5D, Kenapa Tidak?

Ketika menyusun visi alias bintang terang beberapa waktu lalu, kami diingatkan tentang salah satu konsep visi yang diberitakan sebagai 3D. Dream, Decide dan Declare. 3 hal ini saya tuliskan menjadi status Facebook saya ketika itu. Meskipun di status ga saya jelaskan, apa sih Dream, Dare dan Declare.

Setelah mencari di google untuk bahan gambar tulisan, ada sedikit perbedaan rupanya. 3D dalam gambar yang saya temukan adalah Dream, Dare dan Do.

Maka saya tambahkan saja pada tulisan ini dari 3D menjadi 5D. Bukankah 5D lebih bagus dari 3D? USG juga pan gitu. Yang 4D katanya bisa tahu lebih banyak, apalagi kalo ada 5D nanti 😀

Oke, sekarang kita bahas tentang 5D itu yakni Dare, Decide, Dream, Declare, Do. Versi saya tentunya.

1. Dare
Kenapa saya menempatkan dare di poin pertama? Karena pengalaman saya, kudu kumpulin keberanian dulu untuk bermimpi. Ini mah murni dari pengalaman saya ya.

Beranilah bermimpi besar sebagai pertanda bahwa engkau meyakini bahwa Allah Mahabesar dan Maha Berkehendak. Mudah bagiNya membuatmu sampai pada pencapaian tertinggi dan terbaik.
Maka beranilah bermimpi besar dan memutuskannya.

Duh, malu takut diketawain orang.
Saya pernah dan sering mengalaminya. Sampai terakhir saya deklarasikan mimpi itu di tulisan saya sebelumnya: Evaluasi: Visi dan Resolusi, saya masih takut. Tapi saya yakinkan diri saya bahwa sebaiknya saya bisa.
Kemudian respon saat saya mengirimkan deklarasi itu sesuai instruksi founder, biasa aja ya. Mereka malah mengaminkan. Bukankah itu hal yang baik?

2. Decide
Putuskanlah, apa visi hidup yang menjadi capaian terbaik di ujung kehidupan terbaik kita. Inilah yang ditekankan oleh mentor kami tentang visi.
Visi Diri adalah visi jangka panjang yang titik terakhirnya adalah pencapaian tertinggi dan terbaik kita di sepanjang usia. Itulah kenapa mimpi yang dibuat harus se-tinggi mungkin. Agar selalu melakukan hal terbaik di setiap fase kehidupan yang kita lalui.

Adalah Rasulullah pernah menyampaikan sebuah visi yang luar biasa tentang penaklukkan Konstatinopel. Visi yang di-deliver dengan sangat baik hingga beratus tahun berikutnya, visi itu dicapai. Dengan semangat yang sama saat Rasulullah menyebutkannya.
Pun ketika Rasulullah mengatakan “pasukan pertama yang melakukan pertempuran di lautan, dijanjikan surga”. Visi yang penuh ghirah itu akhirnya terlaksana pada masa pemerintahan Utsman.
Itu 2 contoh visi kuat yang nilai-nilainya begitu kuat mengobarkan semangat. Maka, visi kita (yang kelak akan menjadi acuan visi keluarga, usaha dsb) selayaknya adalah visi yang kuat. Dimana visi ini mampu memaksa kita mengeluarkan potensi terbaik kita.

3. Dream
Mimpikanlah impian itu menjadi sesuatu yang selalu membayangi langkahmu bahkan ketika tidur. Dan bawalah mimpi itu ketika bersujud di hadapan Rabb-mu. Pastikan mimpi itu bukan hanya tentang diri kita, tapi tentang kebermanfaatan bagi sesama, dan nilai-nilai kebaikan yang ter-deliver dengan baik pada sekitar.

4. Declare
Ini nih bagian yang ga kalah menantang. Bagaimana tidak, ketika untuk bermimpi saja sudah butuh keberanian menuliskan dan memimpikannya, ini malah harus deklarasi. Makin keder deh..

5. Do
It’s a dream. Then wake up to make it true. Itu yang saya pikirkan ketika kata “dream” diucapkan.
Tak hanya cukup bermimpi. Tapi lakukanlah hal-hal yang membawamu sampai pada mimpi yang mewujud menjadi nyata.

Apalagi udah deklarasi. Malu dong kalo ga ada aksi nyata mencapainya.

Dengan visi yang tinggi, kita akan lebih mudah menyusun visi jangka pendek dan resolusi tahunan.
Itu yang saya alami ketika menyusun visi pekan lalu.

Jadi, apa visimu?

*****
5D adalah dimensi mimpi sekaligus akronim yang membantu menyusun langkah terbaik kita. Dengan visi yang kuat, kita akan lebih mudah mengobati rasa kecewa ketika ada hal yang hilang tapi tidak berimbas pada pencapaian mimpi itu sendiri.

image

So, meskipun masih ada rasa takut, minder, malu.. hayu dimulai saja. Nulis mimpi ^_^

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Evaluasi: Visi dan Resolusi

Tulisan ini sudah disiapkan sejak tanggal 1 tape apalah daya baru bisa publish hari ini 😀

Tahun baru identik dengan resolusi tahunan. Entah siapa yang memulai dan kenapa. Ya, kita ambil sisi positifnya saja.

Bagi saya, 2016 seperti sebuah tahun yang benar-benar baru. Setelah kurang lebih 1 tahun mengenal STIFIn, pertengahan tahun ikut kelas Public Speaking dilanjut kelas Grafologi, bertemu dengan teman-teman yang luar biasa (terkhusus Writer Rangers dan Tengilers), ditambah pendampingan usaha oleh beberapa pihak diantaranya kak Erita Zurahmi (owner Ukhti) kemudian terakhir mengikuti TDA Camp. Semuanya seperti jalan yang Allah tunjukkan setelah selama ini hidup saya selalu mengalir dengan target yang begitu pendek. Tanpa perencanaan. Ya, tanpa perencanaan sama sekali.

Everything’s fine, memang. Tapi jadi ga maksimal. Itu yang saya renungi. Bahwa ada hal hebat yang seharusnya bisa saya capai andai saya sudah punya sesuatu yang tinggi untuk digapai.

Tidak ada kata terlambat untuk belajar dan berubah bukan? Dan perubahan dahsyat itu tak lepas dari hadiah Allah yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Seorang suami yang mendukung istrinya untuk terus tumbuh (bukan fisiknya ya. Hehe).

Dari dukungan suami lah semuanya bermula. Beliau yang ajak saya tes STIFIn (yang dalam perjalanan mengaplikasikannya pun ga mudah), kemudian beliau daftarkan saya untuk kelas Public Speaking (entah kenapa), mengikutsertakan saya dalam training bisnis dan seminar-seminar motivasi, memperkenalkan saya pada banyak hal yang tak pernah dipikirkan sebelumnya.

Dan inilah saya tahun ini. Memberanikan diri membuat visi dengan arahan dari coach Fauzi Rachmanto (yang juga adalah trainer Kubik Training, sekaligus penasihat TDA Bandung dan mantan Presiden TDA 3.0).

Coach FR meminta untuk menuliskan capaian terhebat yang pernah saya rasakan. Dan capaian itu adalah di dunia menulis. Meskipun belum PeDe dengan kemampuan menulis, tapi tetap saja ia adalah hobi yang akan terus saya asah. Kemampuan untuk berkomunikasi dan skill menggembleng orang juga akan terus saya tingkatkan dalam mencapai visi diri saya sebagai seorang team builder sekaligus penulis untuk dunia pengembangan diri. Mencatatkan rencana kuliah kembali setelah sebelumnya kuliah saya tidak selesai.

Evaluasi berikutnya adalah tentang visi dan resolusi. Visi adalah capaian terbaik di ujung kehidupan terbaik kita, dan resolusi adalah bagian dari langkah kongkrit menuju visi itu.

Maka benar yang dituliskan kang Dewa Eka Prayoga tentang tuntutan menuliskan resolusi. Dan tuntunan coach FR dalam menentukan visi. Serta tuntunan STIFIn dalam memilih profesi. Selayaknya ia tak hanya fokus pada pendapatan diri tapi juga kebermanfaatan bagi yang lain. Ini yang dikenal sebagai Sukses Mulia ala kek Jamil Azzaini.

Jadi, yuk teman-teman. Mulailah membuat visi diri yang dari visi inilah kita bermula, menyebar ke visi usaha, visi keluarga dan seterusnya hingga visi terluas. Pegang teguh value yang ingin kita sebarkan. Kemudian buatlah resolusi yang menjadi awal perjalanan pencapaian visi kita.

image

*****
Saya, Esa Puspita, Fe
adalah Team Builder Terbaik di Indonesia tahun 2040.

Mendirikan perusahaan team building yang memegang teguh nilai keberanian, kerja keras dan curiousity.
Memiliki omzet 1.000 dinar per bulan, dengan total 10 cabang di seluruh Indonesia.

Saya adalah team builder yang hasil karyanya dijadikan acuan pembentukan tim dalam perusahaan maupun organisasi.

Mendirikan yayasan dan sekolah pendidikan yang memegang teguh nilai-nilai keislaman.

2016 ini menjadi titik awal saya memulai mimpi yang lebih tinggi. Bismillahirrahmanirrahim.

Semoga kita semua diberikan kemampuan untuk bermimpi dan berikhtiar mencapainya.

Dan dalam pencapaian bintang terang itu, dimulai dengan resolusi 2016 diantaranya:
– Menjadikan Aim Desain sebagai perusahaan autopilot sehingga menjadi salah satu usaha pijakan saya dan suami serta anak dan keluarga
– Menjadikan PeDeCafe sebagai sarana belajar dan pengembangan diri. Khususnya di Bronis
– Menjadikan Ganesha Public Speaking sebagai salah satu pilar pijakan Personal Development sekaligus membawanya menjadi perusahaan Public Speaking nomor 1 di Indonesia tahun 2017 yang dimulai dari tim yang solid.

Bismillahi tawakkaltu ‘alallah, la hawla wa la quwwata illa billah.

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.