Tantrum

Ada berbagai variabel penyebab kenapa anak tidak bersikap sesuai harapan.

Jika didasarkan pada fitrah, maka ada fitrah yang tak tumbuh dengan baik.

Jika melirik kembali pendidikan islam, ada fase yang terlewat atau tahapan yang tak terlampaui.

Anak meniru orang sekitar. Dan orang terdekat dengan mereka yang menjadi “sumber contoh” adalah orang tuanya.

Ah tapi Teh, saya kan bersikap baik dll. Maka coba cek secara holistik apakah ketika ia masih dalam kandungan, kondisi kita dan pasangan baik?

Saya jarang di rumah, jadi pasti dia mencontoh orang yang mengasuhnya. Maka peran anda hilang sehingga anak tak memiliki contoh yang semestinya.

Ini yang saya dan suami seringkali evaluasi dalam tumbuh kembang anak. Umumnya yang sadar duluan pihak ibu. Ketika evaluasi, perempuan kadang memilih kalimat “seolah menyalahkan ayah dan dirinya tak bersalah” sehingga ego lelaki muncul dan resisten.

Kadang saya sendiri defensif terhadap artikel yang menyebutkan seolah orang tua salah. Ya, macam ketika baca artikel tentang tantrum.

Dulu, saya sempat terjebak dengan teori “tantrum itu wajar” sehingga saat terjadi ya saya fokus pada penanganan dan mencari “akar masalah semu”. Lalu ketika tantrum sudah melebihi usia “standar” maka ada yang perlu dievaluasi. Sebab nyatanya, saya tidak mendapati tantrum pada diri Azam. Tantrum yang dengan ciri “ngamuk” ya.

Salah satu artikel yang dapat teman-teman baca disini dan di Wikipedia (ada link referensi di bagian bawah untuk melengkapi bacaan terkait tantrum).

Lalu mesti bagaimana?

Terima dulu, jangan ditolak.

Setelah agak tenang, coba telisik lagi ke dalam diri. Mungkin kita ga tantrum yang gimana banget. Tapi ada ketidaknyamanan yang bahkan mungkin sekilas tidak kita sadari keberadaannya.

Dan ketika tidak nyaman, kita memberikan respon yang –lagilagi– kurang baik sehingga tak sengaja terpatri di pikiran anak dan menjadi respon yang ia tiru.

Atau ketika anak merasa tidak nyaman, kita merespon dengan kurang baik sehingga anak bingung respon yang seharusnya terhadap perasaan ini tuh gimana sih?! Karena bingung, akhirnya anak gelisah. Gelisah yang keterusan, berlanjut jadi respon serba salah. Lalu berujung tantrum.

Maka sebagai orang tua, mari terus mengasah kepekaan rasa. Agar bisa merespon dengan baik setiap pelajaran rasa yang sedang dialami ananda.

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Facebookinstagram

Tinggalkan komentar