Taman Baca DZN

Taman Baca DZN

Ide ini tercetus begitu saja saat kami berempat asyik baca buku sementara abi sedang ikut Annual Briefing Promotor alias #ABP2019 #STIFIn. Setelah sebelumnya ngobrol dengan akang @chalim_arsitek tentang pertanyaan yang muncul di NHW kelas matrikulasi #IbuProfesional terkait kenapa sih kami dipertemukan, kenapa kami dilahirkan di keluarga kami masing-masing dan ditakdirkan Allah ada disini, di tempat tinggal kami saat ini (yang tau proses pencarian kami, pasti hafal betapa ini dadakan).

Apa kontribusi yang bisa kami berikan pada masyarakat sekitar? Suami semula hanya menjawab pertanyaan saya dengan pertanyaan balik. Duh Yang, plis deh 😁

Baru saat sakit kemarin, sepulang suami dari rapat untuk persiapan pembukaan Kuttab Bandung Barat Beliau memberikan jawaban yang cukup bikin nyes. Meski meriang tetep bikin ga karuan, tapi jawabannya jadi hiburan tersendiri.

🍀🍀🍀
Kembali bahas soal Taman Baca, saya bertanya dulu pada anak-anak, kira-kira kita bisa melakukan apa ya yang paling mudah dan InSyaAllah bermanfaat buat sekitar?Lalu semua terdiam. Ummi yang sedang pause membacakan buku, kembali melanjutkan bacakan buku pada mereka. Lalu tercetuslah ide ini.
“Gimana kalo sabtu atau ahad kita jejerin buku di teras biar temen-temen Aa sm Mas bisa baca?”
Ide ini memang muncul dari ummi. Bukan dari anak-anak. Mereka antusias setuju.

Sehingga meskipun tadi ummi sakit, #MDanisyFI semangat bobongkar buku. Siapkan karpet dan menata bukunya di teras rumah.
Di luar dugaan, ia siapkan juga dus. Lalu membawa ke kamar. Minta ummi menuliskan Taman Baca. Tadinya mau dicetak saja menggunakan printer. Tapi dia bersikeras mesti ditulis tangan. Oke baiklah.

Sambil menunggu yang datang, dia baca buku sendiri (ini berdasarkan penuturan Azam). Karena memang dadakan, mereka belum sempat woro2. Ummi pun dadakan woro2 di grup sekolah, story dan status.

Hari pertama sepi. Ga ada yang datang sama sekali. Danisy sedikit kecewa. Ia mendatangi rumah teman satu sekolah yang dekat, ternyata yang satu lagi pindahan, yang satu ga ada di rumah. Pulang tangan kosong.

Azam sih cenderung cuek. Dia mah bolak balik ke kamar ummi sekadar memastikan ummi. Membuat karya dari plastisin yang entah didapat darimana. Pecicilan. Heuheu..

Sementara melihat Danisy nampak lesu karena ga ada yang datang, “Ga apa. Namanya juga perdana,” ujar saya menghibur. “Kita coba lagi ya nanti.” Danisy tersenyum.

Kita belajar bareng ya nak. Hidup itu kadang ga sesuai harapan 😊

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and STIFIn Trainer
Follow instagram @esapuspita Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: