Tak Menghargai Karena Tak Tahu

Tak Menghargai Karena Tak Tahu

Satu ketika, suami memberikan kejutan. Sebuah box kecil gift award dari pelatihan yang tengah diikutinya kala itu.

Saya mengunggah box kecil tersebut di akun instagram pribadi semata untuk mengabadikan momen indah itu. Momen dimana suami mendapatkan penghargaan (bagi seorang Thinking, hal itu adalah sebuah apresiasi luar biasa) dan momen saat suami memberikan hadiahnya tersebut pada saya sebagai ungkapan terima kasih sudah men-support beliau.

Tak ada yang spesial bagi saya kecuali atas alasan 2 momen tersebut. Belakangan baru tahu bahwa isi dari box-nya juga adalah sebuah benda mahal. Itupun karena seorang teman berkomentar di postingan IG saya.

Saya saat itu merasa bahagia bukan karena mendapatkan benda mahal secara rupiah, tapi mahal karena ia merupakan hadiah indah. Sebuah pena yang, ah bagi saya mah biasa aja. Meskipun saya akui, memang enak dipakai.

Suami pun berkomentar sedikit saja, “semoga pena-nya bermanfaat. Pulpen bagus ini.” Menurut beliau, cocok dipake buat tanda tangan (semacam kode, semoga istrinya banyak ngasih signature. Heuheu)

Pulpen itu saya simpan baik-baik. Masih dalam box-nya. Sampai kemudian sore ini, saya coba gunakan untuk menulis. Enak! Nyaman. Suka!

Dan percaya atau tidak, saya baru ngeh di dalam box-nya terdapat kartu tanda bahwa pena tersebut original, lengkap dengan buku panduan. Baru kali ini punya pulpen yang begitu. Xixixi.

Kenali Keistimewaan Agar Semakin Bersyukur

Lalu saya jadi teringat akan diri sendiri. Dulu saya membiarkan hidup mengalir apa adanya, merespon flat karena ternyata saya ga tahu bahwa sesungguhnya Allah sudah memberikan kualitas top dalam diri.

Begitu pun dengan anak, karena anak sulung saya baru berusia 7 tahun saya belum terlalu sepenuhnya belajar. Tapi saya mengasuh kedua adik sejak mereka kecil hingga melihat tumbuh kembang keduanya saat ini. Ada hal yang mirip dengan kejadian yang saya alami terkait gift dari suami tadi.

Ketika sepasang suami istri menikah lalu mendapati kabar sang istri mengandung anak buah cinta mereka, muncul rasa bahagia hingga kita mengabarkannya pada orang-orang sekitar. Dan ketika sang jabang bayi terlahir, euforia kebahagiaan itu semakin bertambah.

Berbagai ucapan syukur, ekspresi bahagia dan mengabadikan momen menjadi bagian tak terpisahkan dari euforia tersebut. Tapi kemudian kita lupa mengecek betapa berharganya “isi” sang anak.

Kita memperlakukan anak secara spesial karena dia sang buah hati dari cinta kedua orang tuanya dan ia hadir dalam pernikahan yang diikat dengan bahagia. Setelah itu kita asuh dengan bahagia. Tapi dalam perjalanan mendidik dan membesarkan mereka, kadang kita lupa betapa berharganya mereka. Padahal di dalamnya ada tips menjaga dan dan memperlakukan mereka sesuai dengan jenis personalitinya.

Memperlakukan Sesuai Dirinya, Salah Satu Tanda Syukur Kita

Maka sebagai salah satu tanda syukur kita kepada Allah atas anugerah diri maupun anak dan pasangan, mari kita kenali lebih jauh. Ada setidaknya 5 strata genetika yang membangun sifat dasar seseorang sehingga mereka akan nyaman jika mendapat perlakuan dan lingkungan yang sesuai.

  1. Jenis Kelamin
  2. Mesin Kecerdasan (sistem operasi otak)
  3. Drive kecerdasan
  4. Kapasitas Hardware (volume otak/IQ)
  5. Golongan darah

Ketika kita sudah tahu “isi” pasti dari diri dan orang-orang tersayang, kita tak lagi sekadar mengapresiasi momen kehadirannya tapi mensyukuri lebih jauh tentang dirinya. Sehingga komunikasi dan kehidupan bersama mereka menjadi jauh lebih nyaman.

Kita paham bagaimana diri ini, paham bagaimana pasangan dan anak, paham bagaimana orang tua, mertua dan ipar, juga keluarga besar, teman dan tim secara mendasar. Sebab apa yang nampak kadang bukanlah bagian yang sangat menggambarkan dirinya.

Agar Komunikasi Terjalin, Tak Salah Mengekspresikan Cinta

Komunikasi dalam kehidupan kita amatlah penting. Bahkan diam kita pun bisa menjadi komunikasi yang tak terucapkan. Mari kita simak cerita berikut ini.

Satu ketika dalam perayaan ulang tahun pernikahan ke-50, sepasang suami istri nampak begitu bahagia.

Di tengah pesta, sang suami memberikan sebuah hadiah. Sang istri menduga-duga, mungkin hadiah yang indah.

Begitu tutup dibuka, isinya berupa tulang ayam yang tersisa sedikit dagingnya. Sang istri kesal hingga akhirnya tak tahan untuk mengeluarkan uneg-unegnya selama ini.

“Sayang, tahukah kamu bahwa selama 50 tahun kita menikah betapa aku mencoba selalu tahan dengan pemberianmu berupa sisa daging yang hanya tulang dan sedikit saja daging. Sedang dagingnya selalu kau habiskan sendiri. Selama ini aku tersiksa dengan hal tersebut.

Sang suami berkaca-kaca. Ia kemudian berkata, “Maafkan aku sayang, aku tak tahu. Saat bujang aku bertekad ketika menikah nanti, aku akan memberikan segala yang kusukai pada istriku. Aku sangat menyukai sisa tulang dengan sedikit tulang itu. Aku tak tahu kalau selama itu kamu tersiksa”

Sang istri yang mendengar penjelasan suaminya itu pun berkaca-kaca. Ternyata selama ini sang suami justru berkorban memberikan hal yang paling ia sukai dan melakukan hal yang tak ia suka untuk membahagiakan istrinya.

Dari cerita di atas, kita paham bahwa komunikasi perlu dibangun dengan sangat baik agar sesuai dengan yang diharapkan atau setidaknya mendekati. Jangan sampai masing-masing merasa sudah berkorban dan memberikan yang terbaik (berdasarkan versinya) tapi ternyata orang tersayang malah tidak menganggapnya spesial. Bukankah jadi merugikan?

Dengan mengetahui diri dan pasangan juga orang-orang sekitar, kita jadi semakin paham ekspresi cinta seperti apa yang paling disukai pasangan dan anak, ekspresi cinta seperti apa yang paling kita harapkan. Saling memahami “isi” untuk lebih menghargai. Sebab terkadang kita tak menghargai, karena tak tahu.

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: