ini yang saya inget dari diskusinya) usia 7 tahun pemanasan mulai ajari shalat, tapi jangan dipaksa. Baru setelah usia 10 tahun lebih strict lagi karena di usia tersebut anak sudah paham. Tapiiii mulai dimasukkan info-info mengenai shalat itu sejak anak mulai mengerti pembicaraan. Kenalkan tentang apa itu shalat, kenapa dan seterusnya. Niscaya dengan cara seperti ini, anak akan lebih siap.

Ada masanya anak paham dan mengerti tentang tanggung jawab. Kadang kita ga sabar dengan tahapan seperti itu dan ingin hasil yang instan. Padahal, memang fitrahnya segala sesuatu di dunia ini bertahap. Anak pun demikian.

Mengenai tahapan ini, tadi sempat disinggung juga hal-hal yang perlu diperhatikan. Yang saya ingat, saat mengajak anak melakukan sesuatu maka perlu disesuaikan dengan:

  1. Kematangan otak
  2. Kematangan emosi
  3. Kemampuan memahami

Ada saat kita menjadi orang tua, teman, partner bahkan musuh -begitu ujar pelatih Danisy. Jadi musuh? Baru dengar saya.

Ternyata jadi musuh disini maksudnya, ada saat dimana ketika anak sedang baik (mood dan kondisinya) kita melakukan sesuatu yang menyebabkan “konflik” terjadi antara kita dan anak. Sebenarnya secara naluri sudah ada ya keinginan “ngejailin” itu, cuma belum dibarengi ilmu 😁

Nah, maka ketika konflik muncul, saat itulah kita mengajarkan anak cara menyelesaikan konflik. Real sesuai kenyataan.

Pasti tidak mudah. Setidaknya itu yang saya pikirkan kemarin. Sebab saat konflik muncul, bisa jadi yang ga bisa atasi konflik bukan anak tapi kitanya. Ya kan? (apa saya aja kali ya yang mikir gitu) 😂

Tapi apapun itu, diskusi kemarin siang membuka pemikiran baru tentang bagaimana bersikap sebagai orang tua. Ditambah dengan teori Parenting dengan pendekatan konsep STIFIn, saya belajar lagi. Bebenah untuk menjaga amanah dengan lebih baik lagi, insyaallah. 

So, teman-teman. Bersabarlah dengan proses yang harus dilewati sebagai ibu (dan ayah) dengan anak. Kenali proses dan tahapan yang akan dilalui baik oleh anak maupun oleh kita sendiri. Insyaallah nanti akan ada sedikit catatan mengenai siklus 9 tahunan dan tahapan anak (terutama usia 0-5 tahun untuk saat ini, karena baru itu catatan yang agak lengkapnya) di tulisan berikutnya. Doakan saya rajin dan dapet ilmunya yaa biar makin lengkap catatannya 😘

Selamat menyambut pagi. Selamat menyiapkan santap sahur juga 😍

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Beri Kesempatan

*Disalin dari status dan pengalaman Ramadhan ini*

“Abi tunggu” ujar Danisy saat abi Abdul Chalim bergegas ke masjid.
“Aa-nya belum siap”
Kondisi Danisy memang masih mengenakan baju main. Atasan kaos dengan bawahan celana olahraga. Kami baru pulang setelah belanja ambil barang. Padahal sedari disana sudah mengajaknya bergegas agar bisa ikut shalat jumat.

Saya kemudian membujuknya untuk ganti baju. Tapi dia ga mau pake koko panjang. Koko standar adanya punya Azam.
Sempat merengek meski akhirnya mau pake koko adeknya.

“Ini uang buat infaq, trus nanti wudhu dulu di masjid ya” pesan saya sebelum memintanya menuju masjid.
“Kan infaqnya mah udah sama abi tadi”
“Ya nanti pahalanya buat abi, Aa ngencleng sendiri aja. Yah.”
“Ga mau wudhu” belakangan Danisy ga mau wudhu.
“Kan syarat sahnya shalat. Kalau Aa ga wudhu, shalatnya jadi ga sah. Sayang nanti ga dapet pahala”

Ia pun menuju pintu. Tapi tiba-tiba menangis.

“Kenapa?”
Dia tidak menjawab.
“Kalau Aa diem aja, ummi ga ngerti kenapa Aa nangis”
“Ga mau” jawabnya pelan.
“Ga mau apa?” Nada saya mulai meninggi saat itu.
“Ga mau shalat”
“Lho..?”

Mencoba nahan marah, diingatkan Allah tentang sebuah materi agar tidak memaksakan tapi juga tidak abai. Toh belum 7 tahun. Tinggal cari cara agar anak betul-betul memahami tentang ibadahnya.

Saya lalu melipir ke kamar. Biasanya kalo begitu, anak-anak paham kalau umminya marah.
Danisy tidak beranjak dari pintu. Sampai kemudian,
“Ganti bajunya, rapikan lagi ke tempat semula trus tidur” pinta saya.

Dan saat ini dia sedang guling-guling di kasur. Kayaknya sih ada perasaan bersalah juga.

learn

=====
Ya, pada akhirnya saya ga bisa maksa dia karena dipaksa pun hasilnya belum tentu sesuai keinginan. Yang ada mungkin malah saya tambah marah, Danisy tambah nangis.

Usianya baru 5,5 tahun. Masih ada kesempatan 1,5 tahun untuk mengajarinya.

Saya sangat ingat pernyataan:
Ibu-ibu ini kadang terlalu tergesa agar anak bisa. Panik bilang ‘dulu waktu kecil dia mau shalat dengan saya, sudah besar kok ga mau?’ Saat ditanya usia si anak, ternyata baru 4 atau 5 tahun.
Janganlah tergesa bu. Yang penting pahamkan dan berikan contoh pada anak. Ajari dan biasakan secara perlahan. Perbaiki jika memang ketidaksediaan anak untuk shalat ternyata berasal dari kejadian sekitar.
Jika anak tidak mau diajak shalat sementara usianya masih di bawah 7 tahun kemudian kita paksa agar shalat, khawatirnya malah anak jadi trauma dan menganggap shalat itu sama sekali tidak menyenangkan.

Padahal bagi anak, tanamkan pemahaman dasar kenapa shalat, bagaimana tata cara shalat. Sambil tetap dibiasakan dan diajak. Tapi tidak dipaksa.

Mungkin ada kesalahan dari pihak kami sebagai orang tua. Harus evaluasi satu per satu.

Iri sih melihat anak orang lain sudah pandai ini itu, bisa shaum, shalat dsb. Tapi ya, ga mungkin memaksakan anak seperti anak orang lain juga. Yang penting sekarang evaluasi bareng-bareng, kemudian perbaiki.

Maaf ya nak. Kami pun masih belajar jadi orang tua. Semoga kita sama-sama menuju arah yang lebih baik.

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Memuji Anak, Perlukah?

Bahasan random lainnya dari diskusi di grup emak-emak ini tentang pujian. Sebelumnya sudah ada 3 tulisan yang saya catatkan dari diskusi emak-emak cantik ini, tulisan pertama di sini, yang kedua di sini dan terakhir di sini.

Pujilah anak sekadarnya. Pujian itu penting, tapi harus tepat. Jika anak berbuat salah, ya katakanlah salah. Jika anak berbuat benar, maka pujilah dia.

pujian

Pujilah anak untuk hal yang tak biasa atau pencapaian pertama. Tapi untuk hal yang sifatnya rutinitas dan anak sudah terbiasa bisa, maka pujian tidak lagi menjadi urgensi, hal ini penting agar anak tidak pamrih. Berterima kasih saja mungkin sudah cukup ya.

Ketika anak mencapai sebuah prestasi, kita juga bisa tidak langsung memberikan pujian tapi menantang anak untuk lebih lagi. Misal ketika anak mampu membangun sebuah rumah dari brick mainannya, tantang untuk dia membuat menara. Anak puas ketika mampu mencapai, pujian pun menjadi trigger penyemangat agar anak selalu berusaha menjadi lebih baik.

Tapi bukan berarti tidak boleh memuji sama sekali ya. Anak yang tumbuh tanpa pujian akan menjadi seorang pengkritik menyebalkan.

Anak dengan pujian yang tepat akan tumbuh sebagai pribadi penyayang dan tahu cara menghargai orang lain. Sementara anak yang tuna pujian akan menjadi pengkritik tak berhati. Mengkritik atau bahkan memarahi orang lain di hadapan umum.

Berbicara tentang menghadapi kritikan, tugas orang tua adalah mendidik pribadi yang lebih baik. Tidak terpuruk oleh kritikan melainkan ia bangkit karena kritikan itu bukannya menjadi orang negatif setelah kritikan. Dan ini akan jadi pribadi anak jika ia sudah memiliki kematangan emosi seperti di tulisan sebelumnya.

Ketidaknyamanan ditindas biasanya akan membuat rantai setan karena yang ditindas kelak ketika memiliki kuasa akan memilih jadi penindas juga. Dan begitu terus regenerasi tak jelas.

Masing-masing kita terlahir dengan berbagai kecenderungan bawaan yang akan membentuk masa depannya. Namun, setiap kecenderungan memiliki banyak cabang, bisa baik atau buruk. Maka tugas setiap orang tua dan pendidik bukan ikut campur memaksa mengarahkannya melainkan memberi contoh kebiasaan yang nantinya terbawa hingga anak dewasa. Dengan demikian kita akan mampu melepaskan anak lebih bebas tanpa khawatir anak akan berbuat hal yang negatif karena pembiasaan positif yang dipupuk sedari awal akan bertunas dan tumbuh dalam pribadi anak. Hal inilah yang kelak menjadi bekal ketika anak dihadapkan pada sebuah pilihan, dia akan secara otomatis memilih yang positif baginya.

Pernah satu ketika ada kasus anak yang senang membunuh bahkan hingga menguliti binatang. Lalu oleh profesor Conny Semiawan yang menghadapi anak itu menyarankan agar si anak diarahkan ke hal positif. Kedua orang tua anak itu kemudian menyekolahkan anaknya ke Jerman khusus bagian tukang jagal Kwan potong untuk dimakan. Sepulangnya dari Jerman, si anak membuka toko daging sapi di Jakarta dan ia begitu paham daging mana yang enak tanpa pernah meleset.

Masih bahasan tentang EQ, anak yang cerdas secara IQ tapi belum matang secara EQ sebaiknya tetap diikutsertakan dalam sebuah sekolah yang sesuai dengan EQnya. Karena EQ ini berbicara soal pembiasaan dan kematangan, maka orang tua jangan tergesa mengikutkan anaknya ke kelas akselerasi agar anak dapat tumbuh seimbang secara optimal.

pujian2

Pujian dan kritikan adalah salah satu bagian penting dalam meningkatkan kemampuan emosi anak. Dengan pujian anak merasa dihargai, dengan kritikan anak belajar menerima bahwa dia juga hanya manusia dan harus terus belajar menjadi pribadi yang lebih baik.

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.