Terhambatnya Aliran Air-Pelajaran Hari Ini, Tentang Aliran Rejeki

Belajar dari mampetnya air yang turun hari ini, pikiran saya terbang pada filosofi rejeki. Sebetulnya kejadian air tidak “turun” ini pernah terjadi beberapa waktu lalu, hanya saja penyebab dan solusinya saya tidak tahu pasti. Dugaan sementara, penyebabnya ada yang menghalangi aliran air di saluran pipa. Sementara solusinya, entah apa karena tiba-tiba airnya lancar dengan sendirinya.

Lagi hamil gede gini mah ga berani naik-naik ke atap. Haha..

Dulu sih sempat terpikir, mungkin supaya tidak ada yang mampet lagi, jangan biarkan air di toren habis banget alias sampe ga netes sama sekali di kerannya. Meskipun teori ini terpatahkan setelah beberapa kali ga ketahuan airnya digelontorin habis. Apapun itu, pelajaran yang berkelebat di otak kaitannya dengan rejeki seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Dan ingat, rejeki disini tidak hanya berupa harta tapi juga ilmu, ide dan gagasan, kasih sayang, juga kebahagiaan.

Mengingat-ingat kembali ilmu yang pernah didapat, terkoneksi pada kesimpulan bahwa

Sumber rejeki dari Allah itu luas, banyak dan dipastikan cukup untuk kebutuhan kita. Hanya saja, kenapa ia mengalir pelan, sedikit atau bahkan sulit sekali dinikmati oleh kita “yang berada di bawahnya” bisa jadi karena ada yang tidak beres disana.

Bukan sumber airnya yang salah, tapi proses (dan alur)nya yang musti dievaluasi.

1. Pastikan toren terisi agar air dari sumbernya dapat dialirkan.

Jika ingin lebih banyak menampung maka ukuran toren harus disesuaikan. Bagi saya ini ibarat tabungan epos (energi positif), keluasan hati dan keimanan kita.

Bahwasannya pemenuhan kebutuhan seseorang itu sudah dijamin oleh Allah. Tinggal apakah kita siap menerima dan menjemputnya atau tidak.

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh). (QS Huud: 6)

2. Pastikan tidak ada yang menghalangi lubang keran sambungan dari toren ke pipa pengaliran (bisa saja kan lubangnya terhalang kotoran atau sampah dan semacamnya).

Di poin ini saya jadi teringat dengan bahasan Ganjalan Tissue di kelas PPA. Diibaratkan, tisu ini mengganjal lubang mesin ATM sehingga kartu tidak bisa masuk dan kita tidak bisa mengambil uang dari dalam rekening. Agar lancar, maka tisu itu harus dikeluarkan.

Atau, kalau pernah dengar kajiannya Ust. Yusuf Mansur, teman-teman mungkin juga familiar dengan “daftar ceklis dosa” yang dapat menghambat mengalirnya rejeki dari Allah.

Ganjalan tisu bisa berupa dosa, amarah yang dipendam, emosi yang belum selesai, perasaan yang belum move on, dendam, dsb.

Atau kalau kata Pak Samsul Arifin mah, ibarat kita kemana-mana bawa sofa. Apa ga pegel? Saat ada rejeki mau mampir jadinya ga bisa maksimal nangkep karena geraknya terbatasi (secara tanpa sadar) sama “sofa masa lalu” itu. Ya intinya gitu deh.

Makanya kita teh kudu move on. Entah dengan meminta maaf, memaafkan maupun bertaubat.

3. Pastikan pipa penyalurnya cukup besar untuk mendapatkan aliran yang deras. Jika pipanya kecil, ya dimaklum saja keluarnya maksimal sediameter pipa itu.

Pengen ember cepet penuh tapi alirannya kecil? Pengen kebutuhannya segera terpenuhi tapi penyalurnya kecil? Ya mau gimana lagi, mentok maksimal segitu-gitunya. Saya melihat bagian ini ibarat mindset dan pemanfaatan potensi kita. Oleh Allah udah diberi potensi besar kok dibatesin dengan saluran yang kecil. Alhasil alirannya juga sulit membesar.

4. Pastikan keran di sambungan terakhir yang langsung kita nikmati juga sudah disesuaikan.

Tidak macet alias bisa dibuka tutup sesuai kebutuhan dan tidak pula longgar sehingga “bocor” terus. Mindset kita mengenai keuangan, pengeluaran kita dan tentu saja pemanfaatan dan cara mendapatkan rejeki harus dipastikan pas. Agar dapat ditutup dan dibuka kapanpun, tapi alirannya lancar selalu.

5. Pastikan posisi pipa dan keran sesuai dengan aturan supaya aliran lebih mudah dan deras

Jika tidak pas posisinya, ya kita harus pake alat bantu kan untuk mendapatkan hasilnya.

Cara seorang muslim menghadapi rejeki itu harus diukur dengan aturan dari “sananya” dan dibarengi dengan taat pada aturan yang dibuat oleh pemiliknya. Rendahkan diri di hadapan sumber segala kekuatan. Aliran itu tidak akan deras maksimal jika aturan yang telah ditetapkan tentang bagaimana agar hidup lebih nyaman, tidak dijalankan sesuai dengan aturannya. Akan selalu ada saja hambatan.

Terhambatnya Aliran Air-Pelajaran Hari Ini, Tentang Aliran Rejeki

Jadi, kalo dirasa rejeki kita kok ya seret (ingat, rejeki bukan hanya soal uang, harta dan jabatan ya), coba evaluasi kembali. Adakah ketaatan yang belum kita jalankan sepenuh hati? Adakah dosa yang menghambat hadirnya rejeki berupa kebahagiaan, rumah tangga yang sakinah ma waddah wa rahmah, kelancaran kuliah, dsb? Bagaimana dengan amalan dan ibadah yang dilakukan, apakah sudah sebaik-baiknya atau masih asal-asalan?

Ketika hasil evaluasinya masih merah, wajar ya jika kita belum merasakan nikmatnya hidup ini. Rasanya udah capek tapi kok kayak ga ada hasilnya. Ikut training sana-sini tapi karir, keluarga dan hubungan masih stagnan di titik sulit dihadapi. Hayu, teman. Kita evaluasi dan perbaiki bareng.

Btw, dalam konsep STIFIn sendiri ada bahasan mengenai menderaskan arus rezeki sesuai dengan mesin kecerdasan  seseorang. Kalo banyak yang komen minat, boleh deh nanti saya share insyaallah. Ga akan selengkap bahasan di WSL2 STIFIn Finansial, tapi bisa cukup membuka cakrawala sih. Dipadu-padan dan disesuaikan dengan ajaran Islam tentu saja J *monggo kalo minat banget bahasannya, komen di tulisan ini yaa.

Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membacanya ^_^

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *