The Power of Tawakal

Hari ini saya ditegur untuk kembali mengingat tentang the power of tawakal saat menantikan hasil tes lab Hasna, anak ketiga kami. Sejak dirawat Jumat dini hari kemarin, ada harapan semoga tidak lama. Syukur-syukur jika hanya 1 hari saja karena trombosit Hasna “hanya kurang sedikit” dari batas normal. 143.000.

Akan tetapi takdir berkata lain..

Kamis malam jam 20.25 hasil lab darah Hasna menunjukkan angka 143.000. Karena kondisinya yang begitu lemas dengan suhu tubuh tinggi, dokter menyarankan untuk rawat inap.

Lunglai rasanya.

Menahan diri untuk tidak menangis. Demi menemani Hasna dengan lebih nyaman.

Saran rujukan dari dokter kami ikuti tanpa pikir panjang karena memang tidak biasanya Hasna seperti itu. Hampir ga pernah lagi ngoprek ataupun senyum.

Selama ini kala sakit sekalipun, ia masih tetap ceria dan ngoprek berbagai hal di sekitar. Tapi kali ini tidak. Suhu tubuhnya pun belum pernah se-tinggi itu.

Ketika Harapan Tak Sejalan dengan Kenyataan

Sekitar jam 11 masuk IGD untuk memastikan what’s next apakah boleh pulang atau harus rawat inap. Karena menurut bagian informasi, meski hasil lab dll dibawa, prosedur mereka menetapkan bahwa pasien akan dicek kembali oleh dokter jaga di IGD.

Harapan untuk segera diizinkan pulang ternyata tidak terlaksana. Hasil lab jam 1 Jumat dini hari menunjukkan penurunan trombosit yang cukup drastis. Menjadi 90.000an. Dari standar paling bawah 150.000.

Maka keputusan pun berlanjut dengan rawat inap. Pasang infus, masuk ruang perawatan.

Tawakal Sejak Awal

Belajar tentang tawakal, serasa diingatkan lagi bahwa tawakal memiliki makna berserah. Sejak awal hingga akhir. Tanpa terputus.

Saat pengambilan tes darah kedua, trombosit Hasna turun jadi 70rb-an. Tes darah berikutnya, turun lagi jadi 59.000.

Sabtu sore diambil darah lagi, alhamdulillah naik jadi 60rb-an. Ada rasa bahagia karena kemungkinan besoknya bisa pulang. Ketika Trombosit naik, biasanya akan terus naik. Begitu teori yang biasa saya dengar.

Tapi.. Ketika bertanya pada kakak sepupu yang berprofesi sebagai perawat di rumah sakit tempat Hasna dirawat, ada juga kasus setelah naik, hasil tes berikutnya turun lagi.

Qadarullah Hasna termasuk di kasus ga biasa itu. Hasil cek darah ahad pagi menunjukkan trombosit Hasna turun justru lebih rendah dari sebelum naik, 56.000.

Dokternya sampai bilang “tadinya sengaja diambil darah agak siangan siapa tahu naik cukup banyak”. Ya, tapi hasil lab berkata lain 😅

Tentu hal ini berarti lanjut rawat inapnya. Ga jadi ikut acara aqiqah ponakan baru deh.

Ketika Hati Total Berpasrah

Pengambilan sampel darah akan kembali dilakukan keesokan harinya, Senin pagi. Kala bagian lab mengambil sample darah Hasna, hati mencoba terus mengingat: saya pasrah ya Allah, ridho. Adapun hasil labnya nanti, bismillah. Saya ridho. Saya siap kalaupun ternyata harus rawat lagi.

Bagian lab maupun dokter mencoba membesarkan hati. “Semoga pulang ya hari ini”. Saya tersenyum, “ga apa kalaupun belum bisa pulang. Ingin memastikan Hasna sehat dan nyaman”. Jawaban itu dibalas senyuman dari perawat dan dokter.

Hasil lab keluar, saya tidak tahu persis angkanya kala itu. Tapi dokter sumringah seraya mengatakan “alhamdulillah trombositnya naik. Sudah boleh pulang hari ini.”

Rasanya waktu itu tak bisa berkata kecuali ucapan hamdalah, terima kasih pada bu dokter Dewi dan tim paramedis RS Hermina Pasteur yang merawat dengan baik dan ramah. Dan makasih pada Uu Opi, sepupu yang juga perawat di RSHP.

Pengalaman ini jadi pelajaran untuk selalu up to date dengan info kesehatan. Jangan terlampau cuek tapi juga ga parnoan.

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *